I. PENDAHULUAN
Peritonitis adalah radang peritoneum dengan eksudasi serum, fibrin, sel – sel, dan pus, biasanya disertai dengan gejala nyeri abdomen dan nyeri tekan pada abdomen, konstipasi, muntah, dan demam peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada peritoneum1.
Peritoneum adalah membran serosa rangkap yang terbesar di dalam tubuh. Peritoneum terdiri atas dua bagian utama, yaitu peritoneum parietal, dan peritoneum visceral, yang berfungsi menutupi sebagian besar dari organ – organ abdomen dan pelvis, membentuk perbatasan halus yang memungkinkan organ saling bergeseran tanpa ada penggesekan. Organ – organ digabungkan bersama dan menjaga kedudukan mereka tetap, dan mempertahankan hubungan perbandingan organ – organ terhadap dinding posterior abdomen. Sejumlah besar kelenjar limfe dan pembuluh darah yang termuat dalam peritoneum, membantu melindunginya terhadap infeksi2.
Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi. Jika pemaparan tidak berlangsung terus – menerus, tidak akan terjadi peritonitis. Sebagian besar peritonitis disebabkan karena perforasi appendiks, lambung, usus halus, atau kandung empedu 1,14.
Pada 39 kasus peritonitis neonatal ditemukan sekitar 51,3% mempunyai peritonitis mekonium. Peritonitis mekonium adalah reaksi kimia dari peritoneum ke mekonium karena terjadi kebocoran mekonium ke dalam kavitas peritoneum akibat defek dinding usus antenatal3.
Apapun penyebabnya, onsetnya terjadi secara tiba – tiba, awalnya hanya pada satu daerah saja tetapi kemudian berkembang ke daerah yang lebih luas, menyebar pada peritoneum viseral dan parietal. Dan jika tidak ditangani dengan baik dapat berakibat fatal4.
II. INSIDEN
Insiden di negara barat telah menurun jelas pada dekade terakhir, sedangkan di Afrika jarang dilaporkan adanya penyakit ini. Di Indonesia belum di teliti apakah ada kesan ada kenaikan insiden. Di Amerika, insiden pada orang kulit hitam sebanding atau sedikit lebih tinggi dibanding orang kulit putih. Terdapat predisposisi familier, tetapi hubungannya belum jelas. Lebih banyak di temukan pada orang yang golongan darah O, dan juga lebih sering ditemukan pada golongan sosial ekonomi tinggi5.
Pada 39 kasus peritonitis neonatal ditemukan sekitar 51,3% mempunyai peritonitis mekonium. Asites pada 45% kasus dan muntah – muntah pada 40% kasus, 30% mempunyai massa pada abdominal. Angka mortalitas pada peritonitis mekonium sekitar 80%3.
III. ANATOMI
Peritoneum adalah membran serosa rangkap yang terbesar di dalam tubuh. Peritoneum terdiri atas dua bagian utama, yaitu peritoneum parietal, yang melapisi dinding rongga abdominal, dan peritoneum visceral, yang menyelaputi semua organ yang berada di dalm rongga itu. Ruang yang bisa terdapat di antara dua lapis ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. Pada laki – laki berupa kantung tertutup, pada perempuan tuba fallopi membuka masuk ke dalam rongga peritoneum. Banyak lipatan atau kantong terdapat di dalam rongga peritoneum, sebuah lipatan besar atau omentum mayor yang kaya akan lemak bergantungan di sebelah depan lambung2
Omentum minor berjalan dari porta hepatis setelah menyelaputi hati ke bawah, ke kurvatura minor lambung dan disini bercabang untuk menyelaputi lambung ini. Kolon juga terbungkus oleh peritoneum ini. Dan peritoneum ini kemudian berjalan ke atas dan berbelok ke belakang sebagai meso-kolon kearah dinding posterior abdomen. Sebagian dari peritoneum ini membentuk mesenterium usus halus. Omentum besar dan kecil, mesenterium usus halus dan meso-kolon, semua memuat penyaluran darah vaskuler dan limfe dari organ – organ yang diselaputinya2.
IV. ETIOLOGI
Peritonitis biasanya disebabkan oleh:
1. Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi.
Yang paling sering menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung, kandung empedu, usus buntu, asites (dimana cairan berkumpul di perut dan kemudian mengalami infeksi)1,7.
2. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Cedera pada kantung empedu, ureter, kandung kemih, atau usus selama pembedahan dapat memindahkan bakteri ke dalam perut1.
3. Trauma tembus dapat mengakibatkan peritonitis sampai dengan sepsis bila mengenai organ yang berongga intra peritoneal. Usus merupakan organ yang paling sering terkena pada luka tembus abdomen, sebab usus mengisi sebagian besar rongga abdomen5.
4. Peritonitis mekonium dapat terjadi jika ada defek pada dinding usus pada masa antenatal10.
V. PATOFISIOLOGI
Peradangan peritoneum merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ – organ abdomen (misalnya: apendisitis, salpingitis), rupture saluran cerna atau dari luka tembus abdomen. Organisme yang sering menginfeksi adalah organisme yang hidup dalam kolon pada kasus ruptur apendiks, sedangkan stafilokok dan streptokok sering masuk dari luar9.
Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Abses terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita – pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstruksi usus9.
Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum, aktifitas peristaltik berkurang, usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung – lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus9.
Peritonitis mekonium adalah peritonitis non bakterial yang berasal dari mekonium yang keluar melalui defek pada dinding usus ke dalam rongga peritoneum. Defek dinding usus dapat tertutup sendiri sebagai reaksi peritoneal. Bercak perkapuran dapat terjadi dalam waktu 24 jam 10.
VI. DIAGNOSIS
Gambaran klinik
- Biasanya penderita muntah, demam tinggi, dan merasakan nyeri tumpul di perutnya. Pada palpasi sebagian atau seluruh abdomen tegang, seperti ada tahanan atau nyeri tekan; Berkurangnya nafsu makan; Frekuensi jantung dan pernafasan meningkat; Tekanan darah menurun; Produksi urin menurun. 11,13,14,15.
- Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut yang membentuk perlengketan yang akhirnya bisa menyumbat usus. Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama, komplikasi bisa berkembang dengan cepat; Gerakan peristaltik usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan di usus besar. Cairan juga akan merembes dari peredaran darah ke dalam rongga peritoneum; Terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit; Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utama, seperti gagal ginjal akut (ARF) 1.
- Pada peritonitis mekonium gejalanya berupa abdomen yang membuncit sejak lahir, muntah, dan edema dinding abdomen kebiru – biruan10.
Gambaran radiologi
- Foto roentgen di ambil dalam posisi berbaring dan berdiri. Gas bebas yang terdapat dalam perut dapat terlihat pada foto roentgen dan merupakan petunjuk adanya perforasi1.
- Pada pemeriksaan foto polos abdomen dijumpai asites, tanda – tanda obstruksi usus berupa air-udara dan kadang – kadang udara bebas (perforasi). Biasanya lambung, usus halus dan kolon menunjukkan dilatasi sehingga menyerupai ileus paralitik. Usus – usus yang melebar biasanya berdinding tebal10
- Pada peritonitis umum gambaran radiologinya menyerupai ileus paralitik. Terdapat distensi baik pada usus halus maupun pada usus besar. Pada foto berdiri terlihat beberapa fluid level di dalam usus halus dan usus besar. Jika terjadi suatu ruptur viskus bisa menyebabkan peritonitis, udara bebas mungkin akan terlihat pada kavitas peritoneal16.
Ruptur appendiks yang disertai peritonitis
A: Terdapat dilatasi pada usus besar dan usus halus. Ruang antara usus halus menyempit di sebabkan karena udema pada usus. Peritoneal fat line menghilang.
B: Terdapat udara bebas pada diaphragma kanan. Ada penyempitan air fliud level pada bagian bawah abdomen.
(dikutip dari kepustakaan 16)
- Peritonitis umum: Formasi abses
Meskipun peritonitis umum telah berkurang abses lokal dapat terjadi pada salah satu bagian abdomen. Abses mungkinan muncul beberapa hari atau minggu setelah mendapat pengobatan peritonitis. Pada gambaran radiologi, abses terlihat menyerupai suatu massa. Kadang – kadang abses terdapat pada usus halus sehingga menghasilkan obstruksi mekanik19.
Abses pada kuadran kanan bawah yang mengikuti peritonitis yang sebelumnya terjadi ruptur appendiks, sebuah massa berkembang di daerah kuadran bawah memperlihatkan pendesakan pada usus kecil. Terjadi distensi proximal usus kecil.
(dikutip dari kepustakaan 16)
- Gambaran radiologik peritonitis mekonium berupa tanda – tanda obstruksi distal duodenum, bercak – bercak perkapuran di dalam rongga usus atau peritoneum, sering juga di daerah skrotum10.
Gambaran Patologi
Asam bikarbonat yang dihasilkan mukosa duodenum dan pankreas adalah penetral asam yang utama. Berkurangnya faktor pelindung terhadap zat cerna ini menyebabkan autodigesti mukosa duodenum. Gastroduodenitis yang disebabkan oleh helicobacter pylori dianggap penyebab penting yang memudahkan terjadinya tukak. Tukak duodenum terjadi akibat aksi korosif asam lambung terhadap epitel yang rentan. Defek ini bermula pada mukosa, selanjutnya menembus ke muskularis mukosa. Tukak yang biasanya kecil saja, tetapi menembus lapisan dinding duodenum, bisa berkembang menjadi lanjut hingga terjadi perdarahan, penetrasi ke pankreas, atau perforasi bebas5.
Peritoneum yang normal memberi gambaran bening kelabu. ketika terjadi peritonitis, dalam waktu 2-4 jam peritoneum berubah menjadi suram atau berawan. Setelah itu mengeluarkan cairan exudat fibrinosa sebagai tanda adanya invasi bakteri. Cairan tertahan di usus halus dan di usus besar, kemudian akan merembes dari peredaran darah ke dalam rongga peritoneum8.
VII. PENATALAKSANAAN
Prinsip umum pengobatan adalah pemberian antibiotik yang sesuai, dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau intestinal, penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena, pembuangan fokus septik atau penyebab radang lainnya, bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan – tindakan menghilangkan nyeri9.
Biasanya yang pertama dilakukan adalah pembedahan eksplorasi darurat, terutama bila disertai appendisitis, ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis. Pada peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita, pembedahan darurat biasanya tidak dilakukan. Diberikan antibiotik yang tepat, bila perlu beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan. Cairan dan elektrolit bisa diberikan melalui infus1.
VIII. PROGNOSIS
Jika ditangani dengan baik, terutama pada kasus - kasus pembedahan peritonitis (perforasi ulkus peptik, appendisitis, dan divertikulitis) mempunyai angka kematian < 10% dan pasien kembali sehat seperti sediakala, tetapi pada pasien – pasien dengan usia di atas 48 tahun, angka mortalitasnya sekitar 40% jika disertai dengan penyakit – penyakit lainnya dan sistem imunnya menurun. Pada anak – anak prognosis pada umumnya baik setalah mendapat pengobatan dengan antibiotik. Jika peritonitis terjadi secara menyeluruh, selalu berakibat fatal8,11.
DAFTAR PUSTAKA
1. Peritonitis, http://www.medikastore.com/med/peritonitis_pyk.php?dktg=7& UID200705.
2. Pearce Evelyn, ANATOMI DAN FISIOLOGI UNTUK PARAMEDIS, Saluran Pencernaan Dan Pencernaan Makanan-Peritoneum, diterjemahkan: Sri Yuliani H, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2004, hal.197.
3. Ul Hasan M & Ali SW, Meconium Peritonitis—a leading cause of neonatal peritonitis in Kashmir, http://www.ncbi.nlm.gov/corehtml/query/pubmed/abstractplus.css.
4. Seidel Edward, Disorders of the peritoneum, Crash Course Gastrointestinal System, 1st ed. Elzelsevier Mosby, Philadelphia: 2006, hal.172,173.
5. Sjamsuhidajat R, Lambung dan Duodenum-bab 31, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2,EGC, Jakarta: 2004, hal.549.
6. Carol Matson Porth, Structure and Function of the Gastrointestinal Tract, Essential of Pathophisiology, Lippincott Williams & Wilkins, Wiskonsin: 2004, hal.462.
7. Acute Peritonitis, http://www. ecureme.com/lib/inet.asp?keyword=acute+peritonitis&category=gi.
8. Genuit T & Napolitano, Peritonitis, http://health.allrefer.com/health/peritonitis-symptoms.html.
9. Price Wilson, Peritonitis, patofisiologi saluran cerna, PATOFISIOLOGI (Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit), Jilid 1, ed: 4. Alih Bahasa: Peter Anugrah, EGC, Jakarta: 1995, hal.402.
belajar tentang apa yang ada didunia ini, trik dan tips, gratisan , ngeblog, asuhan keperawatan,
Minggu, 15 November 2009
Rhinolith
PENDAHULUAN
Terdapatnya benda yang membatu dalam hidung yaitu suatu massa yang mengalami mineralisasi dan ditemukan di dalam kavum nasi disebut dengan Rhinolith. Komposisi rhinolith termasuk kalsium, magnesium, fosfat, dan karbonat yang memadat, kemudian menempel pada nukleus–nukleus bakteri, darah, sel-sel pus atau benda asing. Biasanya unilateral dan lokasinya tersering di dasar hidung, ukuran dan bentuknya bermacam-macam. dimulai sejak anak-anak dan setelah beberapa tahun, rhinolith ini terus berkembang dan akhirnya menimbulkan keluhan. 1,2,3,4,5
Terjadinya proses mineralisasi umumnya akibat dari benda asing yang tersumbat di cavum nasi. Keberadaan benda asing di hidung paling sering di temukan pada anak-anak. Anak-anak cenderung memasukkan benda-benda kecil ke dalam hidung, misalnya manik-manik atau potongan mainan, karet penghapus dan sebagainya. Benda asing umumnya ditemukan pada bagian anterior vestibulum atau pada meatus inferior sepanjang dasar hidung. Tidak satupun benda asing boleh dibiarkan di dalam hidung karena bahaya nekrosis atau infeksi sekunder yang mungkin timbul, dan kemungkinan aspirasi ke dalam saluran penapasan bawah. Benda asing yang tidak di tangani atau tidak terdiagnosa dapat berkembang menjadi rhinolit. Benda asing yang permukaannya kasar dapat dikeluarkan memakai forseps yang ujungnya dapat memegang dengan baik, tetapi untuk mengeluarkan manik-manik yang bulat dan licin sebaiknya menggunakan alat yang bengkok. 1,2,6,7
Gejala yang sering timbul ialah nafas berbau dan adanya sekret berbau busuk. Dapat menyebabkan perdarahan dan sumbatan hidung satu sisi.1
ANATOMI
Hidung terdiri dari hidung bagian luar atau pyramid hidung dan rongga hidung. Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana). Bagian dari kavum nasi yang letaknya tepat dibelakang nares anterior disebut ventribulum dan dilapisi kulit yang mempnyai banyak kelenjar sebasesa dan rambut-rambut panjang (vibrise). 2,9
Tiap kavum nasi mempunyai empat buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior, dan superior. Dinding medial adalah septum nasi yang dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periostium pada bagian tulang, di luar dilapisi oleh mukosa hidung.2,9
Bagian depan dinding lateral licin yang disebut ager nasi dan di belakangnya terdapat konka. Pada dinding lateral terdapat empat buah konka yaitu konka inferioar, media, superior, dan konka supreme. Konka rudimeter biasanya rudimeter. Di antara konka-konka dan dinding lateral hisung. Terdapat meatus yaitu meatus inferior, medius, dan superior. Pada inferior terdapat muara duktus nasolakrimalis. Pada meatus medius terdapat bulla ethmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris dan infundibulum ethmoid. Hiatus semilunaris merupakan suatu celah sempit melengkung dimana terdapat muara sinus frontal, sinus maksilla, dan sinus ethmoid anterior. Pada meatus superior terdapat muara sinus ethmoid posterior dan sinus sphenoid.2,9
Dinding inferior dibentuk oleh os maksilla dan os palatum. Dinding superior sangat sempit dan dibentuk oleh lamina kribriformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung.2,9
Bagian atas rongga hidung divaskularisasi oleh arteri ethmoidalis anterior dan posterior yang merupakan cabang dari arteri oftalmika. Bagian bawah rongga hidung divaslkularisasi oleh cabang arteri maksilaris interna, diantaranya a. palatine mayor dan a. sfenopalatina. A.sfenopalatina keluar dari foramen sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media. Bagian depan hidung divaskularisasi oleh cabang-cabang a. fasialis. Cabang-cabang a. sfenopalatina, a. ethmoid anterior, a. labialis superior, dan a. palatine mayor membentuk anastomosis pada bagian depan septum. Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arteri. 2,9
a. ethmoidalis anterior,
a. ethmoidalis posterior,
a. sphenopalatina,
a. palatina mayor, dan
cabang a. labialis superior.
Jaringan limfatik berasal dari mukosa superficial. Jaringan limfatik anterior bermuara disepanjang pembuluh fasialis yang menuju leher. Jaringan limfatik posterior terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok superior bermuara pada kelenjar limfe retrofaringea. Kelompok media menuju ke kelenjar limfe jugularis. Kelompok inferior menuju ke kelenjar limfe di sepanjang pembuluh jugularis interna.2,9
Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n. etmoidalis anterior yang merupakan cabang n. nasosiliaris yang bersal dari n. oftalmikus. Rongga hidung lainnya, sebagian besar terdapat persarafan sensorik dari nervus maksilla melaui ganglion sfenopalatinum. Ganglion ini menerima serabut sensoris dari n. maksilaris, serabut parasimpatis dari n. petrosus superfisialis mayor dan serabut simpatis dari n. petrosus profunda. Nervus olfaktorius turun melalui lamina kribrosa dan berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung. 2,9
PATOGENESIS
Beberapa faktor dapat dihubungkan dengan rhinolit, termasuk dengan adanya benda asing dalam kavum nasi, inflamasi akut dan kronik, obstruksi dan stagnasi sekresi nasal dan pelepasan garam mineral. Perkembangan dan progresifitasnya terjadi bertahun-tahun. Umumnya mineralisasi yang terjadi merupakan kejadian sekunder dari benda yang masuk dalam regio sinonasal. Penyelubungan benda asing lengkap atau parsial, baik eksogenous maupun endogenous, tergantung dari inti benda dimana penyelubungan terjadi.1,3,5
Rhinolit juga dianggap sebagai suatu benda asing khusus yang biasanya diamati oleh orang dewasa. Garam-garam tak larut dalam sekret hidung membentuk suatu massa berkapur sebesar benda asing yang tertahan lama atau bekuan darah. Sekret sinus kronik dapat mengawali terbentuknya massa seperti itu dalam rongga hidung.1,2,3,4,5,6
GAMBARAN KLINIS
Umumnya pasien dengan rhinolith datang karena adanya rhinore unilateral dengan atau tanpa obstruksi nasi unilateral. Rhinore bersifat mukoid, mokupurulen, dan kadang-kadang sekret bercampur darah. Gejala lainnya dapat berupa epistaksis, fetor, sinusitis, sakit kepala, dan epifora. 1,5,10
DIAGNOSIS
Anamnesis
Pada diagnosis rhinolit umumnya dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis. Pada anamnesis umumnya didapatkan rhinore unilateral disertai obstruksi nasi unilateral sebagai keluhan utama dan keluhan lain seperti napas berbau busuk,sekret berbau busuk.1,5,6,10
Pemeriksaan fisis
Pada pemeriksaan intranasal, umumnya rhinolit dapat ditemukan dengan rhinoskopi anterior berupa massa kalsifikasi yang berwarna abu-abu dan gelap, dengan konsistensi yang keras seperti batu dan permukaan yang irregular. 10
Pemeriksaaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis adanya rhinolith :
• Pemeriksaan radiologis yaitu foto kepala dan CT scan kepala,
Gambaran radiologis radioopak pada foto kepala biasanya letaknya di dasar kavum nasi. Pada CT scan didapatkan massa hiperdens.1,2,5
PENATALAKSANAAN
Rhinolit dapat dikeluarkan dengan menggunakan forseps yang ujungnya dapat memegang dengan baik. Forceps alligator Hartman, forceps bayonet atau wire loops umumnya digunakan. Dengan anestesi lokal dapat dilakukan apabila pasien yang kooperatif sedangkan penggunaan anestesi umum dapat dilakukan jika pasien tidak kooperatif. Jika terlalu besar, rhinolit dapat dipecahkan terlebih dahulu dalam keping yang lebih kecil dengan menggunakan ultrasound lithotripsy. Bila tidak berhasil, dapat dilakukan rhinotomi lateral.3,10
KOMPLIKASI
Adanya benda asing pada hidung ini menyebabkan terjadinya obstruksi hidung dan rinore, inflamasi lokal dan edema pada mukosa hidung. Dan pada saat dilakukan tindakan pengeluaran juga benda asing ini dapat masuk ke dalam saluran nafas jika terdorong kebelakang. 1,2,11
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding adalah :
1. Gigi hidung
Yaitu gigi rahang atas yang tumbuh ke dalam hidung karena ada yang menghalangi pertumbuhan ke bawah dan jumlah gigi yang berlebih.1
2. Benda asing lain dalam cavum nasi
Benda asing yang sering ditemukan biasanya pada anak-anak biasanya manik-manik, kancing, karet penghapus, kelereng, kacang-kacangan, dan lain-lain.3
3. Polip Nasi
Polip nasi terdapat pada jaringan gelatin yang terbentuk dari proses alergi, gejala klinis yang tampak obstruksi nasi, rasa tidak nyaman pada hidung bagian dalam, rinolali, pada pemeriksaan fisis dan penunjang yakni tampak massa yang bertangkai dan berwarna putih yang berada di konka media.
PROGNOSIS
Prognosis umumnya baik jika dilakukan penanganan secara dini dan tepat. Tidak boleh dibiarkan dalam rongga hidung oleh karena bahaya nekrosis dan infeksi sekunder yang mungkin timbul, dan kemungkinan aspirasi ke dalam saluran pernapasan bawah.1,2
Daftar Pustaka
1. Nizar NW, Mangunkusumo E. Polip Hidung. Dalam : Soepardi A, dkk, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi ke-6. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. p 97-99
2. Hilger P. Penyakit Hidung. Dalam : Higler AB. BOIES Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke-6. Philadelphia : Boeis Fundamental of OTOLARYNGOLOGY. 1997.p 201-239
3. Sculerati. Foreign Bodies of the Nose. In : Bluest CD, Stool SE, Kenna MA. Pediatric Otolaryngology. Volume One. 1996. p 874-879
4. Vink BW, Hasselt, and Wormald R. Cambridge Journals Online: A Case of Rhinolithiasis in Botswana: a mineralogical, microscopic and chemical study. Available from: http//journals.cambridge.org/action/displayAbstract;jsessionid=CB4352E312A8BF884CD91B970D48D6D1.to mcat l?fromPage=online&aid=402714.Accessed: 15/03/2009.
Terdapatnya benda yang membatu dalam hidung yaitu suatu massa yang mengalami mineralisasi dan ditemukan di dalam kavum nasi disebut dengan Rhinolith. Komposisi rhinolith termasuk kalsium, magnesium, fosfat, dan karbonat yang memadat, kemudian menempel pada nukleus–nukleus bakteri, darah, sel-sel pus atau benda asing. Biasanya unilateral dan lokasinya tersering di dasar hidung, ukuran dan bentuknya bermacam-macam. dimulai sejak anak-anak dan setelah beberapa tahun, rhinolith ini terus berkembang dan akhirnya menimbulkan keluhan. 1,2,3,4,5
Terjadinya proses mineralisasi umumnya akibat dari benda asing yang tersumbat di cavum nasi. Keberadaan benda asing di hidung paling sering di temukan pada anak-anak. Anak-anak cenderung memasukkan benda-benda kecil ke dalam hidung, misalnya manik-manik atau potongan mainan, karet penghapus dan sebagainya. Benda asing umumnya ditemukan pada bagian anterior vestibulum atau pada meatus inferior sepanjang dasar hidung. Tidak satupun benda asing boleh dibiarkan di dalam hidung karena bahaya nekrosis atau infeksi sekunder yang mungkin timbul, dan kemungkinan aspirasi ke dalam saluran penapasan bawah. Benda asing yang tidak di tangani atau tidak terdiagnosa dapat berkembang menjadi rhinolit. Benda asing yang permukaannya kasar dapat dikeluarkan memakai forseps yang ujungnya dapat memegang dengan baik, tetapi untuk mengeluarkan manik-manik yang bulat dan licin sebaiknya menggunakan alat yang bengkok. 1,2,6,7
Gejala yang sering timbul ialah nafas berbau dan adanya sekret berbau busuk. Dapat menyebabkan perdarahan dan sumbatan hidung satu sisi.1
ANATOMI
Hidung terdiri dari hidung bagian luar atau pyramid hidung dan rongga hidung. Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana). Bagian dari kavum nasi yang letaknya tepat dibelakang nares anterior disebut ventribulum dan dilapisi kulit yang mempnyai banyak kelenjar sebasesa dan rambut-rambut panjang (vibrise). 2,9
Tiap kavum nasi mempunyai empat buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior, dan superior. Dinding medial adalah septum nasi yang dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periostium pada bagian tulang, di luar dilapisi oleh mukosa hidung.2,9
Bagian depan dinding lateral licin yang disebut ager nasi dan di belakangnya terdapat konka. Pada dinding lateral terdapat empat buah konka yaitu konka inferioar, media, superior, dan konka supreme. Konka rudimeter biasanya rudimeter. Di antara konka-konka dan dinding lateral hisung. Terdapat meatus yaitu meatus inferior, medius, dan superior. Pada inferior terdapat muara duktus nasolakrimalis. Pada meatus medius terdapat bulla ethmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris dan infundibulum ethmoid. Hiatus semilunaris merupakan suatu celah sempit melengkung dimana terdapat muara sinus frontal, sinus maksilla, dan sinus ethmoid anterior. Pada meatus superior terdapat muara sinus ethmoid posterior dan sinus sphenoid.2,9
Dinding inferior dibentuk oleh os maksilla dan os palatum. Dinding superior sangat sempit dan dibentuk oleh lamina kribriformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung.2,9
Bagian atas rongga hidung divaskularisasi oleh arteri ethmoidalis anterior dan posterior yang merupakan cabang dari arteri oftalmika. Bagian bawah rongga hidung divaslkularisasi oleh cabang arteri maksilaris interna, diantaranya a. palatine mayor dan a. sfenopalatina. A.sfenopalatina keluar dari foramen sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media. Bagian depan hidung divaskularisasi oleh cabang-cabang a. fasialis. Cabang-cabang a. sfenopalatina, a. ethmoid anterior, a. labialis superior, dan a. palatine mayor membentuk anastomosis pada bagian depan septum. Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arteri. 2,9
a. ethmoidalis anterior,
a. ethmoidalis posterior,
a. sphenopalatina,
a. palatina mayor, dan
cabang a. labialis superior.
Jaringan limfatik berasal dari mukosa superficial. Jaringan limfatik anterior bermuara disepanjang pembuluh fasialis yang menuju leher. Jaringan limfatik posterior terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok superior bermuara pada kelenjar limfe retrofaringea. Kelompok media menuju ke kelenjar limfe jugularis. Kelompok inferior menuju ke kelenjar limfe di sepanjang pembuluh jugularis interna.2,9
Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n. etmoidalis anterior yang merupakan cabang n. nasosiliaris yang bersal dari n. oftalmikus. Rongga hidung lainnya, sebagian besar terdapat persarafan sensorik dari nervus maksilla melaui ganglion sfenopalatinum. Ganglion ini menerima serabut sensoris dari n. maksilaris, serabut parasimpatis dari n. petrosus superfisialis mayor dan serabut simpatis dari n. petrosus profunda. Nervus olfaktorius turun melalui lamina kribrosa dan berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung. 2,9
PATOGENESIS
Beberapa faktor dapat dihubungkan dengan rhinolit, termasuk dengan adanya benda asing dalam kavum nasi, inflamasi akut dan kronik, obstruksi dan stagnasi sekresi nasal dan pelepasan garam mineral. Perkembangan dan progresifitasnya terjadi bertahun-tahun. Umumnya mineralisasi yang terjadi merupakan kejadian sekunder dari benda yang masuk dalam regio sinonasal. Penyelubungan benda asing lengkap atau parsial, baik eksogenous maupun endogenous, tergantung dari inti benda dimana penyelubungan terjadi.1,3,5
Rhinolit juga dianggap sebagai suatu benda asing khusus yang biasanya diamati oleh orang dewasa. Garam-garam tak larut dalam sekret hidung membentuk suatu massa berkapur sebesar benda asing yang tertahan lama atau bekuan darah. Sekret sinus kronik dapat mengawali terbentuknya massa seperti itu dalam rongga hidung.1,2,3,4,5,6
GAMBARAN KLINIS
Umumnya pasien dengan rhinolith datang karena adanya rhinore unilateral dengan atau tanpa obstruksi nasi unilateral. Rhinore bersifat mukoid, mokupurulen, dan kadang-kadang sekret bercampur darah. Gejala lainnya dapat berupa epistaksis, fetor, sinusitis, sakit kepala, dan epifora. 1,5,10
DIAGNOSIS
Anamnesis
Pada diagnosis rhinolit umumnya dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis. Pada anamnesis umumnya didapatkan rhinore unilateral disertai obstruksi nasi unilateral sebagai keluhan utama dan keluhan lain seperti napas berbau busuk,sekret berbau busuk.1,5,6,10
Pemeriksaan fisis
Pada pemeriksaan intranasal, umumnya rhinolit dapat ditemukan dengan rhinoskopi anterior berupa massa kalsifikasi yang berwarna abu-abu dan gelap, dengan konsistensi yang keras seperti batu dan permukaan yang irregular. 10
Pemeriksaaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis adanya rhinolith :
• Pemeriksaan radiologis yaitu foto kepala dan CT scan kepala,
Gambaran radiologis radioopak pada foto kepala biasanya letaknya di dasar kavum nasi. Pada CT scan didapatkan massa hiperdens.1,2,5
PENATALAKSANAAN
Rhinolit dapat dikeluarkan dengan menggunakan forseps yang ujungnya dapat memegang dengan baik. Forceps alligator Hartman, forceps bayonet atau wire loops umumnya digunakan. Dengan anestesi lokal dapat dilakukan apabila pasien yang kooperatif sedangkan penggunaan anestesi umum dapat dilakukan jika pasien tidak kooperatif. Jika terlalu besar, rhinolit dapat dipecahkan terlebih dahulu dalam keping yang lebih kecil dengan menggunakan ultrasound lithotripsy. Bila tidak berhasil, dapat dilakukan rhinotomi lateral.3,10
KOMPLIKASI
Adanya benda asing pada hidung ini menyebabkan terjadinya obstruksi hidung dan rinore, inflamasi lokal dan edema pada mukosa hidung. Dan pada saat dilakukan tindakan pengeluaran juga benda asing ini dapat masuk ke dalam saluran nafas jika terdorong kebelakang. 1,2,11
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding adalah :
1. Gigi hidung
Yaitu gigi rahang atas yang tumbuh ke dalam hidung karena ada yang menghalangi pertumbuhan ke bawah dan jumlah gigi yang berlebih.1
2. Benda asing lain dalam cavum nasi
Benda asing yang sering ditemukan biasanya pada anak-anak biasanya manik-manik, kancing, karet penghapus, kelereng, kacang-kacangan, dan lain-lain.3
3. Polip Nasi
Polip nasi terdapat pada jaringan gelatin yang terbentuk dari proses alergi, gejala klinis yang tampak obstruksi nasi, rasa tidak nyaman pada hidung bagian dalam, rinolali, pada pemeriksaan fisis dan penunjang yakni tampak massa yang bertangkai dan berwarna putih yang berada di konka media.
PROGNOSIS
Prognosis umumnya baik jika dilakukan penanganan secara dini dan tepat. Tidak boleh dibiarkan dalam rongga hidung oleh karena bahaya nekrosis dan infeksi sekunder yang mungkin timbul, dan kemungkinan aspirasi ke dalam saluran pernapasan bawah.1,2
Daftar Pustaka
1. Nizar NW, Mangunkusumo E. Polip Hidung. Dalam : Soepardi A, dkk, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi ke-6. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. p 97-99
2. Hilger P. Penyakit Hidung. Dalam : Higler AB. BOIES Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke-6. Philadelphia : Boeis Fundamental of OTOLARYNGOLOGY. 1997.p 201-239
3. Sculerati. Foreign Bodies of the Nose. In : Bluest CD, Stool SE, Kenna MA. Pediatric Otolaryngology. Volume One. 1996. p 874-879
4. Vink BW, Hasselt, and Wormald R. Cambridge Journals Online: A Case of Rhinolithiasis in Botswana: a mineralogical, microscopic and chemical study. Available from: http//journals.cambridge.org/action/displayAbstract;jsessionid=CB4352E312A8BF884CD91B970D48D6D1.to mcat l?fromPage=online&aid=402714.Accessed: 15/03/2009.
Langganan:
Komentar (Atom)