A.Pengertian
Skizofrenia adalah gangguan yang umumnya ditandai oleh distorsi pikran dan persepsi yang mendasar dan khas, dan oleh afek yang tidak wajar atau tumpul. ( 3 : 105 )
Menurut Emi Kraeplin skizofrenia terjadi karena kemunduran intelegensi sebelum waktunya sehingga disebut dimensia prekoks/muda. ( 1 : 685 )
Skizofrenia adalah suatu sindrom klinis yang dinyatakan dengan kelainan dalam isi dan organisasai pikiran, persepsi masukan sensori, ketegangan afek/emosional, identitas, kemauan, perilaku psikomotor dan kemampuan untuk menetapkan hubungan interpersonal yang memuaskan. ( 4 : 143 )
Faktor predisposisi
Faktor genetik
Individu–individu yang berada pada resiko tinggi terhadap kelainan ini adalah mereka yang memiliki anggota keluarga dengan keturunan yang sama, terutama pada kembar monozigot yang mempunyai angka kesesuaian yang lebih tinggi. ( 4 : 146 ). Penelitian pada kembar monosigot yang diadopsi menunjukkan bahwa yang diasuh oleh orang tua angkat mempunyai skizofrenia dengan kemungkinan yang sama besarnya seperti saudara kembarnya yang dibesarkan oleh orang tua kandungnya. Temuan ini menyatakan bahwa pengaruh genetika melebihi pengaruh lingkungan. (1 : 703)
Faktor biokimia
Menyatakan adanya peningkatan dari dopamin neurotransmitter, yang diperkirakan menghasilkan gejala–gejala peningkatan aktivitas yang berlebihan dan pemecahan asosiasi–asosiasi yang umumnya diobservasi. ( 4 : 146-147 )
Teori psikoanalitik
Sigmund Freud mendalilkan bahwa skizofrenia disebabkan oleh fiksasi perkembangan yang terjadi lebih awal dari yang menyebabkan perkembangan neurosis. Pandangan psikoanalisis umum tentang skizofrenia menhipotesiskan bahwa defek ego mempengaruhi interpretasi kenyataan dan pengendalian dorongan-dorongan dari dalam (inner drives), seperti seks dan agresi. Gangguan terjadi sebagai akibat dari penyimpangan dalam hubungan timbal balik antara bayi dan ibunya. Seperti yang dijelaskan oleh Margaret Mahler, anak-anak adalah tidak mampu untuk berpisah dan berkembang melebihi kedekatan dan ketergantungan lengkap yang menandai hubungan ibu anak didalam fase oral perkembangan. Orang skizofrenia tidak pernah mencapai ketetapan objek, yang ditandai oleh suatu perasaan identitas yang pasti dan yang disebabkan oleh perlekatan erat dengan ibunya selama masih bayi. ( 1 : 704 ).
Teori psikodinamik
Pandangan psikodinamika tentang skizofrenia , mereka cenderung menganggap hipersensitivitas terhadap stimuli persepsi yang didasarkan secara konstitusional sebagai suatu defisit. Malahan suatu penelitian yang baik menyatakan bahwa pasien dengan skizofrenia adalah sulit untuk menyaring berbagai stimuli dan untuk memusatkan pada suatu data pada suatu waktu. Defek pada barier stimulus tersebut menciptakan kesulitan pada keseluruhan tiap fase perkembangan selama masa anak-anak dan menempatkan stress tertentu pada hubungan interpersonal (1 : 705)
Teori belajar
Menurut ahli teori belajar, anak-anak yang kemudian menderita skizofrenia mempelajari reaksi dan cara berpikir yang irrasional dengan meniru orangtuanya yang memiliki masalah emosionalnya sendiri yang bermakna. Hubungan interpersonal yang dari orang skizofrenia, menurut teori belajar, juga berkembang karena dipelajarinya model yang buruk selama masa anak-anak.. ( 1 : 705 )
Teori sistem keluarga
Menggambarkan perkembangan skizofrenia sebagai suatu perkembangan disfungsi keluarga. ( 4 : 147 )
Gregory Bateson (Konsep ikatan ganda) untuk menggambarkan suatu keluarga dimana anak-anak mendapatkan pesan yang bertentangan dari orangtuanya tentang prilaku, sikap, dan perasaan anak. Di dalam hipotesis tersebut anak menarik diri kedalam psikostik mereka sendiri untuk meloloskan dari kebingungan ikatan ganda yang tidak dapat dipecahkan
B. Kriteria diagnostik ( 5 : 46-47)
harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
(a). – “throught echo” = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan , walaupun isinya sama, namuin kualitasnya berbeda; atau
“throught insertion or withdrawal “ = isi pikiran yang asing dari luar mnasuk kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan
“throught broadcasting” = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya ;
(b). – “ delusion of control” = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar ; atau
– “delusion of influence” = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau
– “delusion of passivity” = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadfap sesuatu kekuatan dari luar; (tentang “dirinya” = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh /anggota gerak atau kepikiran, tindakan, atau penginderaan khusus);
– “delusional perception” = pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat;
(c). halusinasi auditorik :
suara halusinasi yang berkomentar secara terus-menerus terhadap perilaku pasien; atau
mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau
jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.
(d). waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan makhluk asing darri dunia lain).
atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas :
(e) halusinasi yang menetap darri pancaindera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbuilan-bulan terus-menerus;
(f). arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berakibat incoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;
(g) perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;
(h) gejala-gejala “negatif” , seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;
adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurung waktu satu bulan atau lebih ( tidak berlalu untuk setiap fase nonpsikotik prodromal).
harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tidak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.
Tipe skizofrenia ( 3 : 110-117 )
Skizofrenia paranoid
Skizofrenia paranoid dikarakteristikkan dengan adanya :
Waham-waham kejaran atau kebesaran, merasa dirinya tinggi / istimewa, dan adanya kecurigaan yang ekstrem terhadap orang lain
Suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa whistling, humming atau laughing
Skizofrenia hebefrenia
Suatu bentuk skizofrenia dengan perubahan afektif yang tampak jelas, dan secara umum juga dijumpai waham dan halusinasi yang bersifat mengambang dan terputus-putus.
Afek datar atau tidak sesuai, mood pasien dangkal dan tidak wajar, sering cekikan, senyum sendiri, tertawa menyeringai dan ungkapan kata yang diulang-ulang.
Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tidak menentu serta inkoheren. Ada kecenderungan untuk menyendiri serta perilaku hampa tujuan dan hampa perasaan.
Skizofrenia katatonik
Gangguan psikomotor yang menonjol merupakan gambaran yang essensial dan dominan yang dimanifestasikan seperti :
Stupor ( amat berkurangnya reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam gerakan serta aktivitas spontan ) atau mutisme
Aktivitas motorik yang berlebihan
Negativitisme yang ekstrim
Gerakan volunter yang aneh seperti yang ditunjukkan oleh posturing
Rigiditas
Ekolalia atau ekopraksia
Skizofrenia residual
Suatu stadium kronis dalam perkembangan suatu gangguan skizofrenia dimana telah terjadi progresi yang jelas dari stadium awal ( terdiri dari satu atau lebih episode skizofrenia dengan gejala-gejala yang menonjol ).
Perilaku pada skizofrenia residual eksentrik tetapi gejala psikosis pada saat dirawat tidak menonjol.
Gejala negatif skizofrenia yang menonjol, seperti perlambatan psikomotor, aktivitas yang menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan ketiadaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan dan komunikasi non verbal yang buruk.
Skizofrenia simpleks
Suatu kelainan yang tidal lazim dimana ada perkembangan yang bersifat perlahan tetapi progresif mengenai keanehan tingkah laku, ketidakmampuan memenuhi tuntutan masyarakat dan penurunan kinerja secara menyeluruh.
Tidak terdapat waham dan halusinasi, tetapi disertai dengan perubahan yang bermakna pada perilaku perorangan, yang bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, kemalasan dan penarikan diri secara sosial.
Terapi ( 1 : 724-729 )
Terapi somatik
Antipsikotik
Antipsikotik termasuk tiga kelas obat yang utama :
Antagonis resptor dopamin
Risperidone ( risperdal )
Clozapine ( clozaril )
Obat lain
Lithium
Antikonvulsan
Benzodiazepin
Terapi elektro konvulsif ( ECT )
Seperti juga dengan terapi konvulsi yang lain, cara bekerjanya elektro konvulsi belum diketahui dengan jelas. Dapat dikatakan bahwa terapi konvulsi dapat memperpendek lamanya serangan skizofrenik dan dapat mempermudah kontak dengan pasien.Akan tetapi terapi ini tidak dapat mencegah serangan yang akan datang. ECT lebih mudah diberikan, dapat dilakukan secara ambulans, bahaya lebih kecil, lebih murah dan tidak memerlukan tenaga yang khusus
ECT baik hasilnya pada jenis katatonik terutama katatonikstupor. Terhadap skizofrenik simplex efeknya mengecewakan, bila gejala hanya ringan lantas diberi ETC, kadang-kadang gejala menjadi lebih berat.
Terapi psikososial
Terapi perilaku
Rencana pengobatan untuk skizofrenia harus ditujukan pada kemampuan dan kekurangan pasien. Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan keterampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis dan komunikasi interpersonal. Perilaku adaptif adalah didorong dengan pujian atau hadiah yanga dapat ditebus untuk hal-hal yang diharapakan. Dengan demikian, frekuensi perilaku maladaptif atau mernyimpang seperti berbicara lantang, berbicara sendirian di masyarakat dan postur tubuh yang aneh dapat diturunkan.
Latihan keterampilan perilaku melibatkan penggunaan kaset video orang lain dan pasien, permainan simulasi dalam terapi dan pekerjaan rumah tentang keterampilan.
Terapi berorientasi keluarga
Perilaku setelah periode pemulangan, topik penting yang dibahas adalah proses pemulihan. Pusat terapi harus pada situasi untuk mengidentifikasi dan menghindari situasi yang memungkinkan menimbulkan kesulitan. Terapi selanjutnya dapat diarahkan kepada berbagai macam penerapan strategi menurunkan stress dan mengatasi masalah dan pelibatan kembali pasien ke dalam aktivitas.
Terapi kelompok
Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Terapi ini juga efektif dalam menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan dan meningkatkan tes realitas bagi pasien dengan skizofrenia.
Terapi psikomotor
Terapi psikomotorik ialah suatu bentuk terapi yang mempergunakan gerakan tubuh sebagai salah satu cara untuk melakukan analisa berbagai gejala yang mendasari suatu bentuk gangguan jiwa dan sekaligus sebagai terapi. Analisa yang diperoleh dapat dipakai sebagai bahan diskusi dinamika dari perilaku serta responnya dalam perubahan perilaku dengan tujuan mendapatkan perilaku yang paling sesuai dengan dirinya.
Terapi rekreasi
Terapi reakreasi ialah suatu bentuk terapi yang mempergunakan media reakresi (bermain, berolahraga, berdarmawisata, menonton TV, dan sebagainnya) dengan tujuan mengurangi keterganguan emosional dan memperbaiki prilaku melalui diskusi tentang kegiatan reakresi yang telah dilakukan, sehingg perilaku yang baik diulang dan yang buruk dihilangkan.
Art terapi
Art terapi ialah suatu bentuk yang menggunakan media seni ( tari, lukisan, musik,pahat, dan lain-lain) untuk mengekspresikan ketegangan-ketegangan pskis, keinginan yang terhalang sehingga mendapatkan berbagai bentuk hasil seni dan menyalurkan dorongan-dorongan yang terpendam dalam jiwa seseorang. Hasil seni yang dibuat selain dapat dinikmati orang lain dan dirinya juga akan meningkatkan harga diri seseorang.
Perawat jiwa yang selalu dekat dengan pasien diharapkan dapat memberikan berbagai kegiatan yang terarah dan berguna bagi pasien dalam berbagai terapi tersebut.
Rehabilitasi
Pengertian rehabilitasi adalah :
a.Suatu proses yang kompleks, meliputi berbagai disiplin dan merupakan gabungan dari usaha medik, sosial, educational dan vaksional yang terpadu untuk mempersiapkan , meningkatkan/mempertahankan dan membina seseorang agar dapat mencapai kembali taraf kemampuan fungsional setinggi mungkin.
b.Suatu proses refungsionalisasi dan pengembangan bagi penderita cacat agar mampu melaksankan fungsi sosilanya secara wajar dalam kehidupan masyarakat.
Dalam proses kegiatan pelayanan rehabilitasi pasien mental ada 2 usaha pokok yaitu persiapan , penyaluran/penempatan dan pengawasan.
Kegiatan persiapan
Kegiatan persiapan meliputi : seleksi/work assessment, okupasiterapi prevocational training (latihan kerja) seleksi/work asessment yang bertyjuan untuk memilih dan memberikan pengarahan dalam berbagai kegiatan yang cocok dengan kondisi pasien baik fisiknya, kecerdasannya, bakatnya, sifat-sifat keperibadiannya serta minatnya sehingga kegiatan tersebut dapat mengurangi gejala dan memperbaiki perilakunya. Okupasiterapi bertujuahn untuk memberikan berbagai kergiatan yang cocok sesuai dengan hasil seleksi. Latihan kerja (prevocational training) berusaha memberikan keterampilan kerja yang dapat dipakai sebagai bekal untuk hidup mandiri dan berguna.
Kegiatan penempatan/penyaluran
Kegiatan penempatan/penyaluran adalah usaha untuk mengembalikan pasien ke keluarga/masyarakat dengan memperbaiki hubungan yang retak antara pasien dan keluarga sehingga keluarga bersedia menerima kembali ataupun mencari pengganti dan menyalurkan ke instansi lain.
Kegiatan pengawasan
Kegiatan pengawasan adalah usaha tindak lanjut terhadap pasien yang telah dipulangkan dengan melakukan kunjungan rumah (home visit) atau menyelenggarakan bengkel kerja terlindung (sheltered workshop) di rumah sakit jiwa.
Peran perawat dalam pelayanan rehabilitasi pasien mental khususnya pasien skizofrenik, sangat penting, karena dalam kenyataan, pasien skizofrenik merupakan sebagian pasien kronis di dalam rumah sakit jiwa. Pasien kronis inilah yang merupakan sasaran pertama dalam upaya rehabilitasi agar mereka dapat dikembalikan ke masyarakat dan tidak mengisi sebagaian besar rumah sakit jiwa.
Perawat merupakan petugas yang kerab melakukan pelayanan di rumah sakit jiwa, oleh karena itu informasi-informasi, pengalaman-pengalaman serta usaha-usaha yang dilakukan seseorang perawat terhadap pasien mental akan sangat berperan baik dalam persiapan, penyaluran/penempatan dan pengawasan rehabilitasi. Di samping itu peran perawat dalam kegiatan rehabilitasi masih dibutuhkan terutama dalam melibatkan keluarga atau masyarakat dalam pelaksanaan dan memperlancar upaya rehabilitasi. Pada saat seperti itulah perawat dapat memberikan pengarahan mengenai bagaimana keluarga dapat membantu agar pasien tidak menjadi kambuh kembali yaitu dengan tetap memberikan kegiatan yang berguna kepada pasien dan jangan malah disembunyikan. Bila di rumah sakit tersebut telah ada pelayanan pelayanan day care maka perawat perlu menyarankan agar pasien tersebut mengikuti kegiatan day care.
belajar tentang apa yang ada didunia ini, trik dan tips, gratisan , ngeblog, asuhan keperawatan,
Senin, 21 Desember 2009
LANSIA (Lanjut Usia)
A.Batasan Usia Lanjut
Ada dua terminologi mengenai usia lanjut yaitu yang berdasarakan usia kronologi dan usia biologik. Terminologi biologik sebenarnya yang lebih bernakna dalam penanganan masalah usia lanjut. Secara kronologik perjalanan hidup manusia terdiri dari beberapa masa yaitu :
Masa bayi (0 – 1 tahun)
Pra sekolah (6 – 10 tahun)
Masa puberitas (10 – 20 tahun)
Dewasa muda (20 – 30tahun)
Masa setengah renta (50 – 60 tahun)
Masa usia lanjut (>65 – 74 tahun)
Medium old (74 – 84 tahun)
Tua renta (>84 tahun)
Secara biologik proses penuaan dibagi menjadi 3 fase : yaitu fase pertumbuhan dan pengembangan, fase pematangan (maturasi) dan fase penurunan (karena penuaan).
Berbeda dengan makhluk ciptaan, manusia adalah sejenis makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna serta unik karena dikaruniai daya nalar/akal dan kemampuan otaknya untuk memilih ilmu pengetahuan dan upaya merencanakan atau merekayasa secara sadar perjalanan dan prkembangan hidup dirinya sendiri sebelum Tuhan mengakhiri hayatnya.
Rahmat berupa nikmat, yaitu otak manusia yang terdiri dari tidak kurang 100 miliar sel neuron (saraf) ibarat sebuah mesin komputer berenergi yang tidak pernah berhenti bekerja siang dan malam sejak kita kecil sampai kita tua renta.
Didalam seonggok organ jaringan otak yang beratnya ± 1,5 kg tercatat dan tersimpan berjuta-juta ingatan, kebiasaan bersikap/perilaku, kemampuan berpikir atau nalar, berkeinginan dan kehidupan emosi seperti : marah, malu, ketakutan, rasa senang bahagia, rasa menikmati sesuatu dan lain-lain. Namun demikian kemampuan dan kesempurnaan apapun yang diberikan kepada manusia untuk berupaya mempertahankan hidup selama mungkin, dia tetap dibayangi oleh proses alamiah dari bagian-bagian tubuhnya yang disebut proses menua baik yang telah terprogram secara genetik (teori Genetik Clock) ataupun pengaruh interaksi lingkungan yang berakibat pada mutasi somatik (teori Error Catastrophe). Proses mekanisme biologik berdasarkan kedua konsep teori tersebut, diduga sangat berperan, karena adanya perbedaan lamanya harapan hidup masing-masing spesies makhluk hidup.
B.Masalah Medik Lanjut Usia
Proses biologik yang sifatnya menua normal maupun karena Penyakit, akan mempunyai dampak berakibat kemunduran dan disfungsi pada sistem dan subsistem organ tubuh manusia.
Proses penuaan fisik berlangsung sejak lahir dengan kecepatan berbbeda antara masing-masing individu dan tiap-tiap organ tubuh. Kuantitas dan kualitas disfungsi tiap organ akan saling berpengaruh pada sistem faali dan struktur lainnya.
Didalam klinik, problema medik usia lanjut telah ditekuni oleh cabang keilmuan geriatric-gerontology. Hal ini memberikan peluang semakin pesatnya penelitian dan pengelolaan masalah medik usia lanjut seperti : geriatric neurology, psycho geriatric, geriatric Penyakit dalam, tatalaksana pengobatan dan lain-lain. Namun demikian dalam mengelola kasus geriatric, prinsip dasarnya adalah komprehensif interdisiplin ilmu.
BAB.III
PEMBAHASAN
A.Aspek medik dalam masalah usia lanjut dapat berupa sebagai berikut :
1.masalah pernafasan
akibat penuaan usia, membuat perubahan struktur muskuloskeletal dada yang ada hubungan dengan oaru-paru. Secara faali pada orang usia lanjut terjadi peningkatan volume udara residual di dalam saluran udara paling perifer akibat dari disfungsi serabut elastik alveolus dan broncheolus terminal.
Karena kapasitas total paru andalan sifatnya konstan, maka meningkatnya volume udara residual akan berakibat menurunnya udara melalui respirasi maksimal, sehingga mengakibatkan kapasitas vital tidak optimal.
2.Masalah peredaran darah
disini organ jantung dan pembuluh darah memegang peranan penting selain kulitas darahnya sendiri. Pada usia lanjut terjadi penebalan dinding pembuluh (atherosklerotis) dan iregularitas lumen.
Fibrosis otot jantung dan penebalan katup, sehingga akan berpengaruh pada kerja jantung sebagai pemompa darah. Sirkulasi darah sebagai sarana transportasi oksigen keseluruhan organ tubuh akan mengalami gangguan dan sirkulasi darah tersebut akan semakin memburuk bila terdapat hipertensi, dislipidemia, diabetes mellitus dan meningkatnya agregasi darah. Didalam klinik menifestasinya seperti stroke, Penyakit jantung koroner dan hipertensi-artostatik.
3.Masalah Fungsi Kemih
Berkurangnya jumlah sel-sel berbagai organ tubuh akan mengakibatkan kemunduruan kemampuan kapasitas faali ginjal dan berbagai struktur yang terkait dengan kinerja saluran kemih. Dalam kepustakaan, para peneliti menyebutkan bahwa 600.000 sampai 1,2 juta satuan unit fungsional ginjal (nefron) yang terbentuk saat lahir akan bertahan sampai usia 30-40 tahun. Proses menua yang mengakibatkan jumlah nefron menurun, sehingga pada usia 80 tahun tinggal 30-50%. Masalah kemih lainnya adalah pembesaran prostat (beningn prostathypertophy), gangguan berkemih berupa retensio urine dan inkontinensia. Inkontinensia (ngompol) neirogenik terjadi pada usia lanjut karena adanya gangguan fungsional kontrol saraf terhadap kandung kemih
4. Masalah Buang Air Besar / Defeksi
Gangguan defekasi dapat berupa inkontinsia dan retensio alvi. Gangguan berkemih dapat disebabkan adanya subsistem alat pencernaan yang sifatnya perifer dan pada sistem kontrol saraf akibat proses menua atau bersamaan dengan adanya proses Penyakit lainnya.
5.Masalah Kepikunan/Demensia
Pikun / demensia ditandai dengan adanya kemunduruan daya ingat (memory) yang berangsur-angsur semakin berat dan disertai penurunan fungsi seperti psikis, perilaku dan menganggu fungsi sosialnya.
Pikun faali (wajar) yang terjadi pada usia lanjut disebabkan oleh proses degenerasi primer sel-sel neuron dan otak terutama di lobus frontal, temporal dan parietal. Pikun jenis ini disebut sebagai demensia primer. Demensia yang timbul akibat keadaan / Penyakit lain seperti terkena stroke, hepertensi kronik, gangguan metabolik, toksik, terutama otak, infeksi, tumor dan lain-lain disebut sebagai demensia sekunder yang biasanya lebih mudah diobati.
6.Masalah Gangguan Gerak
Gerakan motorik pada usia lanjut umumnya menjadi lebih lebih lamban (hipokinetik). Gangguan ini biasanya di sebabkan timbulnya proses degenerasi pada tingkat muskuloskeletal seperti : atropi otot, HNP, osteoporosis dan munculnya rasa nyeri pada persendian.
Gangguan gerak yang disebabkan oleh gangguan saraf, sering ditemui pada kelumpuhan karena stroke, syndroma dan Penyakit perkinson, attaksia serebeller dan ataxi spinal.
7.Masalah Gangguan Tidur
Patofisiologi tidur diduga mempunyai kaitan erat dengan peran neurotransmitter serotonergik dan adrenergik. Feinberg dkk, dari penelitiannya pendapatkan bahwa gangguan pola tidur pada usia lanjut adalah waktu total tidurnya berkurang, latensi tidur memanjang tetapi lebih sering terbangun.selain itu pada usia lanjut bisa terjadi sleep apnea yaitu terjadi henti napas minimal 10 detik dengan frekwensi 30 kali sepanjang malam atau sedikitnya 5 kali per jam.
Ada tiga jenis sleep apnea yaitu sleep apnea obstruktif, sleep apnea sentral dan kombinasi dari keduanya. Sleep apnea sentral disebabkan karena genagguan fungsi saraf-saraf pernapasan sehingga gagal mengaktifkan saraf diafragma. Sedangkan sleep apnea obstruktif timbul karena adanya kelemahan dari otot-otot lidah dan tenggorokan sehingga menghambat jalan nafas atau adanya adenoid (amandel) yang membesar dan sumbatan lendir.
8.Masalah impotensi
Impotensi adalah ketidakmampuan melakukan hubungan seksual secara adekuat. Adpun faktor-faktor yang menyebabkannya termasuk dalam kelompok faktor organo biologik dan psikososial.
Faktor organobiologik antara lain : gangguan fungsi hormonal (Menopouse, andropouse), gangguan fungsi saraf, aliran darah, metabolik serta adanya Penyakit penyerta yang timbul pada usia lanjut dan penggunaan obat-obatan (obat hipertensi, pnurunan kolesterol, antipsikotik, antikejang, alkohol, tembakau, opiat dan cimetidin).
9.Masalah perubahan seksual
Orang yang semakin menua (menjadi tua) seksual intercourse masih juga membutuhkannya, tidak ada batasan umur tertentu fungsi seksual sesorang terhenti, frekwensi seksual intercourse cenderung menurun secara bertahap tiap tahun tapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus sampai tua.
B.Penatalaksanaan Dan Pengobatan
Adapun prinsip pengelolaan masalah medik usia lanjut harus dilaksanakan secara komprehensif interdisiplin ilmu. Selaian itu faktor penyebab masalah harus diteliti secara akurat dan ditentukan adanya hubungan antar fungsi organ / sistem yang terkait. Adalah sangat penting untuk memilih tindakan terapi yang efektif, rendah resiko / efek samping dan terjangkau atau murah. Sedangkan peran dikembangkan pada berbagai tindakan yaitu di keluarga, masyarakat, rumah sakit dan nursing home. Kiat preventif dan promotif perlu dikembangkan bukan dilakukan untuk mencegah tambahnya usia, tetapi guna meminimalkan kemunduran fungsi organ dan mencegah komplikasi morbiditas dan handicap (hambatan subjektif yahg dirasakan lansia untuk melakukan aktivitas sosial sehari-hari). Pengembangan program aktivitas psikososial sangat penting dalam menjaga kualitas hidup sebagai individu dan anggota masyarakat.
Ada dua terminologi mengenai usia lanjut yaitu yang berdasarakan usia kronologi dan usia biologik. Terminologi biologik sebenarnya yang lebih bernakna dalam penanganan masalah usia lanjut. Secara kronologik perjalanan hidup manusia terdiri dari beberapa masa yaitu :
Masa bayi (0 – 1 tahun)
Pra sekolah (6 – 10 tahun)
Masa puberitas (10 – 20 tahun)
Dewasa muda (20 – 30tahun)
Masa setengah renta (50 – 60 tahun)
Masa usia lanjut (>65 – 74 tahun)
Medium old (74 – 84 tahun)
Tua renta (>84 tahun)
Secara biologik proses penuaan dibagi menjadi 3 fase : yaitu fase pertumbuhan dan pengembangan, fase pematangan (maturasi) dan fase penurunan (karena penuaan).
Berbeda dengan makhluk ciptaan, manusia adalah sejenis makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna serta unik karena dikaruniai daya nalar/akal dan kemampuan otaknya untuk memilih ilmu pengetahuan dan upaya merencanakan atau merekayasa secara sadar perjalanan dan prkembangan hidup dirinya sendiri sebelum Tuhan mengakhiri hayatnya.
Rahmat berupa nikmat, yaitu otak manusia yang terdiri dari tidak kurang 100 miliar sel neuron (saraf) ibarat sebuah mesin komputer berenergi yang tidak pernah berhenti bekerja siang dan malam sejak kita kecil sampai kita tua renta.
Didalam seonggok organ jaringan otak yang beratnya ± 1,5 kg tercatat dan tersimpan berjuta-juta ingatan, kebiasaan bersikap/perilaku, kemampuan berpikir atau nalar, berkeinginan dan kehidupan emosi seperti : marah, malu, ketakutan, rasa senang bahagia, rasa menikmati sesuatu dan lain-lain. Namun demikian kemampuan dan kesempurnaan apapun yang diberikan kepada manusia untuk berupaya mempertahankan hidup selama mungkin, dia tetap dibayangi oleh proses alamiah dari bagian-bagian tubuhnya yang disebut proses menua baik yang telah terprogram secara genetik (teori Genetik Clock) ataupun pengaruh interaksi lingkungan yang berakibat pada mutasi somatik (teori Error Catastrophe). Proses mekanisme biologik berdasarkan kedua konsep teori tersebut, diduga sangat berperan, karena adanya perbedaan lamanya harapan hidup masing-masing spesies makhluk hidup.
B.Masalah Medik Lanjut Usia
Proses biologik yang sifatnya menua normal maupun karena Penyakit, akan mempunyai dampak berakibat kemunduran dan disfungsi pada sistem dan subsistem organ tubuh manusia.
Proses penuaan fisik berlangsung sejak lahir dengan kecepatan berbbeda antara masing-masing individu dan tiap-tiap organ tubuh. Kuantitas dan kualitas disfungsi tiap organ akan saling berpengaruh pada sistem faali dan struktur lainnya.
Didalam klinik, problema medik usia lanjut telah ditekuni oleh cabang keilmuan geriatric-gerontology. Hal ini memberikan peluang semakin pesatnya penelitian dan pengelolaan masalah medik usia lanjut seperti : geriatric neurology, psycho geriatric, geriatric Penyakit dalam, tatalaksana pengobatan dan lain-lain. Namun demikian dalam mengelola kasus geriatric, prinsip dasarnya adalah komprehensif interdisiplin ilmu.
BAB.III
PEMBAHASAN
A.Aspek medik dalam masalah usia lanjut dapat berupa sebagai berikut :
1.masalah pernafasan
akibat penuaan usia, membuat perubahan struktur muskuloskeletal dada yang ada hubungan dengan oaru-paru. Secara faali pada orang usia lanjut terjadi peningkatan volume udara residual di dalam saluran udara paling perifer akibat dari disfungsi serabut elastik alveolus dan broncheolus terminal.
Karena kapasitas total paru andalan sifatnya konstan, maka meningkatnya volume udara residual akan berakibat menurunnya udara melalui respirasi maksimal, sehingga mengakibatkan kapasitas vital tidak optimal.
2.Masalah peredaran darah
disini organ jantung dan pembuluh darah memegang peranan penting selain kulitas darahnya sendiri. Pada usia lanjut terjadi penebalan dinding pembuluh (atherosklerotis) dan iregularitas lumen.
Fibrosis otot jantung dan penebalan katup, sehingga akan berpengaruh pada kerja jantung sebagai pemompa darah. Sirkulasi darah sebagai sarana transportasi oksigen keseluruhan organ tubuh akan mengalami gangguan dan sirkulasi darah tersebut akan semakin memburuk bila terdapat hipertensi, dislipidemia, diabetes mellitus dan meningkatnya agregasi darah. Didalam klinik menifestasinya seperti stroke, Penyakit jantung koroner dan hipertensi-artostatik.
3.Masalah Fungsi Kemih
Berkurangnya jumlah sel-sel berbagai organ tubuh akan mengakibatkan kemunduruan kemampuan kapasitas faali ginjal dan berbagai struktur yang terkait dengan kinerja saluran kemih. Dalam kepustakaan, para peneliti menyebutkan bahwa 600.000 sampai 1,2 juta satuan unit fungsional ginjal (nefron) yang terbentuk saat lahir akan bertahan sampai usia 30-40 tahun. Proses menua yang mengakibatkan jumlah nefron menurun, sehingga pada usia 80 tahun tinggal 30-50%. Masalah kemih lainnya adalah pembesaran prostat (beningn prostathypertophy), gangguan berkemih berupa retensio urine dan inkontinensia. Inkontinensia (ngompol) neirogenik terjadi pada usia lanjut karena adanya gangguan fungsional kontrol saraf terhadap kandung kemih
4. Masalah Buang Air Besar / Defeksi
Gangguan defekasi dapat berupa inkontinsia dan retensio alvi. Gangguan berkemih dapat disebabkan adanya subsistem alat pencernaan yang sifatnya perifer dan pada sistem kontrol saraf akibat proses menua atau bersamaan dengan adanya proses Penyakit lainnya.
5.Masalah Kepikunan/Demensia
Pikun / demensia ditandai dengan adanya kemunduruan daya ingat (memory) yang berangsur-angsur semakin berat dan disertai penurunan fungsi seperti psikis, perilaku dan menganggu fungsi sosialnya.
Pikun faali (wajar) yang terjadi pada usia lanjut disebabkan oleh proses degenerasi primer sel-sel neuron dan otak terutama di lobus frontal, temporal dan parietal. Pikun jenis ini disebut sebagai demensia primer. Demensia yang timbul akibat keadaan / Penyakit lain seperti terkena stroke, hepertensi kronik, gangguan metabolik, toksik, terutama otak, infeksi, tumor dan lain-lain disebut sebagai demensia sekunder yang biasanya lebih mudah diobati.
6.Masalah Gangguan Gerak
Gerakan motorik pada usia lanjut umumnya menjadi lebih lebih lamban (hipokinetik). Gangguan ini biasanya di sebabkan timbulnya proses degenerasi pada tingkat muskuloskeletal seperti : atropi otot, HNP, osteoporosis dan munculnya rasa nyeri pada persendian.
Gangguan gerak yang disebabkan oleh gangguan saraf, sering ditemui pada kelumpuhan karena stroke, syndroma dan Penyakit perkinson, attaksia serebeller dan ataxi spinal.
7.Masalah Gangguan Tidur
Patofisiologi tidur diduga mempunyai kaitan erat dengan peran neurotransmitter serotonergik dan adrenergik. Feinberg dkk, dari penelitiannya pendapatkan bahwa gangguan pola tidur pada usia lanjut adalah waktu total tidurnya berkurang, latensi tidur memanjang tetapi lebih sering terbangun.selain itu pada usia lanjut bisa terjadi sleep apnea yaitu terjadi henti napas minimal 10 detik dengan frekwensi 30 kali sepanjang malam atau sedikitnya 5 kali per jam.
Ada tiga jenis sleep apnea yaitu sleep apnea obstruktif, sleep apnea sentral dan kombinasi dari keduanya. Sleep apnea sentral disebabkan karena genagguan fungsi saraf-saraf pernapasan sehingga gagal mengaktifkan saraf diafragma. Sedangkan sleep apnea obstruktif timbul karena adanya kelemahan dari otot-otot lidah dan tenggorokan sehingga menghambat jalan nafas atau adanya adenoid (amandel) yang membesar dan sumbatan lendir.
8.Masalah impotensi
Impotensi adalah ketidakmampuan melakukan hubungan seksual secara adekuat. Adpun faktor-faktor yang menyebabkannya termasuk dalam kelompok faktor organo biologik dan psikososial.
Faktor organobiologik antara lain : gangguan fungsi hormonal (Menopouse, andropouse), gangguan fungsi saraf, aliran darah, metabolik serta adanya Penyakit penyerta yang timbul pada usia lanjut dan penggunaan obat-obatan (obat hipertensi, pnurunan kolesterol, antipsikotik, antikejang, alkohol, tembakau, opiat dan cimetidin).
9.Masalah perubahan seksual
Orang yang semakin menua (menjadi tua) seksual intercourse masih juga membutuhkannya, tidak ada batasan umur tertentu fungsi seksual sesorang terhenti, frekwensi seksual intercourse cenderung menurun secara bertahap tiap tahun tapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus sampai tua.
B.Penatalaksanaan Dan Pengobatan
Adapun prinsip pengelolaan masalah medik usia lanjut harus dilaksanakan secara komprehensif interdisiplin ilmu. Selaian itu faktor penyebab masalah harus diteliti secara akurat dan ditentukan adanya hubungan antar fungsi organ / sistem yang terkait. Adalah sangat penting untuk memilih tindakan terapi yang efektif, rendah resiko / efek samping dan terjangkau atau murah. Sedangkan peran dikembangkan pada berbagai tindakan yaitu di keluarga, masyarakat, rumah sakit dan nursing home. Kiat preventif dan promotif perlu dikembangkan bukan dilakukan untuk mencegah tambahnya usia, tetapi guna meminimalkan kemunduran fungsi organ dan mencegah komplikasi morbiditas dan handicap (hambatan subjektif yahg dirasakan lansia untuk melakukan aktivitas sosial sehari-hari). Pengembangan program aktivitas psikososial sangat penting dalam menjaga kualitas hidup sebagai individu dan anggota masyarakat.
Langganan:
Komentar (Atom)