Tanda - Tanda dan Gejala Kehamilan
Hal-hal yang mungkin anda alami sebelum anda mulai perawatan kehamilan.
Apakah anda hamil ? Bukti yang sesungguhnya dapat dilihat pada tes kehamilan. Tapi anda bisa menduga atau berharap bahwa anda hamil, bahkan sebelum anda terlambat menstruasi, bila anda mengalami satu atau lebih tanda Dan gejala kehamilan. Berikut adalah tanda-tanda yang dapat dilihat pada minggu-minggu pertama setelah anda mulai hamil.
☺ Payudara atau putting yang nyeri, bengkak.
Salah satu perubahan fisik yang dialami saat kehamilan adalah perubahan pada payudara. Payudara anda akan terasa berat, sakit atau nyeri bila dipegang. Atau bisa juga terasa lebih penuh Dan lebih berat. Pada dua minggu pertama setelah kehamilan dimulai, payudara anda mulai membesar Dan berubah sebagai persiapan untuk memproduksi susu. Penyebab utama dari perubahan ini adalah meningkatnya produksi hormon esterogen Dan progesteron. Perubahan pada payudara anda akan terlihat lebih jelas apabila anda baru pertama kali hamil.
☺ Kelelahan yang sangat.
Banyak perempuan yang merasa kehabisan tenaga selama kehamilan, terutama pada masa-masa awal. Hal ini mungkin merupakan cara alami untuk membujuk para calon ibu untuk mengambil waktu lebih untuk tidur, dalam rangka persiapan untuk malam-malam dimana dia tidak bisa tidur di masa yang akan datang. Akan tetapi Ada juga alasan fisik untuk kelelahan ini.
Pada minggu-minggu pertama masa kehamilan, tubuh anda bekerja dengan sangat keras – memompa hormon Dan memproduksi lebih banyak darah untuk membawa nutrisi bagi janin anda. Untuk mengakomodasi meningkatnya aliran darah ini, jantung anda memompa lebih keras Dan lebih cepat. Ditambah, hormon progesteron yang merupakan depresan alami bagi sistem syaraf pusat, sehingga adanya hormon ini dalam jumlah yang banyak menyebabkan anda merasa mengantuk. Sebagai tambahahan, adanya kemungkinan hamil dapat menyebabkan timbulnya perasaan khawatir yang dapat menyerap energi anda
dan menyebabkan susah tidur.
☺ Flek darah atau nyeri perut.
Ada yang mengalami flek atau sedikit pendarahan pada saat awal kehamilan, sekitar 10 atau 14 Hari setelah pembuahan. Dikenal sebagai pendarahan karena implantasi, yang terjadi bila sel telur yang telah dibuahi menempelkan dirinya pada dinding uterus. Pendarahan seperti ini biasanya terjadi lebih awal, lebih sedikit Dan warnanya lebih terang daripada darah yang biasa keluar pada saat haid, dan terjadinya hanya sebentar.
Ada juga yang mengalami nyeri atau kram perut pada awal-awal kehamilannya saat rahim mulai membesar. Rasa nyeri ini persis seperti rasa sakit pada saat haid.
☺ Mual dengan atau tanpa muntah.
Mual pada pagi Hari adalah tanda-tanda klasik pada awal kehamilan. Kebanyakan rasa mual mulai terasa sekitar minggu keempat sampai kedelapan kehamilan, tapi muntah-muntah bisa dimulai pada dua minggu pertama setelah kehamilan.
Meskipun mual Dan muntah selama masa kehamilan biasa dikenal dengan nama morning sickness – muntah di pagi Hari, akan tetapi pada kenyataannya bisa terjadi kapan saja. Kelihatannya hal ini terjadi karena peningkatan drastis kadar esterogen yang diproduksi oleh plasenta Dan janin. Hormon ini menyebabkan pengosongan usus berjalan lebih lambat, yang bisa jadi mengakibatkan terjadinya masalah ini. Ibu hamil juga dikenal lebih sensitif terhadap bau, sehingga berbagai macam bau – seperti bau masakan, kopi, parfum atau bau ASAP rokok – dapat memicu terjadinya rasa mual.
☺ Tidak suka atau ingin makan satu makanan tertentu.
Memalingkan hidung anda dari suatu makanan tertentu biasanya merupakan tanda-tanda awal bahwa anda sedang hamil. Bahkan bau makanan tertentu bisa menyebabkan rasa mual di awal kehamilan. Satu studi mengatakan bahwa ibu hamil biasanya tidak suka pada bau kopi di minggu-minggu awal kehamilannya. Daging, produk yang mengandung susu Dan makanan berbumbu tajam adalah objek yang biasanya paling tidak disukai pada saat kehamilan.
Ngidam satu makanan tertentu juga biasa terjadi. Seperti juga gejala kehamilan yang lain, keinginan untuk makan makanan tertentu ini bisa diakibatkan oleh perubahan hormon. Ibu hamil biasanya mengalami perubahan selera makan, terutama pada semester pertama, saat akibat dari perubahan hormon masih sangat kuat.
☺ Sering buang air kecil.
Banyak ibu hamil yang merasakan bahwa mereka jadi lebih sering pergi ke kamar kecil daripada biasanya. Pada trimester pertama kehamilan, hal ini disebabkan karena rahim yang membesar menekan ke arah kandung kemih anda.
☺ Sakit kepala.
Bila anda hamil, anda mungkin akan terganggu dengan seringnya anda mengalami sakit kepala ringan. Pada masa awal kehamilan, sakit kepala mungkin disebabkan oleh meningkatnya sirkulasi darah yang disebabkan oleh adanya perubahan hormon.
☺ Konstipasi.
Konstipasi atau susah buang air besar adalah salah indikator awal terjadinya kehamilan. Peningkatan jumlah hormon progesteron menyebabkan proses pencernaan berjalan lambat, sehingga makanan lebih lambat bisa masuk ke saluran pencernaan, yang bisa menyebabkan terjadinya konstipasi.
☺ Perubahaan suasana hati.
Anda bukan jenis perempuan yang sensitif – jadi mengapa bisa menangis melihat iklan Hallmark? Membanjirnya jumlah hormon dalam tubuh anda di masa awal kehamilan bisa membuat anda luar biasa emosional Dan cengeng. Perubahan suasana hati ini, dari gembira menjadi sedih, juga biasa terjadi, terutama pada trimester pertama.
☺ Merasa pusing dan melayang.
Merasa pusing dan melayang biasa terjadi pada ibu hamil. Sensasi ini biasanya adalah akibat dari perubahan sirkulasi saat pembuluh darah dalam tubuh anda membesar Dan tekanan darah anda menurun. Pada awal kehamilan, rasa pusing ini juga bisa disebabkan oleh rendahnya gula darah.
☺ Suhu basal tubuh meningkat.
Suhu basal tubuh anda adalah temperatur yang diambil secara oral pada saat anda pertama kali bangun di pagi Hari. Temperatur ini akan sedikit meningkat setelah masa ovulasi Dan menetap pada level tersebut sampai anda mendapatkan haid berikutnya. Apabila anda sering mencatat suhu basal tubuh anda untuk menentukan kapan anda mengalami ovulasi, anda akan melihat bahwa peningkatan selama leibh dari dua minggu berarti anda mengalami kehamilan. Pada kenyataannya, suhu basal tubuh akan tetap tinggi selama masa kehamilan anda.
Tapi bila ingin memastikan lebih lanjut sebaiknya cara yang paling tepat adalah dengan mengecek dengan USG. Itu merupakan tindakan yang tepat.
Setelah anda Mnegetahui bila anda hamil maka jagalah dan berikan asupan gizi yang baik untuk janin anda.
belajar tentang apa yang ada didunia ini, trik dan tips, gratisan , ngeblog, asuhan keperawatan,
Kamis, 02 Oktober 2008
STRATEGI PELAKSANAAN KLIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN
Nn. D umur 20 tahun yang beralamat di jalan Mawar no.3, Cilandak, Jakrta Selatan. Ia dibawa ke RSJ Marzoeki Mahdi Bogor pada tanggal 24-03-2009, dengan alas an kakak klien mengatakan bahwa Nn.D sering berteriak sering memukul dirinya sendiri.
Sebelumnya sekitar 8 bulan yang klien pernah dibawa oleh keluarganya ke paranormal dengan alasan yang sama, tetapi klien tidak kunjunng sembuh. Keluarga klien mengatakan juga bahwa klien mengalami gagguan jiwa sejak ia diceraikan oleh suaminya. Dan selama klien berumahtangga dengan mantan suaminya, klien juga sering mendapat perilaku kekerasan dari suaminya, seperti dipukul atau diinjak perutnya saat klien sedang hamil 4 bulan.
Saat dilakukan pengkajian klien tampak berantakan, tekanan darh klien 140/90 mmHg, Nadi 89 x/menit, suhu 37o C, dan RR 24 x/menit. Mata klien juga melotot dan dengan pandangan yang tajam, nada suara klien juga tinggi, tangan sering mengepal, tampak tegangn saat bercerita dan pembicaraan klien kasar.
STRATEGI PELAKSANAAN KLIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN
A. Proses keperawatan
1. Kondisi klien
a. Data subyektif :
1) Klien mengatakan pernah melakukan tindak kekerasan
2) Klien mengatakan merasa orang lain mengancam
3) Klien mengatakan orang lain jahat
b. Data objektif :
1) Klien tampak tegang saat bercerita
2) Pembicaraan klien kasar jika dia menceritakan marahnya
3) Mata melotot, pandangan tajam
4) Mengancam secara verbal dan fisik
5) Nada suara tinggi
6) Tangan mengepal
7) Berteriak/menjerit
8) Memukul
2. Diagnosa keperawatan
Risiko tinggi perilaku kekerasan
3. Tujuan keperawatan
a. Tujuan umum :
Klien dapat mengontrol atau mencegah perilaku kekerasan baik secara fisik, sosial atau verbal, spiritual, dan terapi psikoformatika.
b. Tujuan khusus :
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya
2) Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan
3) Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
4) Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dapat dilakukan
5) Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan
6) Klien dapat menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan
7) Klien dapat mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan
8) Klien dapat memasukkan latihan ke dalam jadwal kegiatan harian.
4. Tindakan keperawatan
a. Bina hubungan saling percaya
b. Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan marahnya
c. Bantu klien mengungkapkan tanda-tanda perilaku kekerasan yang dialaminya
d. Diskusikan denngan klien perilaku kekerasan yang dilakukan selama ini
e. Diskusikan dengan klien akibat negative (kerugian) cara yang dilakukan pada :
1) Diri sendiri
2) Orang lain/keluarga
3) Lingkungan
f. Diskusikan bersama klien cara mengontrol perilaku kekerasan
g. Tentang mempraktekkan latihan cara mengontrol fisik
h. Anjurkan klien untuk memasukkan kegiatan didalam jadwal kegiatan harian
B. Strategi komunikasi
1. Fase orientasi
a. Salam : “ Assalamu’alaikum, Selamat pagi? ”
b. Evaluasi : “ Bagaimana perasaan Mba saat ini? Apa yang sedang Mba
rasakan saat ini? ”
“ Perkenalkan Mba Nama saya Suster S. Mba namanya
siapa?biasanya dipanggil apa? ”
c. Kontrak
1) Topik : “ Baiklah Mba D, saat ini kita akan membahas tentang penyebab
Mba marah dan mengontrol rasa marah secara fisik. ”
2) Waktu : “ Mba D ingin berapa lama kita akan berbincang-bincang? ”
3) Tempat : “ Dimana tempat Mba D inginkan untuk kita berbincang-bincanng? ”
2. Fase kerja
a. Identifikasi penyebab perilaku kekerasan :
“ Apa yang menyebabkan Mba D marah? ”
b. Identifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan
“ Saat Mba D sedang marah apa yang akan Mba rasakan? Apakah dada Mba berdebar-debar lebih kencang? Atau Mata melotot? ”.
c. Identifikasi perilaku kekerasan yang dilakukan
“ Saat Mba D marah apa yang Mba lakukan? ”
d. Identifikasi akibat risiko tinggi perilaku kekerasan
“ Apakah dengnan cara itu marah/kesal Mba dapat terselesaikan? ” Ya tentu tidak, apa kerugian yang Mba D alami? Betul Mba jadi masuk ke ruang Isolasi.”
e. Menyebutkan cara mengontrol risiko tinggi perialu kekerasan
“Pertama mari kita coba melakukan latihan tarik napas dalam. Sekarang Mba D bisa berdiri atau duduk rilex’s, lalu tarik napas dalam dari hidung tahan sebentar, lalu keluarkan perlahan-lahan melalui mulut. Ini dilakukan sebanyak 5 kali ya Mba? ”
f. Membantu klien mempraktekkan cara latihan cara mengontrol fisik
“ Sekarang coba Mba lakukan bagaimana latihan napas dalam? Pertam tarik napas melalui hidung, ya seperti itu Mba bagus, kemudian hembuskan melalui mulut. Ini dilakukan selam 5 kali ya Mba. Ayo sekarang lakukan kembali, tarik napas dalam-dalam melalui hidung, Mba D rasakan betapa sejuknya udara bersih yang masuk ke paru-paru kita, kemudian hembuskan pelan-pelan melalui mulut, ya seperti itu Mba, Bagus..”
g. Membantu klien memasukkan kegiatan sehari-hari
“ Nah..Mba D tadi telah melakukan latiahan teknik relaksasi napas dalam, bagaimana kalau latihan ini kita buat jadwal kegiatan sehari-hari Mba? Baik kita masukkan ya ke jadwal kegiatan sehari-hari Mba? Kapan waktu yang Mba D inginkan untuk melakukan latihan ini? Bagaimana kalau setiap jam 09.00 pagi?
3. Fase terminasi
a. Evaluasi
“ Bagaiman perasaan Mba setelah melakukan latihan teknik relaksasi napas dalam tadi? Ya..betul, dan kelihatannya Mba terlihat sudah lebih rileks. Kalau begitu coba Mba praktikkan lagi latihan teknik napas dalam yang saya ajarkan tadi. ”.
b. RTL (Rencana Tindak Lanjut)
“ Ya..Bagus Mba. Mba telah bisa melakukannya dengan baik. Besok kita akan bertemu kembali untuk mengajarkan Mba D teknik relakasasi lain yang dpat membantu mengontrol rasa marah Mba. Tapi sebelumnya Mba D harus bias mengatasi rasa marah Mba dengan teknik relaksasi napas dalam yang telah saya ajarkan tadi.”
c. Kontrak waktu yang akan datang
“ Baik Mba D kita sudah selesai berbincang-bincangnya, besok saya akan menemui Mba kembali untuk melihat perkembangan kondisi Mba D dan mengajarkan teknik relaksasi yang lain. Mba D mau jam berapa kita ketemunya? Baik jam ya Mba , sesuai kesepakatan kita. Tempatnya di sisni ya Mba? ”
d. Antisipasi maslah
“ Mba, jika Mba D ingin merasa marah lagi pada saat saya tidak ada, Mba dapat melakukan sendiri teknik relaksasi napas dalam yang telah saya ajarkan tadi, atau jika dengan teknik ini rasa marah Mba D tidak berkurang Mba bias memanggil perawat yang ada di sini. Baik Mba, kalau begitu saya permisi dulu, sampai jumpa. Assalamu’alaikum..”
Sebelumnya sekitar 8 bulan yang klien pernah dibawa oleh keluarganya ke paranormal dengan alasan yang sama, tetapi klien tidak kunjunng sembuh. Keluarga klien mengatakan juga bahwa klien mengalami gagguan jiwa sejak ia diceraikan oleh suaminya. Dan selama klien berumahtangga dengan mantan suaminya, klien juga sering mendapat perilaku kekerasan dari suaminya, seperti dipukul atau diinjak perutnya saat klien sedang hamil 4 bulan.
Saat dilakukan pengkajian klien tampak berantakan, tekanan darh klien 140/90 mmHg, Nadi 89 x/menit, suhu 37o C, dan RR 24 x/menit. Mata klien juga melotot dan dengan pandangan yang tajam, nada suara klien juga tinggi, tangan sering mengepal, tampak tegangn saat bercerita dan pembicaraan klien kasar.
STRATEGI PELAKSANAAN KLIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN
A. Proses keperawatan
1. Kondisi klien
a. Data subyektif :
1) Klien mengatakan pernah melakukan tindak kekerasan
2) Klien mengatakan merasa orang lain mengancam
3) Klien mengatakan orang lain jahat
b. Data objektif :
1) Klien tampak tegang saat bercerita
2) Pembicaraan klien kasar jika dia menceritakan marahnya
3) Mata melotot, pandangan tajam
4) Mengancam secara verbal dan fisik
5) Nada suara tinggi
6) Tangan mengepal
7) Berteriak/menjerit
8) Memukul
2. Diagnosa keperawatan
Risiko tinggi perilaku kekerasan
3. Tujuan keperawatan
a. Tujuan umum :
Klien dapat mengontrol atau mencegah perilaku kekerasan baik secara fisik, sosial atau verbal, spiritual, dan terapi psikoformatika.
b. Tujuan khusus :
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya
2) Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan
3) Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
4) Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dapat dilakukan
5) Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan
6) Klien dapat menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan
7) Klien dapat mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan
8) Klien dapat memasukkan latihan ke dalam jadwal kegiatan harian.
4. Tindakan keperawatan
a. Bina hubungan saling percaya
b. Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan marahnya
c. Bantu klien mengungkapkan tanda-tanda perilaku kekerasan yang dialaminya
d. Diskusikan denngan klien perilaku kekerasan yang dilakukan selama ini
e. Diskusikan dengan klien akibat negative (kerugian) cara yang dilakukan pada :
1) Diri sendiri
2) Orang lain/keluarga
3) Lingkungan
f. Diskusikan bersama klien cara mengontrol perilaku kekerasan
g. Tentang mempraktekkan latihan cara mengontrol fisik
h. Anjurkan klien untuk memasukkan kegiatan didalam jadwal kegiatan harian
B. Strategi komunikasi
1. Fase orientasi
a. Salam : “ Assalamu’alaikum, Selamat pagi? ”
b. Evaluasi : “ Bagaimana perasaan Mba saat ini? Apa yang sedang Mba
rasakan saat ini? ”
“ Perkenalkan Mba Nama saya Suster S. Mba namanya
siapa?biasanya dipanggil apa? ”
c. Kontrak
1) Topik : “ Baiklah Mba D, saat ini kita akan membahas tentang penyebab
Mba marah dan mengontrol rasa marah secara fisik. ”
2) Waktu : “ Mba D ingin berapa lama kita akan berbincang-bincang? ”
3) Tempat : “ Dimana tempat Mba D inginkan untuk kita berbincang-bincanng? ”
2. Fase kerja
a. Identifikasi penyebab perilaku kekerasan :
“ Apa yang menyebabkan Mba D marah? ”
b. Identifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan
“ Saat Mba D sedang marah apa yang akan Mba rasakan? Apakah dada Mba berdebar-debar lebih kencang? Atau Mata melotot? ”.
c. Identifikasi perilaku kekerasan yang dilakukan
“ Saat Mba D marah apa yang Mba lakukan? ”
d. Identifikasi akibat risiko tinggi perilaku kekerasan
“ Apakah dengnan cara itu marah/kesal Mba dapat terselesaikan? ” Ya tentu tidak, apa kerugian yang Mba D alami? Betul Mba jadi masuk ke ruang Isolasi.”
e. Menyebutkan cara mengontrol risiko tinggi perialu kekerasan
“Pertama mari kita coba melakukan latihan tarik napas dalam. Sekarang Mba D bisa berdiri atau duduk rilex’s, lalu tarik napas dalam dari hidung tahan sebentar, lalu keluarkan perlahan-lahan melalui mulut. Ini dilakukan sebanyak 5 kali ya Mba? ”
f. Membantu klien mempraktekkan cara latihan cara mengontrol fisik
“ Sekarang coba Mba lakukan bagaimana latihan napas dalam? Pertam tarik napas melalui hidung, ya seperti itu Mba bagus, kemudian hembuskan melalui mulut. Ini dilakukan selam 5 kali ya Mba. Ayo sekarang lakukan kembali, tarik napas dalam-dalam melalui hidung, Mba D rasakan betapa sejuknya udara bersih yang masuk ke paru-paru kita, kemudian hembuskan pelan-pelan melalui mulut, ya seperti itu Mba, Bagus..”
g. Membantu klien memasukkan kegiatan sehari-hari
“ Nah..Mba D tadi telah melakukan latiahan teknik relaksasi napas dalam, bagaimana kalau latihan ini kita buat jadwal kegiatan sehari-hari Mba? Baik kita masukkan ya ke jadwal kegiatan sehari-hari Mba? Kapan waktu yang Mba D inginkan untuk melakukan latihan ini? Bagaimana kalau setiap jam 09.00 pagi?
3. Fase terminasi
a. Evaluasi
“ Bagaiman perasaan Mba setelah melakukan latihan teknik relaksasi napas dalam tadi? Ya..betul, dan kelihatannya Mba terlihat sudah lebih rileks. Kalau begitu coba Mba praktikkan lagi latihan teknik napas dalam yang saya ajarkan tadi. ”.
b. RTL (Rencana Tindak Lanjut)
“ Ya..Bagus Mba. Mba telah bisa melakukannya dengan baik. Besok kita akan bertemu kembali untuk mengajarkan Mba D teknik relakasasi lain yang dpat membantu mengontrol rasa marah Mba. Tapi sebelumnya Mba D harus bias mengatasi rasa marah Mba dengan teknik relaksasi napas dalam yang telah saya ajarkan tadi.”
c. Kontrak waktu yang akan datang
“ Baik Mba D kita sudah selesai berbincang-bincangnya, besok saya akan menemui Mba kembali untuk melihat perkembangan kondisi Mba D dan mengajarkan teknik relaksasi yang lain. Mba D mau jam berapa kita ketemunya? Baik jam ya Mba , sesuai kesepakatan kita. Tempatnya di sisni ya Mba? ”
d. Antisipasi maslah
“ Mba, jika Mba D ingin merasa marah lagi pada saat saya tidak ada, Mba dapat melakukan sendiri teknik relaksasi napas dalam yang telah saya ajarkan tadi, atau jika dengan teknik ini rasa marah Mba D tidak berkurang Mba bias memanggil perawat yang ada di sini. Baik Mba, kalau begitu saya permisi dulu, sampai jumpa. Assalamu’alaikum..”
Langganan:
Komentar (Atom)