Senin, 21 Desember 2009

Pengertian


Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Kuman batang tanhan asam ini dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit. Ada beberapa mikrobakteria patogen , tettapi hanya strain bovin dan human yang patogenik terhadap manusia. Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 μm, ukuran ini lebih kecil dari satu sel darah merah.


 


Patogenesis



Tempat masuk kuman M. tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (airborne), yaitu melalui inhalasi droplet yang mendukung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. Saluran pencernaan merupakan tempat masuk utama bagi jenis bovin, yang penyebarannya melalui susu yang terkontaminasi.


Tuberkulosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel. Sel efektornya adalah makrofag, sedangkan limfosit (biasanya limfosit T) adalah sel imunosupresifnya. Tipe imunitas seperti ini biasanya local, melibatkan makrofag yang diaktifkan ditempat infeksi oleh limfosit dan limfokinnya . Respon ini disebut sebagai reaksi hipersensitivitas.


Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari satu sampai tiga basil. Setelah berada di alveolus biasanya dibagian bawah lobus atas paru-paru atau bagian atas lobus bawah basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan akan mengalami gejala pneumonia akut. Pneumonia ini dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa yang tertinggal, atau proses dapat juga berlanjut terus dan bakteri dapat terus difagosit atau berkembang biak dalam sel. Basil juga menyebar dalam getah bening menuju kekelenjar getah bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid, yang dikelilingi oleh limfosit. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 10 sampai 20 hari.


Nekrosis bagian sentral lesi memberikan gambaran yang relatif padat dan seperti keju, lesi nekrosis ini disebut kaseosa. Lesi primer pary-paru dinamakan focus Ghon dan dan gabungan terserangnya getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks Ghon. Respon lain yang dapat terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, dimana bahan cair lepas kedalam bronchus dan menimbulkan kavitas kemudian akan masuk kepercabangan trakheobronkhial. Proses ini dapat terulang kembali dibagian lain dari paru-paru atau basil dapat terbawa sampai kelaring, telinga tengah atau usus.



 


Manifestasi Klinik


Pada stadium dini penyakit tuberculosis biasanya tidak tampak adanya tanda atau gejala yang khas. Tuberkulosis dapat didiagnosis hanya dengan fase tuberculin, pemeriksaan radiogram, dan pemeriksaan bakteriologik. Menurut CDC suatu kasus tuberculosis dapat dipastikan bila organisme M. tuberculosis dapat diidentifikasi. Jika bakteri tidak diperoleh, maka laporan kasus tuberculosis dianggap benar bila hal-hal berikut ini dapat ditemukan :






    1. Prosedur diagnostik sudah dilakukan dengan lengkap (Reaksi Hipersensitivitas berupa ; Tes tuberculin intradermal Mantoux, Tes tuberculin dengan suntikan jet, Tes tuberculin tusukan majemuk)





    2. Bukti adanya tuberculosis dengan pemeriksaan bakteriologik.




    3. Radiografik dada dengan hasil abnormal dan/atau bukti klinis akan adanaya penyakit ini.




    4. Keputusan untuk memberikan satu paket terapi yang lengkap dengan dua atau lebih obat anti tuberculosis.







Dengan berjalannya penyakit dan semakin banyaknya dekstruksi jaringan paru-paru, produksi sputum semakin banyak dan batuk dapat menjadi semakin berat. Biasanya tidak ada gejala nyeri dada dan batuk darah biasanya hanya dikaitkan dengan kasus-kasus yang sudagh lanjut. Beberapa penderita mengalami batuk produktif, keletihan, lemah, keringat pada malam hari dan berat badan menurun mirip dengan tanda dan gejala bronchitis akut dan pneumoni.


 


 




  1. Pengobatan dan Prinsip-Prinsip Kemoterapi.




Pengobatan tuberculosis terutama berupa pemberian obat antimikroba dalam jangka waktu lama. Obat-obat ini juga dapat digunakan untuk mencegah timbulnya penyakit klinis pada seorang yang sudah terjangkit infeksi. Agar pengobatan dapat berjalan efektif obat yang diberikan harus mamapu mengganggu fungsi vital kuman tuberculosis tanpa membahayakan klien, Stead dan Bates (1983) menekankan bahwa “pilihan terapi harus dipandu oleh prinsip-prinsip yang sudah diakui kebenarannya” adapun prinsip-prinsip tersebut adalah :







    1. Obat terpilih harus merupakan obat terhadap mana basil masih peka.




    2. Bahkan dalam suatu populasi basil yang umumnya masih peka, perubahan alami kearah resisten timbul pada setiap 1 dari 100.000 sampai 1juta organisme.




    3. Obat-obatan bakterisidal lebih disukai.





    4. Jika pengobatan yang diberikan kelihatan gagal maka penambahan satu macam obat lain hanya akan mengundang datangnya bencana.




    5. Terapi harus dilanjutkan cukup lama untuk eradikasi basil dalam tubuh.




    6. Semua obat harus diminum sebelum makan pagi dan dalam dosis tunggal agar dicapai suatu konsentrasi gabungan puncak yang memberikan efek maksimal terhadap basil.







Kelompok-kelompok resiko tinggi berikut ini harus mengalami pengobatan pencegahan :




  1. Anggota keluarga atau mereka yang dekat dengan penderita yang baru didiagnosis terinfeksi tuberculosis.




  2. Tes kulit tuberculin positif, disertai ditemukannya hasil radiogram yang sesuai dengan penyakit tuberculosis nonprogressif dan yang belum pernah menerima pengobatan kemoterapi yang adekuat dimasa lampau.




  3. Orang yang baru saja terinfeksi.





  4. Orang yang memiliki reaksi tuberculin bermakna dalam keadaan klinik khusus.




  5. Orang yang rekasi tuberkulinnya bermakana dan berusia dibawah 35 tahun




  6. Orang yang reaksi tuberculin bermakna juga memiliki AB terhadap virus HIV.




  7. Orang-orang dengan reaksi tuberculin bermakna yang berada dalam keadaan epidemiologi khusus.





 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 



 


 


 


 


RENCANA KEPERAWATAN


TUBERKOLOSIS PARU-PARU









































No



Diagnosa Keperawatan




Tujuan/Kriteria



Rencana Tindakan



1



Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi :



Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia



Intake pemasukan nutrisi adekuat sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan dengan kriteria :




  • Porsi makan yang diberikan dihabiskan




  • Klien aktif




  • BB normal (16kg)





  • TB normal (101cm)




  • LLA normal (>14cm)




  • Nafsu makan meningkat










    1. Kaji ulang status nutrisi klien dengan :










    • Pemasukan





    • Kemampuan / ketidakmampuan menelan




    • Riwayat mual, munta atau diare











    1. Observasi indikator terpenuhinya kebutuhan nutrisi tiap 3 hari berupa :










    • Berat badan





    • LLA










    1. Identifikasi makanan yang disukai/tidak disukai klien




    2. Dorong makan sedikit tapi sering dengan makanan tinggi protein (± 1800 kkal/hari)





    3. Dorong keluarga untuk membawa makanan dari rumah dan untuk membagi dengan klien terutama makanan kesukaan klien




    4. Jelaskan rasional pemberian diet khusus dan hubungan dengan penyakit yang diderita klien




    5. Ciptakan lingkungan yang menyenangkan selama waktu makan







 



No



Diagnosa Keperawatan



Tujuan/Kriteria




Rencana Tindakan



2



Hipertermia berhubungan dengan efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hypothalamus dan perubahan pada regulasi temperatur



Klien akan menampakkan suhu dalam batas normal (36-37o C) begitupun dengan tanda-tanda vital lainnya.








    1. Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam terutama suhu tubuh




    2. Berikan kompres/mandi hangat hindari penggunaan alkohol




    3. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antipiretik








3



Resiko terhadap pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler dan sekret yang kental



Orang tua akan melaporkan tidak adanya / penurunan sesak / dispnes, klien akan menampakkan sesak / dispnea berkurang / hilang. Bebas dari gejala distress pernapasan








    1. Observasi adanya dispnea, takipnea, bunyi nafas tambahan, peningkatan upaya pernafasan, terbatasnya ekspansi dinding dada dan kelemahan




    2. Amati jika ada cianosis atau perubahan pada warna kulit, termasuk membran mukosa dan kuku




    3. Anjurkan untuk tirah baring / batasi aktivitas dan bantu / anjurkan aktivitas perawatan diri sesuai keperluan





    4. Berikan oksigen jika terjadi dispnea atau distress pernafasan







4




Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan anaknya



Kecemasan orang tua berkurang / hilang dengan kriteria orang tua dapat relaksasi dan tenang, partisipasi dalam aktivitas, tenang dan berpartisipasi dalam perawatan dan pengobatan serta mengerti dan memahami tentang penyakit yang diderita oleh klien dan pengobatan yang diberikan kepada klien







    1. Kaji pemahaman tentang penyakit yang diderita anaknya, konsekwensi dan penanganannya





    2. Bantu klien dan keluarga untuk mengidentifikasikan cara-cara untuk memahami berbagai perubahan akibat penyakit dan penanganan yang mempengaruhi hidupnya




    3. Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan dan alasan pengobatan yang lama




    4. Berikan informasi tentang bagaimana TB ditularkan




    5. Beri informasi tentang potensial efek samping pengobatan





    6. Informasikan tentang pentingnya mempertahankan protein tinggi dan pemasukan cairan adekuat.






 



 

ANGINA PEKTORIS

DEFINISI
angina (angina pektoris) merupakan nyeri dada sementara atau suatu perasaan tertekan, yang terjadi jika otot jantung mengalami kekurangan oksigen.
kebutuhan jantung akan oksigen ditentukan oleh beratnya kerja jantung (kecepatan dan kekuatan denyut jantung).
aktivitas fisik dan emosi menyebabkan jantung bekerja lebih berat dan karena itu menyebabkan meningkatnya kebutuhan jantung akan oksigen.
jika arteri menyempit atau tersumbat sehingga aliran darah ke otot tidak dapat memenuhi kebutuhan jantung akan oksigen, maka bisa terjadi iskemia dan menyebabkan nyeri.
PENYEBAB
biasanya angina merupakan akibat dari penyakit arteri koroner.
penyebab lainnya adalah:
 stenosis katup aorta (penyempitan katup aorta)
 regurgitasi katup aorta (kebocoran katup aorta)
 stenosis subaortik hipertrofik
 spasme arterial (kontraksi sementara pada arteri yang terjadi secara tiba-tiba)
 anemia yang berat.
GEJALA
tidak semua penderita iskemia mengalami angina. iskemia yang tidak disertai dengan angina disebut silent ischemia.
masih belum dimengerti mengapa iskemia kadang tidak menyebabkan angina.
biasanya penderita merasakan angina sebagai rasa tertekan atau rasa sakit di bawah tulang dada (sternum).
nyeri juga bisa dirasakan di:
- bahu kiri atau di lengan kiri sebelah dalam
- punggung
- tenggorokan, rahang atau gigi
- lengan kanan (kadang-kadang).
banyak penderita yang menggambarkan perasaan ini sebagai rasa tidak nyaman dan bukan nyeri.
yang khas adalah bahwa angina:
- dipicu oleh aktivitas fisik
- berlangsung tidak lebih dari beberapa menit
- akan menghilang jika penderita beristirahat.
kadang penderita bisa meramalkan akan terjadinya angina setelah melakukan kegiatan tertentu.
angina seringkali memburuk jika:
- aktivitas fisik dilakukan setelah makan
- cuaca dingin
- stres emosional.
variant angina
merupakan akibat dari kejang pada arteri koroner yang besar di permukaan jantung.
disebut variant karena ditandai dengan:
- nyeri yang timbul ketika penderita sedang istirahat, bukan pada saat melakukan aktivitas fisik
- perubahan tertentu pada ekg.
unstable angina
merupakan angina yang pola gejalanya mengalami perubahan.
ciri angina pada seorang penderita biasanya tetap, oleh karena itu setiap perubahan merupakan masalah yang serius (msialnya nyeri menjadi lebih hebat, serangan menjadi lebih sering terjadi atau nyeri timbul ketika sedang beristirahat).
perubahan tersebut biasanya menunjukkan perkembangan yang cepat dari penyakit arteri koroner, dimana telah terjadi penyumbatan arteri koroner karena pecahnya suatu ateroma atau terbentuknya suatu bekuan.resiko terjadinya serangan jantung sangat tinggi.
unstable angina merupakan suatu keadaan darurat.
DIAGNOSA
diagnosis ditegakkan terutama berdasarkan gejalanya.
diantara bahkan selama serangn angina, pemeriksaan fisik atau ekg hanya menunjukkan kelainan yang minimal.
selama suatu serangan, denyut jantung bisa sedikit meningkat, tekanan darah meningkat dan bisa terdengar perubahan yang khas pada denyut jantung melalui stetoskop.
selama suatu serangan, bisa ditemukan adanya perubahan pada ekg, tetapi diantara serangan, ekg bisa menunjukkan hasil yang normal, bahkan pada penderita penyakit arteri koroner yang berat.
jika gejalanya khas, diagnosisnya mudah ditegakkan.
jenis nyeri, lokasi dan hubungannya dengan aktivitas, makan, cuaca serta faktor lainnya akan mempermudah diagnosis.
pemeriksaan tertentu bisa membantu menentukan beratnya iskemia dan adanya penyakit arteri koroner:
1.exercise tolerance testing merupakan suatu pemeriksaan dimana penderita berjalan diatas treadmill dan dipantau dengan ekg.
pemeriksaan ini bisa menilai beratnya penyakit arteri koroner dan kemampuan jantung untuk merespon iskemia.
hasil pemeriksaan ini juga bisa membantu menentukan perlu tidaknya dilakukan arteriografi koroner atau pembedahan.
2.radionuclide imaging yang dilakukan bersamaan dengan exercise tolerance testing bisa memberikan keterangan berharga mengenai angina.
penggambaran radionuklida tidak hanya memperkuat adanya iskemia, tetapi juga menentukan daerah dan luasnya otot jantung yang terkena dan menunjukkan jumlah darah yang sampai ke otot jantung.
3.exercise echocardiography merupakan suatu pemeriksaan dimana ekokardiogram diperoleh dengan memantulkan gelombang ultrasonik dari jantung.
pemeriksaan ini bisa menunjukkan ukuran jantung, pergerakan otot jantung, aliran darah yang melalui katup jantung dan fungsi katup.
ekokardiogram dilakukan pada saat istirahat dan pada puncak aktivitas.
jika terdapat iskemia, maka gerakan memompa dari dinding ventrikel kiri tampak abnormal.
4.arteriografi koroner bisa dilakukan jika diagnosis penyakit arteri koroner atau iskemia belum pasti.
pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan beratnya penyakit arteri koroner dan untuk membantu menentukan perlu tidaknya dilakukan pembedahan bypass arteri koroner atau angioplasti.
5.pemantauan ekg berkelanjutan dengan monitor holter menunjukkan kelainan dari silent ischemia.
6.angiografi kadang bisa menemukan adanya kejang pada arteri koroner yang tidak memiliki suatu ateroma.
PENGOBATAN
pengobatan dimulai dengan usaha untuk mencegah penyakit arteri koroner, memperlambat progresivitasnya atau melawannya dengan mengatasi faktor-faktor resikonya.
faktor resiko utama (misalnya peningkatan tekanan darah dan kadar kolesterol), diobati sebagaimana mestinya.
faktor resiko terpenting yang bisa dicegah adalah merokok sigaret.
pengobatan angina terutama tergantung kepada berat dan kestabilan gejala-gejalanya.
jika gejalanya stabil dan ringan sampai sedang, yang paling efektif adalah mengurangi faktor resiko dan mengkonsumsi obat-obatan.
jika gejalanya memburuk dengan cepat, biasanya penderita segera dirawat dan diberikan obat-obatan di rumah sakit.
jika gejalanya tidak menghilang dengan obat-obatan, perubahan pola makan dan gaya hidup, maka bisa digunakan angiografi untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan pembedahan bypass arteri koroner atau angioplasti.
stable angina
pengobatan dimaksudkan untuk mencegah atau mengurangi iskemia dan meminimalkan gejala.
terdapat 4 macam obat yang diberikan kepada penderita:
1.beta-bloker
obat ini mempengaruhi efek hormon epinefrin dan norepinefrin pada jantung dan organ lainnya.
beta bloker mengurangi denyut jantung pada saat istirahat. selama melakukan aktivitas, beta-bloker membatasi peningkatan denyut jantung sehingga mengurangi kebutuhan akan oksigen.
beta-bloker dan nitrat telah terbukti mampu mengurangi kejadian serangan jantung dan kematian mendadak.
2.nitrat (contohnya nitrogliserin).
nitrat menyebabkan pelebaran pada dinding pembuluh darah, terdapat dalam bentuk short-acting dan long-acting.
sebuah tablet nitrogliserin yang diletakkan di bawah lidah (sublingual) biasanya akan menghilangkan gejala angina dalam waktu 1-3 menit, dan efeknya berlangsung selama 30 menit.
penderita stable angina kronik harus selalu membawa tablet atau semprotan nitrogliserin setiap saat.
menelan sebuah tablet sesaat sebelum melakukan kegiatan yang diketahui penderita dapat memicu terjadinya angina, akan sangat membantu penderita.
nitrogliserin tablet juga bisa diselipkan diantara gusi dan pipi bagian dalam atau penderita bisa menghirup nitrogliserin yang disemprotkan ke dalam mulut; tetapi yang banyak digunakan adalah pemakaian nitrogliserin tablet sublingual.
nitrat long-acting diminum sebanyak 1-4 kali/hari.
nitrat juga terdapat dalam bentuk plester dan perekat kulit, dimana obat ini diserap melalui kulit selama beberapa jam.
nitrat long-acting yang dikonsumsi secara rutin bisa segera kehilangan kemampuannya untuk mengurangi gejala. oleh karena itu sebagian besar ahli menganjurkan selang waktu selama 8-12 jam bebas obat untuk mempertahankan efektivitas jangka panjangnya.
3.antagonis kalsium
obat ini mencegah pengkerutan pembuluh darah dan bisa mengatasi kejang arteri koroner.
antagonis kalsium juga efektif untuk mengobati variant angina.
beberapa antagonis kalsium (misalnya verapamil dan diltiazem) bisa memperlambat denyut jantung.
obat ini juga bisa digabungkan bersama beta-bloker untuk mencegah terjadinya episode takikardi (denyut jantung yang sangat cepat).
4.antiplatelet (contohnya aspirin)
platelet adalah suatu faktor yang diperlukan untuk terjadinya pembekuan darah bila terjadi perdarahan. tetapi jika platelet terkumpul pada ateroma di dinding arteri, maka pembentukan bekuan ini (trombosis) bisa mempersempit atau menyumbat arteri sehingga terjadi serangan jantung.
aspirin terikat pada platelet dan mencegahnya membentuk gumpalan dalam dinding pembuluh darah, jadi aspirin mengurangi resiko kematian karena penyakit arteri koroner.
penderita yang alergi terhadap aspirin, bisa menggunakan triklopidin.
unstable angina
pada umumnya penderita unstable angina harus dirawat, agar pemberian obat dapat diawasi secara ketat dan terapi lain dapat diberikan bila perlu.
penderita mendapatkan obat untuk mengurangi kecenderungan terbentuknya bekuan darah, yaitu:
- heparin (suatu antikoagulan yang mengurangi pembentukan bekuan darah)
- penghambat glikoprotein iib/iiia (misalnya absiksimab atau tirofiban)
- aspirin.
juga diberikan beta-bloker dan nitrogliserin intravena untuk mengurangi beban kerja jantung.
jika pemberian obat tidak efektif, mungkin harus dilakukan arteriografi koroner dan angioplasti atau operasi bypass.
operasi bypass arteri koroner
pembedahan ini sangat efektif dilakukan pada penderita angina dan penyakit arteri koroner yang tidak meluas.
pembedahan ini bisa memperbaiki toleransi penderita terhadap aktivitasnya, mengurangi gejala dan memperkecil jumlah atau dosis obat yang diperlukan.
pembedahan dilakukan pada penderita angina berat yang:
- tidak menunjukkan perbaikan pada pemberian obat-obatan
- sebelumnya tidak mengalami serangan jantung
- fungsi jantungnya normal
- tidak memiliki keadaan lainnya yang membahayakan pembedahan (misalnya penyakit paru obstruktif menahun).
pembedahan ini merupakan pencangkokan vena atau arteri dari aorta ke arteri koroner, meloncati bagian yang mengalami penyumbatan.
arteri biasanya diambil dari bawah tulang dada. arteri ini jarang mengalami penyumbatan dan lebih dari 90% masih berfungsi dengan baik dalam waktu 10 tahun setelah pembedahan dilakukan.
pencangkokan vena secara bertahap akan mengalami penyumbatan.
angioplasti koroner
alasan dilakukannya angioplasti sama dengan alasan untuk pembedahan bypass.
tidak semua penyumbatan bisa menjalani angioplasti, hal ini tergantung kepada lokasi, panjang, beratnya pengapuran atau keadaaan lainnya.
angioplasti dimulai dengan menusuk arteri perifer yang besar (biasanya arteri femoralis di paha) dengan jarum besar. kemudian dimasukkan kawat penuntun yang panjang melalui jarum menuju ke sistem arteri, melewati aorta dan masuk ke dalam arteri koroner yang tersumbat.
sebuah kateter (selang kecil) yang pada ujungnya terpasang balon dimasukkan melalui kawat penuntun ke daerah sumbatan. balon kemudian dikembangkan selama beberapa detik, lalu dikempiskan.
pengembangan dan pengempisan balon diulang beberapa kali.
penderita diawasi dengan ketat karena selama balon mengembang, bisa terjadi sumbatan alliran darah sesaat. sumbatan ini akan merubah gambaran ekg dan menimbulkan gejala iskemia.
balon yang mengembang akan menekan ateroma, sehingga terjadi peregangan arteri dan perobekan lapisan dalam arteri di tempat terbentuknya sumbatan.
bila berhasil, angioplasti bisa membuka sebanyak 80-90% sumbatan.
sekitar 1-2% penderita meninggal selama prosedur angioplasti dan 3-5% mengalami serangan jantung yang tidak fatal.
dalam waktu 6 bulan (seringkali dalam beberapa minggu pertama setelah prosedur angioplasti), arteri koroner kembali mengalami penyumbatan pada sekitar 20-30% penderita.
angioplasti seringkali harus diulang dan bisa mengendalikan penyakit arteri koroner dalam waktu yang cukup lama.
agar arteri tetap terbuka, digunakan prosedur terbaru, dimana suatu alat yang terbuat dari gulungan kawat (stent) dimasukkan ke dalam arteri. pada 50% penderita, prosedur ini tampaknya bisa mengurangi resiko terjadi penyumbatan arteri berikutnya.
prognosis
faktor penentu dalam meramalkan apa yang akan terjadi pada penderita angina adalah umur, luasnya penyakit arteri koroner, beratnya gejala dan yang terpenting adalah jumlah otot jantung yang masih berfungsi normal.
makin luas arteri koroner yang terkena atau makin buruk penyumbatannya, maka prognosisnya makin jelek.
prognosis yang baik ditemukan pada penderita stable angina dan penderita dengan kemampuan memompa yang normal (fungsi otot ventrikelnya normal). berkurangnya kemampuan memompa akan memperburuk prognosis.
PENCEGAHAN
cara terbaik untuk mencegah terjadinya angina adalah merubah faktor-faktor resiko:
 berhenti merokok
 mengurangi berat badan
 mengendalikan tekanan darah, diabetes dan kolesterol.