Minggu, 21 Februari 2010

ASKEP PADA KLIEN DENGAN HIDROCEPHALUS

I. Pengertian.



Hidrocephalus adalah sebuah kondisi yang disebabkan oleh produksi yang tidak seimbang dan penyerapan dari cairan cerebrospinal (CSF) di dalam sistem Ventricular. Ketika produksi CSF lebih besar dari penyerapan, cairan cerebrospinal mengakumulasi di dalam sistem Ventricular.



II. Penyebab.



Penyebab dari hidrosefalus adalah :





· Kelaianan bawahan( Konginetal )



· Infeksi



· Neoplasma



· Perdarahan.



III. Macam-macam hidrosefalus





· Hidrosefalus Non Komunikan ( Tipe tak berhubungan ):



Terjadinya obstruksi pada aliran cairan serebro spinal.



· Hidrosefalus Komunikan( Tipe berhubungan ) :



Kegagalan absobsi cairan serebro spinal.





IV. Patofisiologi.





· Penyumbatan aliran CCS dalam sisstem ventrikel dan tempat absobsi dalam rongga subaracnoid dilatasi ruangan CSS diatasnya ( Foramen Monroi, foramen luschka dan magendie, sisterna magna dan sisterna basalis) pembentukan CSS yang berlebihan dan kecepatan absorsi yang normal Hidrosefalus.





I. Pengkajian.



A. Anamnesa.





1. Insiden : kelaliran denga hidrosefalus terjadi pada 5,8 bayi dai 10.000 kelahiran hidup



· Hidrosefalus dengan spinabifida terdapat kira-kira 3-4 bayi dari 1000 kelahiran hidup



· Type hidrosefalus obstruksi terdapat 99 % kasus pada anak-anak.





2. Riwayat kesehatan masa lalu:



· Terutama adanya riwayat luka / trauma dikepala atau infeksi di sebral



3. Riwayat kahamilan dan persalinan :



· Kelahiran yang prematur



· Neonatal meningitis





· Perdarahan subaracnoid



· Infeksi intra uterin



· Perdarahan perinatal,trauma/cidera persalinan.



B. Pemeriksaan Fisik



· Biasanya adanya myelomeningocele, penguran lingkar kepala (Occipitifrontal)





· Pada hidrosefalus didapatkan :



v Tanda – tanda awal :



o Mata juling



o Sakit kepala





o Lekas marah



o Lesu



o Menangis jika digendong dan diam bila berbaring



o Mual dan muntah yang proyektil



o Melihat kembar





o Ataksia



o Perkembangan yang berlangsung lambat



o Pupil oedema



o Respon pupil terhadap cahaya lambat dan tidak sama



o Biasanya diikuti : perubahan tingkat kesadaran, opistotonus dan spastik pada ekstremitas bawah





o Kesulitan dalam pemberian makanan dan menelan



o Gangguan cardio pulmoner



v Tanda-tanda selanjutnya :



o Nyeri kepala kepala diikuti dengan muntah-muntah



o Pupil oedema





o Strabismus



o Peningkatan tekanan darah



o Heart lambat



o Gangguan respirasi



o Kejang





o Letargi



o Muntah



o Tanda-tanda ekstrapiramidal/ ataksia



o Lekas marah



o Lesu





o Apatis



o Kebingungan



o Sering kali inkoheren



o Kebutaaan



C. Pemeriksaan Penunjang.





§ Skan temograsfi komputer ( CT-Scan) mempertegas adanya dilatasi ventrikel dan membantui dalam memgidentifikasi kemungkinan penyebabnya( Neoplasma, kista,malformasi konginetal atau perdarahan intra kranial )



§ Fungsi ventrikel kadang digunakan untiuk menukur tekanan intra kranial menghilangkan cairan serebrospinal untuk kultur (aturan ditentukan untuk pengulangan pengaliran).



§ EEG : untuk mengetahui kelainan genetik atau metabolik



§ Transluminasi : Untuk mengetahui apakah adanya kelainan dalam kepala





§ MRI : ( Magnetik resonance imaging ) : memberi informasi mengenai stuktur otak tanpa kena radiasi





C. Penatalaksanaan Medis.



Pasang parau untuk mengeluarkjan kelebihan CSS dari ventrikel lateral kebagian ekstrakranial ( biasanya peritonium untuk bayi dan anak-anak atau atrium pada remaja ) dimana hal tersebut dapat direabsorbsi









Diagnosa keperawatan, Intervensi dan rasional.











































No.





Diagnosa Keperawatan





Tujuan /kriteria hasil







Intervensi





Rasional





1.











































2.





























































3.





Potensial terhadap perubahan integritas kulit kepala b/d ketidakmampuan bayi dalam mengerakan kepala akibata peningkatan ukuran dan berat kepala



















Perubahan fungsi keluarga b/d situasi krisis ( anak dalam catat fisik )

























































Resiko tinggi terjadi cidera b/d peningkatan tekanan intra kranial













































Tidak terjadi gangguan integritas kulit dengan kriteria :



Kulit utuh, bersih dan kering.































Keluarga menerima keadaan anaknya, mampu menjelaskan keadaan penderita dengan kriteria :



- Keluarga berpartisipasi dalam merawat anaknya dan secra verbal keluarga dapat mengerti tentang penyakit anaknya.





















Tidak terjadi peningkatan TIK dengan kriteria :



- Tanda vital norma, pola nafas efektif, reflek cahaya positif,tidak tejadi gangguan kesadaran, tidak muntah dan tidak kejang.









  • Kaji kulit kepala setiap 2 jam dan monitor terhadap area yang tertekan


  • Ubah posisi tiap 2 jam dapat dipertimbangkan untuk mengubaha kepala tiap jam.


  • Hindari tidak adanya linen pada temap[t tidur


  • Baringkan kepala pada bantal karet busa atau menggunakan tempat tidur air jika mungkin.


  • Berikan nutrisi sesuai kebutuhan.










  • Jelaskan secara rinci tentang kondisi penderita, prosedur, terapi dan prognosanya.


  • Ulangi penjelasan tersebut bila perlu dengan contoh bila keluarga belum mengerti




  • Klarifikasi kesalahan asumsi dan misskonsepsi


  • Berikan kesempatan keluarga untuk bertanya.


  • Observasi ketat tanda-tanda peningkatan TIK


  • Tentukan skala coma












  • Hindari pemasangan infus dikepala




  • Hindari sedasi












  • Jangan sekali-kali memijat atau memopa shunt untuk memeriksa fungsinya














  • Ajari keluarga mengenai tanda-tanda peningkatan TIK










  • Untuk memantau keadaan integumen kulit secara dini.












  • Untuk meningkatkan sirkulasi kulit.


















  • Linen dapat menyerap keringat sehingga kulit tetap kering


  • Untuk mengurangi tekanan yang menyebabkan stess mekanik.














  • Jaringan akan mudah nekrosis bila kalori dan protein kurang.










  • Pengetahuan dapat mempersiapkan keluarga dalam merawat penderita.










  • Keluarga dapat menerima seluruh informasi agar tidak menimbulkan salah persepsi










  • Untuk menghindari salah persepsi










  • Keluarga dapat mengemukakan perasaannya.










  • Untuk mengetahui secara dini peningkatan TIK










  • Penurunan keasadaran menandakakan adanya peningkatan TIK


  • Mencegah terjadi infeksi sistemik










  • Karena tingkat kesadaran merupakan indikator peningkatan TIK


  • Dapat mengakibatan sumbatan sehingga terjdi nyeri kepala karena peningkatan CSS atau obtruksi pada ujung kateter diperitonial


  • Keluarga dapat berpatisipasi dalam perawatan anak dengan hidrosefalus.



















Asuhan Keperawatan Anak J E dengan Hidrosephalus

ASKEP PADA KLIEN DENGAN OTITIS MEDIA KRONIK

I. Pengertian
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid.
Gangguan telinga yang paling sering adalah infeksi eksterna dan media. Sering terjadi pada anak-anak dan juga pada orang dewasa (Soepardi, 1998).
Otitis media kronik adalah keradangan kronik yang mengenai mukosa dan struktur tulang di dalam kavum timpani.
II. Penyebab / Etiologi
A Streptococcus.
A Stapilococcus.
A Diplococcus pneumonie.
A Hemopilus influens.
A Gram Positif : S. Pyogenes, S. Albus.
A Gram Negatif : Proteus spp, Psedomonas spp, E. Coli.
A Kuman anaerob : Alergi, diabetes melitus, TBC paru.
I. Diagnosis
1. Anamnesis
- Otorea terus menerus / kumat – kumatan lebih dari 6 – 8 minggu
- Pendengaran menurun (Tuli).
2. Pemeriksaan
b) Tipe tubotimpanal (Hipertrofi, benigna).(382.1).
a) Perforasi sentral
b) Mukosa menebal
c) Audiogram: Tuli konduktif dengan “air bone gab” sebesar kl 30 dB
d) X – foto mastoid : Sklerotik.
c) Tipe degeneratif (382.1).
a) Perforasi sentral besar
b) Granulasi atau polip pada mukosa kavum timpani
c) Audiogram : tuli konduktif/campuran dengan penurunan 50 – 60 dB
d) X-foto mastoid : sklerotik.
d) Tipe metaplastik (atikoantral, maligna). (385.3)
a) Perforasi atik atau marginal
b) Terdapat kolesteatom
c) Desttruksi tulang pada margotimpani
d) Audiogram : tuli konduktif / campuran dengan penurunan 60 dB atau lebih.
e) X- foto mastoid : sklerotik/rongga.
e) Tipe campuran (degeneratif, metaplastik). (385.3)
a) Perforasi marginal besar atau total
b) Granulasi dan kolesteatom
c) Audiogram : tuli konuktif / campuran dengan penurunan 60 dB atau lebih
d) X- foto mastoid : sklerotik / rongga.
3. Pemeriksaan tambahan : Pembuatan audiogram dan X- foto mastoid (seperti diatas).
II. Penyulitan
1. Abses retro airkula (383.0)
2. Paresis atau paralisis syaraf fasialis (351)
3. Komplikasi intrakranial :
- Meningitis
- Abses ekstradural
- Abses otak
III. Terapi
1. Tipe tubetimpanal stadium aktif:
- Anti biotik : Ampisilin / Amoksilin, (3-4 X 500 mg oral) atau klidomisin (3 X 150 – 300 mg oral) Per hari selama 5 –7 hari
- Pengobatan sumber infeksi di rongga hidung dan sekitarnya
- Perawatan lokal dengan perhidoral 3% dan tetes telinga (Klora menikol 1- 2%)
- Pengobatan alergi bila ada latar belakang alergi
Pada stadium tenang (kering) di lakukan miringoplastik. ICOPIM (5. 194).
2. Tipe degeneratif :
- Atikoantrotomi (5.203)
- Timpanoplastik (5.195).
3. Tipe meta plastik / campuran
- Mastoidektomi radikal (5.203)
- Mastoidektomi radikal dan rekonstruksi.
Untuk OMK dengan penyulit :
Abses retroaurikuler
1. Insisi abses
2. Antibiotik : Penisilin Prokain 2 X 0,6-1,2 juta IU i.m / hari dan metronidazol X 250 – 500mg oral / sup / hari.
3. Mastoid dektomi radikal urgen.
Paresis atau paralisis syaraf fasialis
1. Menentukan lokasi lesi :
- Dengan test Scrimer ® supra atau infra ganglion
- Refleks stapedeus : Positif : ® lesi di bawah N. Stapedeus
Negatif : ® lesi di atasnya
- Tes pengecapan pada lidah :
Positif : ® lesi di bawah korda timpani
Negatif : ® lesi di atasnya
2. Mastoidektomi urgen dan dekompresi saraf fasialis
3. Rehabilitasi.
Labiringitis
1. Tes fistel
2. Mastoidektomi urgen.
Meningitis
1. Perawatan bersama dengan bagian syaraf
2. Antibiotik:
- ampicilin 6 x 2-3 g/ hari i.v di tambah
- Kloranfenikol 4 x 1 G atau seftriakson 1 –2 g / hari i.v
3. Bila meningitis sudah tenang segera di lakukan mastoidektomi radikal.
Absese ekstradural
1. Antibiotik : Ampisilin 4-6 X 2-3 gram/hari i.v
2. ditambah metronodazol 3 X 500mg Sup / hari.
3. Perawatan bersama dengan bagian bedah syaraf
4. Drainase abses oleh bagian bedah syaraf
5. Bila suadh tenang dilakukan matoiddektomi radikal

ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
A. Pengumpulan data
1. Riwayat
a) Identitas Pasien
b) Riwayat adanya kelainan nyeri
c) Riwayat infeksi saluran nafas atas yang berulang
d) Riwayat alergi.
e) OMA berkurang.
2. Pengkajian Fisik
a) Nyeri telinga
b) Perasaan penuh dan penurunan pendengaran
c) Suhu Meningkat
d) Malaise
e) Nausea Vomiting
f) Vertigo
g) Ortore
h) Pemeriksaan dengan otoskop tentang stadium.
3. Pengkajian Psikososial
a) Nyeri otore berpengaruh pada interaksi
b) Aktifitas terbatas
c) Takut menghadapi tindakan pembedahan.
4. Pemeriksaan Laboratorium.
5. pemeriksaan Diagnostik
a) Tes Audiometri : AC menurun
b) X ray : terhadap kondisi patologi
Misal : Cholesteatoma, kekaburan mastoid.
6. Pemeriksaan pendengaran
a) Tes suara bisikan
b) Tes garputala
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan
2. Gangguan sensori / presepsi berhubungan dengan kerusakan pada telinga tengah
3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan nyeri
4. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan
5. Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri, otore menurun ingaran
6. Resiko tinggi trauma berhubungan dengan gangguan presepsi pendengaran
7. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Memberikan rasa nyaman
Mengurangi rasa nyreri
Ø Beri aspirin/analgesik sesuai instruki
Ø Kompres dingin di sekitar area telinga
Ø Atur posisi
Ø Beri sedatif sesuai indikasi
Mencegah penyebaran infeksi
Ø Ganti balutan tiap hari sesuai keadaan
Ø Observasi tanda – tanda infeksi lokal
Ø Ajarkan klien tentang pengobatan
Ø Amati penyebaran infeksi pada otak :
To, menggigil, kaku kuduk.
Monitor gangguan sesori
Ø Catat status pendengaran
Ø Ingatkan klien bahwa vertigo dan nausea dapat terjadi setelah radikal mastoidectomi karena gangguan telinga dalam. Berikan tindakan pengamanan.
Ø Perhatikan droping wajah unilateral atau mati rasa karena perlukaan (injuri) saraf wajah.
H.E
Ø Ajarkan klien mengganti balutan dan menggunakan antibiotik secara kontinu sesuai aturan
Ø Beritahu komplikasi yang mungkin terjadi dan bagaimana melaporkannya
Ø Tekankan hal – hal yang penting yang perlu di follow up,evaluasi pendengaran
Terapi medik
Ø Antibiotik dan tetes telinga : Steroid
Ø Pengeluaran debris dan drainase pus untuk melindungi jaringan dari kerusakan : miringotomy
Interfensi bedah
Ø Indikasi jika terdapat chaolesteatoma
Ø Indikasi jika terjadi nyeri, vertigo,paralise wajah, kaku kuduk, (gejala awal meningitis atau obses otak)
Ø Tipe prosedur
§ Simpel mastoid decstomi
§ Radical mastoiddectomi
§ Posteronterior mastoiddectomi

DAFTAR PUSTAKA
Dunna, D.I. Et al. (1995). Medical Surgical Nursing ; A Nursing Process Approach 2 nd Edition : WB Sauders.
Makalah Kuliah THT. Tidak dipublikasikan
Rothrock, C. J. (2000). Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif. EGC : Jakarta.
Sjamsuhidajat & Wim De Jong. (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC : Jakarta.
Soepardi, Efiaty Arsyad & Nurbaiti Iskandar. (1998). Buku Ajar Ilmu penyakit THT. FKUI : Jakarta.