Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 November 2014

Keuntungan Jika Mengolah Makanan Sendiri Buat si Kecil

Keuntungan Jika Mengolah Makanan Sendiri Buat si Kecil
Banyak yang menganggap membuat makanan untuk si kecil di rumah sangat merepotkan. Padahal tidak sesulit yang dibayangkan, dengan membuat makanan sendiri di rumah justru Anda dapat lebih tahu apa yang dikonsumsi si kecil.

Selain lebih sehat, membuat makanan sendiri di rumah juga dapat membentuk pola makan sehat sejak dini

1. Menanamkan kebiasaan makan sehat
Kini, anak-anak banyak sekali yang menggemari konsumsi makanan cepat saji yang mengandung tinggi lemak dan garam serta rendah serat. Jika membuat makanan di rumah, para orangtua dapat menanamkan kebiasaan sehat serta pembentukan pola makan, dan saat dewasa ia tetap menyukai makanan sehat.

2. Lebih bergizi
Makanan instan dibuat dengan berbagai proses. Hal ini dapat menghilangkan vitamin dan mineral penting. Makanan instan juga mengandung garam, gula, penambah rasa dan bahan-bahan aditif lainnya.

3. Bervariatif
Menyiapkan makanan yang beranekaragam termasuk kedalam pedoman menu seimbang. Dengan memberikan makanan segar yang bervariasi, si kecil dapat merasakan tekstur sekaligus rasa makanan yang berbeda.

4. Hemat
Membuat makanan anak di rumah ternyata tidak sulit. Anda hanya memerlukan blender dan bahan makanan segar. Untuk lebih menghemat waktu dan uang, Anda dapat memasak dalam jumlah yang banyak dan memisahkannya kedalam wadah tertutup dan menyimpannya dalam lemari es. Akan tetapi makanan ini hanya dapat untuk siang atau malam. Tidak disarankan untuk keesokan harinya.

Selain itu, bahan makanan yang ada dapat dibuat menjadi sayur untuk makan keluarga dan jika ingin di konsumsi anak, Anda dapat memblendernya.

5. Lebih lezat
Dalam proses pembuatannya, makanan instan hanya dibuat dengan cara ditambahkan air panas. Padahal aroma yang dihasilkan lebih enak yang dimasak sendiri. Sebagai contoh saat membuat makanan si kecil, Anda menumis bawang putih dan akan keluar aroma yang sedap. Hal inilah yang membuat makanan bikinan sendiri lebih lezat dibanding dengan makanan

Kamis, 30 Oktober 2014

Awas, Bahaya di Balik Minum Susu

Susu merupakan sumber kalsium terbaik yang bermanfaat bagi kesehatan tulang dan gigi kita. Namun susu juga dapat mendatangkan malapetaka bila dikonsumsi lebih dari tiga gelas sehari.

Baru-baru ini satu penelitian menemukan bahwa mengonsumsi lebih dari tiga gelas susu tidak akan melindungi tulang dan gigi kita, tapi justru dapat meningkatkan peradangan yang berdampak pada rusaknya sel-sel dalam tubuh. Ini terjadi karena kandungan gula yang ada dalam susu.

Meski para peneliti asal Swedia tidak dapat membuktikan sebab dan akibat dari penelitian ini, dan masih banyak diperlukan penelitian lebih lanjut, maka dianjurkan untuk membatasi konsumsi susu dalam sehari.

Sebelum memaparkan fakta ini, para peneliti yang dipimpin oleh Profesor Karl Michaelsson dari Uppsala University, Swedia, melakukan percobaan terhadap 61.443 wanita dan 45.339 pria yang diharuskan mengisi kuesioner tentang 96 makanan umum yang pernah dikonsumsi, seperti susu, yoghurt, dan keju.

Selama rentang waktu 20 tahun, diketahui bahwa 15.541 dari kedua jenis meninggal dunia, dan 17.252 mengalami patah tulang, serta 4.259 mengalami patah tulang pinggul.

Dalam jurnal the BMJ disebutkan, wanita yang mengonsumsi susu lebih dari tiga gelas sehari (rata-rata 680 ml), dua kali lipat berisiko kematian, daripada wanita yang kurang dari satu gelas susu sehari, sekitar 60 ml.

Seperti dikutip dari Daily Mail, Rabu (29/10/2014), Karl, mengatakan, walaupun susu dapat mendatangkan malapetaka, bukan berarti kita menghentikan kebiasaan baik seperti itu. Bagaimana pun, wajib bagi kita untuk mengonsumsi gizi yang seimbang, dengan takaran yang pas dan tidak berlebihan.

Jalan Kaki 2.000 Langkah, Kurangi Risiko Stroke 8%

Jalan kaki merupakan olahraga yang paling ringan dan efektif, siapapun dapat melakukannya. Telah banyak dikupas, jika jalan kaki mampu memberikan efek kesehatan yang luar biasa.

Tidak usah jauh-jauh bagi Anda untuk berjalan kaki, cukup dilakukan di sekitar rumah. Baru-baru ini, peneliti dari Universitas Leicester mengungkap manfaat besar dari jalan kaki.

Adalah Dr Thomas Yates, ia menyebutkan bahwa berjalan kaki 2.000 langkah perhari selama satu tahun, mampu menghilangkan risiko stroke dan jantung sebesar 8 persen. Jalan kaki yang kita lakukan cukup dengan 12 menit sehari, untuk aktivitas normal.

Namun jika Anda ingin manfaat yang lebih besar lagi, lakukan jalan kaki sebanyak 4.000 langkah perhari, atau kurang lebih 20 menit, dan akan mengurangi risiko stroke dan penyakit jantung sebesar 16-20 persen.

Penelitian ini melibatkan sukarelawan sebanyak 9.306 orang dari 40 negara, yang terindikasi berkuangnya toleransi terhadap glukosa (IGT), yang bisa memacu diabetes, dan penyakit jantung. Dari penelitian tersebut, kadar gula mereka sedikit demi sedikit berkurang. Sehingga risiko penyakit dapat berkurang.

"Penelitian ini membuka mata kita akan manfaat dari jalan kaki, yang bisa mengubah risiko penyakit jantung, stroke, penyakit kardiovaskuler lainnya," ucap Yates.

Jalan kaki memang sangat mudah dilakukan, kapanpun kita ingin. Terlebih saat ini ada alat treadmill yang bisa membantu kita lebih aman dalam melakukan olahraga yang satu ini.

Minggu, 28 September 2014

Kenali Bahaya di Balik Gula Jagung

Kenali Bahaya di Balik Gula Jagung
Gula merupakan bahan makanan yang hampir tidak bisa kita hindari, dalam penggunaan banyak makanan. Baik itu makanan sehari-hari, ataupun minuman. Rasanya yang manis, membuat lidah mempu menerimanya dengan baik.

Gula juga sering dijadikan penawar rasa pahit, saat akan menyeduh kopi, teh atapun cokelat bubuk. Penggunaan gula memang sangat beragam, dan banyak jenisnya. Tak ayal, konsumsi gula terkadang bisa melebihi ambang batas.

Walaupun baik, konsumsi berlebihan gula bisa menyebabkan banyak penyakit, mulai dari diabetes, obesitas, bahkan hingga penyakit jantung bisa disebabkan oleh konsumsi berlebihan atas gula.

Gula yang ada di pasaran saat ini tergolong menjadi beberapa jenis, seperti gula pasir, gula merah, dan inovasi gula jagung. Yang digadang-gadang bersahabat dengan penderita diabetes.

Tapi mari kita lihat faktanya. Gula pasir yang sering kita konsumsi merupakan gula dengan molekul disakarida, yang dalam kondisi asam (lambung) akan dopecah menjadi glukosa dan fruktosa dengan jumlah yang seimbang. Sementara gula jangung memiliki molekul yang sederhana, yaitu fruktosa, yang kemanisannya mencapai 1,7 lebih banyak dari gula pasir, serta mengandung kalori 25% lebih sedikit.

Dalam sebuah penelitian yang kami kutip dari klikdokter, setiap penelitian gula jagung dan gula pasir biasa, membuktikan hasil yang mengejutkan. Konsumsi fruktosa yang berlebihan, justru akan mengakibatkan obesitas, dan memicu resistensi insulin (awal dari menderita diabetes).

Jadi, setiap gula yang kita konsumsi, baik itu gulapasir biasa atau gula jagung, jika dikonsumsi melebihi batas aktivitas kita, maka risiko menderita beberapa penyakit berbahaya kian tinggi.

Jadi kami sarankan bagi Anda yang berpikiran bahwa, dengan konsumsi gula jagung terbebas dari diabetes, itu salah. Risiko penggunaan gula dalam makanan memang perlu dibatasi, terutama bagi anak-anak. Jangan memberikan gula secara berlebihan, dan usahakan anak untuk banyak bergerak, sehingga kalori dalam tubuhnya mampu terbakar dengan maksimal.

Kamis, 04 September 2014

Tutorial Cara Melakukan CARDIOPULMONARY RESUSCITATION (CPR)

Tutorial Cara Melakukan CARDIOPULMONARY RESUSCITATION (CPR)

Cardiopulmonary resuscitation (CPR) adalah teknik penyelamatan hidup yang berguna dalam keadaan darurat, termasuk serangan jantung atau hampir tenggelam, dimana seseorang bernapas atau detak jantung telah berhenti. The American Heart Association merekomendasikan bahwa setiap orang - pengamat terlatih dan tenaga medis sama - mulai CPR dengan penekanan dada.

Ini jauh lebih baik untuk melakukan sesuatu daripada tidak sama sekali jika Anda takut bahwa pengetahuan atau kemampuan tidak 100 persen lengkap. Ingat, perbedaan antara Anda melakukan sesuatu dan melakukan apa-apa bisa hidup seseorang.

Berikut ini saran dari American Heart Association:
- Terlatih. Jika Anda tidak terlatih dalam CPR, kemudian memberikan tangan-satunya CPR. Itu berarti penekanan dada terganggu sekitar 100 menit sampai paramedis tiba (dijelaskan lebih rinci di bawah). Anda tidak perlu mencoba bantuan pernapasan.
- Dilatih, dan siap untuk pergi. Jika Anda terlatih dan percaya diri dalam kemampuan Anda, dimulai dengan penekanan dada bukan pertama memeriksa jalan napas dan melakukan bantuan pernapasan. Mulai CPR dengan 30 penekanan dada sebelum memeriksa jalan napas dan memberikan napas penyelamatan.
- Terlatih, namun berkarat. Jika Anda sebelumnya telah menerima pelatihan CPR tetapi Anda tidak percaya diri dalam kemampuan Anda, kemudian hanya melakukan penekanan dada pada tingkat sekitar 100 menit. (Rincian dijelaskan di bawah.)

Saran di atas berlaku untuk orang dewasa, anak-anak dan bayi membutuhkan CPR, tapi tidak bayi yang baru lahir.

CPR dapat membuat darah beroksigen yang mengalir ke otak dan organ vital lainnya sampai lebih pengobatan definitif dapat memulihkan denyut jantung normal.

Ketika jantung berhenti, kekurangan darah beroksigen dapat menyebabkan kerusakan otak hanya dalam beberapa menit. Seseorang bisa mati dalam waktu delapan sampai 10 menit.
Untuk mempelajari CPR dengan benar, mengambil kursus pertolongan pertama pelatihan terakreditasi, termasuk CPR dan bagaimana menggunakan defibrillator eksternal otomatis (AED).


Sebelum Anda mulai
Sebelum memulai CPR, periksa:


- Apakah orang sadar atau tidak sadar?
- Bila pasien tidak sadar, tepuk atau guncang bahu nya dan bertanya dengan keras, "Apakah Anda OK?"
- Jika orang tersebut tidak merespon dan dua orang yang tersedia, orang harus menelepon 911 atau nomor    darurat lokal dan satu harus mulai CPR. Jika Anda sendirian dan memiliki akses langsung ke telepon, hubungi 911 sebelum memulai CPR - kecuali jika Anda berpikir orang tersebut telah menjadi tidak responsif karena sesak napas (seperti dari tenggelam). Dalam kasus khusus ini, mulai CPR selama satu menit dan kemudian memanggil 911 atau nomor darurat lokal.
- Jika AED segera tersedia, memberikan satu kejutan jika diperintahkan oleh perangkat, kemudian mulai CPR.




Ingat mengeja C-A-B





The American Heart Association menggunakan singkatan dari CAB - sirkulasi, saluran napas, pernapasan - untuk membantu orang mengingat perintah untuk melakukan langkah-langkah CPR.

Circulation: Restore blood circulation with chest compressions

1. Menempatkan orang di nya atau punggungnya pada permukaan keras.
2. Berlutut di samping leher dan bahu seseorang.
3. Tempatkan tumit satu tangan di atas pusat dada seseorang, antara puting. Tempatkan tangan lainnya di atas tangan pertama. Jaga siku anda lurus dan posisi bahu anda tepat di atas tangan Anda.
4. Gunakan berat badan bagian atas (tidak hanya lengan anda) ketika anda mendorong ke bawah (menekan) dada minimal 2 inci (sekitar 5 cm). Mendorong keras pada tingkat sekitar 100 tekanan per menit.
5. Jika Anda belum terlatih dalam CPR, lanjutkan penekanan dada sampai ada tanda pergerakan atau sampai personil medis gawat darurat mengambil alih. Jika Anda telah dilatih dalam CPR, pergi untuk memeriksa jalan napas dan pernapasan.

Airway: Clear the airway

1. Jika Anda terlatih dalam CPR dan Anda telah melakukan 30 penekanan dada, membuka jalan napas seseorang menggunakan kepala-tilt, chin-lift manuver. Taruh telapak tangan di dahi seseorang dan lembut memiringkan kepala ke belakang. Kemudian dengan tangan yang lain, lembut mengangkat dagu ke depan untuk membuka jalan napas.
2. Periksa napas normal, mengambil tidak lebih dari lima atau 10 detik. Carilah gerakan dada, dengarkan bunyi napas normal, dan rasakan napas seseorang di pipi dan telinga. Sambil terengah-engah tidak dianggap pernapasan normal. Jika orang tersebut tidak bernapas secara normal dan Anda dilatih CPR, mulai mulut-ke mulut. Jika Anda yakin orang tidak sadar dari serangan jantung dan Anda belum terlatih dalam prosedur darurat, melewati mulut-ke mulut pernapasan dan melanjutkan penekanan dada.


Breathing: Breathe for the person

Pernapasan dapat mulut ke mulut atau pernapasan mulut ke hidung pernapasan jika mulut terluka serius atau tidak dapat dibuka.

1. Dengan napas terbuka (menggunakan kepala-tilt, chin-lift manuver), jepit hidung ditutup untuk mulut-ke mulut dan menutupi mulut seseorang dengan Anda, membuat segel.
2. Bersiaplah untuk memberikan dua napas penyelamatan. Berikan napas pertama - yang berlangsung kedua - dan menonton untuk melihat apakah dada naik. Jika tidak naik maka berikan napas kedua. Jika dada tidak naik, ulangi kepala-tilt, chin-lift manuver dan kemudian berikan napas kedua. Tiga puluh penekanan dada diikuti dengan dua napas penyelamatan dianggap sebagai salah satu siklus.
3. Lanjutkan penekanan dada untuk memulihkan sirkulasi.
4. Jika orang tersebut belum mulai bergerak setelah lima siklus (sekitar dua menit) dan defibrillator eksternal otomatis (AED) tersedia, menerapkannya dan ikuti petunjuknya. Administer satu kejutan, kemudian melanjutkan CPR - dimulai dengan penekanan dada - selama dua menit lagi sebelum memberikan kejutan kedua. Jika Anda tidak dilatih untuk menggunakan AED, 911 atau operator darurat medis lainnya mungkin dapat memandu Anda dalam penggunaannya. Gunakan bantalan pediatrik, jika tersedia, untuk anak-anak usia 1 sampai 8. Jangan menggunakan AED untuk bayi yang lebih muda dari usia 1. Jika AED tidak tersedia, lanjutkan ke langkah 5 di bawah ini.
5. Lanjutkan CPR sampai ada tanda-tanda gerakan atau darurat tenaga medis mengambil alih.


Untuk melakukan CPR pada anak

Prosedur untuk memberikan CPR untuk anak usia 1 sampai 8 pada dasarnya sama dengan untuk orang dewasa. Perbedaan adalah sebagai berikut:

- Jika Anda sendirian, melakukan lima siklus kompresi dan napas pada anak - ini harus memakan waktu sekitar dua menit - sebelum memanggil 911 atau nomor darurat lokal Anda atau menggunakan AED.
- Gunakan hanya satu tangan untuk melakukan kompresi jantung.
- Bernapas lebih lembut.
- Gunakan tingkat kompresi-napas yang sama seperti yang digunakan untuk orang dewasa: 30 kompresi diikuti dengan dua napas. Ini adalah salah satu siklus. Setelah dua napas, segera memulai siklus berikutnya kompresi dan napas.
- Setelah lima siklus (sekitar dua menit) dari CPR, jika tidak ada respon dan AED tersedia, menerapkannya dan ikuti petunjuknya. Gunakan bantalan pediatrik jika tersedia. Jika bantalan pediatrik tidak tersedia, gunakan bantalan dewasa.
Lanjutkan sampai bergerak anak atau tiba bantuan.


Untuk melakukan CPR pada bayi

Kebanyakan penangkapan jantung pada bayi terjadi karena kekurangan oksigen, seperti dari tenggelam atau tersedak. Jika Anda tahu bayi memiliki obstruksi jalan nafas, melakukan pertolongan pertama untuk tersedak. Jika Anda tidak tahu mengapa bayi tidak bernapas, melakukan CPR.

Untuk memulai, memeriksa situasi. Stroke bayi dan menonton untuk respon, seperti gerakan, tetapi tidak mengguncang bayi.

Jika tidak ada respon, ikuti prosedur di bawah CAB dan waktu panggilan bantuan sebagai berikut:

- Jika Anda penyelamat saja dan CPR diperlukan, lakukan CPR selama dua menit - sekitar lima siklus - sebelum memanggil 911 atau nomor darurat lokal Anda.
- Jika orang lain yang tersedia, memiliki panggilan orang untuk membantu segera saat Anda hadir untuk bayi.

Circulation: Restore blood circulation

1. Tempatkan bayi di punggung atau dia di sebuah perusahaan, permukaan datar, misalnya meja. Lantai atau tanah juga akan dilakukan.
2. Bayangkan sebuah garis horizontal ditarik antara puting bayi. Letakkan dua jari dari satu tangan tepat di bawah baris ini, di tengah dada.
3. Lembut kompres dada sekitar 1,5 inci (sekitar 4 cm).
4. Hitung keras seperti yang Anda memompa dalam irama yang cukup cepat. Anda harus memompa dengan kecepatan 100 kompresi per menit.

Airway: Clear the airway

1. Setelah 30 kompresi, lembut ujung kepala ke belakang dengan mengangkat dagu dengan satu tangan dan menekan di dahi dengan tangan yang lain.
2. Dalam tidak lebih dari 10 detik, menempatkan telinga Anda dekat mulut bayi dan memeriksa pernapasan: Carilah gerakan dada, dengarkan bunyi napas, dan rasakan napas di pipi dan telinga.

Breathing: Breathe for the infant

1. Tutup mulut dan hidung bayi dengan mulut Anda.
2. Bersiaplah untuk memberikan dua napas penyelamatan. Gunakan kekuatan pipi Anda untuk memberikan tiupan lembut udara (bukan napas dalam-dalam dari paru-paru) untuk perlahan-lahan bernapas dalam satu waktu mulut bayi, mengambil satu detik untuk napas. Menonton untuk melihat apakah dada bayi meningkat. Jika tidak, memberikan napas kedua. Jika dada tidak naik, ulangi kepala-tilt, chin-lift manuver dan kemudian berikan napas kedua.
3. Jika dada bayi masih tidak naik, memeriksa mulut untuk memastikan tidak ada bahan asing yang ada di dalamnya. Jika objek terlihat, menyapu keluar dengan jari Anda. Jika jalan napas tampaknya diblokir, melakukan pertolongan pertama untuk bayi tersedak.
4. Berikan dua napas setelah setiap 30 penekanan dada.
5. Lakukan CPR selama sekitar dua menit sebelum meminta bantuan orang lain kecuali dapat membuat panggilan saat Anda hadir untuk bayi.
6. Lanjutkan CPR sampai Anda melihat tanda-tanda kehidupan atau sampai tenaga medis tiba.

ARDIOPULMONARY RESUSCITATION (CPR)

Resusitasi jantung paru-paru atau CPR adalah tindakan pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu. CPR bertujuan untuk membuka kembali jalan napas yang menyempit atau tertutup sama sekali. CPR sangat dibutuhkan bagi orang tenggelam, terkena serangan jantung, sesak napas karena syok akibat kecelakaan, terjatuh, dan sebagainya.

Namun yang perlu diperhatikan khusus untuk korban pingsan karena kecelakaan, tidak boleh langsung dipindahkan karena dikhawatirkan ada tulang yang patah. Biarkan di tempatnya sampai petugas medis datang. Berbeda dengan korban orang tenggelam dan serangan jantung yang harus segera dilakukan CPR.

Rumus ABC Resusitasi

Pada Keadaan normal, oksigen diperoleh dengan bernapas dan diedarkan dalam aliran darah ke seluruh tubuh. Bila proses pernapasan dan peredaran darah gagal, diperlukan tindakan resusitasi untuk memberikan oksigen ke tubuh. Tindakan ini didasarkan pada 3 pemeriksaan yang disebut langkah-langkah ABC resusitasi: Airway (saluran napas), Breathing (bernafas), dan Circulation (peredaran darah). Untuk orang yang tidak sadar, ikuti urutan ABC sebelum memberikan pertolongan lain Buka saluran napas, usahakan agar si pasien bernafas, dan periksa kelancaran peredaran darahnya dari denyut nadi atau petunjuk lain seperti kewajaran warna kulitnya. Bila pasien tidak bernafas, segera berikan pernapasan bantuan untuk meniupkan oksigen ke tubuhnya. Bila tidak ada denyut atau tanda peredaran darah lalin, segeralah lakukan CPR (cardiopulmonary resuscitation; resusitasi jantung-paru)

Airways
Untuk membuka saluran napas, letakkan satu tangan di dahi pasien, dan dua jari tangan di bawah dagunya. Dengan lembut dongakkan kepalanya dengan menekan dahi sambil sedikit mendorong dagu pasien.

Breathing
Memeriksa ada tidaknya napas, dengarkan bunyi napasnya atau rasai dengan pipi anda sampai 10 detik. Bila tak ada tanda bernafas, mulailah pernapasan buatan.

Circulation
Untuk memeriksa peredaran darah, raba denyut nadi dengan dua jari selama 10 detik. Untuk bayi rabalah denyut brakhial di bagian dalam lengan. Untuk orang dewasa atau anak-anak, raba denyut karotid di leher di rongga antara trakhea(saluran udara)dengan otot besar leher. Periksa tanda-tanda lain peredaran darah, misalnya kewajaran warna kulitnya. Bila tak ada tanda-tanda peredaran darah, segera lakukan CPR.

Selasa, 29 Oktober 2013

Tubuh Kita Tidak Bisa Membedakan Lapar dan Haus

Tubuh Kita Tidak Bisa Membedakan Lapar dan Haus
APA manfaat lain? Sudah menjadi rahasia umum, air putih pasangan yang tepat untuk menjalani diet.
Berkaca pada mereka yang menjalani diet OCD, selama puasa mereka tidak boleh mengonsumsi apa pun yang berkalori kecuali air putih. Mengapa? Air putih mengandung 0 (nol) kalori. Jadi jika lapar di tengah diet, air putih pilihan terbaik untuk mengusir lapar.
Pertanyaannya, benarkah Anda lapar?
Jika benar lapar, mengapa air putih bisa mengenyangkan? Ada fakta unik yang diungkap Riani soal lapar sungguhan dan lapar abal-abal. Tubuh tak bisa membedakan lapar dan haus. Anda yang bisa membedakan karena Andalah yang mengenal tubuh Anda.
Caranya? "Ketika tubuh butuh asupan dan mulut ingin mengunyah, otak memberi tahu lidah: You need salt (butuh yang asin-asin-red). Kemudian, yang terlintas di pikiran kita adalah camilan. Bukan air garam," jelas Riani Susanto ND dari B Clinic Jakarta.
Sebenarnya ini gejala anemic (kurang darah). Mayoritas tiba-tiba merasa lapar itu bukan karena belum makan. Tapi karena haus. Jadi yang Anda butuhkan, air putih. Langkah berikutnya, jika merasa lapar perhatikan jam dan situasi perut. Misalnya, hari ini Anda bangun kesiangan. Tidak sempat makan. Hanya nyeruput secangkir kopi. Lalu lewat jam 11 siang, perut bunyi. Itu artinya Anda lapar.
Kalau jam 6 pagi, Anda sempat menyambar burger dan sebotol soft drink lalu jam 9 pagi sempat coffee break dan jam 11 Anda merasa lapar, sebenarnya itu bukan lapar. Solusinya, air putih. Merasa lapar itu beda dengan menjadi lapar. Istilah gampang lapar itu tidak ada. Yang ada, gampang haus.
Kebiasaan mengecek jam makan dan menimbang lapar atau haus membuat kita bijak mengasup menu. Menghindarkan Anda dari obesitas. Pertanyaan berikutnya, kapan sebaiknya kita minum? Masih dalam talk show "Stay Healthy, Stay Hydrated berama Nestle Pure Life", Presiden Direktur PT Akasha Wira Intermational merekomendasikan delapan momen minum air putih.
"Saat bangun tidur. Saat sarapan. Di sela aktivitas pagi hari. Saat makan siang. Di sela aktivitas makan siang. Saat pulang ke rumah (sehabis sekolah atau bekerja). Saat makan malam. Dan terakhir, sebelum tidur. Jangan lupa, biasakan buang air kecil sebelum memejamkan mata," beri tahu Martin.

Buah-Buahan Ini Turunkan Tekanan Darah Usai Santap Kambing

Buah-Buahan Ini Turunkan Tekanan Darah Usai Santap Kambing
PERAYAAN Idul Adha tak lepas dari hidangan kambing yang diolah selezat mungkin. Jika Anda mengidap tekanan darah tinggi maka siapkan makanan pendamping yang dapat menetralisir efeknya.Jika tidak mau repot membuat minuman segar, cukup siapkan buah-buahan yang sudah dikupas dan siap santap usai Anda mengkonsumsi olahan daging. Beberapa jenis buah-buahan yang mengandung banyak air dipercaya mampu menurunkan tekanan darah tinggi.”Kandungan buah-buahan yang dalam istilah kuliner disebut buah-buahan ‘dingin’ bisa menurunkan tekanan darah. Anda bisa langsung memakannya atau setelah makan kambing langsung minum jus dari buah ini,” kata Chef Ragil kepada Okezone saat ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, baru-baru ini.Buah-buahan yang bisa Anda konsumsi di antaranya mentimun, nanas, melon kuning, melon hijau (honeydew), semangka. Di antara buah-buahan tersebut, mentimun dan nanas dipercaya cepat menurunkan tekanan darah. (uky)

Tidur 6-8 Jam Turunkan Risiko Sakit Jantung dan Stroke

Tidur selama enam hingga delapan jam di malam hari bisa menurunkan risiko terkena penyakit jantung dan stroke.Berdasarkan studi terbaru, peneliti menemukan orang yang tidur kurang dari enam jam di malam hari memiliki kemungkinan terkena serangan jantung atau stroke dua kali lipat, dibanding mereka yang tidur enam hingga delapan jam, demikian dilansir Dailymail.Mereka juga memiliki risiko 2/3 kali lebih besar untuk mengalami kegagalan jantung kongestif yang membuat kemampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh melemah sehingga berpotensi merusak organ-organ lain.Tidur lebih dari delapan jam semalam dikaitkan dengan dua kali lipat berisiko angina dan kemungkinan 19 persen lebih tinggi terserang penyakit arteri koroner.Penulis utama Dr Saurabh Aggarwal, dari Chicago Medical School, mengatakan orang-orang dengan durasi tidur yang terlalu lama memiliki risiko tinggi terkena penyakit kardiovaskular dan risiko tersebut menurun dengan normalnya durasi tidur. “Enam hingga delapan jam adalah durasi tidur terbaik,” katanya.Berdasarkan data Yayasan Jantung Inggris, lebih dari 159 ribu orang di Inggris, meninggal dunia akibat penyakit kardiovaskular pada 2011.Satu dari enam pria dan satu dari sembilan wanita meninggal karena penyakit jantung koroner, dari total hampir 74 ribu kematian. Sementara stroke menyebabkan 42 ribu orang meninggal dunia.Studi terbaru dilakukan dengan melibatkan 6.538 orang yang berasal dari warga yang berdasarkan data kesehatan nasional AS pernah terserang penyakit kardiovaskular.Kuisioner yang diberikan pada partisipan yang rata-rata berusia di awal 60 tahun, memperlihatkan mereka biasa tidur dengan rata-rata selama kurang tujuh jam semalam.Analisa lamanya orang tersebut tidur memperlihatkan dengan jelas kecenderungan bahwa penyakit kardiovaskular lebih banyak menyerang orang-orang dengan waktu tidur kurang dari enam jam atau lebih dari delapan jam.Hasilnya disesuaikan untuk memperhitungkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi risiko kardiovaskular termasuk usia, indeks massa tubuh, kolesterol, merokok, tekanan darah, gangguan tidur dan riwayat keluarga penyakit jantung.Dr Aggarwal dan rekan menulis bahwa gangguan pola tidur dapat memiliki efek luas pada metabolisme tubuh, sistem kekebalan tubuh dan hormon.

Durasi tidur yang minim berefek pada meningkatnya tekanan hormon kortisol, peningkatan tekanan darah, hiperaktivitas dari sistem saraf simpatik dan peradangan meningkat.

Sementara alasan mengapa tidur lebih panjang daripada rata-rata meningkatkan risiko terserang penyakit kardiovaskular, belum diketahui dengan jelas.Hal tersebut bisa terjadi akibat faktor risiko itu sendiri yang berubah atau bisa juga bahwa orang yang tidur lebih lama mungkin mengalami depresi, miskin dan tidak aktif secara fisik.Para penulis mengatakan bahwa hasil penelitian mereka untuk menyelidiki hubungan antara gangguan tidur yang diketahui terkait dengan penyakit jantung, membuat penelitian tersebut menunjukkan adanya indikator kuat tentang pentingnya durasi tidur dengan penelitian lain”Meskipun hasil studi ini menunjukkan hubungan antara durasi tidur dengan kesehatan jantung anda, kami tidak bisa mengatakan bahwa durasi tidur anda akan menyebabkan penyakit jantung dan stroke,” kata Amy Thompson, perawat jantung senior di British Heart Foundation.Menurut dia, memulai gaya hidup yang aktif, dengan diet sehat dan banyak berolahraga akan meningkatkan kesehatan mental dan fisik dan membantu untuk mudah tidur. “Jika anda mengalami masalah gangguan tidur, bicaralah dengan dokter,” katanya.

Rabu, 17 Oktober 2012

MODEL KONSEPTUAL MYRA ESTRINE LEVINE


TEORI LEVINE

TEORI LEVINE & EMPAT KONSEP POKOK
Levine menekankan kebutuhan dalam memandang individu sebagai makhluk holistik yang termasuk individu sebagai makhluk yang kompleks. Dia mendefinisikan perawatan berdasarkan pada ketergantungan/ hubungan manusia dengan orang lain. Besarnya ketergantungan ini membuatnya merencanakan empat prinsip konservasi yakni kebutuhan energi dan pemakaiannya, integritas sosial, integritas struktur, integritas personal. Manusia tergantung pada yang lain pada semua aspek kehidupan, makanan, keamanan, rekreasi dan penghargaan. Levine mengharapkan seorang perawat :
  1. mengetahui kekomplekan interaksi
  2. mendukung dalam mempertahankan atau memulihkan hubungan saat klien mengalami gangguan kesehatan.
Keseimbangan yang normal berubah saat sakit dan klien akan berusaha mengatasi stress nya dan mungkin menunjukkan perubahan pola tingkah laku dan fungsi. Seorang perawat harus mempersepsikan pertanggung jawaban dalam membantu klien untuk mengadaptasi perubahan kearah cara pemeliharaan kesehatan yang positif. Pengaruh masyarakat atau lingkungn dalam teori Levine sangat penting. Inti dari definisi teori Levine bahwa perawatan adalah interaksi antara manusia, ia menggunakan konsep adaptasi dan peningkatan respon tubuh melalui pendekatan sistem.


TEORI LEVINE DAN PROSES KEPERAWATAN
Teori perawatan Levine pada pokoknya sama dengan elemen-elemen proses perawatan. Menurutnya harus selalu mengobservasi klien, memberikan intervensi yang tepat sesuai dengan perencanaan dan mengevaluasi. Semua tindakan ini bertujuan untuk membantu klien. Menurutnya dalam perawatan klien, perawat dan klien harus bekerja sama.
Dalam teori Levine, klien dipandang dalam posisi ketergantungan, sehingga kemampuan klien terbatas untuk berpartisipasi dalam pengumpulan data, perencanaan, implementasi atau semua fase dari posisi ketergantungan. Klien membutuhkan bantuan dari perawat untuk beradaptasi terhadap gangguan kesehatannya. Perawat bertanggung jawab dalam menentukan besarnya kemampuan partisipasi klien dalam perawatan.Dalam fase pengkajian, klien dikaji melalui dua metoda yaitu interview dan observasi. dalam pengkajian berfokus pada klien, keluarga, anggota lainnya, atau hanya mempertimbangkan penjelasan dari mereka dalam membantu memecahkan permasalahan kesehatanklien. Hal ini juga mempengaruhi kesiapan klien dalam menghadapi lingkungan eksternal. Menurut Levine, jika anggota keluarga membutuhkan suatu perjanjian maka keluarga harus menjadi sasaran pengkajian. Dalam pengkajian menyeluruh, perawat menggunakan empat prinsip teori Levine yang disebut pedoman pengkajian. Perawat menitik beratkan pada keseimbangan energi klien dan pemeliharaan integritas klien. Kemudian perawat mengumpulkan sumber energi klien yaitu nutrisi, istirahat (tidur), waktu luang, pola koping, hubungan dengan anggota keluarga/orang lain, pengobatan, lingkungan dan penggunaan energi yakni fungsi dari beberapa sistem tubuh, emosi dan stress sosial dan pola kerja. Juga data tentang integritas struktur klien yaitu pertahanan tubuh, struktur fisik, integritas personal (sistem diri klien) yakni keunikan, nilai, kepercayaan dan integritas sosial yakni : proses keputusan dari klien dan hubungan klien dengan orang lain serta kesukaran dalam berhubungan dengan orang lain atau masyrakat.
Setelah mengumpulkan semua data, perawat menganalisa data secara menyeluruh. Analisa ini mencerminkan keseimbangan kekuatan dan kelemahan dari diri klien pada empat area pengkajian (prinsip konservasi). Analisa ini juga membutuhkan pengumpulan data lebih banyak. Dalam menganalisa, konsep dan teori dari disiplin lain juga sama penekanannya.Dalam fase perencanaan dimasukkan tujuan akhir. Proses perawatan menekankan kualitas dari aktivitas klien dan perawat. Bagaimanpun, Levine tidak secara khusus mengidentifikasikan atau menekankan kebutuhan sebagai tujuan akhir. Kesimpulannya mutu adalah sangat penting diaplikasikan dalam teori ini untuk mencapai tujuan klinik. Dasar dari pendapat ini adalah : Posisi ketergantungan dari klien sebagai akibat dari sakit atau bantuan kesehatan yang membutuhkan bantuan perawatan.Tanggung jawab perawat untuk memonitor kondisi klien dalam mengatur keseimbangan antara intervensi keperawatan dan partisipasi klien dalam perawatan. Perawat sebagai individu harus melibatkan klien dalam aktivitas pengkajian dasar dan kemampuan partisipasi klien dalam mencapai tujuan akhir. Tujuan harus mencerminkan usaha membantu klien untuk beradaptasi dan mencapai kondisii sehat. Dalam fase perencanaan, perawat harus menetapkan tujuan :
  1. Menetapkan strategi yang dipakai untuk perencanaan.
  2. Menentukan tingkat perencanaan yang harus dikembangkan untuk mencapai tujuan.
Levine menyatakan perawat harus mempunyai dasar pengetahui praktis, kemudian tahapan dari perencanaan perawatan harus berdasar dari prinsip, hukum, konsep, teori, dan pengetahuan tentang diri manusia. Dalam mengembangkan perencanaan perawat harus meningkatkan kemampuan partisipasi klien dalam perencanaan perawatan dan mengidentifikasi tingkat partisipasi klien. Selama fase perencanaan perawat boleh konsul dengan team kesehatan lain. Pelaksanaan dari perawatan disebut implementasi. Perawat harus mengawasi respon klien. Data dikumpulkan kemudian dipakai dalam fase evaluasi. Selama fase evaluasi perawat bertanggung jawab untuk memberikan perawatan kepada klien. Teori Levine menyatakan bahwa :
  1. Perawat harus memiliki skill untuk melaksanakan intervensi keperawatan.
  2. Intervensi perawat mendorong adaptasi klien.
  3. Dalam fase evaluasi perawat memusatkan respon dari klien untuk melakukan tindakan perawatan.
  4. Perawat mengumpulkan data tentang respon klien untuk menetukan intervensi perawatan yaitu tentang pengobatan atau support.
Bagaimana teori Levine berfokus pada orang per orang, berorientasi pada waktu sekarang maupun masa yang akan datang, dan klien dengan gangguan kesehatan membutuhkan intervensi perawatan.

REFERENSI :
Dwidiyanti, Mediana. 1998. Aplikasi Konseptual Keperawatan. AKPER DEPKES : Semarang.

ASKEP GADAR PERDARAHAN


Definisi  
 Perdarahan terjadi jika pembuluh darah putus atau pecah. 
 Perdarahan luar 
 Perdarahan dalam 
 Perdarahan hebat, dapat membahayakan shock hipovolemik  
 Klafisikasi : perdarahan kapiler, perdarahan arteri, perdarahan vena.

Asuhan Keperawatan 
Pengkajian 
  • Pengkajian ABCD, pucat, kulit dingin dan lembab, tekanan darah turun, nadi cepat tapi lemah, nafas dalam dan cepat, menurunnya produksi urine.
  • Diagnosa keperawatan 
  • Kurang volume cairan tubuh berhubungan dengan kehilangan darah aktif. 
  • Penurunan kardiak output berhubungan dengan penurunan preload, kehilangan darah. 
  • Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan kehilangan darah.
  • Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan perfusi otak. 
  • Tujuan keperawatan  
     Mengontrol perdarahan. 
     Mempertahankan volume darah sirkulasiadekuat untuk oksigenasi. 
     Mencegah shock. 


    Penatalaksanaan kedaruratan  
    Potong baju pasien untuk mengidentifikasi area perdarahan dan lakukan pengkajian fisik dengan cepat. 
     Beri penekanan pada area perdarahan. 
    • Penekanan langsung 
    Tekan langsung area perdarahan dengan telapak tangan atau menggunakan pembalut atau kainyang bersih selama kurang lebih 15 menit, dan pasang balutan tekanan kuat. 
    • Penekanan arteri  
    Penekanan dilakukan pada ujung arteri yang sesuai (ujung dimana arteri ditekan melawan tulang yang berada dibawahnya). 
    Enam titik utama penekanan  
     Arteri temporalis : pada daerah depan masing-masing telinga dan dapat ditekan pada tulang tengkorak. 
     Arteri fasialis : terletak dibawah dagu dan 2,5 cm sebelah dalam dagu. 
     Arteri karotis komunis : pada sisi samping trachea. Saat dilakukan tekanan observasi pernapasan pasien dan tidak boleh pada kedua arteri karotis dalam waktu bersamaan. 
     Arteri subklavia : terletak dibawah kedua sisi klavikula (tulang collar). Penekanan harus dilakukan pada posisi melintang dibelakang dan kira – kira setengah panjang klavikula. 
     Arteri brakhialis : pada pertengahan antara siku dan bahu, terletak pada daerah yang lebih dalam dari lengan atas antara otot biseps dan triseps. 
     Arteri femoralis : dapat dirasakan pada lipat paha.  
    • Torniket  
     Pemasanagan torniket pada ekstremitas hanya sebagai upaya terakhir ketika perdarahan tidak dapat dikontrol dengan metode lain.
     Torniket dipasang tepat proksimal dengan luka ; torniket cukup kencang untuk mengontrol aliran darah arteri. 
     Berikan tanda pada kulit pasien dengan pulpen atau plester dengan tanda T, menyatakan lokasi dan waktu pemasangan torniket. 
     Longgarkan torniket sesuai petunjuk untuk mencegah kerusakan vascular atau neurologik. Bila sudah tidak ada perdarahan arteri, lepasakan torniket dan coba lagi balut dengan tekanan. 
     Pada kejadian amputasi traumatic, jangan lepaskan torniket sampai pasien masuk ruang operasi. 
     Tinggikan atau elevasikan bagian yang luka untuk memperlambat mengalirnya darah. 
     Baringkan korban untuk mengurangi derasnya darah keluar. 
     Berikan cairan pengganti sesuai saran, meliputi cairan elektrolit isotonic, plasma atau protein plasma, atau terapi komponen darah (bergantung perkiraan tipe dan volume cairan yang hilang). 
    • Darah segar diberikan bila ada kehilangan darah massif. 
    • Tamabahan trombosit dan factor pembekuan darah diberikan ketika jumlah darah yang besar diperlukan karena darah penggantian kekurangan factor pembekuan. 
     Lakukan pemeriksaan darah arteri untuk menentukan gas darah dan memantau tekanan hemodinamik. 
     Awasi tanda – tanda shock atau gagal jantung karena hipovolemia dan anoksia. 


    REFERENSI  
    Brunner and Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah, Ed.8 Vol.3. EGC : Jakarta. 
    Hudak, Carolyn M. 1996. Keperawatan Kritis-Pendekatan holistic, Ed. 6. Vol. 2. EGC : Jakarta. 
    Pusponegoro, A.D. Dkk . Buku Panduan Penanggulangan Penderita gawat Darurat. Ambulance 118 : Jakarta. 
    Skeet, Muriel. 1995. Tindakan paramedic Terrhadap Kegawatan dan Pertolongan Pertama, Ed. 2. EGC : Jakarta. 

    Kamis, 23 Juni 2011

    Kurangi Garam untuk Kesehatan Jantung

    reallynatural.com
    MENGURANGI asupan garam, khususnya bagi pencinta makanan bercita rasa asin, bukanlah hal yang mudah. Tapi, Anda bisa memulai dengan jumlah kecil. Studi terbaru mengungkap, mengurangi tiga gram garam dalam sehari atau setara dengan setengah sendok teh mampu mengurangi kemungkinan penyakit jantung secara dramatis.

    Menurut penulis studi yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine, manfaat pengurangan tiga gram garam ini setara dengan pengurangan 50 persen kebiasaan merokok dan pengurangan lima persen indeks massa tubuh pada orang yang obesitas.

    "Manfaat pengurangan garam dalam menurunkan tekanan darah dan penyakit jantung telah lama diketahui. Penelitian ini hanya memetakan jumlah yang baik. Studi ini mempunyai bukti ilmiah pentingnya mengurangi garam dalam meningkatkan kualitas hidup dan angka harapan hidup," tutur Dr. Robert Eckel dari University of Colorado Denver School of Medicine, seperti dikutip situs healthday.

    Badan-badan kesehatan di Amerika menganjurkan agar orang dewasa membatasi asupan garam hingga 5,8 gram (2.300 miligram sodium) sehari. Akan lebih baik lagi jika bisa membatasi hingga 3,7 gram sehari.

    Yayasan Jantung Amerika (American Heart Association) juga menganjurkan konsumsi sodium kurang dari 2.300 mg sehari. Akan tetapi, jumlah ini dikurangi lagi hinga kurang dari 1.500 mg per hari bagi mereka yang berusia lanjut atau penderita hipertensi. (IK/OL-08)

    Teknik Memenuhi Rasa Nyaman Pada Masa Hamil (Distraksi & Relaksasi)

    Ibu hamil dan bayiTidak semua wanita mengalami ketidaknyamanan akibat kehamilan yang disebutkan dibawah ini, akan tetapi tidak sedikit juga wanita yang mengalami ketidaknyamanan tersebut. Cara meringankan ketidaknyamanan bisa membuat perbedaan yang signifikan dalam cara wanita tersebut memandang pengalaman kehamilannya. Dasar fisiologis, psikologis dan anatomis untuk masing-masing ketidaknyamanan tersebut diberikan untuk merangsang pemikiran selanjutnya tentang cara-cara meringankannya. Cara-cara meringankan tersebut didasarkan pada penyebab dari ketidaknyamanan tersebut serta diarahkan ke penatalaksanaan symptomatik.

    Rasa letih

    Rasa letih sering terjadi selama trimester pertama tanpa diketahui penyebabnya. Salah satu sangkaan yang diajukan ialah penurunan awal dalam laju metabolik dasar pada awal-awal kehamilan, tetapi mengapa hal itu terjadi tidaklah jelas. Untunglah hal ini hanya merupakan ketidaknyamanan yang terbatas, biasanya akan lenyap pada akhir trimester pertama. Namun, hal tersebut bisa mempunyai efek meningkatkan intensitas respon psikologis yang dialami wanita selama masa tersebut.

    Langkah-langkah peringanannya ialah meyakinkan ibu tentang kenormalan rasa letih tersebut serta pengurangan dengan sendirinya pada trimester kedua di kemudian hari. Hal ini akan dapat membantu ibu tersebut untuk mengambil lebih banyak waktu istirahat pada siang hari hingga masa ini berlalu. Sedikit senam berikut konsumsi makanan yang bergizi akan dapat melawan rasa letih ini.

    Punggung atas sakit (bukan karena penyakit)

    Sakit punggung bagian atas bisa terjadi selama trimester pertama oleh karena pertambahan ukuran dan akibat beratnya payudara, yang juga merupakan pertanda presumtif kehamilan.

    Langkah peringanan, karenanya ialah dengan mengenakan BH yang cocok ukurannya dan menopang payudara. Dengan menambah mobilitas payudara, BH yang pas dan menopang juga akan mengurangi ketidaknyamanan kelembutan payudara akibat pembesaran.

    Kram kaki

    Alasan-alasan fisiologis dari kram di kaki ini tidaklah jelas diketahui. Selama sekian tahun, kram di kaki dianggap disebabkan oleh kurangnya atau terganggunya konsumsi kalsium atau ketidakseimbangan dalam perbandingan kalsium-fosfor didalam tubuh, tetapi semua penyebab ini sekarang tidak lagi dinyatakan demikian dalam literatur-literatur saat ini.

    Satu aliran lain menganggap bahwa uterus yang membesar memberikan tekanan pada pembuluh-pembuluh darah panggul, dan dengan demikian mempengaruhi sirkulasi, atau pada syaraf saat mereka meresap melalui foramen obturator dalam perjalanannya ke tungkai bagian bawah. Langkah-langkah peringanan yang disarankan adalah sebagai berikut :

    Anjurkan wanita tersebut meluruskan kakinya yang kram dan meruncingkan telapak kakinya (mendorsifleksikan telapak kakinya). Jika wanita tersebut sedang diatas tempat tidur, maka akan memerlukan penekanan yang kuat dan terus menerus terhadap dasar telapak kakinya, baik oleh tangan seseorang atau oelh papan penahan ranjang bagian bawah, atau ditekankan. Jika wanita tersebut sedang berdiri, maka lantai bisa berfungsi untuk itu. Langkah ini hampir dapat dipastikan bisa dengan segera memperbaiki sirkulasi.
    Senam umum dan kebiasaan gerakan tubuh (body mekanik) yang baik untuk memperbaiki sirkulasi
    Mengangkat kaki lebih tinggi secara periodik sepanjang hari
    Diet yang meliputi baik kalsium maupun fosfor

    Edema tungkai

    Edema (penimbunan cairan atau bengkak) tungkai adalah akibat sirkulasi vena yang terganggu serta tekanan vena yang meningkat didalam tungkai bagian bawah. Gangguan-gangguan sirkulasi ini adalah disebabkan tekanan dari uterus yang membesar pada pembuluh-pembuluh vena panggul pada saat wanita tersebut sedang duduk atau berdiri serta pada vena cava inferior ketika wanita tersebut berbaring menggeletak. Setiap pakaian yang ketat dan membatasi dan menghambat aliran balik darah dari tungkai bagian bawah akan menambah parahnya masalah ini. Edema tungkai pada tungkai pada umumnya akan terlihat dibagian pergelangan kaki dan harus cermat dibedakan dari edema yang berkaitan dengan pre eklampsia/eklampsia. Langkah-langkah peringanannya meliputi hal-hal berikut :

    Menghindari pakaian-pakaian yang ketat
    Menaikkan kaki secara periodik sepanjang hari
    Memposisikan diri dalam keadaan miring pada saat berbaring
    Mengenakan penopang atau korset abdominal yang bisa meringankan tekanan pada vena-vena panggul.

    Varikositas/varises

    Sejumlah faktor ikut menentukan perkembangan varikositas selama kehamilan. Vena-vena varikositas adalah lebih mungkin terjadi pada wanita yang memiliki kecenderungan familial atau kecenderungan bawaan. Varikositas bisa timbul dari sirkulasi vena yang terganggu serta pada vena yang mengalami tekanan meningkat pada tungkai bagian bawah. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh tekanan dari uterus yang membesar pada vena panggul ketika wanita tersebut sedang duduk atau berdiri dan pada vena cava inferior ketika ia sedang berbaring menggeletak. Setiap pakaian yang dapat menghambat aliran balik vena dari tungkai bagian bawah atau karena berdiri terlalu lama akan membuat masalah ini lebih parah. Relaksasi yang diakibatkan oleh progesteron atas dinding vena serta katup-katupnya dan sekeliling otot-otot halus (rata) juga akan ikut memicu berkembangnya varikositas.

    Varikositas selama masa kehamilan paling jelas menonjol kelihatan pada bagian kaki dan atau vulva. Langkah-langkah peringanan yang spesifik bagi varikositas vulva diantaranya adalah :

    Penggunaan kaus kaki penunjang, verban atau stocking elastis, yang dipakai setelah mengangkat kaki sebelum bangun
    Menghindari pakaian yang terlalu sempit
    Menghindari berdiri terlalu lama
    Saat istirahat, kaki dinaikan/ditinggikan secara periodik sepanjang hari
    Berbaring dalam posisi tegak lurus beberapa kali sehari (ibu tidur ditempat yang rata lalu kaki dipijakkan ke tembok sehingga antara kaki, pantat dan tembok seolah2 membentuk sudut 90á´¼)
    Mengambil posisi bersandar miring beberapa kali sehari (boleh miring ke kanan atau pun ke kiri, dimana posisi kaki yang ada pada bagian bawah diluruskan sedangkan posisi kaki yang ada pada bagian atas agak ditekuk sedikit)
    Menjaga agar kaki tidak bersilang bila duduk
    Jika memungkinkan duduk dengan posisi kaki ditinggikan dan jangan berdiri
    Mempertahankan postur dan mekanisme tubuh yang baik
    Ikut serta dalam senam ringan dan berjalan kaki, untuk membantu peningkatan sirkulasi
    Memberikan penopang fisik untuk varikositas vulva dengan bantalan karet busa yang dipegang ditempatnya dengan tali pinggang yang saniter
    Mengenakan penopang abdominal ibu atau tali pengikat, untuk mengurangi tekanan pada vena panggul
    Melakukan senam kegel untuk varikositas vulva atau hemoroid/wasir, untuk meningkatkan sirkulasi

    Nyeri urat (ligamen) bundar

    Ligamen (urat) bundar melekat pada kedua sisi uterus persis dibawah dan didepan jalan masuk tuba fallopii, ligamen-ligamen ini kemudian melintasi ligamen yang lebar didalam sebuah lipatan peritoneum, melintasi kanal inguinal dan masuk menusuk didalam bagian anterior (atas) dari labia mayora pada kedua sisi perineum. Ligamen-ligamen tersebut sebagian besar terdiri dari otot-otot halus-rata yang bersambung terus dengan otot uterus. Jaringan otot ini memungkinkan ligamen-ligamen bundar untuk berhipertropi selama kehamilan, dan pada hakikatnya, ikut meregang saat uterus membesar. Secara anatomis, ligamen-ligamen bundar tersebut mau tidak mau harus meningkatkan ukuran panjangnya saat uterus membesar dan naik ke atas ke dalam abdomen. Rasa nyeri ligamen bundar diyakini adalah disebabkan oleh pemelaran dan juga oleh karena tekanan dari uterus yang terus bertambah berat terhadap ligamen-ligamen tersebut. Hal ini merupakan ketidaknyamanan yang sangat umum yang harus dibedakan dari penyakit saluran gastro intestinal dan organ abdomen, misalnya usus buntu, peradangan kantung empedu, dan bisul perut. Satu ciri yang dapat membantu dalam perbedaan ini ialah melebarnya rasa nyeri tersebut ke daerah lipatan paha inguinal.

    Langkah-langkah pentalaksanaannya tidak banyak dan tidak terlalu bisa efektif. Nyeri ligamen itu merupakan salah satu dari ketidaknyamanan yang mau tidak mau harus diterima oleh para wanita hamil. Langkah-langkah penatalaksanaannya diantaranya :

    Menekuk lutut kearah abdomen
    Membungkukan badan ke arah yang sakit untuk mengendorkan rentangan ligamen
    Mengangkat panggul
    Mandi air hangat
    Menopang uterus dengan sebuah bantal dibawahnya dan sebuah bantal lain diantara dengkul pada waktu berbaring miring
    Memakai penopang abdomen atau korset ibu.

    Rasa sakit pada punggung bawah (bukan karena penyakit)

    Rasa sakit punggung merupakan sakit punggung yang terjadi di bagian lumbosakral. Nyeri tersebut biasanya akan bertambah parah dalam intensitasnya pada kehamilan lanjut, karena hal ini memang disebabkan pergeseran dari titik gaya berat dan juga posturnya, perubahan-perubahan ini dihasilkan oleh bobot dari uterus yang membesar. Masalah ini akan bertambah parah jika otot abdomen wanita tersebut longgar atau lemah, otot-otot ini tidak memberikan topangan kepada uterus yang terus membesar.

    Penatalaksanaan dalam mengatasi nyeri punggung bagian bawah :

    Posisi tubuh yang baik
    Gerak tubuh yang tepat untuk mengangkat
    Hindari emmbengkokan tubuh, mengangkat secara berlebihan, atau berjalan tanpa periode istirahat
    Menggunakan sepatu bertumit rendah/tidak bertumit, karena sepatu bertumit tinggi tidak stabil
    Jika masalah menjadi berat, penopang perut eksternal dianjurkan, seperti korset atau penopang perut
    Kehangatan (tidak terlalu panas) pada punggung seperti bantal hangat, mandi air hangat
    Pemberian es pada punggung
    Pijitan/urut punggung
    Menggunakan matras yang keras serta tidur menggunakan bantal untuk meluruskan punggung

    Perubahan dalam pusat gravitasi yang timbul dari uterus yang membesar dan berat dapat menyebabkan wanita tersebut mengalami posisi dimana bahunya berada jauh ke belakang dan kepalanya dilenturkan ke depan dalam usaha untuk mengimbangi bagian depannya yang berat dan punggung yang melengkung. Posisi tubuh ini dianggap menyebabkan kompresi syaraf pada lengan, yang akan menyebabkan rasa gatal dan mati rasa pada jari-jari. Langkah-langkah peredaan mencakup penjelasan tentang kemungkinan penyebab dan anjurkan untuk mengambil posisi tubuh yang baik. Beberapa wanita memperoleh perbaikan hanya dengan berbaring. Kelemahan dari otot-otot abdominal adalah lebih umum pada wanita yang sudah banyak sekali mengalami kehamilan dan melahirkan, yang tidak melakukan senam dan tidak mendapatkan kembali tonus abdominalnya setelah setiap kali habis melahirkan. Wanita primigravida biasanya memiliki tonus otot yang baik sekali, karena otot-otot mereka sebelumnya belum pernah meregang.

    Sakit punggung juga bisa disebabkan oleh pembungkukan yang berlebihan, berjalan terus tanpa istirahat, dan mengangkat barang, terutama jiak semua hal tersebut dilakukan ketika wanita tersebut sedang lelah. Kegiatan semacam itu akan menambah ketegangan pada punggung. Pergerakan tubuh yang benar dalam hal mengangkat benda berat adalah sangat penting untuk menghindari ketegangan otot. Ada dua prinsip yang harus diikuti :

    Merunduk dan bukannya membengkokan tubuh untuk mengangkat sesuatu sehingga kaki (paha) dan bukannya punggung yang memikul beban dan merentang
    Rentangkan kaki dan letakkan satu kaki agak didepan yang lain ketika merunduk sehingga ada landasan luas bagi keseimbangan ketika berdiri dari posisi merunduk.

    MENGURANGI RASA SAKIT SAAT PERSALINAN

    Persepsi rasa sakit sangat bervariasi tergantung pada keadaan emosional ibu. Dukungan yang baik selama persalinan dapat menenangkan dan mengurangi rasa sakit. Rasa sakit ini dapat dikurangi dengan mengalihkan perhatian ibu melalui menganjurkan ibu berjalan-jalan atau mengubah posisi yang nyaman sesuai kehendak ibu.

    Peran dari pendamping persalinan juga sangat bermanfaat untuk memberikan support persalinan atau pun melakukan massase punggung atau mengusap mukanya diantara kontraksi. Teknik mengurangi rasa sakit juga dapat dilakukan dengan menggunakan teknik pernafasan tertentu atau dengan berendam air hangat untuk memberikan efek rileksasi.

    Posisi mengatasi gangguan rasa nyaman pada fase 1 laten

    Posisi yang nyaman untuk mengatasi rasa sakit pada setiap tahap tidak sama. Cobalah beberapa posisi agar dapat mengikuti proses yang terjadi. Suami atau pendamping persalinan lainnya dapat memberi semangat dan membantu meringankan ketidaknyamanan yang dialami ibu dengan mengurut pinggang belakang serta menenangkan ibu.

    Duduk

    Duduklah di kursi dengan menghadap ke belakang, kedua kaki dilebarkan. Rebahkan kepala ke sandaran kursi, sementara suami mengurut punggung isteri.

    Bersandar tegak

    Pada saat kontraksi, bersandarlah pada sesuatu yang dekat seperti dinding, punggung kursi atau tempat tidur. Berlututlah bila perlu dan letakan bantal di lantai untuk menahan lutut. Condongkan panggul ke depan, lalu kembali ke posisi semula.

    Bersandar ke depan

    Duduk menghadap sandaran kursi dengan kedua kaki mengangkang. Letakkan sebuah bantal di sandaran kursi supaya kepala dan tangan tidak sakit. Selain pada kursi, ibu dapat juga bersandar pada tubuh suami, pintu, meja dan lain-lain.

    Berlutut ke depan

    Ibu dapat mengatasi rasa sakit dengan berlutut dilantai dengan kaki melebar. Gunakan beberapa bantal besar untuk menopang. Punggung tetap lurus. Setelah itu, duduklah dengan posisi miring diantara kontraksi.

    Naikkan pantat dengan kepala tetap diatas bantal akan membantu mengurangi sakit di punggung (karena kepala bayi menekan perut)

    Mengatasi sakit punggung

    Berlutut dengan bertumpu pada kedua lutut dan lengan, serta punggung lurus dapat mengurangi sakit saat kontraksi. Letakkan bantal dibawah lutut. Saat diantara kontraksi, bersandarlah ke depan atau duduklah bersila.

    Miring ke depan

    Miringkan panggul beberapa kali ke depan dan belakang diantara kontraksi, lalu beristirahatlah dengan meletakan kepala di lengan. Tekanan kepala bayi pada punggung akan berkurang.

    Jangan meneran

    Jika pembukaan belum sepenuhnya lengkap, jangan meneran dulu, aturlah posisi seperti bersujud/menungging, tapi kaki diluruskan, dan kepala menghadap ke samping dan diletakkan diatas lengan sambil melakukan pernafasan pendek-pendek.

    Mengurut punggung (massase)

    Ibu mengurut bagian bawah punggung dengan telapak tangannya, dengan gerakan berputar. Taburkan bedak talk untuk menghindari lecet pada kulit. Selain dapat mengurangi sakit punggung, juga dapat memberikan efek tenang dan tenteram pada ibu. Disini amat besar peran pendamping untuk memberikan perhatian kepada ibu, tidak hanya dalam hal massase tapi juga dalam bentuk kalimat-kalimat yang berisi motivasi kepada ibu.

    Teknik mengatur pernafasan

    Pernafasan tahap 1

    Setiap kali kontraksi, dari awal sampai berakhir, tariklah nafas dalam-dalam dan teratur melalui hidung dan keluarkan melalui mulut. Pada puncak kontraksi, bernafaslah ringan dan pendek-pendek melalui mulut.

    Bernafas pendek-pendek yaitu bernafaslah dengan mulut sewaktu kontraksi memuncak, tapi jangan terlalu lama karena dapat mengakibatkan pusing.

    Pernafasan saat transisi

    Kontraksi akan terjadi selama satu menit dan bisa terasa setiap menit. Agar ibu tidak meneran terlalu awal katakan : “huh-huh, pyuh”, sambil bernafas pendek-pendek. Lalu bernafaslah panjang. Setelah itu bernafaslah perlahan dan teratur.

    Mengatur pernafasan dapat dilakukan dengan menarik nafas pendek-pendek untuk mengurangi rasa sakit selama tahap kedua, selain untuk menahan keinginan meneran.

    Menolong diri sendiri

    Jika kontraksi semakin kuat dan sering, cobalah beberapa posisi yang pernah dicoba sebelumnya. Bila ibu ingin berbaring, lakukan berbaring miring, jangan terlentang. Gunakan beberapa bantal untuk menyangga kepala dan paha.

    Menghadapi kontraksi

    Bergerak terus diantara kontraksi untuk mengatasi rasa sakit
    Pusatkan perhatian pada pernafasan untuk mengalihkan perhatian pada kontraksi
    Rileks sewaktu tidak kontraksi untuk menghemat tenaga
    Jangan menahan BAK agar kandung kemih tidak penuh saat bayi keluar
    Punggung tetap lurus agar bayi tetap di mulut rahim. Kontraksi akan menajdi lebih kuat
    Jika terasa sakit, berteriaklah atau menangis. Jangan ditahan atau merasa malu.
    Pusatkan perhatian pada suatu objek tertentu untuk mengalihkan perhatian dari rasa sakit.

    Suami dapat turut berperan dalam proses persalinan dengan menghibur dan memberi semangat. Bersabarlah, walaupun isteri menjengkelkan pada saat dia sangat menderita. Ingatkan ibu akan latihan teknik pernafasan, usap keningnya yang berkeringat, peluk bahunya, urut punggungnya dan beri minum bila ibu haus.

    Bersandar pada suami

    Jika ibu masih bisa berjalan pada awal persalinan, berhentilah saat terjadi kontraksi dan bersandarlah pada suami.

    Sumber :

    lenteraimpian.wordpress.com

    Bennet, V. R. & Brown L.K. 1996. Myles. ed 12. London : Chounchil Livingstone

    Fenwick, Elisabeth. 1999. Tips Penting Melahirkan. Jakarta : Dian Rakyat

    Varney, Helen. 1997. Varney’s Midwifery. Ed. 3. New York : Jones and banthet

    Sabtu, 23 April 2011

    Faktor Individual dalam Pengambilan Keputusan

    Sebelumnya telah dikemukakan proses dasar pengambilan keputusan yang dilakukan seseorang dalam pengambilan keputusan. Dalam kenyataannya pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seseorang tidak sistematis seperti proses yang dikemukakan sebelumnya. Keputusan individu dalam organisasi biasanya dilakukan untuk permasalahan-permasalahan yang tidak kompleks. Dalam pengambilan suatu keputusan individu dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu nilai individu, kepribadian dan kecenderungan dalam pengambilan resiko.

    A. Nilai individu pengambil keputusan
    Nilai-nilai individu pengambil keputusan merupakan keyakinan dasar yang digunakan seseorang jika ia dihadapkan pada permasalahan dan harus mengambil suatu keputusan. Nilai-nilai ini telah tertanam sejak kecil melalui suatu proses belajar dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam banyak keadaan individu bahkan tidak berfikir untuk menyusun / menilai keburukan dan lebih ditarik oleh kesempatan untuk menang.

    B. Kepribadian
    Keputusan yang diambil seseorang juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti kepribadian. Dua variabel utama kepribadian yang berpengaruh terhadap keputusan yang dibuat, seperti ideologi versus kekuasaan dan emosional versus obyektivitas. Beberapa pengambil keputusan memiliki suatu orientasi ideologi tertentu yang berarti keputusan dipengaruhi oleh suatu filosofi atau suatu perangkat prinsip tertentu. Sementara itu pengambil keputusan atau orang lain mendasarkan keputusannya pada suatu yang secara politis akan meningkatkan kekuasaannya secara pribadi.

    Beberapa pengambil keputusan kadang kala emosionalnya mempengaruhi keputusan yang diambilnya. Emosional tersebut dapat berupa kecenderungan kepribadian seseorang atau emosional yang berasal dari kebutuhan akan perlindungan. Emosional dapat mempengaruhi cara suatu permasalahan dianalisis, jenis informasi dan alternatif yang dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan. Informasi yang obyektif diabaikan, dan keputusan hanya didasarkan pada perasaannya saja. Sementara itu beberapa pengambil keputusan yang lain lebih obyektif, dimana mereka menghindari adanya kekeliruan persepsi tentang permasalahan maupun informasi yang berkaitan dengannya.

    C. Kecenderungan terhadap pengambilan resiko
    Untuk meningkatkan kecakapan dalam membuat keputusan, perawat haus membedakan situasi ketidakpastian dari situasi resiko, karena keputusan yang berbeda dibutuhkan dalam kedua situasi tersebut. ketidakpastian adalah kurangnya pengetahuan hasil tindakan, sedangkan resiko adalah kurangnya kendali atas hasil tindakan dan menganggap bahwa si pengambil keputusan memiliki pengetahuan hasil tindakan walaupun ia tidak dapat mengendalikannya. Lebih sulit membuat keputusan dibawah ketidakpastian dibanding dibawah kondisi bahaya. Dibawah ketidakpastian si pengambil keputusan tidak memiliki dasar rasional terhadap pilihan satu strategi atas strategi lainnya.

    Dalam mengambil suatu keputusan ada orang yang senang dengan resiko dan ada orang yang tidak senang. Ada juga orang yang dikatakan netral terhadap resiko. Orang yang senang dengan resiko akan berbeda dalam mengevaluasi serangkaian alternatif maupun memilih suatu alternatif dengan mereka yang tidak senang dengan resiko. Dalam keputusan investasi misalnya, orang yang senang dengan resiko akan memilih investasi yang memberikan hasil yang besar sekalipun resikonya juga besar. Sebaliknya, orang yang tidak senang dengan resiko akan memilih alternatif investasi yang resikonya paling kecil sekalipun hasilnya juga rendah.
    Neil Niven (2002) menerangkan secara aplikatif bahwa jika suatu keputusan mempunyai resiko yang tinggi, orang akan lebih mungkin mengikuti aturan yang rasional dan matematis. Banyak keputusan yang berhubungan dengan kesehatan pasien mencakup resiko tingkat tinggi dan karenanya mempunyai komponen penggunaan subyektif dan membutuhkan pertimbangan yang cermat.

    Sabtu, 23 Oktober 2010

    Asuhan Keperawatan Klien dengan Tuberculosis (TBC)

    Tuberculosis merupakan suatu penyakit yang sangat epidemic dan menular langsung yang disebabkan oleh basil mikobakterium tuberculosis tipe humanus.
    Meskipun paling sering terlihat sebagai penyakit paru, tuberculosis dapat mengenai selain paru (16%) dan mempengaruhi organ dan jaringan lain. Insiden lebih tinggi pada laki-laki, bukan kulit putih, dan lahir di negara asing. Selain itu, orang pada risiko paling tinggi termasuk yang dapat terpajan pada basilus pada waktu lalu dan yang tidak mampu atau mempunyai kekebalan rendah karena kondisi kronis, seperti AIDS, kanker, usia lanjut, malnutrisi, dan sebagainya.
    Sifat-sifat mikobakterium tuberculosis :
    @ berbentuk basil dengan panjang 1-4/mm dengan ketebalan 0,3-0,6/mm.
    @ sebagian besar terdiri atas asam lemak sehingga mikobakterium tuberculosis tahan asam dan tahan terhadap gangguan kimia dan fisik.
    @ dapat hidup di udara kering dan keadaan dingin (almari es) yang disebut sifat dormant.
    @ merupakan bakteri aerob, dimana bagian apical paru merupakan tempat predileksi TBC.
    yang disebut sifat dormant.
    @ merupakan bakteri aerob, dimana bagian apical paru merupakan tempat predileksi TBC.
    Cara penularan :
    @ pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.
    # ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan dahak dan sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.
    @ basil mikobakterium tuberculosis -> masuk kedalam jaringan paru melalui saluran nafas (droplet infection) -> sampai ke alveoli -> terjadi infeksi primer (Ghon) -> menyebar ke kelenjar getah bening -> membentuk primer kompleks (Ranke)
    Gejala-gejala umum :
    @ suhu tubuh meningkat (hilang timbul) 40-41 derajat Celcius.
    @ berkeringat pada malam hari tanpa melakukan aktivitas apapun.
    @ lemas.
    @ anoreksia.
    @ berat badan menurun.
    Gejala-gejala khusus :
    @ batuk berdahak terus menerus selama 3 minggu atau lebih.
    @ batuk lama dengan dahak bercampur darah.
    @ nyeri dada.
    @ sesak nafas.
    @ nyeri tulang.
    @ gangguan pencernaan kronis disertai penurunan berat badan.
    @ panas tinggi dan biasanya disertai kejang pada anak.
    Komplikasi :
    @ hemoptisis berat
    @ kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial.
    @ bronkilektasis dan fibrosis pada paru.
    @ pneumothorak spontan ; kolap spontan karena kerusakan jaringan paru.
    @ penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal.
    @ insfisiensi kardio pulmonal

    ASUHAN KEPERAWATAN
    >Anamnesis (Pengkajian)
    1.Identitas : nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, penanggung jawab biaya (nama & alamat), dokter yang merujuk.
    2.Riwayat penyakit sekarang : keluhan utama, jelaskan penyakitnya berdasarkan kualitas, kuantitas, latar belakang, lokasi anatomi dan penyebarannya, aktu termasuk kapan penyakitnya dirasakan, faktor-faktor apa yang membuatnya membaik, memburuk, tetap, apakah keluhan konstan atau intermitten.
    3.Riwayat penyakit terdahulu : pengobatan yang dijalani sekarang,apakah pernah dirawat sebelumnya, riwayat penyakit kronik dan menular, riwayat control, riwayat penggunaan obat, riwayat alergi, riwayat operasi.
    4.Riwayat penyakit keluarga : umur, status anggota keluarga (hidup,mati) dan masalah kesehatan pada anggota keluarga (jenis penyakit).
    5.Observasi dan pemeriksaan fisik :
    a.tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi, suhu badan, RR, kesadaran.
    b.sistem pernafasan (B1) : keluhan (batuk, warna secret, sesak, produktif, nyeri dada, tidak produktif, konsistensi, bau), irama nafas (teratur, tidak teratur), jenis (dispnea, kusmaul, cheyne stokes), suara nafas (vesikuler, bronco vesikuler, ronki, wheezing), alat bantu nafas (ya, tidak).
    c.sistem kardiovaskuler (B2) : keluhan nyeri dada (ya, tidak), irama jantung (regular, ireguler), S1/S2 tunggal (ya, tidak), suara jantung (normal, murmur, gallop), CRT, akral (hangat, panas, dingin, kering, basah), JVP (normal, meningkat, menurun).
    d.sistem persyarafan (B3) : GCS, reflek fisiologis (patella, triceps, biceps), reflek patologis (babinsky, budzinsky, kernig), keluhan pusing (ya, tidak), pupil (isokor, anisokor), sclera/konjunctiva (anemis, ikterus), gangguan pandangan (ya, tidak), gangguan pendegaran (ya, tidak), gangguan penciuman (ya, tidak), lama tidur, gangguan tidur.
    e.sistem perkemihan (B4) : kebersihan, keluhan kencing (nokturi, inkontinensia, gross hematuri, poliuria, anuria, disuria, retensi, oliguria, hesistensi), produksi urin, kandung kemih membesar (ya, tidak), nyeri tekanan kandung kemih, intake cairan (oral, parenteral), alat bantu kateter (ya, tidak).
    f.sistem pencernaan (B5) : mulut (bersih, kotor, berbau), mukosa (lembab, kering, stomatitis), tenggorokan (sakit menelan, pembesaran tonsil, kesulitan menelan, nyeri tekan), abdomen (tegang, kembung, ascites), nyeri tekan pada abdomen, luka dan jenis operasi pada abdomen, gerak peristaltic, BAB dan konsistensi, diet, nafsu makan, porsi makan.
    g.sistem musculoskeletal dan integument (B6) : pergerakan sendi, kekuatan otot, kelainan ekstremitas, kelainan tulang belakang, fraktur, traksi/spalk/gips, kompartemen syndrome, kulit (ikterik, sianosis, kemerahan, hiperpigmentasi), turgor, luka.
    h.sistem endokrin : pembesaran kelenjar tyroid, pembesaran kelenjar getah bening, hipoglikemia, hiperglikemia, luka gangren.
    #pada tahap dini sulit diketahui. tanda-tanda infiltrat (redup, bronchial, conchi basah).
    Pada penderita TBC :
    -Perkusi = hipersonor / tympani; efusi pleura (perkusi; pekak).
    -Inspeksi = atropi pada retraksi interkostal pada keadaan lanjut dan fibrosis; tanda-tanda penarikan paru, diafragma, dan mediastinum.
    -Auskultasi = ada sekret disaluran nafas dan bronchi.
    6.pengkajian psikosial : persepsi klien terhadap penyakitnya, ekspresi klien terhadap penyakitnya, reaksi saat interaksi, gangguan konsep diri.
    7.personal hygiene dan kebiasaan : mandi, keramas, ganti pakaian, sikat gigi, memotong kuku, merokok, alcohol.
    8.pengkajian spiritual : kebiasaan beribadah sebelum dan sesudah sakit.
    9.pemeriksaan penunjang (diagnostic test) : pemeriksaan laboratorium, radiologi, bronchografi, spirometer, teknik polymerase chain reaction, becton dickinson diagnostic instreumen system (BACTEC), enzyme linked immunosorbent assay, MYCODOT.
    #Pemeriksaan Radiologi :
    -pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas atau bercak nodular.
    -pada kavitas gambar bayangan berupa cincin tunggal atau ganda.
    -pada klasfikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas tinggi.
    -bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian.
    -kelainan bilateral terutama dilapangan atas paru.
    -bayangan milier.
    # Bronchografi :
    -pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB.
    # Pemeriksaan Laboratorium :
    -darah = leukosit meninggi, LED meningkat, limfositosis.
    -sputum = pewarnaan -> BTA positif; kultur (Lowenstein Jensen agar) -> tumbuh koloni mikobakterium tuberculosis.
    Tes tuberculin : mantoux tes (indural lebih dari 10-15 mm).
    # Spirometer :
    -penurunan fungsi paru; kapasitas vital menurun.
    # Teknik polymerase chain reaction :
    -deteksi DNA kuman secara spesifik melalui amolifikasi dalam berbagai tahap sehingga dapat mendeteksi kuman meskipun hanya ada 1 mikroorganisme dalam specimen.
    -teknik ini dapat mendeteksi adanya resistensi.
    # Becton dickinson diagnostic instreumen system (BACTEC) :
    -deteksi growth indeks berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari metabolisme asam lemah oleh mikobakterium tuberculosis.
    # enzyme linked immunosorbent assay :
    -deteksi respon humoral, berupa proses antigen-antibodi yang terjadi.
    # MYCODOT :
    -deteksi antibody memakai antigen liporabinomannan yang direkatkan pada suatu alat berbentuk sisir plastic, kemudian dicelupkan dalam serum pasien.
    -bila terdapat antibody spesifik dalam jumlah memadai maka warna sisir berubah.
    10.terapi
    > Diagnosis Keperawatan
    1.bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan :
    -sekret kental atau secret darah.
    -kelemahan, upaya batuk buruk.
    -edema trakeal / faringeal.
    2.gangguan pertukaran gas berhubungan dengan :
    -berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis.
    -kerusakaan membrane alveolar kapiler.
    -sekret yang kental.
    -edema bronchial.
    3.resiko infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan :
    -daya tahan tubuh menurun, fungi sillia menurun, sekresi yang menetap.
    -kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar.
    -malnutrisi.
    -terkontaminasi oleh lingkungan.
    -kurang pengetahuan tentang infeksi kuman.
    4.perubahan nutrisi (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan :
    -kelelahan.
    -batuk yang sering, adanya produksi sputum.
    -dispnea.
    -anoreksia.
    -penurunan kemampuan financial.
    5.kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan berhubungan dengan :
    -tidak ada yang menerangkan.
    -interpretasi yang salah.
    -informasi yang didapat tidak lengkap / tidak akurat.
    -terbatasnya pengetahuan.
    >Intervensi
    @ bersihan jalan nafas tidak efektif:
    -posisi semi fowler / fowler, ajarkan latihan nafas dalam dan batuk dalam efektif.
    -bersihan secret dari mulut dan trachea, suctin (b/p).
    -pertahankan intake cairan 2500-3000 ml/hr.
    -lembabkan udara / oksigen inspirasi.
    -berikan obat : agen mukolitik, bronkodilator.
    -pantau fungsi pernafasan; bunyi nafas, kecepatan, irama, kedalaman dan penggunaan otot aksesori.
    -catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif, catat karakter, jumlah, sputum, adanya hemoptisis.
    @ gangguan pertukaran gas :
    -latihan nafas dengan bibir disiutkan (pasien fibrosis atau kerusakan parenkim).
    -bedrest, bantu kebutuhan.
    -berikan oksigen.
    -monitor GDA.
    -evaluasi perubahan tingkat kesadaran.
    @ resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi :
    -anjurkan pasien menutup mulut jika batuk dan membuang dahak ditempat penampungan yang tertutup.
    -gunakan masker setiap melakukan tindakan.
    -berikan terapi dan monitor sputum BTA.
    @ perubahan nutrisi :
    -anjurkan bedrest.
    -lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernafasan.
    -makan sedikit tapi sering (diet TKTP).
    -monitor intake dan output.
    @ kurang pengetahuan :
    -tekankan pentingnya diet TKTP dan intake cairan yang adekuat.
    -berikan informasi yang spesifik dan jelas.
    -anjurkan untuk merubah perilaku buruk (rokok, minuman keras, begadang).

    referensi :

    * Doenges, Marilyn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC

    Jumat, 15 Oktober 2010

    Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan Reproduksi, Ratusan juta tenaga kerjadi seluruh dunia saat bekerja pada kondisi yang tidak nyaman dan dapat mengakibatkan gangguan keshatan. Menurut International Labor Organization (ILO) setiap tahun terjadi 1,1 juta kematian yang disebabkan oleh penyakit atau yang disebabkan oleh pekerjaan. Sekitar 300.000 ribu kematian terjadi dari 250 juta kecelakaan dan sisanya kematian karena penyakit akibat kerja dimana diperkirakan terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan pekerjaan baru setiap tahunnya. Dari data ILO tahun 1999, penyebab kematian yang berhubungan dengan pekerjaan yaitu : kanker 34%, kecelakaan 25%, penyakit saluran pernapasan 21%, penyakit kardiovasculer 15%, dan lain-lain 5%. Dari data tersebut, bahwa penyebab utama kematian adalah kanker, sedangkan kelompok penyebab lain adalah pneumoconiosis penyakit neurologis dan penyakit ginjal. Selain penyakit yang mengenai hubungan yang menyebabkan kematian, masalah kesehatan lain terutama adalah ketulian, gangguan musculoskletal, dan gangguan reproduksi.(1)


    Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsinya serta prosesprosesnya. Oleh karena itu, kesehatan reproduksi berarti orang dapat mempunyai kehidupan seks yang memuaskan dan aman, dan bahwa mereka memiliki kemapuan untuk bereproduksi dan kebebasan untuk menentukan apakah mereka ingin melakukannya, bilamana dan seberapa seringkah. Termasuk terakhir ini adalah hak pria dan wanita untuk memperoleh informasi dan mempunyai akses terhadap cara - cara keluarga berencana yang aman, efektif dan terjangkau, pengaturan fertilitas yang tidak melawan hukum, hak memperoleh pelayanan pemeliharaan kesehatan kesehatan yang memungkinkan para wanita dengan selamat menjalani kehamilan dan melahirkan anak, dan memberikan kesempatan untuk memiliki bayi yang sehat. Sejalan dengan itu pemeliharaan kesehatan reproduksi merupakan suatu kumpulan metode, teknik dan pelayanan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan reproduksi melalui pencegahan dan penyelesaian masalah kesehatan reproduksi. Ini juga mencakup kesehatan seksual, yang bertujuan meningkatkan status kehidupan dan hubungan-hubungan perorangan, dan bukan semata-mata konseling dan perawatan yang bertalian dengan reproduksi dan penyakit yang ditularkan melalaui hubungan seks.Beberapa wanita karena pekerjaannya yang mengggunakan bahan kimia, akan mengalami kesulitan mempunyai anak. Secara garis besar dapat dikelompokkan empat golongan faktor yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi:

    a. Faktor sosial-ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah dan ketidaktahuan tentang perkembangan seksual dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil);
    b. Faktor budaya dan lingkungan (misalnya, praktek tradisional yang berdampak buruk pada kesehatan reproduksi, kepercayaan banyak anak banyak rejeki, informasi tentang fungsi reproduksi yang membingungkan anak dan remaja karena saling berlawanan satu dengan yang lain, dsb);
    c. Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua pada remaja, depresi karena ketidakseimbangan hormonal, rasa tidak berharga wanita terhadap pria yang membeli kebebasannya secara materi, dsb);
    d. Faktor biologis (cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi pasca penyakit menular seksual, dsb).(2)

    Pengaruh dari semua faktor diatas dapat dikurangi dengan strategi intervensi yang tepat guna, terfokus pada penerapan hak reproduksi wanita dan pria dengan dukungan disemua tingkat administrasi, sehingga dapat diintegrasikan kedalam berbagai program kesehatan, pendidikan, sosial dam pelayanan non kesehatan lainyang terkait dalam pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan reproduksi. (2)

    Tabel dibawah ini adalah batasan yang dibuat oleh Divisi Kesehatan dan Keselamatan kerja negara bagian California, yang dapat dibandingkan dengan hasil monitor kesehatan industri yang dilakukan oleh perusahaan. Unit yang digunakan adalah “parts of chemical per million part of air (ppm)” yakni bagian dari zat kimia per sejuta bagian udara, atau “milligram of chemical per cubic meter of air (mg/m3)” yakni milligram dari zat kimia per kubik meter udara.

    Beberapa wanita karena pekerjaannya yang mengggunakan bahan kimia, akan mengalami kesulitan mempunyai anak.Beberapa orang lelaki lainnya akan mengalami penurunan kualitas sperma karena jok tempat duduk di mobilnya panas. Ada juga beberapa eksekutif yang mengalami gairah seksual serta beberapa wanita karier yang mengalami frigiditas.(3)

    Beberapa gangguan reproduksi yang berhubungan dengan pekerjaan yaitu:
    a. Abortus
    Penyebab : kerja berat, cytotoxic drug
    b. Premature
    Penyebab: ionizing radiation
    c. Lahir cacat
    Penyebab : menthyl mercuri, ionizing radiasi
    d. Kerusakan sperma
    Penyebab : dioxin, anesthetic gates
    e. Mandul
    Penyebab: timah hitam, cadmium, chlodecone, dibromochlopropane (1)

    Secara umum, sebagian besar pria bekerja atau menghabiskan waktunya ditempat kerja. Padahal ada banyak bahaya yang terdapat di tempat kerja. Radiasi, berbagai bahan kimia, obat-obatan, rokok, dan panas merupakan tipe-tipe bahaya yang dapat mempengaruhi kemampuan untuk mempunyai anak yang sehat.
    Meskipun lebih dari seribu bahan kimia di tempat kerja telah terbukti dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan reproduksi hewan, namun kebanyakan bahan tersebut tidak pernah diteliti pengaruhnya pada manusia. Bahkan lebih dari empat juta campuran bahan kimia tidak pernah diuji pengaruhnya.
    Zat-zat berbahaya tersebut dapat memasuki tubuh kita melalui hirupan nafas (inhalation), kontak dengan kulit (absorbsion), atau tertelan (ingestion) jika pekerja tidak mencuci tangan dengan baik sebelum mereka makan, minum, ataupun merokok.
    Bahan berbahaya yang terdapat di tempat kerja juga dapat secara tidak langsung membahayakan keluarga mereka yang berada dirumah. Beberapa bahan berbahaya dapat secara tidak sengaja terbawa ke rumah tanpa disadari para pekerja dan mempengaruhi kesehatan reproduksi sang istri atau kesehatan janin yang dikandungnya atau anggota keluarga lain yang masih muda. Sebagai contoh, timbal dapat terbawa pulang oleh pekerja melalui kulit, rambut, baju, sepatu, kotak peralatan kerja, atau kendaraan yang dibawa ke tempat kerja, padahal timbal tersebut dapat menyebabkan keracunan pada anggota keluarga dan bisa menyebabkan neurobehavioral dan gangguan pertumbuhan pada janin.
    Bahaya-bahaya yang dapat mengganggu kesehatan reproduksi para pekerja pria bekerja dengan mempengaruhi beberapa beberapa hal.
    Pertama, jumlah sperma. Beberapa bahan berbahaya dapat memperlambat atau bahkan menghentikan produksi sperma. Hal ini berarti bahwa hanya akan dihasilkan lebih sedikit sperma untuk dapat membuahi sel telur. Jika tidak ada sperma yang diproduksi, maka pekerja tersebut dapat disebut steril. Jika bahaya yang memapar dapat mencegah proses pembuatan sperma, label steril itu menjadi permanen.
    Kedua, bentuk sperma. Beberapa bahan berbahaya dapat membuat bentuk sel sperma menjadi berbeda. Jika sudah seperti itu, sperma akan mengalami kesulitan untuk berenang menuju sel telur atau membuahinya.
    Ketiga, transfer sperma. Beberapa bahan berbahaya dapat terakumulasi pada epididimis, seminal vesicles, atau prostate. Hadirnya bahan tersebut dapat membunuh sperma, merubah cara/arah sperma berenang, atau menempel pada sperma dan dibawa menuju sel telur atau kepada bayi yang belum lahir.
    Ketiga, kemampuan seksual. Perubahan pada jumlah hormon dapat mempengaruhi kemampuan seksual. Beberapa bahan kimia seperti alcohol, bisa mempengaruhi kemampuan untuk mencapai ereksi, sedangkan pada beberapa orang dapat mempengaruhi keinginan seksualnya. Beberapa obat-obatan, baik yang legal maupun tidak, dapat mempengaruhi kemampuan seksual.
    Keempat, kromosom sperma. Beberapa bahan berbahaya dapat mempengaruhi kromosom yang terdapat pada sperma. Sperma dan sel telur masing-masing menyumbangkan 23 kromosom saat proses fertilisasi. DNA yang tersimpan pada kromosom inilah yang menentukan akan seperti apa rupa, bentuk dan fungsi tubuh bayi yang akan lahir. Radiasi atau bahan kimia dapat menyebabkan perubahan atau kerusakan pada DNA. Jika DNA sperma telah rusak, maka ia bisa jadi tidak akan bisa membuahi sel telur, atau jika ia berhasil membuahi sel telur, ia akan memberikan pengaruh pada pertumbuhan janin. Beberapa jenis pengobatan terhadap kanker terbukti dapat menyebabkan hal tersebut.
    Kelima, kehamilan. Jika sperma yang telah rusak dapat membuahi sel telur, sel telur bisa jadi tidak akan tumbuh dengan sempurna, sehingga dapat menyebabkan keguguran atau masalah kesehatan pada bayi yang akan dilahirkannya. Jika bahan berbahaya tersebut dibawanya oleh semen, janin mungkin akan terpapar sehingga dapat menyebabkan gangguan pada saat kehamilan atau gangguan kesehatan pada bayi setelah ia lahir.
    Untuk melindungi dari bahaya yang dapat mengganggu kesehatan reproduksi, beberapa langkah berikut dapat diterapkan untuk menjamin keselamatan dan kesehatan para pekerja.
    1. Simpanlah bahan kimia pada tempat/wadah yang tertutup saat tidak digunakan
    2. Mencuci tangan sebelum makan, minum dan merokok
    3. Hindari kontak antara bahan kimia dengan kulit
    4. Jika bahan kimia kontak dengan kulit, ikuti petunjuk untuk membersihkannya sebagaimana tertera pada MSDS (material safety datasheet). Pengusaha/manajemen wajib menyediakan MSDS untuk semua bahan berbahaya yang digunakan di tempat kerja
    5. Kenali bahaya yang dapat mengganggu kesehatan reproduksi di tempat kerja anda.
    6. Untuk mencegah kontaminasi di rumah:
    o Gunakan pakaian yang berbeda pada waktu bekerja
    o Ganti dan cuci baju yang telah terkontaminasi dengan sabun dan air sebelum pulang ke rumah
    o Simpanlah baju yang akan digunakan untuk pulang kerja (atau berangkat kerja) dalam ruangan yang terpisah dari tempat kerja untuk mencegah kontaminasi
    o Cuci baju kerja terpisah dari bahan cucian lainnya, usahakan mencucinya di tempat kerja
    o Usahakan untuk tidak membawa baju kerja yang telah kotor/terkontaminasi atau benda lain ke rumah
    7. Berpartisipasilah dalam program kesehatan dan keselamatan kerja seperti pelatihan, pendidikan, dan monitoring yang telah disediakan perusahaan
    8. Pelajari menganai praktek kerja yang aman/baik, rekayasa engineering, dan alat pelindung diri (seperti sarung tangan, masker, coverall, google, dll) yang dapat mengurangi resiko paparan dengan bahan berbahaya.
    9. Patuhi prosedur dan praktek kerja yang aman yang telah diimplementasikan oleh perusahaan anda untuk mencegah paparan bahan berbahaya di tempat kerja yang dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi.(6)

    Timbal sebagai salah satu unsur polutan udara, mutlak dikurangi penggunaannya. Beberapa produk bensin tanpa timbal sudah diperkenalkan mulai tahun 1985, yaitu Super TT. Super TT adalah bahan bakar dengan bilangan oktan (RON) sebesar 98. Jenis lain yaitu Petro 2T yang dirancang khusus untuk sepeda motor, adalah bensin tanpa timbal yang dikeluarkan oleh PT Sigma Rancang Perdana. Di awal tahun 1998, produk bensin tanpa timbal yang lain adalah BB2L (Bensin Biru 2 Langkah) dengan harga yang lebih murah daripada premium. Jika membandingkan terhadap bilangan oktan, Super TT mempunyai RON 98, premium 88 dan premix 94. Artinya produk tanpa timbalpun mampu memperpanjang oktan melebihi bensin yang masih mengandalkan unsur timbal. Bensin premium sendiri masih mengandung TEL 0,3 gr/lt dan premix 0,45 gr/lt. Kerugian yang ditimbulkan dari kasus pencemaran udara, lebih terasa jika ditinjau dari aspek kesehatan. Dari setiap unsur dalam komponen polutan udara berpeluang merugikan bagi kesehatan setiap organisme. Timbal (Pb) sebagai salah satu komponen polutan udara mempunyai efek toksik yang luas pada manusia dan hewan dengan mengganggu fungsi ginjal, saluran pencernaan, dan sistem saraf pada remaja, menurunkan fertilitas, menurunkan jumlah spermatozoa, dan meningkatkan spermatozoa abnormal dan aborsi spontan. Selain juga menurunkan Intellegent Quotient (IQ) pada anak – anak , menurunkan kemampuan berkonsentrasi, gangguan pernapasan, kanker paru–paru dan alergi. Dalam laporan Bank Dunia 1992, diketahui bahwa pencemaran udara akibat timbal, menimbulkan 350 kasus penyakit jantung koroner, 62.000 kasus hipertensi dan menurunkankan IQ hingga 300.000 point. Juga Pb menurunkan kemampuan darah untuk mengikat oksigen.(4)


    DAFTAR PUSTAKA

    1. Buchary. Penyakit akibat kerja dan penyakit terkait kerja. [online]. 2007. [Cited on, 2009 January 13]. [28 screen]. Available from: http://www.library.usu.ac.id/download/ft/07002746.pdf
    2. Harahap Juliandi. Kesehatan reproduksi. [online]. 2003. [Cited on, 2009 January 13]. [13 screen]. Available from: http://www.library.usu.ac.id/download/duniapsikologi.dagdigdug.com/files/2008/12/kesehatan-reproduksi.pdf
    3. IDKI. Seminar kesehatan kerja gangguan reproduksi. [online]. 2007. [Cited on, 2009 January 13]. [4 screen]. Available from: http://www.kalbe.co.id/files/coe/brosur_konasB_atam_2005_ind%20edit.pdf
    4. Komite penghapusan bensin bertimbal. Dampak pemakaian bensin bertimbal dan kesehatan. [online]. 2007. [Cited on, 2009 January 13]. [8 screen]. Available from: http://www.kpbb.org/makalah_ind/Dampak%20Pemakaian%20Bensin%20Bertimbel%20dan%...
    5. Anonymous. Pelatihan bagi pelatih kesehatan dan keselatan kerja. [online]. 2007. [Cited on, 2009 January 13]. [4 screen]. Available from: http://www-ilo-mirror.cornell.edu/public/english/region/asro/jakarta/download/pelatihan.pdf

    Urtikaria

    Urtikaria ialah reaksi vaskular di kulit akibat bermacam-macam sebab, biasanya ditandai dengan edema setempat yang cepat timbul dan menghilang perlahan-lahan, berwarna pucat dan kemerahan, meninggi di permukaan kulit, sekitarnya dapat dikelilingi halo. Keluhan subyektif biasanya gatal, rasa tersengat atau tertusuk. (1-3)
    Urtikaria juga kadang dikenal sebagai hives, nettle rash, buduran, kaligata. (1,2,4,5)

    Sedangkan angioedema atau angioneuretik edema adalah urtika yang mengenai lapisan kulit yang lebih dalam daripada dermis, dapat di submukosa, atau di subkutis, juga dapat mengenai saluran napas, saluran cerna, dan organ kardiovaskular. (1)
    Urtikaria dapat terjadi secara akut maupun kronik, keadaan ini merupakan masalah untuk penderita, maupun dokter. Walaupun patogenesis dan penyebab yang dicurigai telah ditemukan, ternyata pengobatan yang diberikan kadang-kadang tidak memberi hasil seperti yang diharapkan.(1)

    EPIDEMIOLOGI
    Urtikaria sering dijumpai pada semua umur, orang dewasa lebih banyak mengalami urtikaria dibanding orang muda. Umur rata-rata penderita urtikaria adalah 35 tahun, dan jarang dijumpai pada umur kurang dari 10 tahun atau lebih dari 60 tahun. (1,4,6,7)
    Beberapa referensi mengatakan urtikaria lebih sering mengenai wanita dibanding laki-laki yaitu 4:1, namun perbandingan ini bervariasi pada urtikaria yang lain.(1,6)


    ETIOLOGI
    Pada penyelidikan ternyata hampir 80% tidak diketahui penyebabnya(1). Diduga penyebab urtikaria bermacam-macam, antara lain :

    1. Obat
    Bermacam obat dapat menimbulkan urtikaria, baik secara imunologik maupun non-imunologik. Hampir semua obat sistemik menimbulkan urtikaria, secara imunologik terdapat 2 tipe, yaitu tipe I atau II. Contohnya ialah aspirin, obat anti inflamasi non steroid, penisilin, sepalosporin, diuretik, dan alkohol. Sedangkan obat yang secara non-imunologik langsung merangsang sel mast untuk melepaskan histamin, misalnya opium dan zat kontras. Aspirin menimbulkan urtikaria karena menghambat sintesis prostaglandin di asam arakidonat. (1,5)

    2. Makanan
    Peranan makanan ternyata lebih penting pada urtikaria akut, umumnya akibat reaksi imunologik, pada beberapa kasus urtikaria terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah mengkonsumsi makanan tersebut. Makanan berupa protein atau bahan yang dicampurkan ke dalamnya seperti zat warna, penyedap rasa, atau bahan pengawet, sering menimbulkan urtikaria alergika. Makanan yang paling sering menimbulkan urtikaria pada orang dewasa yaitu, ikan, kerang, udang, telur, kacang, buah beri, coklat, arbei, keju. Sedangkan pada bayi yang paling sering yaitu, susu dan produk susu, telur, tepung, dan buah-buah sitrus (jeruk). (1,2,5,8)

    3. Gigitan atau sengatan serangga
    Gigitan atau sengatan serangga dapat menimbulkan urtika setempat, agaknya hal ini lebih banyak diperantarai oleh IgE (tipe I) dan tipe seluler (tipe IV). Tetapi venom dan toksin bakteri, biasanya dapat pula mengaktifkan komplemen. Nyamuk, kepinding, dan serangga lainnya menimbulkan urtika bentuk papular di sekitar tempat gigitan, biasanya sembuh sendiri setelah beberapa hari, minggu, atau bulan. (1.8)

    4. Bahan fotosenzitiser
    Bahan semacam ini, misalnya griseovulfin, fenotiazin, sulfonamid, bahan kosmetik, dan sabun germisid sering menimbulkan urtikaria. (1)

    5. Inhalan
    Inhalan berupa serbuk sari bunga (polen), spora jamur, debu, asap, bulu binatang, dan aerosol, umumnya lebih mudah menimbulkan urtikaria alergik. (1-3,8)

    6. Kontaktan
    Kontaktan yang sering menimbulkan urtikaria ialah kutu binatang, serbuk tekstil, air liur binatang, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, bahan kimia, misalnya insect repellent (penangkis serangga), dan bahan kosmetik. Keadaan ini disebabkan bahan tersebut menembus kulit dan menimbulkan urtikaria. (1,3)

    7. Trauma Fisik
    Trauma fisik dapat diakibatkan oleh
    - Faktor dingin, yakni berenang atau memegang benda dingin.
    - Faktor panas, misalnya sinar matahari, radiasi, dan panas pembakaran.
    - Faktor tekanan, yaitu goresan, pakaian ketat, ikat pinggang, air yang menetes atau semprotan air. Fenomena ini disebut dermografisme atau fenomena darier. (1,5,8)

    8. Infeksi dan infestasi
    Bermacam-macam infeksi dapat menimbulkan urtikaria, misalnya infeksi bakteri, virus, jamur, maupun infeksi parasit.
    - Infeksi oleh bakteri contohnya pada infeksi tonsil, infeksi gigi dan sinusitis.
    - Infeksi virus hepatitis, mononukleosis dan infeksi virus coxsackie pernah dilaporkan sebagai faktor penyebab. Karena itu pada urtikaria yang idiopatik perlu dipikirkan kemungkinan infeksi virus subklinis.
    - Infeksi jamur kandida dan dermatofit sering dilaporkan sebagai penyebab urtikaria. Infeksi cacing pita, cacing tambang, cacing gelang juga Schistosoma atau Echinococcus dapat menyebabkan urtikaria. Infeksi parasit biasanya paling sering pada daerah beriklim tropis. (1,2,5,8)

    9. Psikis
    Tekanan jiwa dapat memacu sel mast atau langsung menyebabkan peningkatan permeabilitas dan vasodilatasi kapiler. Penyelidikan memperlihatkan bahwa hipnosis menghambat eritema dan urtika, pada percobaan induksi psikis, ternyata suhu kulit dan ambang rangsang eritema meningkat. (1,2)

    10. Genetik
    Faktor genetik juga berperan penting pada urtikaria, walaupun jarang menunjukkan penurunan autosomal dominan. (1,5)

    11. Penyakt sistemik
    Beberapa penyakit kolagen dan keganasan dapat menimbulkan urtikaria, reaksi lebih sering disebabkan reaksi kompleks antigen-antibodi. Contoh penyakit sistemik yang sering menyebabkan urtikaria yaitu, sistemik lupus eritematosa (SLE), penyakit serum, hipetiroid, penyakit tiroid autoimun, karsinoma, limfoma, penyakit rheumatoid arthritis, leukositoklast vaskulitis, polisitemia vera (urtikaria akne-urtikaria papul melebihi vesikel), demam reumatik, dan reaksi transfusi darah. (1,5)

    KLASIFIKASI
    Terdapat beberapa penggolongan urtikaria
    • Berdasarkan lamanya serangan berlangsung (1-5)
    - Urtikaria akut, bila serangan berlangsung kurang dari 6 minggu, atau berlangsung selama 4 minggu tetapi timbul setiap hari.
    - Urtikaria kronik, bila serangan lebih dari 6 minggu.
    • Berdasarkan morfologi klinis (1)
    - Urtikaria papular bila berbentuk papul.
    - Urtikaria gutata bila besarnya sebesar tetesan air.
    - Urtikaria girata bila ukuran besar.
    • Berdasarkan luas dan dalamnya jaringan terkena (1,8)
    - Urtikaria lokal
    - Urtikaria generalisata
    - Angioedema
    • Berdasarkan penyebab dan mekanisme terjadi urtikaria (1,2,4,6,8)
    - Urtikaria imunologik
    a. Bergantung pada IgE (reaksi alergik tipe I)
    b. Ikut sertanya komplemen
    c. Reaksi alergi tipe IV
    - Urtikaria nonimunologik
    a. langsung memacu sel mas, sehingga terjadi pelepasan mediator. (misalnya obat golongan opiat dan bahan kontras)
    b. Bahan yang menyebabkan perubahan metabolisme asam arakidonat (misalnya aspirin, obat anti inflamasi non-steroid)
    c. Trauma fisik, misalnya dermografisme, rangsangan dingin, panas atau sinar, dan bahan kolinergik.
    - Urtikaria Idiopatik
    Urtikaria yang tidak jelas penyebab dan mekanismenya.

    PATOGENESIS
    Sel mast merupakan sel efektor primer pada patogenesis timbulnya gejala-gejala urtikaria. Di kulit, sel mast terdapat di dermis. Selain itu sel mast juga terdapat di pembuluh darah, pembuluh limfe, saraf-saraf, dan organ tubuh.(6) Granul-granul dalam sel mast mengandung histamin, heparin, slow reacting substance of anaphylaxis (SRSA), dan Eosinophile Chemotactic Factor (ECF). Ada 2 macam sel mast yaitu terbanyak sel mast jaringan dan sel mast mukosa. Yang pertama ditemukan sekitar pembuluh darah dan mengandung sejumlah histamin dan heparin. Pelepasan mediator tersebut dihambat kromoglikat yang mencegah influks kalsium ke dalam sel. Sel mast yang kedua ditemukan di saluran cerna dan nafas. Proliferasi sel mast oleh dipicu IL-3 dan IL-4 dan bertambah pada infeksi parasit.(9)
    Sel mast akan melepaskan mediator-mediator radang seperti histamin, leukotrin (SRSA), kinin, serotonin, PEG, PAF, dan lain-lain. Pelepasan mediator-mediator radang ini karena rangsangan dari beberapa faktor, antara lain faktor imunologik (reaksi alergi tipe I, II, III, IV, dan genetik yaitu defisiensi C1 esterase inhibitor) dan faktor nonimunologik (bahan kimia pelepas mediator, faktor fisik, efek kolinergik, alkohol, emosi, demam) (1,10). Mediator-mediator yang dilepaskan akan memberikan pengaruh-pengaruh yang berbeda.(12)

    Salah satu mediator yang dilepaskan oleh sel mast yang sangat penting dalam proses timbulnya gejala-gejala pada urtikaria adalah histamin. Ada beberapa mekanisme pelepasan histamin. Faktor-faktor yang telah disebutkan sebelumnya menyebabkan degranulasi sel mast dan melepaskan histamin ke jaringan dan sirkulasi. Histamin menyebabkan kontraksi sel endotel sehingga terjadi kebocoran, dimana cairan berpindah dari intravaskuler ke ekstravaskuler, sehingga timbullah edema.(5)
    Bila telah masuk ke dalam kulit, histamin menyebabkan triple response of Lewis, yaitu eritema lokal (vasodilatasi), suatu flare dengan karakteristik eritema di luar batas dari eritema lokal, hingga terbentuk suatu wheal akibat kebocoran cairan vena-vena postkapiler. Pembuluh darah terdiri dari 2 reseptor histamin. Reseptor yang selama ini diteliti adalah H1 dan H2.(5)
    Reseptor H1 ketika dirangsang oleh histamin, akan menyebabkan refleks dari akson, vasodilatasi dan pruritus. Perangsangan reseptor H1, melalui saraf sensorik, menyebabkan kontrakasi otot polos pada traktus respiratorius dan gastrointestinal, pruritus, dan bersin. Ketika reseptor H2 dirangsang, terjadi vasodilatasi. Disamping itu reseptor H2 juga terdapat di permukaan membrane dari sel mast dan ketika dirangsang, akan menyebabkan produksi dari histamine. Aktivasi reseptor H2 sendiri akan menyebabkan peningkatan produksi asam lambung. Aktivasi H1 dan H2 bersamaan akan mengakibatkan hipotensi, takikardi, kemerahan, dan sakit kepala.(5,10)

    GAMBARAN KLINIS
    Urtikaria merupakan suatu kondisi kulit dengan manifestasi klinik berupa eritema dan edema setempat yang cepat timbul dan menghilang perlahan-lahan, berbatas tegas pada kulit atau membran mukosa, kadang-kadang bagian tengah tampak lebih pucat. Bentuknya dapat papular seperti pada urtikaria akibat sengatan serangga, besarnya dapat lentikular, numular, sampai plakat. Keluhan subyektif biasanya terasa gatal, rasa terbakar, atau tertusuk. (1,3,6)
    Berikut adalah tabel gambaran klinis Urtikaria/Angioedema berdasarkan stimulus dan tipe respon:

    Apabila mengenai jaringan yang lebih dalam sampai dermis dan jaringan submukosa atau subkutan, juga beberapa alat dalam misalnya saluran cerna dan napas, disebut angioedema. Pada keadaan ini jaringan yang sering terkena adalah muka, disertai sesak nafas, serak dan rinitis. (1,3,6)
    Dermografisme, berupa edema dan eritema yang linear di kulit yang terkena goresan benda tumpul, timbul dalam waktu kurang lebih 30 menit. Pada urtikari akibat tekanan, urtika timbul pada tempat yang tertekan, misalnya di sekitar pinggang. Urtikaria kolinergik dapat timbul pada peningkatan suhu tubuh, emosi, makanan yang merangsang dan pekerjaan berat. Biasanya terasa sangat gatal, ukuran lesi bervariasi dari beberapa mm sampai numular dan konfluen membentuk plakat. Serangan berat sering disertai gangguan sistemik seperti nyeri perut, diare, muntah-muntah, dan nyeri kepala. (1,6,8)

    PEMERIKSAAN PENUNJANG
    A. Pemeriksaan Laboratorium
    Pemeriksaan darah, urin, feses rutin.
    Pemeriksaan darah, urin, feses rutin untuk menilai ada tidaknya infeksi yang tersembunyi atau kelainan pada alat dalam.(1) Pemeriksaan darah rutin bisa bermanfaat untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit penyerta, misalnya urtikaria vaskulitis atau adanya infeksi penyerta. Pemeriksaan-pemeriksaan seperti komplemen, autoantibodi, elektrofloresis serum, faal ginjal, faal hati, faal hati dan urinalisis akan membantu konfirmasi urtikaria vaskulitis. Pemeriksaan C1 inhibitor dan C4 komplemen sangat penting pada kasus angioedema berulang tanpa urtikaria.(12) Cryoglubulin dan cold hemolysin perlu diperiksa pada urtikaria dingin.(1)

    Tes Alergi
    Adanya kecurigaan terhadap alergi dapat dilakukan konfirmasi dengan melakukan tes kulit invivo (skin prick test), pemeriksaan IgE spesifik (radio-allergosorbent test-RASTs) atau invitro yang mempunyai makna yang sama.(6,7,12) Pada prinsipnya tes kulit dan RAST, hanya bisa memberikan informasi adanya reaksi hipersensitivitas tipe I. Untuk urtikaria akut, tes-tes alergi mungkin sangat bermanfaat, khususnya bila urtikaria muncul sebagai bagian dari reaksi anafilaksis. Untuk mengetahui adanya faktor vasoaktif seperti histamine-releasing autoantibodies, tes injeksi intradermal menggunakan serum pasien sendiri (autologous serum skin test-ASST) dapat dipakai sebagai tes penyaring yang cukup sederhana. (7, 12)

    Tes Provokasi
    Tes provokasi akan sangat membantu diagnosa urtikaria fisik, bila tes-tes alergi memberi hasil yang meragukan atau negatif. Namun demikian, tes provokasi ini dipertimbangkan secara hati-hati untuk menjamin keamanannya. Adanya alergen kontak terhadap karet sarung tangan atau buah-buahan, dapat dilakukan tes pada lengan bawah, pada kasus urtikaria kontak. Tes provokasi oral mungkin diperlukan untuk mengetahui kemungkinan urtikaria akibat obat atau makanan tertentu. (1,7)
    Tes eleminasi makanan dengan cara menghentikan semua makanan yang dicurigai untuk beberapa waktu, lalu mencobanya kembali satu demi satu. Pada urtikaria fisik akibat sinar dapat dilakukan tes foto tempel.(12)
    Suntikan mecholyl intradermal dapat digunakan pada diagnosa urtikaria kolinergik.(12)
    Tes fisik lainnya bisa dengan es atau air hangat apabila dicurigai adanya alergi pada suhu tertentu.(12)

    B. Pemeriksaan Histopatologik
    Perubahan histopatologik tidak terlalu nampak dan tidak selalu diperlukan tetapi dapat membantu diagnosis (1,2). Epidermis pada umumnya normal. Ikatan-ikatan kolagen di retikular dermis terpisah oleh edema dan ada infiltrat inflamasi limfositik perivaskular. Biasanya juga terdapat peningkatan jumlah sel mast.(2)
    Infiltrat limfositik ini biasanya ditemukan pada lesi urtikaria akut dan kronik. Beberapa lesi urtikaria mengandung infiltrat seluler campuran, antara lain limfosit, PMN, dan sel inflamasi lainnya. Tipe infiltrat campuran biasanya merupakan karakteristik dari bentuk refraktur dari urtikaria kronik seperti urtikaria mediasi-autoimun.(7)
    Biasanya terdapat kelainan berupa pelebaran kapiler di papila dermis, geligi epidermis mendatar, dan serat kolagen membengkak. Pada tingkat permulaan tidak tampak infiltrasi selular dan pada tingkat lanjut terdapat infiltrasi leukosit, terutama disekitar pembuluh darah. (1)
    Punch biopsy dengan ukuran 4 mm dapat digunakan membantu diagnosis. Urtikaria dapat juga mencakup kelainan histopatologis yang luas, mulai infiltrasi berbagai macam sel radang yang agak jarang dengan edema dermis yang menonjol disertai infiltrasi sel-sel radang yang relatif banyak. Sel-sel infiltrat tersebut terdiri dari neutrofil, limfosit dan eosinofil. Adanya infiltrat eosinofil, lebih mengarah pada urtikaria alergi.(1)

    DIAGNOSIS
    Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis, gejala, dan pemeriksaan fisik.
    1. Anamnesa
    Berdasarkan dari anamnesa pasien, keluhan subyektif biasanya gatal, rasa terbakar, atau tertusuk pada daerah lesi. Selain itu, pasien memiliki alergi terhadap obat dan makanan tertentu, atau pernah mengalami suatu pengalaman yang merupakan salah satu penyebab urtikaria, misalnya pernah mengalami suatu penyakit sistemik atau mengalami trauma psikis kejiwaan atau fisik yang berhubungan dengan suhu maupun tekanan. (1,3,6)
    2. Pemeriksaan klinik
    Pada pemeriksaan kulit ditemukan
    a. Lokalisasi : Pada badan, tapi dapat juga mengenai ekstremitas, kepala dan leher. (11)
    b. Efloresensi : Eritema dan edema setempat berbatas tegas, kadang-kadang bagian tengah tampak pucat. Bentuknya dapat papular. Epidermis di sekitar urtikaria normal. (1,6,8)
    c. Ukurannya dari beberapa milimeter hingga sentimeter, dapat berbentuk dari lentikular, numular, sampai plakat. Karakteristik lesi berwarna kemerahan dan terasa gatal. (1,8)

    Dalam membantu diagnosis, perlu pula dilakukan pemeriksaan untuk membuktikan penyebab urtikaria, misalnya: (1,8,12)
    - Pemeriksaan darah, urin, dan feses rutin untuk menilai ada tidaknya infeksi yang tersembunyi atau kelainan pada organ dalam.
    - Pemeriksaan gigi, telinga-hidung-tenggorok serta usapan vagina perlu untuk menyingkirkan adanya infeksi lokal.
    - Pemeriksaan kadar IgE, eosinofil, dan komplemen.
    - Tes kulit, meskipun terbatas kegunaannya dapat dipergunakan untuk membantu diagnosis. Uji gores (scratch test) dan uji tusuk (prick test) serta tes intradermal.
    - Tes eliminasi makanan
    - Pemeriksaan histopatologik
    - Tes dengan es (ice cube test) dan air hangat.
    - Pada urtikaria fisik akibat sinar dapat dilakukan tes foto tempel.
    - Suntikan mecholyl intradermal dapat digunakan pada diagnosa urtikaria kolinergik.

    DIAGNOSIS BANDING
    Diagnosis banding pada urtikaria antara lain adalah :
    1. Pitiriasis Rosea

    Gambar 5. Makula eritema pada Pitiriasis Rosea*
    Pitiriasis rosea merupakan suatu penyakit ringan yang menyebabkan peradangan kulit disertai pembentukan sisik berwarna kemerahan. Seperti pada urtikaria, pitiriasis rosea juga sering terjadi pada golongan dewasa muda dan adanya eritema dengan peninggian dan berbatas tegas serta gatal. Bentuknya bisa bulat atau lonjong. Untuk membedakan pitiriasis rosea dari urtikaria, pada urtikaria tidak mempunyai sisik. (1,3)

    2. Dermatitis Kontak Alergi
    Dermatitis kontak alergi adalah dermatitis yang terjadi akibat pajanan ulang dengan bahan dari luar yang bersifat haptenik atau antigenik yang sama, atau mempunyai struktur kimia serupa, pada kulit seseorang yang sebelumnya telah tersensitasi. Persamaan dermatitis kontak alergi dengan urtikaria adalah pada gambaran kliniknya yaitu terjadi eritema dengan peninggian atau pembengkakan. Untuk membedakan dermatitis kontak alergi dari urtikaria, pada anamnesis diketahui adanya kontak dengan alergen seperti nikel, lateks, dan sebagainya beberapa menit atau beberapa jam sebelum timbul gejala eritema tersebut.(1,14)

    TERAPI
    Terapi terbaik untuk urtikaria adalah mengobati penyebabnya dan jika memungkinkan menghindari penyebab yang dicurigai.(3,4,12)
    Obat lini pertama untuk urtikaria adalah antihistamin antagonis reseptor H1. Obat ini berfungsi untuk mengurangi rasa gatal, serta memendekkan durasi terjadinya eritema dan pembengkakan.(4)
    Pengobatan dengan antihistamin pada urtikaria sangat bermanfaat. Cara kerja antihistamin telah diketahui dengan jelas, yaitu menghambat histamin pada reseptor-reseptornya. Berdasarkan reseptor yang dihambat, antihistamin dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu antagonis reseptor H1 dan H2. Secara klinis dasar pengobatan pada urtikaria difokuskan pada efek antagonis terhadap histamin pada reseptor H1 namun efektivitas tersebut acapkali berkaitan dengan efek samping farmakologik, yaitu sedasi. Dalam perkembangannya terdapat antihistamin baru yang berkhasiat terhadap reseptor H1 tetapi nonsedatif, golongan ini disebut antihistamin nonklasik.(4)
    Antihistamin Klasik sebaiknya tidak digunakan sebagai monoterapi tetapi sebaiknya dikombinasikan dengan antihistamin nonklasik. Biasanya antihistamin nonklasik diberikan pada siang hari dan klasik antihistamin diberikan pada malam hari. Antihistamin antagonis reseptor H1 klasik dengan kerja singkat seperti hidroksizina dihidroklorida, terdapat dalam bentuk tablet dan sirup diberikan dengan dosis 50-100 mg per hari pada dewasa, sedangkan untuk anak berumur di bawah 6 tahun dengan dosis 50 mg perhari, anak diatas umur 6 tahun dengan dosis 50-100 mg per hari dengan dosis terbagi. Penggunaan obat ini sebaiknya dihindari pada kehamilan trimester pertama. Disamping itu dapat diberikan antihistamin antagonis reseptor H1 kerja panjang (long acting) seperti difenhidramina diberikan dengan dosis 25-50 mg perhari dan dosis pada anak 5 mg/kgBB perhari dengan dosis maksimal 300 mg perhari.(4,7)
    Berikut adalah bagan manajemen terapi untuk kronik urtikaria.

    PROGNOSIS
    Urtikaria akut prognosisnya lebih baik karena penyebabnya cepat dapat diatasi. Kebanyakan kasus dapat disembuhkan dalam 1-4 hari. Urtikaria kronik lebih sulit diatasi karena penyebabnya sulit dicari. Hal ini juga tergantung dari penyebab dari urtikaria itu sendiri. (1,7,15)

    KESIMPULAN
    Urtikaria adalah reaksi vaskuler di kulit akibat faktor imunologik dan non-imunologik, biasanya ditandai dengan edema setempat yang timbul mendadak dan menghilang perlahan-lahan. Urtikaria dapat terjadi pada semua umur. Penyebabnya yaitu faktor imunologik (reaksi hipersensitivitas tipe I, II, III, IV, dan genetik) dan faktor non-imunologik (bahan kimia pelepas mediator, faktor fisik, efek kolinergik, alkohol, emosi, demam). Gejala yang timbul biasanya berupa edema setempat yang eritem, kemudian biasanya disertai gatal. Pengobatan yang selama ini diberikan sesuai dengan kausa dan diberikan juga anti histamin.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Aishah S. Urtikaria. ln:Djuanda A, Hamzah Mochtar, Aisah S, eds. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Tempat. Indonesia: Balai Penerbit FKUI Jakarta; 2007.p.169-81
    2. Arnold H L, Odom R B, James W D. Urticaria in : Andrew’s Disease of the Skin Clinical Dermatology. USA: WB Saunders; 1990.p.1147-57
    3. Moschella S L, Hurley H J. Disorder of immunity hypersensitivity and inflammation in : Dermatology 3rd Edition. USA: W.B.Saunders Company; 1992.p.286-301.
    4. Grattan C, Black A. Urticaria and Angioedema. ln:Horn D, Mascaro J, Saurat J, Mancini A, Salasche S, Stingl G,eds. Dermatology Volume One. Inggris: Mosby; 2003.p. 287-302
    5. Habif T P. Urticaria and Angioedema in : Clinical Dermatology 4th Edition A color Guide To diagnosis and therapy . London: Mosby; 2004.p.129-59.
    6. Soter N A . Urticaria and Angioedema in : Fitzpatrick Dermatology in General Medicine 5th Edition Volume One . New York: McGraw Hill;1999.p.1409-19.
    7. Sheikh J. Urticaria . ( Online ). (2007 ). ( 22 screens ). Available from : URL:http://www.emedicine.com. Accessed on : 05/06/2008.
    8. Orkin M, Maibach H I, Dahl M V. Urticaria and Angioedema in : Dermatology 1st Edition . Minessota. Prentice Hall Intternational Inc. 1991 : 417-21.
    9. Baratawidjaja K. Imunologi Dasar. Indonesia: Balai Penerbitan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2004.p.46-48
    10. Linscott M S. Urticaria. ( Online ). ( 2008 ). ( 19 screens ), Available from : URL:http://www.emedicine.com . Accessed on : 05/06/2008.
    11. Siregar R S. Urtikaria dalam : Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit edisi 2. Jakarta: EGC; 2003.p.124-26.
    12. Baskoro A, Soegiarto G, Effendi C, Konthen PG. Urtikaria dan Angioedema dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: FKUI; 2006.p.257-61.
    13. Stulberg D L, Wolfrey J. Pityriasis Rosea. ( Online ).( 2004 ) ( 17 screens ) . Available from : www.american familyphysician.com. Accessed on : 05/06/2008.
    14. Anonymous. Allergic Contact Dermatitis ( Online ). (2008).(4 screens ). Available from : URL:http://www.dermnetNZ.com. Accessed on ; 05/06/2008.
    15. Brown R G, Burns T. Berbagai Kelainan Eritematous dan Papuloskuamosa serta Penyakit Kulit akibat Sinar Matahari dalam : Lecture notes dermatologi edisi 8 terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga;2006.p.151-53.