Ini adalah kisah Cinderella di sebuah
kampung besar bernama Jakarta.
Sebagaimana sebuah kota besar di
dunia ketiga, lanskap Jakarta adalah
pemisahan sosial yang tegas. Di
balik dinding kompleks perumahan
mewah, terletaklah pemukiman
kumuh dengan atap-atap yang
bertemu dan suara tetangga yang
menyerobot masuk tanpa diminta.
Lebih penting lagi, penghuninya:
para pengangguran frustrasi.
Film berjudul aneh ini adalah
tentang mereka. Mae (Nirina Zubir)
bagai upik abu yang menanti
pangeran. Tak ada ibu tiri dan
saudara tiri kejam baginya. Yang
ada adalah nasib sial. Ketiga
sahabatnya sejak kecil yang sayang
padanya tak bisa menikah
dengannya. Entah karena malu,
merasa miskin, tak berdaya atau
gabungan dari faktor-faktor
semacam itu.
Padahal Mae cantik. Ia disebut
tomboy, tapi apalah makna kata itu
sesungguhnya kecuali buat para
orangtua yang masih melihat
bahwa perempuan dan laki-laki
punya peran dan tugas yang sangat
berbeda masing-masingnya. Toh,
di kota seperti Jakarta, atau di mana
pun di dunia, pandangan kasip itu
memang masih berlaku.
Juga pandangan seperti
menjodohkan anak perempuan
mereka agar meringankan beban
orangtua. Aneh juga jika film ini
masih percaya pandangan
semacam itu. Maka Mae dipaksa
menikah oleh kedua orangtuanya.
Ini jadi pangkal perkara karena tak
ada pemuda di kampung itu yang
dianggap layak oleh Mae. Tiga
pemuda sahabat Mae, Benny
(Ringgo Agus Rahman), Guntoro
(Desta) dan Eman (Aming) tak rela
pujaan hati mereka diambil diambil
orang luar. Tapi mereka juga tak
mampu bersaing. Dengan alasan
membantu Mae, mereka mencegati
calon jodoh yang datang satu demi
satu dan memaksa mereka tak
kembali. Kecuali apabila lelaki yang
datang itu benar-benar anak raja
atau anak sultan.
Dan datanglah anak raja itu.
Mungkin bukan anak raja, tapi
kualifikasinya mirip pangeran dalam
kisah Cinderella: tampan, kaya, baik
hati, pintar, dan rendah hati.
Kemungkinan semacam ini agak
ajaib terjadi di dunia nyata, tapi
Musfar Yasin memang sedang
mengarang sebuah cerita komik
(dalam artinya dari kata bahasa
Inggris, “comic”, yakni “sifat lucu-
lucuan”). Karakter dan peristiwa
dilebih-lebihkan untuk mengundang
tawa. Atau dipangkas habis seperti
sosok sang pangeran ini.
Sang pangeran itu bernama Randy
(Richard Kevin). Ia bersekolah di
Amerika dan mengendarai Porsche
Cabriolet di Jakarta. Ia sedang
berlibur dan terus dicereweti ibunya
(Ira Wibowo) agar tak menikah
dengan bule. Sebagaimana
pangeran dalam dongeng, Randy
berhati terlalu mulia untuk
mendapat pacar sembarang anak
mal atau sembarang model cantik
sekelas VJ MTV. Ia harus mendapat
kecantikan yang “orisinal”. Dengan
kata lain, apakah ia menginginkan
“ harta karun”, “berlian yang belum
diasah”? Mungkin Mae adalah orang
yang tepat. Sayang, Kevin Richards
yang memerankan Randy tak
pernah belajar akting dengan baik
untuk mengantarkan rayuan
semacam itu kepada orangtua Mae.
Namun bukan orangtua Mae yang
tak terima, melainkan tiga pemuda
pengangguran pelindung Mae yang
tak suka padanya. Tiga lelaki
pengangguran di kampung dan
anak orang kaya ber-Porsche sudah
tepat untuk sesuatu bernama konflik
kelas. Sebuah topik yang sejak
Langitku Rumahku (Slamet
Rahardjo, 1990), absen dalam film
Indonesia.
Alih-alih menghindarinya, Musfar
Yasin justru menjadikannya sebagai
sebuah bahan olok-olok. Olok-olok
Musfar ini mungkin terasa naif, tapi
nama lain untuk kenaifan Musfar ini
adalah tulus. Akibatnya, Get Married
menjadi sebuah film dengan cerita
yang sangat enak diikuti.
Memang, skenario Get Married ini
masih kalah kelas kalau
dibandingkan dengan skenario
Musfar pada Ketika. Tapi kedua
skenario ini punya karakter sama:
dengan semakin tak berniat
macam-macam, menjadi semakin
kuat pula mereka. Sampai di sini,
saya sedang mencoba memercayai
sesuatu: Musfar Yasin adalah penulis
skenario terbaik yang sedang
dimiliki oleh negeri kita saat ini.
Dialog-dialog dalam film ini sedang
menyediakan bukti-bukti untuk itu,
sekalipun saya akan lebih sabar
menunggu untuk sampai pada
kesimpulan akhir.
Untunglah ambisi artistik Hanung
tak terlalu tinggi terhadap skenario
ini. Aliran cerita yang terasa lancar
dan komik itu tetap sampai dengan
baik. Ambisi Hanung terasa pada
visualisasi, tapi itu tak sampai
mengganggu cerita. Sedikit lagi saja
Hanung bermain-main dengan
kamera, maka ia mengkhianati cerita
komik yang dimaksudkan untuk
sederhana ini.
Nyaris hal itu terjadi pada adegan
perkelahian massal. Terlihat sekali
ambisi Hanung untuk
memperlihatkan bahwa kekerasan
di negeri bernama Indonesia itu
adalah sesuatu yang nyata dan
menyeramkan. Mungkin gambar-
gambar perkelahian ini bisa diacu
pada film City of God. Padahal,
dalam komik semacam Get Married
ini, orang kerap memaklumi
tipisnya realisme dan pelebih-
lebihan guyonan. Dengan durasi
sepanjang itu, adegan perkelahian
massal di film ini membuat sifat
karikatural secara keseluruhan
tercecer, bahkan ada akibat yang
lumayan mengganggu.
Tiba-tiba pokok soal dalam karikatur
ini berubah serius: ada implikasi
yang menyeramkan dari
kebercandaan kita (baca: Hanung
dan penonton filmnya ini) di
sepanjang film. Memang, kenyataan
bernama konflik kelas dan
sebagainya ini menyeramkan, dan
kita sudah tahu. Lagi pula, bukankah
film ini sejak awal sedang mencoba
menertawakan soal ini bersama?
Komik selalu bersifat satu dimensi
dan ke-satudimensian film ini
memakan korban-korbannya.
Pertama, adalah karakter pangeran
tampan bernama Randy. Relakah
kita percaya bahwa orang kaya raya
tak ketulungan ini begitu
kepayangnya hingga rela mati untuk
perempuan yang pertamakali
ditemuinya? Kedua, tentu adalah
situasi yang harus dihadapi Mae.
Boleh saja ia digambarkan punya
cita-cita menjadi polisi di awal film.
Anehnya, sepanjang film, Mae
pasrah saja jadi objek rebutan tiga
sahabatnya dengan cara gambreng
atau suit atau berkelahi di jalanan.
Catatan-catatan itu tak membuat
film ini tak jadi menghibur. Dialog
yang mengejutkan dan diantarkan
pada momen yang tepat membuat
seluruh film akan dipenuhi tawa
menyegarkan. Saya tak tahu apakah
penonton rela untuk meninggalkan
perspektif-perspektif mereka ketika
menonton film ini.
Get Married
Sutradara: Hanung Bramantyo.
Skenario: Musfar Yasin
Pemain: Nirina Zubir, Aming, Desta,
Ringo Agus Rahman, Richard Kevin,
Jaja Miharja, Meriam Bellina.
belajar tentang apa yang ada didunia ini, trik dan tips, gratisan , ngeblog, asuhan keperawatan,
Tampilkan postingan dengan label komik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komik. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 19 Juni 2010
sejarah komik
Di tahun 1996, Will Eisner
menerbitkan buku Graphic
Storytelling, dimana ia
mendefinisikan komik sebagai
"tatanan gambar dan balon kata
yang berurutan, dalam sebuah buku
komik." Sebelumnya, di tahun 1986,
dalam buku Comics and Sequential
Art, Eisner mendefinisikan eknis dan
struktur komik sebagai sequential
art, "susunan gambar dan kata-kata
untuk menceritakan sesuatu atau
mendramatisasi suatu ide".
Dalam buku Understanding Comics
(1993) Scott McCloud mendefinisikan
seni sequential dan komik sebagai
"juxtaposed pictorial and other
images in deliberate sequence,
intended to convey information
and/or to produce an aesthetic
response in the viewer".
Para ahli masih belum sependapat
mengenai definisi komik. sebagian
diantaranya berpendapat bahwa
bentuk cetaknya perlu ditekankan,
yang lain lebih mementingkan
kesinambungan image dan teks,
dan sebagian lain lebih menekankan
sifat kesinambungannya (sequential)
. Definisi komik sendiri sangat supel
karena itu berkembanglah berbagai
istilah baru seperti:
Picture stories – Rodolphe
Topffer (1845)
Pictorial narratives – Frans
Masereel and Lynd Ward (1930s)
Picture novella – dengan nama
samaran Drake Waller (1950s).
Illustories – Charles Biro (1950s)
Picto-fiction – Bill Gaine (1950s)
Sequential art(graphic novel) –
Will Eisner (1978)
Nouvelle manga – Frederic Boilet
(2001)
Untuk lingkup nusantara, seorang
penyair dari semenanjung Melayu
(sekarang Malaysia) Harun
Amniurashid (1952) pernah
menyebut 'cerita bergambar'
sebagai rujukan istilah 'cartoons'
dalam bahasa inggris. Di Indonesia
terdapat sebutan tersendiri untuk
komik seperti diungkapkan oleh
pengamat budaya Arswendo
Atmowiloto (1986) yaitu cerita
gambar atau disingkat menjadi
CERGAM yang dicetuskan oleh
seorang komikus Medan bernama
Zam Nuldyn sekitar tahun 1970.
Sementara itu Seno Gumira
Ajidarma (2002), jurnalis dan
pengamat komik, mengemukakan
bahwa komikus Teguh Santosa
dalam komik Mat Romeo (1971)
pernah mengiklankan karya mereka
dengan kata-kata "disadjikan setjara
filmis dan kolosal" yang sangat
relevan dengan novel bergambar.
menerbitkan buku Graphic
Storytelling, dimana ia
mendefinisikan komik sebagai
"tatanan gambar dan balon kata
yang berurutan, dalam sebuah buku
komik." Sebelumnya, di tahun 1986,
dalam buku Comics and Sequential
Art, Eisner mendefinisikan eknis dan
struktur komik sebagai sequential
art, "susunan gambar dan kata-kata
untuk menceritakan sesuatu atau
mendramatisasi suatu ide".
Dalam buku Understanding Comics
(1993) Scott McCloud mendefinisikan
seni sequential dan komik sebagai
"juxtaposed pictorial and other
images in deliberate sequence,
intended to convey information
and/or to produce an aesthetic
response in the viewer".
Para ahli masih belum sependapat
mengenai definisi komik. sebagian
diantaranya berpendapat bahwa
bentuk cetaknya perlu ditekankan,
yang lain lebih mementingkan
kesinambungan image dan teks,
dan sebagian lain lebih menekankan
sifat kesinambungannya (sequential)
. Definisi komik sendiri sangat supel
karena itu berkembanglah berbagai
istilah baru seperti:
Picture stories – Rodolphe
Topffer (1845)
Pictorial narratives – Frans
Masereel and Lynd Ward (1930s)
Picture novella – dengan nama
samaran Drake Waller (1950s).
Illustories – Charles Biro (1950s)
Picto-fiction – Bill Gaine (1950s)
Sequential art(graphic novel) –
Will Eisner (1978)
Nouvelle manga – Frederic Boilet
(2001)
Untuk lingkup nusantara, seorang
penyair dari semenanjung Melayu
(sekarang Malaysia) Harun
Amniurashid (1952) pernah
menyebut 'cerita bergambar'
sebagai rujukan istilah 'cartoons'
dalam bahasa inggris. Di Indonesia
terdapat sebutan tersendiri untuk
komik seperti diungkapkan oleh
pengamat budaya Arswendo
Atmowiloto (1986) yaitu cerita
gambar atau disingkat menjadi
CERGAM yang dicetuskan oleh
seorang komikus Medan bernama
Zam Nuldyn sekitar tahun 1970.
Sementara itu Seno Gumira
Ajidarma (2002), jurnalis dan
pengamat komik, mengemukakan
bahwa komikus Teguh Santosa
dalam komik Mat Romeo (1971)
pernah mengiklankan karya mereka
dengan kata-kata "disadjikan setjara
filmis dan kolosal" yang sangat
relevan dengan novel bergambar.
Langganan:
Komentar (Atom)