Tampilkan postingan dengan label sex. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sex. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 September 2010

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN CA SERVIKS

TINJAUAN TEORI

Pengertian
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997).

Etiologi
Adapun penyebab pasti terjadinya perubahan sel-sel normal mulut rahim menjadi se-sel yang ganas tidak diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perubahan tersebut, antara lain :
1. Hubungan seksual pertama kali pada usia dini (umur < 16 tahun).
2. Sering berganti-ganti pasangan (multipatner sex).
3. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18. Penelitian menunjukkan bahwa 10-30 % wanita pada usia 30’an tahun yang sexually active pernah menderita infeksi HPV (termasuk infeksi pada daerah vulva). Persentase ini semakin meningkat bila wanita tersebut memiliki banyak pasangan seksual. Pada sebagian besar kasus, infeksi HPV berlangsung tanpa gejala dan bersifat menetap.
Kedua faktor diatas juga berhubungan dengan infeksi HPV. Semakin dbanyak berganti-ganti pasangan maka tertularnya infeksi HPV juga semakin tinggi. Begitu pula dengan terpaparnya sel-sel mulut rahim yang mempunyai pH tertentu dengan sperma-sperma yang mempunyai pH yang berbeda-beda pada multipatner dapat merangsang terjadinya perubahan kearah displasia.
4. Infeksi Herpes Simpleks Virus (HSV) tipe 2
5. Wanita yang melahirkan anak lebih dari 3 kali
6. Wanita merokok, karena hal tersebut dapat menurunkan daya tahan tubuh.


Faktor Resiko
Beberapa faktor yang mempengaruhi insiden kanker serviks yaitu:
1. Usia.
2. Jumlah perkawinan
3. Hygiene dan sirkumsisi
4. Status sosial ekonomi
5. Pola seksual
6. Terpajan virus terutama virus HIV
7. Merokok dan AKDR

Klasifikasi
Klasifikasi Kanker Serviks menurut FIGO 1978
Tingkat Kriteria

0 Karsinoma In Situ ( KIS), membran basalis utuh
I Proses terbatas pada servks walaupun ada perluasan ke korpus uteri
I a Karsinoma mikro invasif, bila membran basalis sudah rusak dan sel tumor sudah stroma tidak > 3 mm, dan sel tumor tidak tedapat didalam pembuluh limfe atau pembuluh darah.
I b Secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma, tetapi pada pemeriksaan histologi ternyata sel tumor telah mengadakan invasi stroma melebihi Ia
II Proses keganasan telah keluar dari serviks dan menjalar 2/3 bagian atas vagina dan parametrium, tetapi tidak sampai dinding panggul
II a Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari infitrat tumor
II b Penyebaran ke parametrum, uni atau bilateral, tetapi belum sampai dinding panggul
III a Penyebaran sampai ½ bagian distal vagina, sedang parametrium tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul.
III b Penyebaran sudah sampai dinding panggul, tidak ditemukan daerah infiltrat antara tumor dengan dinding panggul.

IV Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mokusa rektum dan atau vesika urinaria atau telah bermetastasi keluar panggul ketempat yang jauh
IV a Proses sudah sampai mukosa rektum dan atau vesika urinaria atau sudah keluar dari pangul kecil, metastasi jauh belum terjadi
IV b Telah terjadi metastasi jauh.

Tanda dan Gejala
1. Perdarahan
2. Keputihan yang berbau dan tidak gatal
3. Cepat lelah
4. Kehilangan berat badan
5. Anemia

Manifestasi Klinis
Dari anamnesis didapatkan keluhan metroragi, keputihan warna putih atau puralen yang berbau dan tidak gatal, perdarahan pascakoitus, perdarahan spontan, dan bau busuk yang khas. Dapat juga ditemukan keluhan cepat lelah, kehilangan berat badan, dan anemia. Pada pemeriksaan fisik serviks dapat teraba membesar, ireguler, terraba lunak. Bila tumor tumbuh eksofitik maka terlihat lesi pada porsio atau sudah sampai vagina. Diagnosis harus dipastikan dengan pemeriksaan histologi dan jaringan yang diperoleh dari biopsi.

Prognosis
Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons terhadap pengobatan 95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala. Pasien yang menjalani histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya rekurensi harus terus diawasi karena lewat deteksi dini dapat diobati dengan radioterapi. Setelah histerektomi radikal, terjadinya 80% rekurensi dalam 2 tahun.



Pemeriksaan Penunjang
 Sitologi, dengan cara tes pap
Tes Pap : Tes ini merupakan penapisan untuk mendeteksi infeksi HPV dan prakanker serviks. Ketepatan diagnostik sitologinya 90% pada displasia keras (karsinoma in situ) dan 76% pada dysplasia ringan / sedang. Didapatkan hasil negatif palsu 5-50% sebagian besar disebabkan pengambilan sediaan yang tidak adekuat. Sedangkan hasil positif palsu sebesar 3-15%.
 Kolposkopi
 Servikografi
 Pemeriksaan visual langsung
 Gineskopi
 Pap net (Pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive)

Penatalaksaan Medis
Tingkat Penatalaksaan
0

I a

I b dan II a

II b , III dan IV
IV a dan IV b Biopsi kerucut
Histerektomi trasnsvaginal
Biopsi kerucut
Histerektomi trasnsvaginal
Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi kelenjar limfe paraorta (bila terdapat metastasis dilakukan radiologi pasca pembedahan)
Histerektomi transvaginal
Radioterapi
Radiasi paliatif
Kemoterapi






KONSEP ASUHAN KEPERAWTAN
Pengkaijan
1. Identitas klien.
2. Keluhan utama.
Perdarahan dan keputihan
3. Riwayat penyakit sekarang
Klien datang dengan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan yang berbau tetapi tidak gatal. Perlu ditanyakan pada pasien atau keluarga tentang tindakan yang dilakukan untuk mengurangi gejala dan hal yang dapat memperberat, misalnya keterlambatan keluarga untuk memberi perawatan atau membawa ke Rumah Sakit dengan segera, serta kurangnya pengetahuan keluarga.
4. Riwayat penyakit terdahulu.
Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga, apakah pasien pernah mengalami hal yang demikian dan perlu ditanyakan juga apakah pasien pernah menderita penyakit infeksi.
5. Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau penyakit menular lain.
6. Riwayat psikososial
Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan agaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks.

Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
• Perdarahan
• keputihan
2. palpasi
• nyeri abdomen
• nyeri punggung bawah

Pemeriksaan Dignostik
1. Sitologi
2. Biopsi
3. Kolposkopi
4. Servikografi
5. Gineskopi
6. Pap net (pemeriksaan terkumpoteresasi dengan hasil lebih sensitif)

Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan anemia trombositopenia .
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual dan muntah.
3. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan imunosupresi
4. Resiko tinggi terhaap cedera berhubungan dengan trombositopenia.
5. Inteloransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder akibat anemia dan pemberian kemoterapi.
6. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosa malignansi genokologis dan prognosis yang tak menentu.
7. Perubahan konsep diri (peran) berhubungan dengan dampakdiagnosis kanker terhadap peran pasien dalam keluarga.
8. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubbungan dengan terbatasnya informasi.

Intervensi
1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan anemia trombositopenia .
Tujuan:
Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya komplikasi perdarahan.
Intervensi :
 Kolaborasi dalam pemeriksaan hematokrit dan Hb serta jumlah trombosit.
 Berikan cairan secara cepat.
 Pantau dan atur kecepatan infus.
 Kolaborasi dalam pemberian infus

2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual dan muntah.
Tujuan:
Masukan yang adekuat serta kalori yang mencukupi kebutuhan tubuh.
Intervensi:
 Kaji adanya pantangan atau adanya alergi terhadap makanan tertentu.
 Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian menu yang sesuai dengan diet yang ditentukan.
 Pantau masukan makanan oleh klien.
 Anjurkan agar membawa makanan dari rumah jika dipelukan dan sesuai dengan diet.
 Lakukan perawatan mulut sebelum makan sesuai ketentuan.

3. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan imunosupresi
Tujuan:
Potensial infeksi menurun dan tidak terdapat tanda-tanda infeksi.
Intervensi :
 Pantau tanda vital setiap 4 jam atau lebih sering bila diperlukan.
 Tempatkan pasien pada lokasi yang tersedia.
 Bantu pasien dalam menjaga hygiene perorangan
 Anjurkan pasien beristirahat sesuai kebutuhan.
 Kolaborasi dalam pemeriksaan kultur dan pemberian antibiotika.

4. Resiko tinggi terhaap cedera berhubungan dengan trombositopenia.
Tujuan:
Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan
Intervensi :
 Kolaborasi dengan petugas laboratorium untuk pemeriksaan darah lengkap (Hb dan Trombosit)
 Lakukan tindakan yang tidak menyebabkan perdarahan.
 Observasi tanda-tanda perdarahan.
 Observasi tanda-tanda vital.
 Kolaborasi dalam tindakan transfusi TC ( Trombosit Concentrated)

5. Inteloransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder akibat anemia dan pemberian kemoterapi.
Tujuan:
Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal.
Intervensi:
 Kaji pola istirahat serta adanya keletihan pasien.
 Anjurkan kepada pasien untuk mempertahan pola istirahat atau tidur sebanyak mungkin dengan diimbangi aktifitas.
 Bantu pasien merencanakanaktifitas berdasarkan pola istirahat atau keletihan yang dialami.
 Anjurkan kepada klien untuk melakukan latihan ringan.
 Observasi kemampuan pasien dalam malakukan aktifitas.

6. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosa malignansi genokologis dan prognosis yang tak menentu.
Tujuan:
Ansietas, kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi.
Intervensi:
 Gunakan pendekatan yang tenang dan cipakan suasana lingkungan yang kondusif.
 Evaluasi kempuan pasien dalam mengambil keputusan
 Dorong harapan yang realistis.
 Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri yang sesuai.
 Berikan dorongan spiritual.

7. Perubahan konsep diri (peran) berhubungan dengan dampakdiagnosis kanker terhadap peran pasien dalam keluarga.
Tujuan :
Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran.
Intervensi :
 Bantu pasien untuk mengedintifikasi peran yang bisa dilakukan didalam keluarga dan komunitasnya.
 Bantu pasien untuk mengidentifikasi perubahan fisik yang spesifik yang dibutuhkan sehubungan dengan penyakitnya.
 Diskusikan dengan keluarga untuk berkompensasi terhadap perubahan peran anggota yang sakit.

8. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubungan dengan terbatasnya informasi.
Tujuan :
Pasien dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi.
Intervensi:
 Baringkan pasien diatas tempat tidur.
 Kaji kepatenan kateter abdomen.
 Observasi tentang reaksi yang dialami pasien selama pengobatan
 Jelaskan pada pasien efek yang mungkin dapat terjadi.

Evaluasi
Hasil yang diharapkan dari tindakan keperawatan adalah :
1. Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya komplikasi perdarahan.
2. Kebutuhan Nutrisi dan Kalori pasein tercukupi kebutuhan tubuh
3. Tidak ada tanda-tanda infeksi
4. Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan
5. Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal.
6. Ansietas, kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi.
7. Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran.
8. Pasein dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi

DAFTAR PUSTAKA

Arif Mansjoer dkk (2000), Kapita Selekta Kedokteran , Edisi 3 , Jilid 1. EGC : Jakarta

Doengoes, Marilyn.E 1989.Nursing care and Plans.Philadelphia: F.A Davis Company.

Mochtar, Rustam. 1989.Synopsis obstetric. Jakarta:EGC.

Prawirohardjo, Sarwono.1994.Ilmu Kandungan. Jakarta: Gramedia.

Sanusi, Chandra. 1989:Ginekologi Greenhill edisi 10. Jakarta:EGC.

Selasa, 22 Juni 2010

Nikmatnya Ngeseks ala Kamasutra

KAMASUTRA telah mengilhami
dunia untuk bereksperimen
dengan posisi seks yang benar-
benar sensual. Beberapa pilihan
gaya bercinta yang sangat mudah
membuat tubuh ”terbakar”, bisa
Anda curi ilmunya dari seni
bercinta ala India ini.
Sensual, menggoda, namun
lemah lembut dan tak berkesan
” liar” bak seni bercinta dunia
Barat, begitulah seni bercinta
Kamasutra diibaratkan.
Tak sabar ingin mempraktikkan
seni Kamasutra dengan suami?
Berikut ini panduan Anda untuk
memabukkan si dia dengan
sensasi erotis, sebagaimana
dilansir Times of India.
Baithe baithe
Menggoda pasangan sampai
dengan posisi duduk dan
berbaring di kursi yang nyaman,
biarkan kakinya sedikit terbuka
lebar. Anda dapat memposisikan
diri sedemikian rupa, sehingga
dada Anda dan pasangan saling
berhadapan.
Bergerak ke atas dan ke bawah
dengan sangat perlahan dan
lihatlah hasrat ”panas” di mata
pasangan. Alasan Anda akan
menyukainya, sebab posisi ini
seperti woman on top, namun
dengan suatu perbedaan.
Pasalnya, kursi yang digunakan
menyediakan ruang yang sedikit
untuk pergerakan dan kesatuan
tubuh. Di mana ini akan
membawa suatu keintiman yang
sehat satu sama lain.
Cumbuan berupa ciuman,
sentuhan, dan belaian di
wajahnya, serta dada akan
menggiring Anda pada aksi
balasan tak terduga dari si dia.
Wow!
Kamal ka phool
Yoga memiliki beberapa gerakan
yang benar-benar seksi dan
panas. Jika Anda berlatih
kebugaran dengan fitness, maka
Anda akan tahu itu adalah seperti
posisi teratai di mana banyak hal-
hal buruk bisa terjadi juga.
Pertama, minta pasangan duduk
dengan kaki dilipat dalam posisi
lotus, sekarang duduk di
pangkuannya menghadap ke
arahnya dan bungkus kaki Anda
erat di pinggangnya. Peluk si dia
dan berbagi ciuman panjang.
Guncangkan tubuh pasangan
bolak-balik, dan pasangan harus
melakukan hal yang sama.
Gerakan ini akan mendorong
Anda berdua ”gila”. Atau duduk di
pangkuannya dengan punggung
Anda menghadap kepadanya.
Biarkan Mr P-nya bergeser ke
dalam Miss V Anda, dan lengan
pasangan akan memeluk Anda.
Setelah itu, tinggal bagaimana
Anda menggocangkan tubuh
masing-masing. Bagi pasangan
yang fanatik yoga, posisi
penetrasi yang satu ini begitu
cocok dan sempurna untuknya.
Ek karwat
Posisi ini sangat mudah dilakukan
pasutri. Sebab, Anda dan
pasangan hanya diminta untuk
berbaring dengan posisi saling
berhadapan. Pertama, Anda lebih
rendah ke selangkangan dia.
Sehingga kaki Anda dapat
membungkus sisi tubuh
pasangan. Saat bersamaan,
tangan Anda harus memegang
erat-erat dan dekat tubuhnya.
Sedangkan suami, dia dapat
memeluk pinggang Anda dengan
kaki dan pahanya. Sehingga bisa
sekaligus mendorong lembut Mr
P-nya untuk memasuki Miss V
Anda.
Mengapa Anda akan
menyukanya? Seperti posisi side-
by-side, gaya bercinta yang satu
ini adalah salah satu janji ekstasi.
Begitu membuat ketagihan dan
mendatangkan kenikmatan yang
tak pernah usai. Saraf-akhir Miss
V dan Mr P begitu ”bersemangat”
dalam posisi ini. Sehingga jangan
heran, bila Anda dan pasangan
tak henti-hentinya mendapatkan klimaks.

Ngeseks di Pantai Idaman Wanita 30-an

USIA 30-an adalah waktu tepat
untuk melakukan beragam
eksplorasi dalam hubungan seks.
Konon pada usia ini, hampir
semua pasangan setuju memiliki
hubungan seks di luar rumah.
Salah satunya bercinta di pantai
sebagai idaman wanita 30-an.
Tapi jangan salah mengartikan
sebagai bentuk perselingkuhan.
Pada usia 30-an banyak orang
melakukan sanggama di luar
rumah sebagai bagian dari variasi
bercinta. Tidak seperti di usia 20-
an, di mana seseorang cenderung
melakukan bentuk paling umum
dari eksperimen seksual.
Pada usia 30-an, kebanyakan
orang memilih berhubungan seks
di tempat semi publik, seperti
pantai, taman, ataupun di bangku
taman dalam kegelapan. Ada
sesuatu yang sangat erotis dari
pengalaman bercinta di luar
rumah. Sedangkan spot favorit
lainnya yang gemar dijelajahi
pasutri untuk ngeseks, adalah di
bawah pancuran shower dan
berendam di dalam bathtub.
Usia ini juga menandai
kedatangan anak dalam
kehidupan sepasang suami istri,
sehingga libido menyusut secara
alami. Tracey Cox dalam bukunya
berjudul Sextasy mengatakan,
selama kehamilan, pasutri dapat
berhubungan seks empat sampai
lima kali per bulan.
“Sekitar tujuh minggu setelah
kelahiran, kehidupan seks jadi
lambat. Tetapi, empat bulan
kemudian kehidupan seks kembali
lagi pada frekuensi berhubungan
sebanyak empat atau lima kali
dalam sebulan, ” jelas Tracey Cox
yang dinukil okezone dari Times
of India, Selasa (22/6/2010).
Enam bulan setelah melahirkan,
Cox mengatakan bahwa rata-rata
pasangan kembali berhubungan
seks tiga sampai lima kali per
bulan. Kendati demikian, Cox turut
menjelaskan bahwa ini tak bisa
dilakukan berlama-lama.
“Karena itu terus menyentuh dan
memeluk. Jika bayi Anda
mengurangi kesempatan untuk
melakukan hubungan seks, maka
lakukanlah seks kilat, ” saran Cox.
Dalam bukunya, Cox turut
mengungkapkan bahwa
pengalaman orgasme wanita
pada usia 30-an meningkat lebih
tinggi. Sebanyak 90 persen
wanita pada usia ini memiliki
pengalaman orgasme secara
teratur dibandingkan hanya 23
persen wanita yang berusia di
bawah 30 tahun.