Sabtu, 06 Juni 2009

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Bronkiektasis

Pengkajian
Riwayat atau adeanya faktor-faktor penunjang
Merokok produk tembakau sebagai factor penyebab utama
Tinggal atau bekerja daerah dengan polusi udara berat
Riwayat alergi pada keluarga
Ada riwayat asam pada masa anak-anak.

Riwayat atau adanya faktor-faktor pencetus eksaserbasi seperti :
Allergen (serbuk, debu, kulit, serbuk sari atau jamur)
Sress emosional
Aktivitas fisik yang berlebihan
Polusi udara
Infeksi saluran nafas
Kegagalan program pengobatan yang dianjurkan

Pemeriksaan fisik berdasarkan focus pada system pernafasan yang meliputi :
Kaji frekuensi dan irama pernafasan
Inpeksi warna kulit dan warna menbran mukosa
Auskultasi bunyi nafas
Pastikan bila pasien menggunakan otot-otot aksesori bila bernafas :
Mengangkat bahu pada saat bernafas
Retraksi otot-otot abdomen pada saat bernafas
Pernafasan cuping hidung
Kaji bila ekspansi dada simetris atau asimetris
Kaji bila nyeri dada pada pernafasan
Kaji batuk (apakah produktif atau nonproduktif). Bila produktif tentukan warna sputum.
Tentukan bila pasien mengalami dispneu atau orthopneu
Kaji tingkat kesadaran.

Pemeriksaan diagnostik meliputi :
Gas darah arteri (GDA) menunjukkan PaO2 rendah dan PaCO2 tinggi
Sinar X dada memunjukkan peningkatan kapasitas paru dan volume cadangan
Klutur sputum positif bila ada infeksi
Esei imunoglobolin menunjukkan adanya peningkatan IgE serum
Tes fungsi paru untuk mengetahui penyebab dispneu dan menentukan apakah fungsi abnormal paru ( obstruksi atau restriksi).
Tes hemoglobolin.
EKG ( peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF dan aksis vertikal.

Kaji persepsi diri pasien

Kaji berat badan dan masukan rata-rata cairan dan diet.

Diagnosa Keperawatan
Tak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret atau sekresi kental.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah, produksi sputum, dispneu

Intervensi

Diagnosa I :
Tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret, sekret kental.

Tujuan :
Mempertahakan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih/jelas.

Kriteria hasil :
Menujukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas( batuk yang efektif, dan mengeluarkan secret.

Rencana Tindakan :
Kaji /pantau frekuensi pernafasan.Catat rasio inspirasi dan ekspirasi
R/ Tachipneu biasanya ada pada beberapa derajat dapat ditemukan pada penerimaan atau selam stress/ proses infeksi akut. Pernafasan melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang disbanding inspirasi

Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas
R/ Derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat /tak dimanisfestasikan adanya bunyi nafas.

Kaji pasien untuk posisi yang nyaman,Tinggi kepala tempat tidur dan duduk pada sandaran tempat tidur
R/ Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan mempergunakan gravitasi. Dan mempermudah untuk bernafas serta membantu menurunkan kelemahan otot-otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada.

Bantu latihan nafas abdomen atau bibir
R/ Untuk mengatasi dan mengontrol dispneu dan menurunkan jebakan udara

Observasi karakteriktik batuk dan Bantu tindakan untuk efektifan upaya batuk
R/ Mengetahui keefktifan batuk

Tingkatan masukan cairan samapi 3000ml/hari sesuai toleransi jantung serta berikan hangat dan masukan cairan antara sebagai penganti makan
R/ Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret,mempermudah pengeluaran.cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. Cairan antara makan dapat meningkatkan distensi gaster dan tekana diafragma.

Berikan obat sesuai indikasi
R/ Mempercepat proses penyembuhan.

Diagnosa Keperawatan II :
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah,produksi sputum, dispneu.

Tujuan :
Peningkatan dalam status nutrisi dan berta badan pasien

Kriteria hasil :
Pasien tidak mengalami kehilangan berat badan lebih lanjut atau mempertahankan berat badan.

Rencana tindakan :
Pantau masukan dan keluaran tiap 8 jam, jumlah makanan yang dikonsumsi serta timbang berta badan tiap minggu.
R/ Untuk mengidentifikasi adanya kemajuan atau penyimpangan dari yang diharapkan.

Ciptakan suasana yang menyenangkan ,lingkungan yang bebas dari bau selama waktu makan
R/ suasana dan lingkungan yang tak sedap selama waktu makan dapat meyebakan anoreksia.

Rujuk pasien ke ahli diet untuk memantau merencanakan makanan yang akan dikonsumsi
R/ Dapat membantu pasien dalam merencanakan makan dengan gisi yang sesuai.

Dorong klien untuk minum minimal 3 liter cairan perhari, jika tidak mendapat infus.
R/ untuk mengatasi dehidrasi pada pasien.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN Glaukoma

Pengkajian
Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko :
Riwayat keluarga positif ( diyakini berhubungan dengan glaucoma sudut terbuka primer )
Tumor mata
Hemoragi intraokuler
Inflamasi intraokuler uveiti )
Kontusio mata dari trauma.

Pemeriksanan fisik berdasrkan pengkajian umum pada mata dapat menunjukan :
Untuk sudut terbuka primer
Melaporkan kehilangan penglihatan perifer lambat ( melihat terowongan )
Untuk sudut tertutup primer :
Kejadian tiba-tiba dari nyeri berat pada mata sering disertai dengan sakit kepala , mual dan muntah.
Keluhan -keluhan sinar halo, penglihatan kabur, dan enurunan persepsi sinar.
Pupil terfiksasi secara sedang dengan sclera kemerahan karena radang dan kornea tampak berawan.

Pemeriksaan Diagnostik
Tonometri digunakan untuk mengukur Tekanan intra Okular. Glaukoma dicurigai bila TIO lebih besar dari 22 mmHg.
Gonioskopi memungkinkan melihat secara langsung ruang anterior untuk membedakan antara glaucoma sudut tertutup dan glaucoma sudut terbuka.
Optalmoskopi memungkinkan pemeriksa melihat secara langsung discus optic dan struktur mata internal.

Kaji pemahaman klien tentang kondisi dan respons emosional terhadap kondisi dan rencana tindakan.

Diagnosa Keperawatan
Nyeri berhubungan dengan spasme , tekanan intra ookuler, glaucoma akut.

Ditandai dengan klien mengungkapkan rasa nyeri pada mata, klien melindungi sisi yang nyeri, mengerutkan dahi dan merintih.
Kriteria evaluasi : mendemonstrasikan berkurangnya ketidaknyamanan, menyatakan nyeri hilang / berkurang, ekspresi wajah rileks, tak ada merintih.
Rencana Perawatan :
Pantau TD, nadi, dan Respirasi tiap 4 jam .
Pantau derajat nyeri mata tiap 30 menit selama fase akut.
Pantau masukan dan haluaran tiap 8 jam saat menerima agen osmotic intravena.
Pantau ketajaman penglihatan setiap waktu sebelum penetesan agen oftalmik yang diintruksikan . Tanyakan bila obyek bersih atau kabur.
Berikan agen optalmik yang diinstruksikan untuk glaucoma. Informasikan ke dokter jika :
hipotensi
haluaran urinarius kurang dari 240 ml / jam
Tak hilangnya nyeri pada mata dalam 30 menit terapi obat
Penurunan terus-menerus ketajaman penglihatan.
Siapkan klien untuk tindakan pembedahan
Pertahankan tirah baring pada posisi semi fowler. Cegah peningkatan TIO :
Anjurkan klien untuk menghindari batuk, bersin, mengejan, atau menempatkan kepala dibawah panggul
Berikan lingkungan tenang dan hindari cahaya.
Berikan anlgesik yang diresepkan dan evaluasi keefektifannya.