Sabtu, 04 Oktober 2008

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN LAPARATOMI

Pengertian

Pembedahan perut sampai dengan membuka selaput perut .

Ada 4 cara, yaitu;

1. Midline incision

2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2,5 cm), panjang (12,5 cm).

3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.

4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy.

Indikasi

1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam)

2. Peritonitis

3. Perdarahan saluran pencernaan.

4. Sumbatan pada usus halus dan usus besar.

5. Masa pada abdomen ( Tumor, cyste dll).

PERAWATAN PRE OPERATIF

PENGKAJIAN

Point penting dalam riwayat keperawatan preoperative :

· Umur

· Alergi terhadap obat, makanan

· Pengalaman pembedahan

· Pengalaman anestesi

· Tembakau, alcohol, obat-obatan

· Lingkungan

· Kemampuan self care

· Support system

PEMERIKSAAN FISIK

· Pengkajian dasar preop dilakukan untuk :

· Menentukan data dasar

· Masalah pengobatan yang tersembunyi

· Potensial komplikasi berhubungan dengan anestesi

· Potensial komplikasi post op.

Fokus : Riwayat dan sistem tubuh yang mempengaruhi prosedur pembedahan.

System kardiovaskuler

Untuk menentukan kekuatan jantung dan kemampuan untuk mentoleransi pembedahan dan anestesi.

Perubahan jantung à 39 % kematian perioperatif.

Sistem pernapasan

Lansia, smoker, PPOM à resiko atelektasis, kolap jaringan paru.

à Mencegah pertukaran oksigen/CO2

à Intoleransi karena perubahan dalam dada dan paru.

à Regiditas cavum thoraks dan menurunnya ekspansi paru à efisiensi ekskresi paru terhadap anestesi menurun.

Renal system

Abnormal renal fungsi menurunkan rata ekskresi obat dan anestesi

Skopolamin, morphin à konfusi disorientasi

Neuorologi system :

Kemampuan ambulasi, dan reflek, serta aktivitas lainya.

Muskulussceletal

Deformitas à mempengaruhi posisi intra dan post-operasi

Artritis à menerima posisi à nyeri post-operasi oleh karena immobilisasi

Kekuatan, tonus otot.

Status Nutrisi

Malnutrisi, obesitas à resiko tinggi pembedahan

Vit. C , vit.B diperlukan untuk penyembuhan luka dan pembentukan fibrin.

Obesitas à wondhiling menurun oleh karena jaringan lemak tinggi

Psikososial asesment

Tujuan : menentukan kemampuan coping

Informasi

Support

Laboratorium

Analisis:

Pengetahuan kurang sehubungan dengan pengalaman pre-op
Kecemasan sehubungan dengan pengalaman pre-op
Pengetahuan kurang ( knowledge defisite )

Tujuan : Klien mengatakan dan mematuhi prosedur pre-op

Mendemostrasikan teknik untuk mencegah komplikasi post-op

Intervensi

Fokus : Edukasi pre-operasi

Informasi : Informed consent, pembatasan diit, pre-operatip preparation, post-op exersice.

Informed Consent :

- alasan pembedahan

- pilhan dan resikonya

- resiko pembedahan

- resiko anestesi

Pembatasan diit à NPO (nothing per oral )à 6 – 8 jam sebelum pembedahan GI (gastro intestinal ) preparasi :

- mencegah perlukaan colon

- melihat jelas area

- mengurangi bacteri intestinal

Skin preparasi

Tube, drain, Intra Venous line

Post – op exercise :

- diaphragmatic breating

- incestive spirometri

- cougling and spinting the surgical wound

- turning and leg exercise

Kecemasan :

Tujuan : kecemasan klien menurun , menunjukkan relaksasi saat istirahat

Intervensi :

- preoperatip teaching

- comunikatip

- rest.

INTERVENSI KLIEN INTRA OPERATIF

Anggota tim pembedahan

Tim pembedahan terdiri dari :

· Ahli bedah

· Tim pembedahan dipimpin oleh ahli bedah senior atau ahli bedah yang sudah melakukan operasi.

· Asisten pembedahan (1orang atau lebih) asisten bius dokter, risiden, atau perawat, di bawah petunjuk ahli bedah. Asisten memegang retractor dan suction untuk melihat letak operasi.

· Anaesthesologist atau perawat anaesthesi.

· Perawat anesthei memberikan obat-obat anesthesia dan obat-obat lain untuk mempertahankan status fisik klien selama pembedahan.

· Circulating Nurse

· Peran vital sebelum, selama dan sesudah pembedahan.

Tugas :

- Set up ruangan operasi

- Menjaga kebutuhan alat

- Check up keamanan dan fungsi semua peralatan sebelum pembedahan

- Posisi klien dan kebersihan daerah operasi sebelum drapping.

- Memenuhi kebutuhan klien, memberi dukungan mental, orientasi klien.

Selama pembedahan :

- Mengkoordinasikan aktivitas

- Mengimplementasikan NCP

- Membenatu anesthetic

- Mendokumentasikan secara lengkap drain, kateter, dll.

· Surgical technologist atau Nurse scrub; bertanggung jawab menyiapkan dan mengendalikan peralatan steril dan instrumen, kepada ahli bedah/asisten. Pengetahuan anatomi fisiologi dan prosedur pembedahan memudahkan antisipasi instrumen apa yang dibutuhkan.

Penyiapan kamar dan team pembedahan.

Keamanan klien diatur dengan adanya ikat klien dan pengunci meja operasi. Dua factor penting yang berhubungan dengan keamanan kamar pembedahan : lay out kamar operasi dan pencegahan infeksi.

1). Lay Out pembedahan.

Ruang harus terletak diluar gedung RS dan bersebelahan dengan RR dan pelayanan pendukung (bank darah, bagian pathologi dan radiology, dan bagian logistik).

Alur lalu lintas yang menyebabkan kontaminasi dan ada pemisahan antara hal yang bersih dan terkontaminasi à design (protektif, bersih, steril dan kotor).

Besar ruangan tergantung pada ukuran dan kemampuan rumah sakit.

Umumnya :

· Kamar terima

· Ruang untuk peralatan bersih dan kotor.

· Ruang linen bersih.

· Ruang ganti

· Ruang umum untuk pembersihan dan sterilisasi alat.

· Scrub area.

Ruang operasi terdiri dari :

· Stretcher atau meja operasi.

· Lampu operasi.

· Anesthesia station.

· Meja dan standar instrumen.

· Peralatan suction.

· System komunikasi.

2). Kebersihan dan Kesehatan Team Pembedahan.

Sumber utama kontaminasi bakteri à team pembedahan yang hygiene ¯ dan kesehatan ¯ ( kulit, rambut, saluran pernafasan).

Pencegahan kontaminasi :

· Cuci tangan.

· Handscoen.

· Mandi.

· Perhiasan (-) cincin, jam tangan, gelang.

3). Pakaian bedah.

Terdiri : Kap, Masker, gaun, Tutup sepatu, baju OK.

Tujuan: Menurunkan kontaminasi.

4). Surgical Scrub.

Cuci tangan pembedahan dilakukan oleh :

· Ahli Bedah

· Semua asisten

· Scrub nurse.

à sebelum menggunakan sarung tangan dan gaun steril.

Alat-alat:

· Sikat cucin tangan reuable / disposible.

· Anti microbial : betadine.

· Pembersih / pemotong kuku.

à Waktu : 5 – 10 menit à dikeringkan dengan handuk steril.

Anasthesia.

Anasthesia (Bahasa Yunani) à Negatif Sensation.

Anasthesia menyebabkan keadaan kehilangan rasa secara partial atau total, dengan atau tanpa disertai kehilangan kesadaran.

Tujuan: Memblok transmisi impuls syaraf, menekan refleks, meningkatkan relaksasi otot.

Pemilihan anesthesia oleh anesthesiologist berdasarkan konsultasi dengan ahli bedah dan factor klien.

Type anasthesia:

Perawat perlu mengenal ciri farmakologic terhadap obat anesthesia yang digunakan dan efek terhadap klien selama dan sesudah pembedahan.

1. Anasthesia Umum.

Adalah keadaan kehilangan kesadaran yang reversible karena inhibisi impulse saraf otak.

Misal : bedah kepala, leher. Klien yang tidak kooperatif.

Stadium Anesthesia

Stadium I : Relaksasi

Mulai klien sadar dan kehilangan kesadaran secara bertahab.

Stadium II : Excitement.

Mulai kehilangan kesadaran secara total sampai dengan pernafasan yang iregulair dan pergerakan anggota badan tidak teratur.

Stadium III : Ansethesi pembedahan..

Ditandai dengan relaksasi rahang, respirasi teratur, penurunan pendengaran dan sensasi nyeri.

Stadium IV : Bahaya.

Apnoe, Cardiapolmunarry arrest, dan kematian.

Metode Pemberian

Inhalasi , IV injection. Instilasi rectal

Inhalasi

Metode yang paling dapat dikontrol karena intak dan eliminasi secara primer oleh paru.

Obat anesthesia inhalasi yang diberikan :

Gas: Nitrous Axida ( N20).

Paling sering digunakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau. Non iritasi dengan masa induksi dan pemulihan yang cepat.

Jenis yang biasa dipakai;

a. Folatile:

b. Halotan :

c. Ethrane.

d. Penthrane.

e. Forane.

Anesthesi Injeksi IV.

Memberikan perasaan senang., cepat dan pelepasan obat secara pelan. Jenis opbat yamng biasa dipakai;

Ø Barbiturat.

Ø Narcotik:

Ø Inovar

Ø Ketamine

Ø Neuromusculer Brochler.

Anestesi Local Atau Regional

Anestesi local atau regional secara sementara memutus transmisi impuls saraf menuju dan dari lokasi khusus.

Teknik pemberian.

Anestesi Topikal

Pemberian secara langsung pada permukaan area yang dianestesi

Bentuk: Salep atau spray.

Lokal Anestesi

Injeksi obat anestesi secara I C dan S C ke jaringan sekitar insisi, luka atau lesi.

Field Block

Injeksi secara bertahab pada sekeliling daerah yang dioperasi

( hernioraphy , dental prosedur ,bedah plstik )

Nerve Block

Injeksi obat anestesi local ke dalam atau sekitar saraf atau saraf yang mempesarafi daerah yang dioperasi. Block saraf memutus transmisi sensasi, motor, sympatis.

Spinal Anestesi / Intra Techal

Dicapai dengan injecsi obat anestesi ke dalam ruang sub orachonoid.

Pada L 2 – 3 atau L 3 – 4.

PENGKAJIAN :

Di ruang penerimaan perawat sirkulasi:

- Memvalidasi identitas klien.

- Memvalidasi inform concent.

Chart Review.

- Memberikan informasi yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi kebutuhan actual dan potensial selama pembedahan.

- Mengkaji dan merencanakan kebutuhan klien selama dan sesudah operasi.

Perawat menanyakan.:

- Riwayat allergi, reaksi sebelumnya terhadap anesthesia atau tranfusi darah.

- Check riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik.

- Check pengobatan sebelumnya : therapy, anticoagulasi.

- Check adanya gigi palsu, kontaks lens, perhiasan, wigs dan dilepas.

- à Kateterisasi.

DIAGNOSIS KEPERAWATAN.

1. Resiko for injury berhubungan dengan anesthesia, posisi intra operatif dan bahaya lain dari lingkungan intra operatif.

2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka operasi.

3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan anesthesia

4. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah dan cairan tubuh selama pembedahan.

PERENCANAAN

Resiko for injury berhubungan dengan anesthesia, posisi intra operatif dan bahaya lain dari lingkungan intra operatif.

Tujuan : Klien akan dipertahankan dalam keadaan anesthesia yang aman selama pembedahan dan bebas dari perlukaan peralatan operasi.

INTERVENSI:

- Persiapan dan penggunaan obat anesthesia yang tepat.

- Positioning à posisi yang tepat.

Untuk menjamin posisi yang tepat dikaji : kesesuaian fisiologiss, perubahan sirkulasi yang minimal, proteksi struktur tulang dan neuromusculair, penggunaan dan lokasi IV line, cara anesthesia, keamanan dan keselamatan klien.

- Penggunaan peralatan elektrik. Lempeng grounding yang ditutupi jeli tidak menekan tubuh.

- Chek hati-hati alat / electrosurgical à mencegah luka bakar.

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka operasi.

Tujuan: Klien akan mengalami gangguan integritas kulit yang dan kontaminasi yang minimal.

Intervensi:

- Plastic adhesive drape setelah daerah pembedahan dibersihkan dan kering.

- Penutupan kulit:

- Tujuan:

- Menutup lumen pembuluh darah.

- Mencegah perdarahan dan kehilangan cairan tubuh.

- Mencegah kontaminasi luka.

Dua factor yang menentukan kekuatan penutupan luka :

- Materi jahitan.

Ahli bedah akan memilih metode dan type penutupan kulit berdasarkan letak incisi, ukuran dan kedalaman luka, usia dan riwayat medik klien.

- Staples dan plester digunakan untuk menutup luka superfisialis atau epidermis.

Benang jahit : Absorbable dan non absorbable.

Ukuran benang : 0.-5, 2 – 0 –11- 0.

INTERVENSI KLIEN POST OPERASI.

PENGKAJIAN;

Setelah menerima laporan dari perawat sirkulasi, dan pengkajian klien, perawat mereview catatan klien yang berhubungan dengan riwayat klien, status fisik dan emosi, sebelum pembedahan dan alergi.

Pemeriksaan Fisik Dan Manifestasi Klinik

System Pernafasan.

Ketika klien dimasukan ke PACU, Perawat segera mengkaji klien:

- Potency jalan nafas, à meletakan tangan di atas mulut atau hidung.

- Perubahan pernafasan (rata-rata, pola, dan kedalaman). RR <>

- Auscultasi paru à keadekwatan expansi paru, kesimetrisan.

- Inspeksi: Pergerakan didnding dada, penggunaan otot bantu pernafasan diafragma, retraksi sternal à efek anathesi yang berlebihan, obstruksi.

Thorax Drain.

Sistem Cardiovasculer.

Sirkulasi darah, nadi dan suara jantung dikaji tiap 15 menit ( 4 x ), 30 menit (4x). 2 jam (4x) dan setiap 4 jam selama 2 hari jika kondisi stabil.

Penurunan tekanan darah, nadi dan suara jantung à depresi miocard, shock, perdarahan atau overdistensi.

Nadi meningkat à shock, nyeri, hypothermia.

Kaji sirkulasi perifer (kualitas denyut, warna, temperatur dan ukuran ektremitas).

Homan’s saign à trombhoplebitis pada ekstrimitas bawah (edema, kemerahan, nyeri).

Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit

- Inspeksi membran mukosa : warna dan kelembaban, turgor kulit, balutan.

- Ukur cairan à NG tube, out put urine, drainage luka.

- Kaji intake / out put.

- Monitor cairan intravena dan tekanan darah.

Sistem Persyarafan.

- Kaji fungsi serebral dan tingkat kesadaran à semua klien dengan anesthesia umum.

- Klien dengan bedah kepala leher : à respon pupil, kekuatan otot, koordinasi. Anesthesia umum à depresi fungsi motor.

Sistem Perkemihan.

- Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 – 8 jam post anesthesia inhalasi, IV, spinal.

Anesthesia, infus IV, manipulasi operasi à retensio urine.

Pencegahan : Inspeksi, Palpasi, Perkusià abdomen bawah (distensi buli-buli).

- Dower catheter à kaji warna, jumlah urine, out put urine <>

Sistem Gastrointestinal.

- Mual muntah à 40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama dapat menyebabkan stress dan iritasi luka GI dan dapat meningkatkan TIK pada bedah kepala dan leher serta TIO meningkat.

- Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara usus.

- Kaji paralitic ileus à suara usus (-), distensi abdomen, tidak flatus.

- jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 – 8 jam.

- Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post operatif dengan decompresi dan drainase lambung.

· Meningkatkan istirahat.

· Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah.

· Memonitor perdarahan.

· Mencegah obstruksi usus.

· Irigasi atau pemberian obat.

Sistem Integumen.

- Luka bedah sembuh sekitar 2 minggu. Jika tidak ada infeksi, trauma, malnutrisi, obat-obat steroid.

- Penyembuhan sempurna sekitar 6 bulan – satu tahun.

- Ketidak efektifan penyembuhan luka dapat disebabkan :

· Infeksi luka.

· Diostensi dari udema / palitik ileus.

· Tekanan pada daerah luka.

· Dehiscence.

· Eviscerasi.

Drain dan Balutan

Semua balutan dan drain dikaji setiap 15 menit pada saat di ruang PAR, (Jumlah, warna, konsistensi dan bau cairan drain dan tanggal observasi), dan minimal tiap 8 jam saat di ruangan.

Pengkajian Nyeri

Nyeri post operatif berhubungan dengan luka bedah , drain dan posisi intra operative.

Kaji tanda fisik dan emosi; peningkatan nadi dan tekanan darah, hypertensi, diaphorosis, gelisah, menangis. Kualitas nyeri sebelum dan setelah pemberian analgetika.

Pemeriksaan Laboratorium.

Dilakukan untuk memonitor komplikasi .

Pemeriksaan didasarkan pada prosedur pembedahan, riwayat kesehatan dan manifestasi post operative. Test yang lazim adalah elektrolit, Glukosa, dan darah lengkap.

DIAGNOSIS KEPERAWATAN.

1. Gangguan pertukaran gas, berhubungan dengan efek sisa anesthesia, imobilisasi, nyeri.

2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka pemebedahan, drain dan drainage.

3. Nyeri berhubungan dengan incisi pembedahan dan posisi selama pembedahan.

4. Potensial terjadi perlukaan berhubungan dengan effect anesthesia, sedasi, analgesi.

5. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan intra dan post operasi.

6. Ketidak efektifan kebersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan skresi.

7. Perubahan eliminasi urine ( penurunan) berhubungan dengan obat anesthesia dan immobilisasi.

PERENCANAAN

Gangguan pertukaran gas
Tujuan :

Klien akan mempertahankan ekspansi paru dan fungsi pernapasan yang adekuat.

Intervensi :

- Posistioning klien untuk mencegah aspirasi

- Insersi mayo à mencegah obstruksi, melakukan suction.

- Pemberian aksigen

- Endotracheal tube/mayo dilepas à refleks gag kembali

- Dorong batuk dan bernapas dalam 5 – 10 x setiap 2 jam. Khususnya 72 jam pertama (potensial komplikasi :atelektasis, pneumonia).

- Klien dengan penyakit paru, orang tua, perokok, panas spirometer.

- Suction.

Gangguan integritas kulit
Tujuan :

- luka klien akan sembuh tanpa komlikasi luka post operatif.

Penyebab luka infeksi :

- kontaminasi selama pembedahan

- infeksi preoperative

- teknik aseptic yang terputus

- status klien yang jelek.

Intervensi :

- Terapi obat :

antibiotik profilaksis spectrum luas (24 – 72 jam post op)

perawatan luka dengan gaas antibiotik.

- Balutan luka : ganti sesuai order dokter. Luka yang ditutup dengan balutan dibuka 3-6 hari.

- Drain :

evakuasi cairan dan udara

mencegah luka infeksi yang dalam dan pembentukan abses pada luka bedah.

Nyeri
Tujuan : klien akan mengalami pengurangan nyeri akibat luka bedah dan posisi selama operasi.

Intervensi :

- Terapi obat :

· Pemberian anlgetik narkotik dan non narkotik à nyeri akut (meperidin hydroclorida, morphine sulphate, codein sulphate, dan lain-lain.)

· Mengkaji tipe, lokasi ditensitas nyeri sebelum pemberian obat.

· Pada pembedahan yang luas à kontrol nyeri à iv pump.

· Observasi tekanan darah, pernapasan, kesadaran, (depresi napas, hyotensi, mual, muntah à komplikasi narkotik).

Metode pangendalian nyeri yang lain :

positioning
perubahan posisi tiap 2 jam
masase
EVALUASI :

Kriteria hasil yang diharapkan pada klien post op adalah :

1. Mempertahankan ekspansi paru dan fungsi yang adekuat yang ditandai suara napas jernih.

2. Mengikuti diet TKTP

3. menjelaskan dan mendemonstrasikan perawatan balutan dan drain.

4. Penyembuhan komplit tanpa komplikasi

5. Mengungkapkan nyeri hilang.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Dr. Sutisna Himawan (editor). Kumpulan Kuliah Patologi. FKUI

Brunner / Sudart. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. Lippincott Company. Philadelphia. 1984.

Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987, Edisi II

Asuhan Keperawatan Perioperatif pada Klien Dengan PyeloNeprolithotomi Dextra"

1. Pengertian

Adanya batu (kalkuli) pada saluran perkemihan dalam ginjal, ureter, atau kandung kemih yang terdiri dari; yang membentuk kristal; kalsium, oksalat, fosfat, kalsium urat, asam urat dan magnesium.

Batu dapat menyebabkan obstruksi, infeksi atau oedema pada saluran perkemihan, kira-kira 75% dari semua batu yang terbentuk terdiri atas; kalsium

Faktor resiko batu ginjal meliputi; stasis perkemihan, infeksi saluran perkemihan, hiperparatiroidismem penyakit infeksi usus, gout, intake kalsium dan vit D berlebih, immobilitas lama dan dehidrasi.

2. Faktor –faktor yang mempengaruhi pembentukan batu;

a. Faktor Endogen

Faktor genetik, familial pada hypersistinuria, hiperkalsiuria dan hiperoksalouria

b. Faktor Eksogen

Faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi dan kejenuhan mineral dalam air minum.

3. Faktor lain;

a. Infeksi

Infeksi saluran kencing dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti pembentukan batu saluran kencing . Infeksi bakteri akan memecah ureum dan membentuk amonium yang akan mengubah pH urine menjadi alkali.

b. Stasis dan Obstruksi urine

Adanya obstruksi dan stasis urine akan mempermudah infeksi saluran kencing.

c. Jenis kelamin

Pria lebih banyak dar ipada wanita

d. Ras

Batu saluran kencing lebih banyak ditemukan di Afrika dan Asia.

e. Keturunan

Annggota keluarga batu saluran kencing lebih banyak mempunyai kesempatan.

f. Air minum

Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan mengurangi kemungkinan terbentuknya batu, sedangkan kurang minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urine meningkat

g. Pekerjaan

Pekerja keras yang banyak bergerak mengurangi kemungkinan terbentuknya batu daripada pekerja yang lebih banyak duduk.

h. Suhu

Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringat

i. Makanan

Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditas BSk berkurang .Penduduk yang vegetarian yang kurang makan putih telur lebih sering menderita Batu Saluran Kencing (buli-buli dan Urethra)


4. Patogenesis

Sebagian besar batu saluran kencing adalah idiopatik, bersifat simptomatik ataupun asimptomatik.

5. Teori terbentuknya batu

a. Teori Intimatriks

Terbentuknya Batu Saluran Kencing memerlukan adanya substansi organik sebagai inti. Substansi ini terdiri dari mukopolisakarida dan mukoproptein A yang mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan batu.

b. Teori Supersaturasi

Terjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti; sistin, santin, asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.

c. Teori Presipitasi-Kristaliasi

Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substasi dalam urine. Urine yang bersifat asam akan mengendap sistin, santin, asam dan garam urat, urine alkali akan mengendap garam-garam fosfat..

d. Teori Berkurangnya faktor penghambat

Berkurangnya faktor penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfat polifosfat, sitrat magnesium, asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya Batu Saluran Kencing.

6. Pemeriksaan Diagnostik.

a. Urinalisa; warna mungkin kuning ,coklat gelap,berdarah,secara umum menunjukan Sel Darah Merah, Sel Darah Putih, kristal (sistin, asam urat, kalsium oksalat), ph asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat) alkali (meningkatkan magnesium, fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), urine 24 jam :kreatinin, asam urat kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukan Infeksi Saluran Kencing, BUN/kreatinin serum dan urine; abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis.

b. Darah lengkap: Hb, Ht, abnormal bila pasien dehidrasi berat atau polisitemia.

c. Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal (PTH. Merangsang reabsobsi kalsiumm dari tulang, meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine.

d. Foto Rontgen; menunjukan adanya kalkuli atau perubahan anatomik pada area ginjal dan sepanjang ureter.

e. IVP.: memberukan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri, abdominal atau panggul.Menunjukan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter).

f. Sistoureterokopi;visualiasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukan batu atau efek obstruksi.

g. USG ginjal: untuk menentukan perubahan obstruksi dan lokasi batu.

7. Penatalaksanaan;

a. Menghilangkan obstruksi

b. Mengobati infeksi

c. Menghilangkan rasa nyeri.

d. Mencegah terjadinya gagal ginjal dan mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi.

8. Komplikasi:

a. Infeksi

b. Obstruksi

c. Hidronephrosis.


1. Pendahuluan

Trauma bedah yang direncanakan, menimbulkan rentang respon fisiologis dan psikologis pada klien, tergantung pada individu dan pengalaman masa lalu yang unik, pola koping, kekuatan dan keterbatasan. Kebanyakan klien dan keluarganya memandang setiap tindakan bedah merupakan peristiwa besar dan mereka bereaksi dengan takut dan ansietas pada tingkat tertentu.

2. Pengertian Pyeloneprolithotomi

Pyeloneprolithotomi adalah tindakan pembedahan untuk mengeluarkan batu dari ginjal dan pyelum.

3. Pengertian Keperawatan Perioperatif

Keperawatan Perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tanggung jawab keperawatan yang berhubungan dengan fase-fase preoperatif, intraoperatif, pemulihan pascaanestesi dan pascabedah.

Sepanjang periode perioperatif, perawat menerapkan proses keperawatan untuk mengidentifikasi fungsi positip, perubahan fungsi, dan potensial perubahan fungsi pada klien. Adapun tanggung jawab keperawatan untuk masing-masing fase berfokus pada masalah kesehatan spesifik aktual atau resiko.


4. Fokus Asuhan Keperawatan Pada periode Perioperatif

1. Fase Preoperatif

a. Pengkajian Preoperatif

b. Penyuluhan Preoperatif

c. Persiapan untuk pindah ke ruang operasi

d. Dukungan orang terdekat

2. Fase Intraoperatif

a. Keamanan lingkungan

b. Kontrol Asepsis

c. Pemantauan fisiologis

d. Dukungan psikologis (prainduksi)

e. Pemindahan ke ruang pemulihan pascaanestesi

3. Fase Pemulihan Pascaanestesi

a. Pemantauan fisiologis (jantung, pernafasan, sirkulasi, ginjal dan neurologis )

b. Dukungan psikologis

c. Keamanan lingkungan

d. Tindakan kenyamanan

e. Stabilitas untuk pindah ke unit atau bangsal

4. Fase Pascaoperatif

a. Pemantauan fisiologis

b. Dukungan psikologis Tindakan kenyamanan

c. Dukungan orang terdekat

d. Keseimbangan fisiologis (nutrisi, cairan dan eliminasi)

e. Mobilisasi

f. Penyembuhan luka

g. Penyuluhan pulang.

Pengkajian Preoperatif Pyelonephrolithotomi

Meliputi : data umum, data dasar dan data fokus, yaitu ;

Pemahaman klien tentang kejadian

- Ahli bedah bertanggung jawab, untuk menjelaskan sifat operasi, semua pilihan alternatif, hasil yang diperkirakan dan kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi. Ahli bedah mendapatkan dua consent (ijin) satu untuk prosedur bedah dan satu untuk anestesi. Perawat bertanggung jawab untuk menentukan pemahaman klien tentang informasi, lalu memberitahu ahli bedah apakah diperlukan informasi lebih banyak (informed consent).

Kondisi akut dan kronis :

- Untuk mengkompensasi pengaruh trauma bedah dan anestesi, tubuh manusia membutuhkan fungsi pernafasan, sirkulasi, jantung, ginjal, hepar dan hematopoetik yang optimal. Setiap kondisi yang mengganggu fungsi sistem ini (misalnya: DM, gagal jantung kongestif, PPOM. Anemia, sirosuis, gagal ginjal) dapat mempengaruhi pemulihan. Disamping itu faktor lain, misalnya usia lanjut, kegemukan dan penyalahgunaan obat / alkohol membuat klien lebih rentan terhadap komplikasi.

Pengalaman bedah sebelumnya

- Perawat mengajukan pertanyaan spesifik pada klien tentang pengalaman pembedahan masa lalu. Informasi yang didapatkandigunakan untuk meningkatkan kenyamanan (fisik dan psikologis) untuk mencegah komplikasi serius.

Status Nutrisi

- Status nutrisi klien praoperatif secara langsung mempengaruhi responnya pada trauma pembedahan dan anestesi. Setelah terjadi luka besar, baik karena trauma atau bedah, tubuh harus membentuk dan memperbaiki jaringan serta melindungi diri dari infeksi. Untuk membantu proses ini, klien harus meningkatkan masukan protein dan karbohidrat dengan cukup untuk mencegah keseimbangan nitrogen negatif, hipoalbuminemia, dan penurunan berat badan. Status nutrisi merupakan akibat masukan tidak adekuat, mempengaruhi metabolik atau meningkatkan kebutuhan metabolik.

Status cairan dan elektrolit

- Klien dengan gangguan keseimbangan cairan dan elektolit cenderung mengalami shock, hipotensi, hipoksia, dan disritmia, baik pada intraoperatif dan pascaoperatif. Fluktuasi valume cairan merupakan akibat dari penurunan masukan cairan atau kehilangan cairan abnormal.

Status emosi.

- Respon klien, keluarga dan orang terdekat pada tindakan pembedahan yang direncanakan tergantung pada pengalaman masa lalu, strategi koping, signifikan pembedahan dan sistem pendukung.

- Kebanyakan klien dengan pembedahan mengalami ancietas dan ketakutan yang disebabkan penatalaksanaan tindakan operasi, nyeri, dan immobilitas.


Diagnosa Keperawatan Preoperatif (persiapan untuk pindah ke ruang operasi)

Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang regimen penatalaksanaan tindakan operasi.

Rencana Keperawatan

Diagnosa Ansietas/takut berhubungan dengan situasi/lingkungan ruang premedikasi dan operasi

Tanda- tanda :

Subyektif :-Klien mengatakan semalam tidak bisa tidur/sering terbangun membayangkan operasi.

Klien menanyakan berapa lama saya dioperasi.

Klien bertanya dimana ruang operasinya.

Obyektif :-Ekspresi wajah tegang, nadi meningkat, tekanan darah meningkat/turun, keluar keringat dingin, jantung berdebar-debar.

Kreteria hasil :

Ekspresi Wajah rileks.

Berpartisipasi pada prosedur keperawatan.

Mampu mengungkapkan perasaannya.

Menyatakan penurunan ansietas/takut.

Intervensi

Rasional

Mandiri :

1. Kaji tingkat kecemasan klien

2. Berikan penentraman hati dan tindakan kenyamanan:

a. Temani klien selama di ruang premedikasi

b. Berikan kesempatan pada klien mengungkapkan perasaannya

c. Kenalkan kembali pada kenyataan yang ada

d. Kurangi stimulus sensori

e. Ajak klien untuk mengadakan pendekatan spritual sesuai dengan kemampuan dan situasi

f. Perjelas informasi dokter tentang rencana tindakan operasi dan kemungkinan-kemungkinannya.

g. Orientasikan klien pada ruang operasi dan peralatannya.

h. Minimalkan keributan/lalu lalang

i. Tinggal dengan pasien selama induksi

j. Tunjukan perhatian /sikap mendukung

k. Tetap matikan lampu sampai pasien tertidur

l. Lanjutkan pemantauan psikologis

m. Catat respon yang tak terduga

n. Lepaskan gigi palsu/kaca mata/alat bantu dengar di ruang operasi.

o. Kolaborasi, pemberian anti ansietas

Tingkat kecemasan sebagai dasar perencanaan perawatan

Mengurangi rasa takut

Mengurangi kecemasan

Eksplorasi perasaan dapat mengurangi ketegangan

Suport untuk koping yang positip

Mengurangi ketegangan

Menenangkan jiwa

Meyakinkan klien sekaligus menerima secara realistis

Mengurangi ketakutan/kecemasan.

Mengurangi kecemasan

Mengurangi kecemasan.

Menjaga keamanan

Memberi kepercayaan kepada klien.

Memberi ketenangan

Antisipasi terhadap perubahan psikologis

Menjaga keamanan

Mengurangi kecemasan


Fase Intra Operatif

Pengelolaan Keamanan:

a. Jaminan penghitungan kasa, jarum, instrumen dan alat lain, cocok untuk pemakaian.

b. Mengatur posisi pasien

- Posisi fungsional

- Membuka daerah untuk operasi

- Mempertahankan posisi selama prosedur.

c. Memasang alat grounding

d. Menyiapkan bantuan fisik

Pemantauan fisiologis

a. Mengkalkulasi pengaruh terhadap pasien akibat kekurangan cairan

b. Membandingkan data normal dan abnormal dari cardiopulmonal.

c. Melaporkan perubahan-perubahan tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah dan RR.)

Pemantauan psikologi sebelum induksi dan bila pasien sadar

a. Menyiapkan bantuan emosional

b. Melanjutkan observasi status emosional

c. Mengkomunikasikan status emosional pasien kepada anggota tim.

Manajemen Keperawatan

a. Menyelamatkan keselamatan fisik pasien.

b. Mempertahankan aseptis pada lingkungan yang terkendali

c. Mengelola dengan efektif sumber daya manusia.

Anggota Tim Fase intraoperatif

a. Tim bedah utama steril

- Ahli bedah utama

- Asisten ahli bedah

- Perawat instrumentator.

b. Tim anestesi:

- Ahli anestesi atau pelaksana anestesi

- Circulating nurse

- Lain-lain (tehnisi, ahli aptologi dll.)

Tugas perawat instrumentator

a. Persiapan pengadaan bahan-bahan dan alat steril yang diperlukan untuk operasi.

b. Membantu ahli bedah dan asisten bedah waktu melakukan prosedur

c. Pendidikan bagi staf baru yang berkualifikasi bedah

d. Membantu jumlah kebutuhan jarum, pisau bedah, kasa atau instrumen yang diperlukan untuk prosedur, menurut jumlah yang biasa digunakan. Untuk pelaksanaan kegiatan yang efektif perawat instrumen harus memiliki pengetahuan tehnik aseptik yang baik, ketrampilan tangan dan ketangkasan, stamina fisik, tahan terhadap berbagai desakan, sangat menghayati kecermatan dan memperhitungkan prilaku yang menuntaskan asuhan pasien yang optimal.

Tugas Perawat Circulating

Perawat keliling memegang peranan dalam keseluruhan pengelolaan ruang operasi, perawat ini dipercaya untuk koordinasi semua aktivitas di dalam ruangan dan harus mengelola asuhan keperawatan yang diperluikan pasien.

Periode Pemulihan Pasca Anestesi

Trauma bedah dan anestesi mengganggu semua fungsi utama sistem tubuh, tetapi kebanyakan klien mempunyai kemampuan kompensasi untuk memulihkan homeostasis. Namun klien tertentu berisiko lebih tinggi untuk mengalami kompensasi tak efektif terhadap efek merugikan dari pembedahan dan anestesi pada jantung, sirkulasi, pernafasan dan fungsi lain.

Secara Umum Diagnosa Keperawatan yang muncul pada fase /periode pemulihan pasca anrestesi adalah :

a. Resiko terhadap aspirasi yang berhubungan dengan samnolen dan peningkatan sekresi sekunder terhadap intubasi.

b. Ansietas yang berhubungan dengan nyeri sekunder terhadap trauma pada jaringan dan syaraf.

c. Resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan samnolen sekunder terhadap anestesia

d. Resiko terhadap hipotermia yang berhubungan dengan pemaparan pada suhu ruang operasi yang dingin.

Kriteria umum syarat pasien dipindahkan dari ruang pemulihan pasca anestesi ke unit perawatan adalah sbb. :

a. Kemampuan memutar kepala

b. Ekstubasi dengan jalan nafas bersih.

c. Sadar, mudah terbangun.

d. Tanda-tanda vital stabil

e. Balutan kering dan utuh

f. Haluaran urine sedikitnya 30 ml/jam.

g. Drain, selang , jalur intravena paten dan berfungsi.

h. Persetujuan ahli anestesi untuk pindah ke ruangan.