PENDAHULUAN
Sindrom Nefritik Akut (Glomerulonefritis Akut, Glomerulonefritis Pasca Infeksi) adalah suatu peradangan pada glomeruli yang menyebabkan hematuria (darah dalam air kemih), dengan gumpalan sel darah merah dan proteinuria (protein dalam air kemih) yang jumlahnya bervariasi.
Streptokokus nefritogenik dipercaya dapat mengelaborasi antigen yang megikat dinding kapiler glomerulus dan membentuk nidus untuk membentuk kompleks imun unsitu. Streptokokus mungkin juga dapat memproduksi trauma glomerulus secara langsung, membentuk fase untuk perubahan menjadi inflamasi, ataupun menginduksi kompleks autologus IgG/anti IgG melalui desialasi neuriamidase dari host IgG dan membentuk resultan neoantigen. Patomekanisme pasti belum diketahui. Penyakit ini muncul pada usia sekolah, dengan Laki-laki dua kali lebih banyak daripada wanita. 1,2,3,5
Sindrom nefritik aku mengikuti infeksi saluran pernapasan atau infeksi pada kulit yang disebabkan oleh strain “nefritogenik” dari streptokokus ß-hemolitikus group A. Faktor yang menyebabkan hanya strain “nefritogenik” dari streptokokus ß-hemolitikus group A ini belum diketahui secara pasti. Sindrom nefritik akut biasnaya mengikuti streptokokus faringeal, selama musim hujan dan infeksi streptokokus pada kulit atau pioderma selama musim panas. Walaupun epidemik dari nefritis telah dijelaskan dalam hubungannya dengan infeksi tenggorokan (serotipe 12) dan infeksi kulit (serotipe 49), pneyakit ini secara umum bersifat sporadis.
INSIDENS
Lebih sering umur 6-7 thn, jarang < 3 thn dan insiden pada Laki – laki Lebih banyak disbanding perempuan. Pada 10- 12 % kasus diawali oleh infeksi streptokokus b hemolitikus grup dan biasanya didahului ISPA atau piodermi 1,2
ETIOLOGI
Sindroma nefritik akut bisa timbul setelah suatu infeksi oleh streptokokus, misalnya strep throat. Kasus seperti ini disebut glomerulonefritis pasca streptokokus. Glomeruli mengalami kerusakan akibat penimbunan antigen dari gumpalan bakteri streptokokus yang mati dan antibodi yang menetralisirnya. Gumpalan ini membungkus selaput glomeruli dan mempengaruhi fungsinya.
Nefritis timbul dalam waktu 1-6 minggu (rata-rata 2 minggu) setelah infeksi dan bakteri streptokokus telah mati, sehingga pemberian antibiotik akan efektif.
Glomerulonefritis pasca streptokokus paling sering terjadi pada anak-anak diatas 3 tahun dan dewasa muda. Sekitar 50% kasus terjadi pada usia diatas 50 tahun.
Sindroma nefritik akut juga bisa disebabkan oleh reaksi terhadap infeksi lainnya, seperti:
- infeksi pada bagian tubuh buatan
- endokarditis bakterialis
- pneumonia
- abses pada organ perut
- cacar air
- hepatitis infeksios
- sifilis
- malaria.2,4
PATOGENESIS
Walaupun secara morfologis dan terjadinya penurunan C3 komplemen menunjukkan bahwa sindrom nefritik akut dimediasi oleh kompleks imun, mekanisme pasti dimana streptokokus nefritogenik menginduksi bentuk kompleks masih sulit untuk dijelaskan. Walaupun terdapat kesamaan secara klinis dan gambaran histologik pada kelinci yang memiliki serum penyakit yang sama, peemuan komples imun pada sirkulasi tidak seragam dan aktivasi komplemen diaktifkan secara primer melalui jalur alternatif lebih sering dibandingkan menggunakan jalur klasik (aktivasi komples imun).
Streptokokus nefritogenik dipercaya dapat mengelaborasi antigen yang megikat dinding kapiler glomerulus dan membentuk nidus untuk membentuk kompleks imun unsitu. Streptokokus mungkin juga dapat memproduksi trauma glomerulus secara langsung, membentuk fase untuk perubahan menjadi inflamasi, ataupun menginduksi kompleks autologus IgG/anti IgG melalui desialasi neuriamidase dari host IgG dan membentuk resultan neoantigen. Patomekanisme pasti belum diketahui. Penyakit ini muncul pada usia sekolah, dengan Laki-laki dua kali lebih banyak daripada wanita. 1,2,5
MANIFESTASI KLINIS (5)
Sekitar 50% penderita tidak menunjukkan gejala. Gejala yang muncul sekitar 1-2 minggu setelah infeksi faringeal oleh streptokokus ataupun 4-6 minggu setelah pioderma karena streptokokus.
Jika ada gejala, yang pertama kali muncul adalah penimbunan cairan disertai pembengkakan jaringan (edema), berkurangnya volume air kemih dan air kemih berwarna gelap karena mengandung darah. Edema muncul dari retensi garam dan air dan nefrotik sindrom bisa muncul pada 10-20% kasus. Edeme subglotis akut dan membahayakan jalan napas juga telah dilaporkan.
Pada awalnya edema timbul sebagai pembengkakan di wajah dan kelopak mata, tetapi selanjutnya lebih dominan di tungkai dan bisa menjadi hebat. Tekanan darah tinggi dan pembengkakan otak bisa menimbulkan sakit kepala, gangguan penglihatan dan gangguan fungsi hati yang lebih serius.
Gejala spesifik seperti malaise, letargi, nyeri abdomen, dan demam kadang muncul. Abnormalitas akut secara general akan selesai pada 2-3 minggu; C3 komplemen dapat normal pada 3 hari awal atau paling lambat 30 hari setelah onset. Walaupun mikroskopik hematuri dapat muncul selama setahun, kebanyakan anak sembuh sempurna.
Keadaan ginjal yang memburuk secara persisten, abnormalitas urin selama 18 bulan, Hipokomplementemia persisten, dan sindrom nefrotik adalah tanda berbahaya. Jika salah satu muncul, maka merupakan indikasi untuk biopsi renal. 1,2,3,4,5
DIAGNOSIS (5)
Diagnosis ditegakkan apabila terdapat :
• Hematuri makroskopik atau mikroskopik
• Edema
• Hipertensi
• ASTO meningkat atau C3 menurun2
DIAGNOSIS BANDING (5)
1. Sembab non-renal : gagal jantung kongestif, gangguan nutrisi, edema hepatal,
edema Quincke.
2. Sindrom nefrotik
3. Lupus sistemik eritematosus. 5
PENGOBATAN (8)
Pemberian obat yang menekan sistem kekebalan dan kortikosteroid tidak efektif, kortikosteroid bahkan bisa memperburuk keadaaan.Jika pada saat ditemukan sindroma nefritik akut infeksi bakteri masih berlangsung, maka segera diberikan antibiotik.
Penderita sebaiknya menjalani diet rendah protein dan garam sampai fungsi ginjal kembali membaik.Bisa diberikan diuretik untuk membantu ginjal dalam membuang kelebihan garam dan air.Untuk mengatasi tekanan darah tinggi diberikan obat anti-hipertensi.
Jika terjadi gagal ginjal yang berat, penderita perlu menjalani dialisa. 1,3
PROGNOSIS (5)
Penyembuhan sempurna muncul pada lebih dari 95% anak-anak dengan sindrom nefritik akut. Kematian pada fase akut dapat dihindarkan dengan manajemen pengobatan yang baik dan tepat terhadap gagal ginjal akut, gagal jantung, dan hipertensi. Kadang, fase akut dapat menjadi berat dan menjadi hialinisasi glomeruler dan insufisiensi renalis. Walaupun begitu, diagnosis dari sndrom nefritik akut mensti dipertanyakan pada pasien dengan gagal ginjal kronk karena diagnosis lain seperti glomerulonefritis mempranoproliferatif dapat muncul. Rekurensi jarang terjadi 1,2
PENCEGAHAN (8)
Pengobatan lebih awal terhadap infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh infeksi streptokokus dapat mengurangi resiko untuk terkenanya sindrom nefritik akut. 2
DAFTAR PUSTAKA
1. Richard E., Md. Behrman, Robert M., Md. Kliegman, Hal B., Md. Jenson. Eds. Glomerulonephritis Associated with Infections In : Nelson Textbook of Pediatrics. 17th edition. Philadephia : Saunders; 2003. P. 1740
2. Sindrom Nefritik Akut. [serial online] 2004. [cited 2008 April 21]. Available from URL : www.medicastore.com
3. Sindrom Nefritik Akut. [serial online] 2004. [cited 2008 April 21]. Available from URL : www.indonesiaindonesia.com
4. Julia A. McMillan, Catherine D. Deangelis, Ralph D. Feigin, Joesph B. Warshaw, Frank A. Oski, Eds. Acute Streptococcal Glomerulonephritis. In: Oski's Pediatrics: Principles and Practice. 3rd Edition. Lippincott Williams & Wilkins Publishers:New York. 1999. p. 229
5. William W. Hay Jr, et al. Acute Streptococcal Glomerulonephritis. In: Current Pediatric Diagnosis & Treatment. 16th Edition. McGraw-Hill Education : Europe. 2002 p. 1222-3
belajar tentang apa yang ada didunia ini, trik dan tips, gratisan , ngeblog, asuhan keperawatan,
Jumat, 15 Januari 2010
Radiografi dan Diagnosis Periodontal
I. Pendahuluan
Keterampilan serta kecermatan dalam menafsirkan suatu radiogram diperlukan apabila ingin mendapatkan suatu diagnosis klinis yang benar. Apabila hal tersebut belum dipenuhi, sedangkan pembuatan radiogram telah dilaksanakan, maka bisa menjadi tidak tepat diagnosis tersebut.1
Radiografi sering digunakan sebagai informasi diagnostik tambahan yang dikumpulkan melalui pemeriksaan jaringan lunak. Radiografi yang pada umumnya digunakan pada praktek kedokteran gigi adalah bitewing radiografi dan periapikal radiografi.2 Pemeriksaan klinis dan radiografi memegang peranan yang penting dalam diagnosa penyakit periodontal, begitu pula dengan pilihan perawatan dan pemeriksaan lanjutan.3 Bitewing radiography dan periapical radiography berguna untuk tujuan tersebut. Selain radiografi intra-oral, radiografi panoramik juga digunakan sebagai pemeriksaan tambahan pada jaringan tulang marginal.3
II. Tinjauan Pustaka
Radiografi dental merupakan prosedur penting dalam mendiagnosis dan mencatat penyakit periodontal melalui penilaian level tulang alveolar.4
Adanya faktor predisposisi yang berhubungan dengan permulaan penyakit periodontal dicapai secara efektif melalui kegunaan radiografi dental. Deposit kalkulus supragingival dan subgingival merupakan faktor predisposisi yang penting pada permulaan penyakit periodontal, ini dapat dilihat dengan radiografi dental. Kalkulus pada permukaan akar yang melibatkan gigi pada kalsifikasi tahap lanjut dapat dideteksi dengan bitewing vertikal sama seperti periapikal radiografi. Fakor predisposisi lainnya pada penyakit periodontal seperti restorasi dengan kontak yang terbuka, kontour yang jelek, overhanging dan tepi yang kurang bagus, serta karies rekuren yang juga tampak secara radiografi pada bitewing posisi vertikal.5
2.1 Bitewing Radiografi
Radiografi ini pertama kali diperkenalkan oleh Raper pada tahun 1925. Bitewing radiografi digunakan untuk mendeteksi karies di permukaan proksimal gigi dan crest alveolar bone baik pada maksilla maupun mandibula pada film yang sama, yang secara klinis tidak dapat dideteksi.1,2
Bitewing radiografi digunakan utnuk mengevaluasi puncak tulang interproksimal selama pemeriksaan periodontal dan rencana perawatan. Bitewing radiografi digunakan untuk melihat garis dari CEJ pada satu gigi ke CEJ gigi tetangganya, sama halnya dengan jarak dari puncak ke tulang interproksimal yang ada.5
Selain digunakan untuk mendeteksi karies interproksimal, bitewing radiografi juga memberikan informasi status pasien periodontal. Ketinggian dari tepi interproksimal tulang alveolar sampai cemento-enamel junction relatif dapat diamati. Deposit kalkulus subgingival juga dapat dideteksi. Walaupun demikian, hasil dari bitewing radiografi pada diagnosis penyakit periodontal hanya terbatas pada bagian mahkota akar gigi yang diamati, dan terbatas pada regio molar-premolar.2
Pada orang yang masih muda, pengamatan yang cermat pada ketinggian tulang alveolar disekitar molar pertama permanen dapat membantu mendeteksi individu yang beresiko menderita early-onset periodontitis (juvenile periodontitis dan rapidly progressive periodontitis). Walaupun demikian, radiografi seharusnya digunakan hanya sebagai tambahan pada pemeriksaan klinis dengan menggunakan probe periodontal di sekitar daerah tersebut, karena di atas 30 persen kehilangan tulang terjadi sebelum dibuktikan secara radiografi.2
2.2 Periapikal Radiografi
Periapikal radiografi tidak hanya sering digunakan untuk membantu perbedaan diagnosis dari gejala pasien, tetapi juga melihat proses patologis yang tidak terdeteksi pada gigi dan sekeliling tulang alveolar.2
Pada diagnosis penyakit periodontal, periapikal radiografi dapat memberikan informasi yang berguna yang tidak dapat diperoleh hanya melalui pemeriksaan jaringan lunak, tetapi dapat diperoleh dari beberapa informasi seperti:2
a) Gigi
• Ratio klinis mahkota-akar: pada dasarnya, istilah ini dimaksudkan pada ratio antara gigi dengan panjang akar yang dikelilingi oleh tulang.
• Bentuk dan ukuran mahkota dan akar: gigi dengan mahkota kecil dan akar yang panjang mempunyai prognosis yang lebih baik dibanding mahkota yang besar dan akar yang pendek. Akar yang tapered mempunyai daerah permukaan yang lebih kecil untuk perlekatan periodontal dibanding akar yang tumpul.
• Posisi akar pada gigi berakar jamak: pada gigi berakar jamak, akar yang berdekatan mempunyai prognosis yang lebih buruk dibanding akar yang terpisah.
• Posisi gigi dengan gigi tetangganya: titik kontak terbuka ataupun yang berdekatan dengan gigi tetangga dapat terlihat pada radiografi, dan termasuk daerah yang penting dimana masalah periodontal dapat terjadi.
• Kalkulus : deposit kalkulus subginggival maupun supragingival dapat terlihat pada radiografi periapikal.
• Resorpsi akar: resorpsi akar internal maupun eksternal dapat dideteksi.
• Kontur dan tepi restorasi: hubungan antara restorasi yang overhanging pada interproksimal dan atau kontur restorasi yang jelek, dan hilangnya tulang periodontal dapat dilihat dengan pemeriksaan radiografi.
• Fraktur akar: gigi dengan fraktur akar horizontal ataupun vertikal dapat menyebabkan gejala periodontal.
• Benda asing dan ujung akar: hal ini menghasilkan lesi periodontal aggressive dan dapat dideteksi dengan radiografi.
• Anatomi dan patologi pulpa: bentuk kamar pulpa dan saluran akar dapat terlihat, sama halnya dengan kelainan pada pulpa.
b) Tulang
Pola kehilangan tulang disekitar gigi hanya dapat ditentukan melalui pemeriksaan radiografi. Periapikal radiografi, menggunakan teknik paralleling cone, memberi gambaran yang paling akurat dari ketinggian tulang dalam hubungannya dengan CEJ, dan panjang sebenarnya dari gigi. Pemeriksaan gambaran tulang pada periapikal radiografi sebagai bagian dari diagnosis periodontal, perhatian yang khusus tertuju pada:2
• Pola kehilangan tulang: apakah kehilangan tulang horizontal atau vertikal?
• Perluasan hilangnya tulang: apakah kehilangan tulang generalised menutupi gigi atau lokalised pada gigi tertentu?
• Furcatio involvement: apakah radiolusen pada daerah furkasi?
• Lamina dura: pentingnya lamina dura belum jelas sedangkan keberadaannya menunjukkan dukungan tulang yang bagus,keberadaanya tidak selalu menandakan penyakit.
• Jarak ligamen periodontal: melebarnya jarak ligamen priodontal mengindikasikan bahwa gigi tersebut mendapat tekanan oklusal atau mobile. Hal ini juga menjadi petunjuk awal dari inflamasi pulpa, oleh karena iu pemeriksaan klinis yang cermat diperlukan untuk diagnosis.
2.3 Radiografi Panoramik
Radiografi panoramik memberi gambaran umum dari struktur mulut, dan berguna untuk mendeteksi pola kehilangan tulang secara umum. Radiografi panoramik tidak sesuai untuk penilaian yang akurat dari tingkat kehilangan tulang yang berhubungan dengan gigi individual karena terjadi distorsi yang hebat dan outline tepi tulang sering tidak jelas disebabkan oleh superimposisi dari struktur yang menghalangi.2
Gambaran panoramik memberikan sejumlah informasi yang dapat diterima untuk tujuan diagnostik tetapi harus ditambah dengan gambaran intraoral bila diperlukan untuk kemajuan penyakit yang termasuk tujuan utama radiografi pada pencatatan bagian periodontal.4
2.4 Pencatatan Hasil Radiografi
Mencatat hasil pemeriksaan radiografi pada catatan perawatan pasien, dan menyusun serta menyimpan radiografi sebagai referensi di masa mendatang termasuk hal yang penting. Pada catatan perawatan harus menunjukkan:
• Tanggal radiografi diambil
• Jenis radiografi yang diambil
• Alasan pengambilan radiografi
• Informasi diagnostik yang diperoleh dari pemeriksaan radiografi
• Tes diagnostik lanjut yang mungkin diperlukan sebagai follow up hasil radiografik.
III. Kesimpulan
- Radiografi yang pada umumnya digunakan pada praktek kedokteran gigi adalah bite wing radiografi dan periapikal radiografi.
- Radiografi dental merupakan prosedur penting dalam mendiagnosis dan mencatat penyakit periodontal melalui penilaian level tulang alveolar.
- Bitewing radiografi digunakan utnuk mengevaluasi ketinggian tulang interproksimal selama pemeriksaan periodontal dan rencana perawatan. Deposit kalkulus subgingival juga dapat dideteksi. Walaupun demikian, hasil dari bitewing radiografi pada diagnosis penyakit periodontal hanya terbatas pada bagian mahkota akar gigi yang diamati, dan terbatas pada regio molar-premolar.
- Periapikal radiografi sering digunakan tidak hanya untuk membantu perbedaan diagnosis dari gejala pasien, tetapi juga menyaring proses patologis yang tidak terdeteksi pada gigi dan sekeliling tulang alveolar.
- Radiografi panoramik memberi gambaran umum dari struktur mulut, dan berguna untuk mendeteksi pola kehilangan tulang secara umum.
- Penting untuk mencatat hasil pemeriksaan radiografi pada catatan perawatan pasien, dan menyusun serta menyimpan radiografi sebagai referensi di masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
1. Margono G. Radiografi Intraoral. Teknik, Prosesing, Interpretasi Radiogram. Jakarta: EGC. 1998: 1, 15.
2. Radiography and Diagnosis Periodontal: [internet]. Available from: http://www.adelaide.edu.au/spdent/dperu/cpep/radio.htm. Accessed January 30, 2008.
3. Ivanuskaite D, Lindh C, Rangne K, and Rohlin M.Comparison between Scanora Panoramic Radiography and Bitewing Radiography in the Assessment of Marginal Bone Tissue. Stomatologija, Baltic Dental and Maxillofacial Journal 2006; 8(1):9. Available from: http://www.radiologyjournals.htm. Accessed January 30, 2008.
4. Pretty IA, Maupome G. A Closer Look at Diagnosis in Clinical Dental Practice: Part 3. Effectiveness of Radiographic Diagnostic Procedures.J Can Dent Association 2004; 70(6):392. Available from: http://www.thejcdp.htm. Accessed January 30, 2008.
5. Stabulas JJ. Vertical Bitewings: The Other Option. The Journal of Practical Hygiene 2002. Available from: http://www.colgate.com. Accessed Jauary 30, 2008.
Keterampilan serta kecermatan dalam menafsirkan suatu radiogram diperlukan apabila ingin mendapatkan suatu diagnosis klinis yang benar. Apabila hal tersebut belum dipenuhi, sedangkan pembuatan radiogram telah dilaksanakan, maka bisa menjadi tidak tepat diagnosis tersebut.1
Radiografi sering digunakan sebagai informasi diagnostik tambahan yang dikumpulkan melalui pemeriksaan jaringan lunak. Radiografi yang pada umumnya digunakan pada praktek kedokteran gigi adalah bitewing radiografi dan periapikal radiografi.2 Pemeriksaan klinis dan radiografi memegang peranan yang penting dalam diagnosa penyakit periodontal, begitu pula dengan pilihan perawatan dan pemeriksaan lanjutan.3 Bitewing radiography dan periapical radiography berguna untuk tujuan tersebut. Selain radiografi intra-oral, radiografi panoramik juga digunakan sebagai pemeriksaan tambahan pada jaringan tulang marginal.3
II. Tinjauan Pustaka
Radiografi dental merupakan prosedur penting dalam mendiagnosis dan mencatat penyakit periodontal melalui penilaian level tulang alveolar.4
Adanya faktor predisposisi yang berhubungan dengan permulaan penyakit periodontal dicapai secara efektif melalui kegunaan radiografi dental. Deposit kalkulus supragingival dan subgingival merupakan faktor predisposisi yang penting pada permulaan penyakit periodontal, ini dapat dilihat dengan radiografi dental. Kalkulus pada permukaan akar yang melibatkan gigi pada kalsifikasi tahap lanjut dapat dideteksi dengan bitewing vertikal sama seperti periapikal radiografi. Fakor predisposisi lainnya pada penyakit periodontal seperti restorasi dengan kontak yang terbuka, kontour yang jelek, overhanging dan tepi yang kurang bagus, serta karies rekuren yang juga tampak secara radiografi pada bitewing posisi vertikal.5
2.1 Bitewing Radiografi
Radiografi ini pertama kali diperkenalkan oleh Raper pada tahun 1925. Bitewing radiografi digunakan untuk mendeteksi karies di permukaan proksimal gigi dan crest alveolar bone baik pada maksilla maupun mandibula pada film yang sama, yang secara klinis tidak dapat dideteksi.1,2
Bitewing radiografi digunakan utnuk mengevaluasi puncak tulang interproksimal selama pemeriksaan periodontal dan rencana perawatan. Bitewing radiografi digunakan untuk melihat garis dari CEJ pada satu gigi ke CEJ gigi tetangganya, sama halnya dengan jarak dari puncak ke tulang interproksimal yang ada.5
Selain digunakan untuk mendeteksi karies interproksimal, bitewing radiografi juga memberikan informasi status pasien periodontal. Ketinggian dari tepi interproksimal tulang alveolar sampai cemento-enamel junction relatif dapat diamati. Deposit kalkulus subgingival juga dapat dideteksi. Walaupun demikian, hasil dari bitewing radiografi pada diagnosis penyakit periodontal hanya terbatas pada bagian mahkota akar gigi yang diamati, dan terbatas pada regio molar-premolar.2
Pada orang yang masih muda, pengamatan yang cermat pada ketinggian tulang alveolar disekitar molar pertama permanen dapat membantu mendeteksi individu yang beresiko menderita early-onset periodontitis (juvenile periodontitis dan rapidly progressive periodontitis). Walaupun demikian, radiografi seharusnya digunakan hanya sebagai tambahan pada pemeriksaan klinis dengan menggunakan probe periodontal di sekitar daerah tersebut, karena di atas 30 persen kehilangan tulang terjadi sebelum dibuktikan secara radiografi.2
2.2 Periapikal Radiografi
Periapikal radiografi tidak hanya sering digunakan untuk membantu perbedaan diagnosis dari gejala pasien, tetapi juga melihat proses patologis yang tidak terdeteksi pada gigi dan sekeliling tulang alveolar.2
Pada diagnosis penyakit periodontal, periapikal radiografi dapat memberikan informasi yang berguna yang tidak dapat diperoleh hanya melalui pemeriksaan jaringan lunak, tetapi dapat diperoleh dari beberapa informasi seperti:2
a) Gigi
• Ratio klinis mahkota-akar: pada dasarnya, istilah ini dimaksudkan pada ratio antara gigi dengan panjang akar yang dikelilingi oleh tulang.
• Bentuk dan ukuran mahkota dan akar: gigi dengan mahkota kecil dan akar yang panjang mempunyai prognosis yang lebih baik dibanding mahkota yang besar dan akar yang pendek. Akar yang tapered mempunyai daerah permukaan yang lebih kecil untuk perlekatan periodontal dibanding akar yang tumpul.
• Posisi akar pada gigi berakar jamak: pada gigi berakar jamak, akar yang berdekatan mempunyai prognosis yang lebih buruk dibanding akar yang terpisah.
• Posisi gigi dengan gigi tetangganya: titik kontak terbuka ataupun yang berdekatan dengan gigi tetangga dapat terlihat pada radiografi, dan termasuk daerah yang penting dimana masalah periodontal dapat terjadi.
• Kalkulus : deposit kalkulus subginggival maupun supragingival dapat terlihat pada radiografi periapikal.
• Resorpsi akar: resorpsi akar internal maupun eksternal dapat dideteksi.
• Kontur dan tepi restorasi: hubungan antara restorasi yang overhanging pada interproksimal dan atau kontur restorasi yang jelek, dan hilangnya tulang periodontal dapat dilihat dengan pemeriksaan radiografi.
• Fraktur akar: gigi dengan fraktur akar horizontal ataupun vertikal dapat menyebabkan gejala periodontal.
• Benda asing dan ujung akar: hal ini menghasilkan lesi periodontal aggressive dan dapat dideteksi dengan radiografi.
• Anatomi dan patologi pulpa: bentuk kamar pulpa dan saluran akar dapat terlihat, sama halnya dengan kelainan pada pulpa.
b) Tulang
Pola kehilangan tulang disekitar gigi hanya dapat ditentukan melalui pemeriksaan radiografi. Periapikal radiografi, menggunakan teknik paralleling cone, memberi gambaran yang paling akurat dari ketinggian tulang dalam hubungannya dengan CEJ, dan panjang sebenarnya dari gigi. Pemeriksaan gambaran tulang pada periapikal radiografi sebagai bagian dari diagnosis periodontal, perhatian yang khusus tertuju pada:2
• Pola kehilangan tulang: apakah kehilangan tulang horizontal atau vertikal?
• Perluasan hilangnya tulang: apakah kehilangan tulang generalised menutupi gigi atau lokalised pada gigi tertentu?
• Furcatio involvement: apakah radiolusen pada daerah furkasi?
• Lamina dura: pentingnya lamina dura belum jelas sedangkan keberadaannya menunjukkan dukungan tulang yang bagus,keberadaanya tidak selalu menandakan penyakit.
• Jarak ligamen periodontal: melebarnya jarak ligamen priodontal mengindikasikan bahwa gigi tersebut mendapat tekanan oklusal atau mobile. Hal ini juga menjadi petunjuk awal dari inflamasi pulpa, oleh karena iu pemeriksaan klinis yang cermat diperlukan untuk diagnosis.
2.3 Radiografi Panoramik
Radiografi panoramik memberi gambaran umum dari struktur mulut, dan berguna untuk mendeteksi pola kehilangan tulang secara umum. Radiografi panoramik tidak sesuai untuk penilaian yang akurat dari tingkat kehilangan tulang yang berhubungan dengan gigi individual karena terjadi distorsi yang hebat dan outline tepi tulang sering tidak jelas disebabkan oleh superimposisi dari struktur yang menghalangi.2
Gambaran panoramik memberikan sejumlah informasi yang dapat diterima untuk tujuan diagnostik tetapi harus ditambah dengan gambaran intraoral bila diperlukan untuk kemajuan penyakit yang termasuk tujuan utama radiografi pada pencatatan bagian periodontal.4
2.4 Pencatatan Hasil Radiografi
Mencatat hasil pemeriksaan radiografi pada catatan perawatan pasien, dan menyusun serta menyimpan radiografi sebagai referensi di masa mendatang termasuk hal yang penting. Pada catatan perawatan harus menunjukkan:
• Tanggal radiografi diambil
• Jenis radiografi yang diambil
• Alasan pengambilan radiografi
• Informasi diagnostik yang diperoleh dari pemeriksaan radiografi
• Tes diagnostik lanjut yang mungkin diperlukan sebagai follow up hasil radiografik.
III. Kesimpulan
- Radiografi yang pada umumnya digunakan pada praktek kedokteran gigi adalah bite wing radiografi dan periapikal radiografi.
- Radiografi dental merupakan prosedur penting dalam mendiagnosis dan mencatat penyakit periodontal melalui penilaian level tulang alveolar.
- Bitewing radiografi digunakan utnuk mengevaluasi ketinggian tulang interproksimal selama pemeriksaan periodontal dan rencana perawatan. Deposit kalkulus subgingival juga dapat dideteksi. Walaupun demikian, hasil dari bitewing radiografi pada diagnosis penyakit periodontal hanya terbatas pada bagian mahkota akar gigi yang diamati, dan terbatas pada regio molar-premolar.
- Periapikal radiografi sering digunakan tidak hanya untuk membantu perbedaan diagnosis dari gejala pasien, tetapi juga menyaring proses patologis yang tidak terdeteksi pada gigi dan sekeliling tulang alveolar.
- Radiografi panoramik memberi gambaran umum dari struktur mulut, dan berguna untuk mendeteksi pola kehilangan tulang secara umum.
- Penting untuk mencatat hasil pemeriksaan radiografi pada catatan perawatan pasien, dan menyusun serta menyimpan radiografi sebagai referensi di masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
1. Margono G. Radiografi Intraoral. Teknik, Prosesing, Interpretasi Radiogram. Jakarta: EGC. 1998: 1, 15.
2. Radiography and Diagnosis Periodontal: [internet]. Available from: http://www.adelaide.edu.au/spdent/dperu/cpep/radio.htm. Accessed January 30, 2008.
3. Ivanuskaite D, Lindh C, Rangne K, and Rohlin M.Comparison between Scanora Panoramic Radiography and Bitewing Radiography in the Assessment of Marginal Bone Tissue. Stomatologija, Baltic Dental and Maxillofacial Journal 2006; 8(1):9. Available from: http://www.radiologyjournals.htm. Accessed January 30, 2008.
4. Pretty IA, Maupome G. A Closer Look at Diagnosis in Clinical Dental Practice: Part 3. Effectiveness of Radiographic Diagnostic Procedures.J Can Dent Association 2004; 70(6):392. Available from: http://www.thejcdp.htm. Accessed January 30, 2008.
5. Stabulas JJ. Vertical Bitewings: The Other Option. The Journal of Practical Hygiene 2002. Available from: http://www.colgate.com. Accessed Jauary 30, 2008.
Langganan:
Postingan (Atom)