Minggu, 01 Agustus 2010

ASKEP BPH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN BPH (Benigna Prostat Hiperplasia)
1. Pengertian
Benigna Prostat Hiperplasia adalah suatu benigna yang timbul di dalam kelenjar periuretral, bukan kelenjar prostat yang sebenarnya. Tetapi ia tumbuh di dalam prostat, sehingga menekan dan mendorong prostat ke lateral untuk membentuk “kapsula bedah” (Sabiston, 1994).
Benigna Prostat Hiperplasia adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat (secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius (Doenges, 2000). Menurut Mansyur (2000), istilah hipertropi sebenarnya kurang tepat karena yang terjadi adalah hiperplasia kelenjar periuretral yang mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah.
Jadi dari tiga pendapat di atas diambil kesimpulan bahwa yang mengalami penambahan sel (hiperplasia) adalah kelenjar periuretral kemudian menekan dan mendorong prostat ke lateral dan menjadi simpai bedah (hipertropi).

2. Etiologi
Etiologi dari benigna prostat hipertropi belum diketahui secara pasti, tapi umur dan fungsi androgenik laki-laki merupakan dua faktor terbesar yang memicu terjadinya benigna prostat hipertropi.
Menurut Sabiston (1994), etiologi benigna prostat hipertropi belum pasti namun berhubungan dengan perubahan rasio androgen terhadap estrogen yang diketahui berubah dengan penuaan.

3. Patofisiologi
Prostat merupakan kelenjar yang berkapsul, beratnya kira-kira 20 gram yang melingkari uretra pria di bawah vesika urinaria. Proses pembesaran prostat terjadi perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan. Menurut Mansyur (2000), pada tahap awal terjadi resistensi yang meningkat pada leher buli-buli dan daerah prostat, serta otot detrusor menebal dan merenggang sehingga timbul sakulasi atau divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebut kompensasi. Jika berlanjut maka detrusor lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi. Jika tidak mampu lagi berkontraksi akan terjadi retensi urine yang selanjutnya menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.

Skema : Patofisiologi BPH dan Penanganannya
Penuaan (peningkatan usia) 























Perubahan hormon

pembesaran prostat
(hiperplasia prostat)

resistensi leher buli-buli,otot detrusor menebal dan merenggang
(fase kompensasi)

timbul sakulasi atau divertikel

detrusor lelah, mengalami dekompensasi, tidak mampu berkontraksi

retensi urine, residu urine dalam buli-buli

tekanan intravesika meningkat

hidronefrosis, hidroureter, pyelonefritis, uremia

Konservatif :
• obat
• observasi balance cairan Pembedahan :
• TURP
• open prostatektomi
• TUIP

Sumber : Mansyur (2000)

4. Manifestasi Klinis
Menurut Mansyur (2000), biasanya gejala-gejala pembesaran prostat jinak, dikenal sebagai Lower Urinary Tract Symtoms (LUTS) dibedakan menjadi gejala iritatif dan obstruktif.
Gejala iritatif yaitu sering miksi (frekuensi), terbangun untuk miksi pada malam hari (nokturia), perasaan ingin miksi yang sangat mendesak (urgensi), dan nyeri pada saat miksi (disuria). Sedangkan gejala obstruktif adalah pancaran melemah, rasa tidak lampias sehabis miksi, kalau mau miksi harus menunggu lama (hesistancy), harus mengedan (straining), kencing terputus-putus (intermittency), dan waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensi urine dan inkontinen karena overflow.

5. Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan Laboratorium
Analisis urine dan pemeriksaan mikroskopik urine penting untuk melihat adanya sel leukosit, bakteri, dan infeksi. Bila terdapat hematuria, harus diperhitungkan etiologi lain seperti keganasan pada saluran kemih, batu infeksi, saluran kemih, walaupun BPH sendiri dapat menyebabkan hematuria. Elektrolit, kadar ureum dan kreatinin darah merupakan informasi dasar dari fungsi ginjal dan status metabolik. Pemeriksaan Prostate Specific Antigen (PSA) dilakukan sebagai dasar penentuan perlunya biopsi atau sebagai deteksi dini keganasan.
b) Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah foto polos abdomen, pielografi intravena, USG dan sitoskopi. Tujuan pemeriksaan pencitraan ini adalah untuk memperkirakan volume BPH, menentukan derajat disfungsi buli-buli dan volume residu urine, dan mencari kelainan patologi lain, baik yang berhubungan maupun tidak dengan BPH. Dari foto polos dapat dilihat adanya batu pada traktus urinarius, pembesaran ginjal atau buli-buli. Dari pielografi intravena dapat dilihat supresi komplit dari fungsi renal, hidronefrosis dan hidroureter.
Dari USG dapat diperkirakan besarnya prostat, memeriksa massa ginjal, mendeteksi residu urine, batu ginjal, divertikulum atau tumor buli-buli.



6. Penatalaksanaan
a) Observasi (watchfull waiting)
Biasanya dilakukan pada pasien dengan keluhan ringan (skor Madsen Iversen ≤ 9).
Nasehat yang diberikan ialah mengurangi minum setelah makan malam untuk mengurangi nokturia, menghindari obat-obat dekongestan (para simpatolitik), mengurangi minum kopi dan tidak diperbolehkan minum alkohol agar tidak terlalu sering miksi. Setiap tiga bulan lakukan kontrol keluhan (sistem skor), sisa kencing dan pemeriksaan colok dubur.
b) Terapi Medikamentosa
1) Penghambat adrenegik 
Obat-obat yang sering dipakai ialah prazosin, doxazosin, terazosin, afluzosin atau yang lebih selektif  1a (tamsulosin). Dosis dimulai 1 mg/hari sedangkan dosis tamsulosin adalah 0,2-0,4 mg/hari. Penggunaan antagonis  – 1 adrenergik karena secara selektif mengurangi obstruksi pada buli-buli tanpa merusak kontraktilitas detrusor.
Obat ini menghambat reseptor-reseptor yang banyak ditemukan pada otot polos di trigonum, leher vesika, prostat dan kapsul prostat sehingga terjadi relaksasi di daerah prostat. Hal ini akan menurunkan tekanan pada urethra pars prostatika sehingga gangguan aliran air seni dan gejala-gejala berkurang. Biasanya pasien mulai merasakan berkurangnya keluhan dalam waktu 1 – 2 minggu setelah ia mulai memakai obat. Efek samping yang mungkin timbul adalah pusing-pusing (dizzines), capek, sumbatan hidung, dan rasa lemah.
2) Penghambat enzim 5 -  - reduktase
Obat yang dipakai adalah finasteride (proscar) dengan dosis 1 x 5 mg/hari. Obat golongan ini dapat menghambat pembentukan DHT sehingga prostat yang membesar akan mengecil. Namun obat ini bekerja lebih lambat daripada golongan  bloker dan manfaatnya hanya jelas pada prostat yang sangat besar. Efektivitasnya masih diperdebatkan karena baru menunjukkan perbaikan sedikit dari keluhan pasien setelah 6 - 12 bulan pengobatan bila dimakan terus-menerus. Salah satu efek samping obat ini adalah melemahkan libido, ginekomastia, dan dapat menurunkan nilai PSA (masking effect).


3) Fitoterapi
Pengobatan fitoterapi yang ada di Indonesia antara lain eviprostat. Substansinya misalnya pygeum africanum, sapalmetto, serenoa repeus, dll. Efeknya diharapkan terjadi setelah pemberian selama 1 – 2 bulan.
c) Terapi Bedah
Menurut Sabiston (1994), satu-satunya terapi efektif adalah pembedahan dengan 4 pendekatan yaitu :
1) Reseksi Transurethra
Ahli bedah mereseksi jaringan prostat melalui urethra dengan resektoskop yang digunakan saat ini dari unit bedah listrik.
2) Prostatektomi Suprapubik
Prostatektomi suprapubik dilakukan melalui insisi abdomen rendah digaris tengah, melalui ini vesika urinaria dibuka, adenoma prostat dienukleasi dengan jari tangan sepanjang bidang kapsul bedah.
3) Prostatektomi Retropubik
Tindakan ini melalui pendekatan abdomen rendah dan insisi transversa dibuat melalui kapsul prostat. Setelah prostat dienukleasi maka jahitan hemostatik ditempatkan dan baji serviks vesika uretra ditempatkan dalam vesika urinaria maka kapsul prostat ditutup.
4) Prostatektomi Perineal
Pasien dalam posisi litotomi, insisi perineal dibuat dan diseksi dilakukan melalui tendo sentral dan muskulus rekto uretralis untuk memaparkan prostat. Insisi dibuat melalui kapsul prostat dan adenoma dienuklasi dari bawah. Angka impotensi pasca bedah mencapai 50%.
d) Perawatan Post Operasi
Menurut Pedoman Pelaksanaan Asuhan Keperawatan Pasien Penyakit Bedah RS DR. Sardjito Yogyakarta (1996), perawatan untuk pasien post operasi open prostatektomi suprapubik adalah sebagai berikut :
1) 0 – 24 jam post operasi, irigasi guyur (lebih dari 60 tetes/menit)
2) Hari I post operasi, irigasi 40 – 60 tetes/menit, fiksasi DC luar dilepas.
3) Hari II post operasi, irigasi 30 – 40 tetes/menit.
4) Hari III post operasi, irigasi 20 – 30 tetes/menit, drainase dilepas dengan catatan sudah tidak produktif.
5) Hari IV post operasi, irigasi intermitten.
6) Hari V post operasi, irigasi dilepas.
7) Hari VI post operasi, dilakukan evaluasi.
8) Hari VII post operasi, bila kateter lancar dan baik dilepas.

B. Gambaran Umum Asuhan Keperawatan Pasien Post Open Prostatektomi Suprapubik
1. Pengkajian
Observasi/temuan menurut Tucker, et al.(1998) yaitu :
a) Haluaran urine : karakter, jumlah.
b) Hemorragi : drainase merah terang dan bekuan dari kateter.
c) Syok
d) Spasme kandung kemih
e) Distensi kandung kemih : nyeri suprapubik, peningkatan TD, takikardi, diaforesis, gelisah.
f) Dilusi hipernatremia : peningkatan TD, sakit kepala, disorientasi, edema paru.
g) Dilusi hiponatremia : kelemahan otot, ketakutan, mual, muntah.
h) Hiperpnea
i) Hipotensi
j) Ekstravasasi urine ke dalam rongga abdomen : abdomen tegang, kaku, peningkatan suhu tubuh, gagal ginjal.
k) Kateter bebad tegangan, paten : lipatan (sumbatan mukosa, bekuan darah), sistem drainase gravitasi tertutup, irigasi kandung kemih secara terus menerus, bocoran urine di sekitar kateter suprapubik.
l) Pengangkatan kateter indwelling : inkontinensia, disuria, hematuria, kontraktur leher kandung kemih (menetes, sering berkemih, kesulitan dalam memulai aliran perkemihan, aliran urine kecil), retensi urine dengan aliran berlebihan, fistula perkemihan, ketidakmampuan berkemih.
m) Kemerahan insisi, bengkak, nyeri, drainase.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan post open prostatektomi menurut Doenges (2000) antara lain :
a) Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi mekanik : bekuan darah, edema, trauma, dan prosedur bedah, tekanan, iritasi, kateter/balon.
b) Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan area bedah vaskuler, kesulitan mengontrol perdarahan, pembatasan pemasukan pra operasi.
c) Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif : alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering dan trauma jaringan.
d) Nyeri (akut) berhubungan dengan iritasi mukosa kandung kemih, refleks spasme otot akibat prosedur bedah dan/atau tekanan dari balon kandung kemih (traksi).
e) Resiko disfungsi seksual berhubungan dengan situasi krisis (inkontinensia, kebocoran urine setelah pengangkatan kateter, keterlibatan area genital), ancaman konsep diri/perubahan status kesehatan.
f) Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi.
Diagnosa keperawatan yang muncul menurut Tucker (1998) :
a) Nyeri berhubungan dengan insisi bedah, spasme kandung kemih, dan retensi urine.
b) Perubahan pola eliminasi perkemihan berhubungan dengan reseksi pembedahan dan irigasi kandung kemih.
c) Potensial terhadap infeksi berhubungan dengan adanya kateter di kandung kemih dan insisi bedah.
d) Potensial terhadap kelebihan cairan berhubungan dengan absorbsi cairan irigasi (TURP).
e) Potensial kekurangan cairan berhubungan dengan kehilangan darah berlebihan.
f) Potensial terhadap ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan anastesi.
g) Disfungsi seksual berhubungan dengan ejakulasi retrograd (bedah suprapubik).
h) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang rutinitas pasca operasi.
3. Perencanaan
Perencanaan untuk pasien dengan post open prostatektomi suprapubik menurut Doenges (2000), yaitu :
a) Diagnosa 1 : Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi mekanik : bekuan darah, edema, trauma, dan prosedur bedah, tekanan dan iritasi kateter/balon.
Tujuan :
1) Pasien mampu berkemih dengan jumlah normal tanpa retensi.
2) Pasien menunjukkan perilaku yang meningkatkan kontrol kandung kemihnya.
Intervensi :
1) Kaji haluaran urine dan sistem kateter/drainase
Rasional : Retensi dapat terjadi karena edema pra bedah, bekuan darah dan spasme kandung kemih.
2) Perhatikan waktu, jumlah urine, dan ukuran aliran setelah kateter dilepas. Perhatikan keluhan rasa penuh kandung kemih, ketidakmampuan berkemih urgensi.
Rasional : Kateter biasanya dilepas 2-5 hari setelah pembedahan tetapi berkemih dapat kembali berlanjut menjadi masalah untuk beberapa waktu karena edema uretral dan kehilangan tonus.
3) Dorong pasien untuk berkemih bila terasa dorongan tetapi tidak boleh lebih dari 2-4 jam per protokol.
Rasional : Berkemih dengan dorongan mencegah retensi urine.
4) Ukur volume residu bila ada kateter suprapubik .
Rasional : Mengawasi keefektifan pengosongan kandung kemih.
5) Dorong pemasukan cairan 3000 ml sesuai toleransi. Batasi cairan pada malam hari setelah kateter dilepas.
Rasional : Mempertahankan hidrasi adekuat dan perfusi ginjal untuk aliran urine.
6) Instruksikan pasien untuk latihan perineal, contoh mengencangkan bokong, menghentikan dan memulai aliran urine.
Rasional : Membantu meningkatkan kontrol kandung kemih.
7) Anjurkan pasien bahwa penetesan diharapkan setelah kateter dilepas dan harus teratasi sesuai kemajuan.
Rasional : Informasi membantu pasien untuk menerima masalah.
8) Pertahankan irigasi kandung kemih kontinu sesuai indikasi pada periode pasca operasi dini.
Rasional : Mencuci kandung kemih dari bekuan darah dan debris untuk mempertahankan patensi kateter/aliran urine.

b) Diagnosa 2 : Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan area bedah vaskuler, kesulitan mengontrol perdarahan, pembatasan pemasukan pra operasi.
Tujuan :
1) Pasien mampu mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer teraba, pengisian kapiler baik, membran mukosa lembab dan keluaran urine tepat.
2) Menunjukkan tidak ada perdarahan aktif.
Intervensi :
1) Awasi pemasukan dan pengeluaran
Rasional : Indikator keseimbangan cairan dan kebutuhan penggantian.
2) Observasi drainase kateter, perhatikan perdarahan berlanjut.
Rasional : Perdarahan yang tidak umum terjadi selama 24 jam pertama tapi perlu pendekatan perineal. Perdarahan kontinu atau berat/berulangnya perdarahan aktif memerlukan intervensi/evaluasi medik.
3) Evaluasi warna dan konsentrasi urine
Rasional : Warna merah terang dengan bekuan darah mengindikasikan perdarahan dari arterial dan perlu terapi cepat.
Peningkatan viskositas, warna keruh gelap dengan bekuan gelap menunjukkan perdarahan dari vena (perdarahan yang paling umum) biasanya berkurang sendiri.
Perdarahan tanpa bekuan dapat mengindikasikan diskrasia darah atau masalah pembekuan sistemik.
4) Awasi tanda vital, perhatikan peningkatan nadi dan pernafasan, penurunan tekanan darah, diaforesis, pucat, pelambatan pengisian kapiler dan membran mukosa kering.
Rasional : Dehidrasi/hipovolemia memerlukan intervensi cepat untuk mencegah berlanjutnya ke syok.
5) Anjurkan masukan cairan 3000 ml/hari kecuali kontraindikasi.
Rasional : Membilas ginjal/kandung kemih dari bakteri dan debris tapi tidak mengakibatkan intoksikasi cairan atau kelebihan cairan bila tidak diawasi dengan ketat.
6) Awasi pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, misalnya Hb, Ht, jumlah sel darah merah, pemeriksaan koagulasi dan jumlah trombosit.
Rasional : Berguna dalam evaluasi kehilangan darah atau kebutuhan penggantian, dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi seperti penurunan faktor pembekuan dan KID.
7) Berikan pelunak faeces atau laksatif sesuai indikasi.
Rasional : Pencegahan konstipasi/mengejan untuk defekasi menurunkan perdarahan rektal-perianal.

c) Diagnosa 3 : Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif : alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering, dan trauma jaringan, insisi bedah.
Tujuan :
1) Pasien mampu mencapai waktu penyembuhan.
2) Pasien tidak mengalami infeksi.
Intervensi :
1) Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan kateter reguler dengan sabun dan air, berikan salep antibiotik di sekitar sisi kateter.
Rasional : Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi/sepsis lebih lanjut.
2) Awasi tanda vital, perhatikan demam ringan, menggigil, nadi dan pernafasan cepat, gelisah, peka, disorientasi.
Rasional : Pasien yang mengalami syok bedah/septik sehubungan dengan manipulasi/ instrumentasi.
3) Observasi drainase dari luka, sekitar kateter suprapubik.
Rasional : Adanya drain, insisi suprapubik meningkatkan resiko infeksi yang diindikasikan dengan eritema, drainase purulen.
4) Ganti balutan dengan sering (insisi supra/retropubik dan perineal), pembersihan dan pengeringan kulit sepanjang waktu.
Rasional : Balutan basah menyebabkan kulit iritasi, merupakan media untuk pertumbuhan bakteri.
5) Berikan antibiotik sesuai indikasi
Rasional : Mungkin diberikan secara profilaktitk sehubungan dengan peningkatan resiko infeksi pada prostatektomi.

d) Diagnosa 4 : Nyeri (akut) berhubungan dengan iritasi mukosa kandung kemih, refleks spasme otot akibat prosedur pembedahan dan/atau tekanan dari balon kandung kemih (traksi).
Tujuan :
1) Pasien menyatakan nyeri berkurang.
2) Pasien mampu menunjukkan penggunaan ketrampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individu.
3) Pasien tampak rileks, tidur/istirahat dengan tepat
Intervensi :
1) Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas, skala (0-10).
Rasional : Nyeri tajam, intermitten dengan dorongan berkemih/pasase urine sekitar kateter menunjukkan spasme kandung kemih, yang cenderung lebih berat pada pendekatan suprapubik atau TUR (biasanya menurun setelah 48 jam).
2) Pertahankan patensi kateter dan sistem drainase.
Pertahankan selang bebas dari lekukan dan bekuan.
Rasional : Mempertahankan fungsi kateter dan drainase sistem, menurunkan resiko distensi/spasme kandung kemih.
3) Berikan tindakan kenyamanan (sentuhan terapeutik, pengubahan posisi, pijatan punggung) dan aktivitas terapeutik. Dorong penggunaan teknik relaksasi termasuk latihan nafas dalam, visualisasi, pedoman imajinasi.
Rasional : Menurunkan tegangan otot, memfokuskan kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
4) Kolaborasi pemberian antispasmodik dan analgesik.
Rasional : Antispasmodik menghilangkan spasme kandung kemih, analgesik membantu mengurangi nyeri insisi.

e) Diagnosa 5 : Resiko disfungsi seksual berhubungan dengan situasi krisis (inkontinensia, kebocoran urine setelah pengangkatan kateter, keterlibatan area genital), ancaman konsep diri, perubahan status kesehatan.
Tujuan :
1) Pasien tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatasi.
2) Pasien menyatakan pemahaman situasi individual.
3) Pasien menunjukkan ketrampilan pemecahan masalah.
Intervensi :
1) Berikan keterbukaan pada pasien/orang terdekat untuk membicarakan tentang masalah inkontinensia dan fungsi seksual.
Rasional : Dapat mengalami ansietas tentang efek bedah dan dapat menyembunyikan pertanyaan yang diperlukan. Ansietas dapat mempengaruhi kemampuan untuk menerima informasi yang diberikan sebelumnya.
2) Berikan informasi akurat tentang harapan kembalinya fungsi seksual.
Rasional : Impotensi fisiologi terjadi bila saraf perineal dipotong selama prosedur radikal, pada pendekatan lain, aktivitas seksual dapat dilakukan seperti biasa dalam 6-8 minggu.
3) Diskusikan ejakulasi retrograd bila pendekatan trans uretral/suprapubik digunakan.
Rasional : Cairan seminal mengalir ke dalam kandung kemih dan disekresikan melalui urine. Ini tidak mempengaruhi fungsi seksual tapi akan menurunkan kesuburan dan menyebabkan urine keruh.
4) Rujuk ke penasehat seksual sesuai indikasi
Rasional : Masalah menetap/tidak teratasi memerlukan intervensi profesional.

f) Diagnosa 6 : Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosa, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi.
Tujuan :
1) Pasien menyatakan pemahaman prosedur bedah dan pengobatan.
2) Pasien dan keluarga berpartisipasi dalam program perawatan dan pengobatan.
Intervensi :
1) Tekanan perlunya nutrisi yang baik, dorong konsumsi buah, meningkatkan diet tinggi serat.
Rasional : Meningkatkan penyembuhan dan mencegah komplikasi, menurunkan resiko perdarahan pasca operasi.
2) Diskusikan pembatasan aktivitas, contoh menghindari mengangkat berat, latihan keras, duduk atau mengendarai mobil terlalu lama.
Rasional : Peningkatan tekanan abdominal atau meregangkan dapat menempatkan stres pada kandung kemih dan prostat sehingga menimbulkan resiko perdarahan.
3) Dorong keseimbangan latihan perineal.
Rasional : Membantu kontrol urinaria dan menghilangkan inkontinensia.
4) Kaji ulang tanda/gejala yang memerlukan evaluasi medik contoh eritema, drainase purulen dari luka, perubahan dari karakter/jumlah urine, adanya dorongan/frekuensi, perdarahan berat, demam menggigil.
Rasional : Intervensi cepat dapat mencegah komplikasi serius. Urine tampak keruh beberapa minggu sampai penyembuhan pasca operasi dan tampak keruh setelah koitus karena ejakulasi retrograd.
Menurut Tucker (1998) muncul 8 diagnosa keperawatan, 2 diagnosa yang berbeda dari Doenges (2000) dan intervensinya adalah :
a) Potensial terhadap ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan anestesi .
Intervensi :
1) Bantu pasien dengan spirometer insentif untuk memaksimalkan ekspansi paru secara maksimum jika dianjurkan.
2) Ajarkan dan bantu pasien untuk membalik, batuk, dan napas dalam tiap 2 jam.
3) Kaji bunyi napas tiap 4 jam.
4) Laporkan penurunan atau tidak adanya bunyi napas pada dokter.
5) Kaji kulit terhadap tanda sianosis dan diaforesis.
6) Pantau dan laporkan gejala gangguan pertukaran gas (kacau mental, gelisah, peka rangsang, penurunan PO2, peningkatan PCO2)
7) Berikan obat penghilang nyeri dengan interval yang tepat untuk mengurangi rasa nyeri dan membantu pasien melakukan latihan batuk dan napas dalam secara efektif.
b) Potensial terhadap kelebihan cairan berhubungan dengan absorbsi cairan irigasi (TURP)
Intervensi :
1) Pantau dan laporkan tanda dan gejala dilusi hiponatremia (rendahnya natrium serum, perubahan status mental, bingung, gelisah, kejang otot, kejang, mual, muntah sesak napas, peningkatan TD).
2) Pantau masukan dan haluaran tiap 4 sampai 8 jam.
3) Dengan cermat hitung irigasi yang dimasukkan dan jumlah yang kembali/keluar; laporkan penurunan aliran keluar.
4) Hentikan irigasi saat tanda pertama kelebihan cairan terjadi; beritahu dokter.
5) Gunakan spuit untuk mengirigasi kateter untuk menghilangkan bekuan jika dipesankan.








DAFTAR PUSTAKA
Purnomo, Basuki B. 2000. Dasar – dasar urologi. Malang: CV Infomedika.

Long, Barbara C. 1996. Pendekatan Medikal Bedah 3, Suatu pendekatan proses keperawatan. Bandung: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran.

Sjamsuhidayat, R ( et al ). 1997. Buku Ajar Bedah. Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC.

Doenges, Marilyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3. Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC.

Hardjowijoto, Sunaryo. 1999. Benign Prostat Hiperplasia. Surabaya: FK UNAIR / RSUD Dr. Soetomo.

Engram, Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah,volume 3. Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC.

Carpenito, Lynda Juall. 1998. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaboratif, edisi 2. Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC.

Santoso, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta : Prima Medika

ASUHAN KEPERAWATAN LUKA BAKAR

A. DEFINISI
Luka bakar merupakan ruda paksa yang disebakan oleh tehnis. Kerusakan yang terjadi pada penderita tidak hanya mengenai kulit saja, tetapi juga organ lain. Penyebab ruda paksa tehnis ini berupa api, air, panas, listrik, bahkan kimia radiasi, dll.
Luka bakar adalah suatu keadaan dimana integritas kulit atau mukosa terputus akibat trauma api, air panas, uap metal, panas, zat kimia dan listrik atau radiasi.
Luka bakar adalah luka yang disebabkan kontak dengan suhu tinggi seperti api, air panas, bahkan kimia dan radiasi, juga sebab kontak dengan suhu rendah (frosh bite). (Mansjoer 2000 : 365)
Jenis – jenis luka bakar
1. Luka bakar listrik
Disebabkan oleh kontak dengan sumber tenaga bervoltage tinggi akibat arus listrik dapat terjadi karena arus listrik mengaliri tubuh karena adanya loncatan arus listrik atau karena ledakan tegangan tinggi antara lain akibat petir. Arus listrik menimbulkan gangguan karena rangsangsan terhadap saraf dan otot. Energi panas yang timbul akibat tahanan jaringan yang dilalui arus menyebabkan luka bakar pada jaringan tersebut. Energi panas dari loncatan arus listrik tegangan tinggi yang mengenai tubuh akan menimbulkan luka bakar yang dalam karena suhu bunga api listrik dapat mencapai 2500oC, arus bolak – balik menimbulkan rangsangan otot yang hebat berupa kejang – kejang.
Urutan tahanan jaringan dimulai dari yang paling rendah yaitu saraf, pembuluh darah, otot, kulit, tendo dan tulang. Pada jaringan yang tahanannya tinggi akan lebih banyak arus yang melewatinya, maka panas yang timbul akan lebih tinggi. Karena epidermisnya lebih tebal, telapak tangan dan kaki mempunyai tahanan listrik lebih tinggi sehingga luka bakar yang terjadi juga lebih berat bila daerah ini terkena arus listrik.
2. Luka bakar kimia
Luka bakar kimia dapat disebabkan oleh zat asam, zat basa dan zat produksi petroleum. Luka bakar alkali lebih berbahaya daripada oleh asam, karena penetrasinya lebih dalam sehingga kerusakan yang ditimbulkan lebih berat. Sedang asam umumnya berefek pada permukaan saja.
Zat kimia dapat bersifat oksidator sepert kaporit, kalium permanganate dan asam kromat. Bahan korosif seperti fenol dan fosfor putih juga larutan basa seperti kalium hidroksida dan natrium hidroksida menyebabkan denaturasi protein. Denaturasi akibat penggaraman dapat disebabkan oleh asam formiat, asetat, tanat, flourat, dan klorida. Asam sulfat merusak sel karena bersifat cepat menarik air. Beberapa bahan dapat menyebabkan keracunan sistemik. Asam florida dan oksalat dapat menyebabkan hipokalsemia. Asam tanat, kromat, pikrat dan fosfor dapat merusak hati dan ginjal kalau diabsorpsi tubuh. Lisol dapat menyebabkan methemoglobinemia.

B. ETIOLOGI
Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ketubuh. Panas tersebut mungkin dipindankan melalui konduksi atau radiasi elektromagnetik. Berbagai faktor dapat menjadi penyebab luka bakar. Beratnya luka bakar juga dipengaruhi oleh cara dan lamanya kontak dengan sumber panas (misal suhu benda yang membakar, jenis pakaian yang terbakar, sumber panas : api, air panas dan minyak panas), listrik, zat kimia, radiasi, kondisi ruangan saat terjadi kebakaran dan ruangan yang tertutup.
Faktor yang menjadi penyebab beratnya luka bakar antara lain :
1. Keluasan luka bakar
2. Kedalaman luka bakar
3. Umur pasien
4. Agen penyebab
5. Fraktur atau luka – luka lain yang menyertai
6. Penyakit yang dialami terdahulu seperti diabetes, jantung, ginjal, dll
7. Obesitas
8. Adanya trauma inhalasi


C. PATOFISIOLOGI
Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas tinggi. Sel darah yang ada didalamnya ikut rusak sehingga dapat menjadi anemia. Mengingat permeabilitas menyebabkan udem dan menimbulkan bula dengan serta elektrolit. Hal itu menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebakan kehilangan cairan tambahan karena penguapan yang berlebihan, cairan masuk kebula yang terbentuk pada luka bakar derajat III dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat III.
Akibat luka bakar, fungsi kulit yang hilang berakibat terjadi perubahan fisiologi. Diantaranya adalah
1. Hilang daya lindung terhadap infeksi
2. Cairan tubuh terbuang
3. Hilang kemampuan mengendalikan suhu
4. Kelenjat keringat dan uap
5. Banyak kehilangan reseptor sensori
Luka bakar mengakibatkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga air, natrium, klorida dan protein akan keluar dari sel dan menyebabkan terjadinya edema yang dapat berlanjut pada keadaan hipovolemia dan hemo konsentrasi. Donna (1991) menyatakan bahwa kehilangan cairan tubuh pada pasien luka bakar dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

1. Peningkatan mineralo kortikoid
a. Retensi air, natrium dan klorida
b. Ekskresi kalium
2. Peningkatan permeabilitas pembuluh darah ; keluarnya elektrolit dan protein dari pembuluh darah.
3. Perbedaan tekan osmotik intra dan ekstrasel.
Kehilangan volume cairan akan mempengaruhi nilai normal cairan dan elektolit tubuh yang selanjutnya akan terlihat dari hasil laboratorium.
Luka bakar akan mengakibatkan tidak hanya kerusakan kulit tetapi juga mempengaruhi sistem tubuh pasien. Seluruh sistem tubuh menunjukkan perubahan reaksi fisiologis sebagai respon kompensasi terhadap luka bakar, yang luas (mayor) tubuh tidak mampu lagi untuk mengkompensasi sehingga timbul berbagai macam komplikasi.
Burn shock (syok hipovolemik)
Burn shock atau shock luka bakar merupakan komplikasi yang sering dialami pasien dengan luka bakar luas karena hipovolemik yang tidak segera diatasi. Manifestasi sistemik tubuh terhadap kondisi ini (Burgess 1991) adalah berupa :
1. Respon kardiovaskuler
Perpindahan cairan dari intravaskuler ke ekstravaskuler melalui kebocoran kapiler yang mengakibatkan kehilangan Na, air dan protein plasma serta edema jaringan yang diikuti dengan penurunan curah jantung, hemokonsentrasi sel darah merah, penurunan perfusi pada organ mayor dan edema menyeluruh.
2. Respon renalis
Dengan menurunnya volume intravaskuler, maka aliran plasma ke ginjal dan GFR (laju filtrasi glomelular) mengakibatkan haluaran urine akan menurun. Jika resusitasi cairan untuk kebutuhan intravaskuler tidak adekuat atau terlambat diberikan, maka akan memungkinkan terjadinnya gagal ginjal akut. Dengan resusitasi cairan yang adekuat, maka cairan interstitial dapat ditarik kembali ke intravaskuler dan akan terjadi fase diuresis.
3. Respon gastro intestinal
Respon umum yang biasa terjadi pada pasien luka bakar >20% adalah penurunan aktifitas gastrointestinal. Hal ini disebabkan oleh kombinasi efek respon hipovolenik dan neurologik serta respon endokrin terhadap adanya perlukaan luas. Pemasangan NGT akan mencegah distensi abdomen, muntah dan potensi aspirasi. Dengan resusitasi yang adekuat, aktifitas gastrointestinal akan kembali normal pada 24 – 48 jam setelah luka bakar.
4. Respon imunologi
a. Respon barier mekanik
Kulit berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri yang penting dari organisme yang mungkin masuk. Terjadi gangguan integritas kulit akan memungkinkan mikroorganisme masuk kedalam tubuh.
b. Respon imun seluler
D. MANIFESTASI KLINIK
Derajat luka bakar
1. Derajat I
Tampak merah dan agak menonjol dari kulit normal disekitarnya, kulit kering, sangat nyeri dan sering disertai sensasi “menyengat”. Jaringan yang rusak hanya epidermis, lama sembuh ± 5 hari dan hasil kulit kembali normal.
2. Derajat II
a) Derajat IIa
Jaringan yang rusak sebagian epidermis, dimana folikel rambut dan kelenjar keringat utuh disertai rasa nyeri dan warna lesi merah atau kuning, lepuh, luka basah, lama sembuh ± 7 – 14 hari dan hasil kulit kembali normal atau pucat.
b) Derajat IIb
Jaringan yang rusak sampai epidermis, dimana hanya kelenjar keringat saja yang utuh. Tanda klinis sama dengan derajat Iia, lama sembuh ±14-21 hari. Hasil kulit pucat, mengkilap, kadang ada cikatrix atau hipertrofi.
3. Derajat III
Jaringan yang rusak seluruh epidermis dan dermis. Kulit tampak pucat, abu – abu gelap atau hitam, tampak retak – retak atau kulit tampak terkelupas, avaskuler, sering dengan bayangan trombosis vena, tidak disertai rasa nyeri. Lama sembuh >21hari dan hasil kulitnya menjadi cikatrik dan hipertropi.

E. PENATALAKSANAAN
1. Penanganan keperawatan
a. Penanganan awal ditempat kejadian
Tindakan yang dilakukan terhadap luka bakar :
1) Jauhkan korban dari sumber panas, jika penyebabnya api, jangan biarkan korban berlari, anjurkan korban untuk berguling – guling atau bungkus tubuh korban dengan kain basah dan pindahkan segera korban ke ruangan yang cukup berventilasi jika kejadian luka bakar berada diruangan tertutup.
2) Buka pakaian dan perhiasan yang dikenakan korban
3) Kaji kelancaran jalan nafas korban, beri bantuan pernafasan korbam dan oksigen bila diperlukan
4) Beri pendinginan dengan merendam korban dalam air bersih yang bersuhu 200C selama 15 – 20 menit segera setelah terjadinya luka bakar
5) Jika penyebab luka bakar adalah zat kimia, siram korban dengan air sebanyak – banyaknya untuk menghilangkan zat kimia dari tubuhnya
6) Kaji kesadaran, keadaan umum, luas dan kedalaman luka bakar serta cedera lain yang menyertai luka bakar
7) Segera bawa korban ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut



b. Penanganan luka bakar di unit gawat darurat
Tindakan yang harus dilakukan terhadap pasien pada 24 jam pettama yaitu :
1) Penilaian keadaan umum pasien. Perhatikan A : Airway (jalan nafas), B : Breathing (pernafasan), C : Circulation (sirkulasi)
2) Penilaian luas dan kedalaman luka bakar
3) Kaji adanya kesulitan menelan atau bicara dan edema saluran pernafasan
4) Kaji adanya faktor – faktor lain yang memperberat luka bakar seperti adanya fraktur, riwayat penyakit sebelumnya (seperti diabetes, hipertensi, gagal ginjal, dll)
5) Pasang infus (IV line), jika luka bakar >20% derajat II / III biasanya dipasang CVP (kolaborasi dengan dokter)
6) Pasang kateter urin
7) Pasang NGT jika diperlukan
8) Beri terapi oksigen sesuai kebutuhan
9) Berikan suntikan ATS / toxoid
10) Perawatan luka :
• Cuci luka dengan cairan savlon 1% (savlon : NaCl = 1 : 100)
• Biarkan lepuh utuh (jangan dipecah kecuali terdapat pada sendi yang mengganggu pergerakan
• Selimuti pasien dengan selimut steril
11) Pemberian obat – obatan (kolaborasi dokter)
• Antasida H2 antagonis
• Roborantia (vitamin C dan A)
• Analgetik
• antibiotik
12) Mobilisasi secara dini
13) Pengaturan posisi
Keterangan :
• Pada 8 jam I diberikan ½ dari kebutuhan cairan
• Pada 8 jam II diberikan ¼ dari kebutuhan cairan
• Pada 8 jam III diberikan sisanya
c. Penanganan luka bakar di unit perawatan intensif
Hal yang perlu diperhatikan selama pasien dirawat di unit ini meliputi :
1) Pantau keadaan pasien dan setting ventilator. Kaji apakah pasien mengadakan perlawanan terhadap ventilator
2) Observasi tanda – tanda vital; tekanan darah, nadi, pernafasan, setiap jam dan suhu setiap 4 jam
3) Pantau nilai CVP
4) Amati neurologis pasien (GCS)
5) Pantau status hemodinamik
6) Pantau haluaran urin (minimal 1ml/kg BB/jam)
7) Auskultasi suara paru setiap pertukaran jaga
8) Cek asalisa gas darah setipa hari atau bila diperlukan
9) Pantau status oksigen
10) Penghisapan lendir (suction) minimal setiap 2jam dan jika perlu
11) Perawatan tiap 2jam (beri boraq gliserin)
12) Perawatan mata dengan memberi salep atau tetes mata setiap 2jam
13) Ganti posisi pasien setiap 3jam (perhatikan posisi yang benar bagi pasien)
14) Fisoterapi dada
15) Perawatan daerah invasif seperti daerah pemasangan CVP, kateter dan tube setiap hari
16) Ganti kateter dan NGT setiap minggu
17) Observasi letak tube (ETT) setiap shift
18) Observasi setiap aspirasi cairan lambung
19) Periksa laboratorium darah : elektrolit, ureum/kreatinin, AGD, proteim (albumin), dan gula darah (kolaborasi dokter)
20) Perawatan luka bakar sesuai protokol rumah sakit
21) Pemberian medikasi sesuai dengan petunjuk dokter



d. Perawatan luka bakar di unit perawatan luka bakar
Terdapat dua jenis perawatan luka selama dirawat di bangsal yaitu :
1) Perawatan terbuka
Yakni luka yang telah diberi obat topical dibiarkan terbuka tanpa balutan dan diberi pelindung cradle bed. Biasanya juga dilakukan untuk daerah yang sulit dibalut seperti wajah, perineum, dan lipat paha
Keuntungan :
• Waktu yang dibutuhkan lebih singkat
• Lebih praktis dan efisien
• Bila terjadi infeksi mudah terdeteksi
Kerugian :
• Pasien merasa kurang nyaman
• Dari segi etika kurang
2) Perawatan tertutup
Yakni penutupan luka dengan balutan kasa steril setelah dibeikan obat topical.
Keuntungan :
• Luka tidak langsung berhubungan dengan udara ruangan (mengurangi kontaminasi)
• Pasien merasa lebih nyaman

Kerugian :
• Balutan sering membatasi gerakan pasien
• Biaya perawatan bertambah
• Butuh waktu perawatan lebih lama
• Pasien merasa nyeri saat balutan dibuka

Urutan prosedur tindakan perawatan luka pada pasien luka bakar antara lain :
1) Cuci / bersihkan luka dengan cairan savlon 1% dan cukur rambut yang tumbuh pada daerah luka bakar sperti pada wajah, aksila, pubis, dll
2) Lakukan nekrotomi jaringan nekrosis
3) Lakukan escharotomy jika luka bakar melingkar (circumferential) dan eschar menekan pembuluh darah. Eskartomi dilakukan oleh dokter
4) Bullae (lepuh) dibiarkan utuh sampai hari ke 5 post luka bakar, kecuali jika di daerah sendi / pergerakan boleh dipecahkan dengan menggunakan spuit steril dan kemudian lakukan nekrotomi
5) Mandikan pasien tiap hari jika mungkin
6) Jika banyak pus, bersihkan dengan betadin sol 2%
7) Perhatikan ekspresi wajah dan keadaan umum pasien selama merawat luka
8) Bilas savlon 1% dengan menggunakan cairan NaCl 0,9%
9) Keringkan menggunakan kasa steril
10) Beri salep silver sulfadiazine (SSD) setebal 0,5cm pada seluruh daerah luka bakar (kecuali wajah hanya jika luka bakar dalam [derajat III] dan jika luka bakar pada wajah derajat I/II, beri salep antibiotika)
11) Tutup dengan kasa steril (perawatan tertutup atau biarkan terbuka (gunakan cradle bed)
e. Terapi psikiater
Mengingat pasien dengan luka bakar mengalami masalah psikis maka perawat perlu bekerja sama dengan psikiatri untuk membantu pasien mengatasi masalah psikisnya, namun bukan berarti menggantikan peran perawat dalam memberikan support dan empati, sehingga diharapkan pasien dapat dapat menerima keadaan dirinya dan dapat kembali kemasyarakat tanpa perasaan terisolasi.
Hal lain yang perlu diingat bahwa sering kali pasien mengalami luka bakar karena upaya bunuh diri atau mencelakakan dirinya sendiri dengan latar belakang gangguan mental atau depresi yang dialaminya sehingga perlu terapi lebih lanjut oleh psikiatris.
f. Terapi fisioterapis
Pasien luka bakar mengalami trauma bukan hanya secara fisik namun secara psikis juga. Pasien juga mengalami nyeri yang hebat sehingga pasien tidak berani untuk menggerakkan anggota tubuhnya terutama ynag mengalami luka bakar. Hal ini akan mengakibatkan berbagai komplikasi terhadap pasien diantaranya yaitu terjadi kontraktur dan defisit fungsi tubuh.
Untuk mencegah terjadinya kontraktur, deformitas dan kemunduran fungsi tubuh, perawat memerlukan kerjasama dengan anggota tim kesehatan lain yaitu fisioterapis. Pasien luka bakar akan mendapatkan latihan yang sesuai dengan kebutuhan fisiknya. Dengan pemberian latihan sedini mungkin dan pengaturan posisi yang sesuai dengan keadaan luka bakar, diharapkan terjadinya kecacatan dapat dicegah atau dinminimalkan. Rehabilitasi dini dapat dilakukan sejak pasien mengalami luka bakar. Hal yang dapat dilakukan oleh perawat adalah dengan memberi posisi.
g. Terapi nutrisi
Ahli gizi diharapkan dapat membantu pasien dalam pemenuhan nutrisi yang tidak hanya memenuhi kecukupan jumlah kalori, protein, lemak, dll tapi terutama juga dalam hal pemenuhan makanan dan cara penyajian yang menarik karena hal ini akan sangat mempengaruhi nafsu makan pasien. Dengan pemberian nutrisi yang kuat serta menu yang variatif, diharapkan pasien dapat mengalami proses penyembuhan luka secara optimal.
Ahli gizi bertugas memberikan penyuluhan tentang gizi pada pasien dan dengan dukungan perawat dan keluarga dalam memberikan motivasi untuk meningkatkan intake nutrisinya maka diharapkan kebutuhan nutrisi yang adekuat bagi pasien terpenuhi.

Penentuan kebutuhan energi pasien luka bakar menurut CURRERI :
Dewasa (18tahun) :
(25kcal x BB ideal) + (40kcal x % luka bakar)
Anak – anak :
(kalori basal menurut umur x BB ideal) + (40kcal x % luka bakar)
Berat badan yang digunakan adalah berat badan ideal yaitu :
Dewasa :
BB ideal (kg) = TB (cm) – 100 – 10% dari (TB – 100)
Anak – anak :
BB ideal (kg) = (umur dalam bulan : 2) + 4 atau
(umur dalam tahun x 2) = 8

Energi basal untuk bayi dan anak menurut umur
Umur
(tahun) Energi basal
Laki – laki (kcal) Perempuan (kcal)
0 – 1
1 – 3
4 – 6
6 – 9
10 – 14
14 – 18 55 – 60
50
45
40 – 45
25 – 25
20 – 25 55 – 60
50
45
30 – 40
20 – 55
20

Kecukupan protein untuk bayi dan anak menurut umur
Golongan umur (Tahun) Kecukupan protein (gr/kg BB)
0 – 1
1 – 3
4 – 6
6 – 10
10 – 18 2,5
2
1,8
1,5
1 – 1,5

Perhitungan kebutuhan protein untuk pasien luka bakar dengan rumus DAVIEZ dan LILIJEDAHL
Dewasa (18 tahun)
(1gr x kg BB ideal) + (3gr x % total luas luka bakar)
Anak – anak
(Kebutuhan protein menurut umur x kg BB ideal) + (3gr x % total luka
bakar)
Kebutuhan lemak bagi pasien luka bakar menurut GOODENOUGH dan WOLFE adalah sebesar 30% dari total energi.
Kebutuhan karbohidrat untuk pasien luka bakar menurut CURRERI adalah 60 – 70% dari total energi dengan keadaan atau lokasi luka bakar yang dialami.
2. Penanganan medis
Tindakan yang dilakukan dalam pelaksanaan pasien luka bakar antara lain terapi cairan dan terapi obat – obatan topical.
a. Pemberian cairan intravena
Tiga macam cairan diperlukan dalam kalkulasi kebutuhan pasien :
1) Koloid termasuk plasma dan plasma expander seperti dextran
2) Elektolit seperti NaCl, larutan ringer, larutan Hartman atau larutan tirode
3) Larutan non elektrolit seperti glukosa 5%

Sebelum infus diberikan, luas dan dalamnya luka bakar harus ditentukan secara teliti. Kemudian jumlah cairan infus yang akan diberikan dihitung. Ada beberapa cara untuk menghitung kebutuhan cairan ini.
Pemberian cairan ada beberapa formula :
1) Formula Baxter hanya memakai cairan RL dengan jumlah : % luas luka bakar x BB (kg) x 4cc diberikan ½ 8 jam I dan ½ nya 16 jam berikut untuk hari ke 2 tergantung keadaan.
2) Formula Evans
• Cairan yang diberikan adalah saline
• Elektrolit dosis : 1cc x BB kg x % luka bakar
• Koloid dosis : 1cc x Bb kg x % luka bakar
• Glukosa : - Dewasa : 2000cc
- Anak : 1000cc
3) Formula Brook
• Cairan yang diberikan adalah Ringer Laktat
• Elektrolit : 1,5cc x BB kg x % luka bakar
• Koloid : 0,5cc x Bb kg x % luka bakar
• Dektros : - Dewasa : 2000cc
- Anak : 1000cc
4) Formula farkland
• Cairan yang diberikan adalah Ringer Laktat
• Elektrolit : 4cc x BB kg x % luka bakar
b. Terapi obat – obatan topical
Ada berbagai jenis obat topical yang dapat digunakan pada pasien luka bakar antara lain :
1) Mafenamid Acetate (sulfamylon)
Indikasi : Luka dengan kuman pathogen gram positif dan negatif, terapi pilihan untuk luka bakar listrik dan pada telinga.
Keterangan : Berikan 1 – 2 kali per hari dengan sarung tangan steril, menimbulkan nyeri partial thickness burn selama 30 menit, jangan dibalut karena dapat merngurangi efektifitas dan menyebabkan macerasi.
2) Silver Nitrat
Indikasi : Efektif sebagai spectrum luas pada luka pathogen dan infeksi candida, digunakan pada pasien yang alergi sulfa atau tosix epidermal nekrolisis.
Keterangan : Berikan 0,5% balutan basah 2 – 3 kali per hari, yakinkan balutan tetap lembab dengan membasahi setiap 2 jam.
3) Silver Sulfadiazine
Indikasi : Spektrum luas untukmicrobial pathogen ; gunakan dengan hati – hati pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau hati.
Keterangan : Berikan 1 – 2 kali per hari dengan sarung steril, biarkan luka terbuka atau tertutup dengan kasa steril.
4) Povidone Iodine (Betadine)
Indikasi : Efektif terhadap kuman gram positif dan negatif, candida albican dan jamur.
Keterangan : Tersedia dalam bentuk solution, sabun dan salep, mudah digunakan dengan sarung tangan steril, mempunyai kecenderungan untuk menjadi kerak dan menimbulkan nyeri, iritasi, mengganggu pergerakan dan dapat menyebabkan asidosis metabolik.
Dengan pemberian obat – obatan topical secara tepat dan efektif, diharapkan dapat mengurangi terjadinya infeksi luka dan mencegah sepsis yang seringkali masih menjadi penyebab kematian pasien.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratoriyum darah yang meliputi :
1. Hb, Ht, trombosit
2. Protein total (albumin dan globulin)
3. Ureum dan kreatinin
4. Elektrolit
5. Gula darah
6. Analisa gas darah (jika perlu lakukan tiap 12 jam atau minimal tiap hari)
7. Karboksihaemoglobin
8. Tes fungsi hati / LFT

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

A. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan melalui rute abnormal
2. Resiko tinggi terhadap perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan atau interupsi aliran darah arterial atau vena
3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, kerusakan perlindungan kulit
4. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan kulit atau jaringan, pembentukan edema
B. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan melalui rute abnormal
Tujuan dan kriteria hasil :
Menunjukkan perbaikan dibuktikan oleh haluaran urin individu adekuat, tanda vital stabil dan membran mukosa lembab.
Intervensi :
a. Awasi tanda – tanda vital
Memberi pedoman untuk penggantian cairan dan mengkaji respon kardiovaskuler. Catatan pemngamtan infasif diindikasikan untuk pasien dengan luka bakar mayor inhalasi asap atau penyakit jantung sebelumnya meskipun terdapat hubungan peningkatan resiko infeksi, perlu berhati – hati dalam mengawasi dan merawat sisi inversi.
b. Awasi haluaran urin dan berat jenis. Observasi warna urin dan hemates sesuai indikasi
Secara umum, penggantian cairan harus dititrasi untuk menyakinkan rata – rata haluaran urin 30 – 50 ml/jam (pada orang dewasa). Urin dapat tampak merah sampai hitam, pada kerusakan otot massif sehubungan dengan adanya darah dan keluarnya mioglobin. Bila terjadi mioglobinuria menyolok, minimum haluran urin harus 75 – 100 ml/jam untuk mencegah kerusakan atau nekrosis tubulus.
c. Perkirakan drainase luka dan kehilangan yang tak tampak
Peningkatan permeabilitas kapiler, perpindahan protein, proses inflamsi dan kehilangan melalui evaporasi besar mempengaruhi volume sirkulasi dan haluaran urin, khususnya selama 24 – 72 jam pertama setelah terbakar.
d. Observasi distansi abdomen, hematemesis, feses hitam. Hemates drainase NG dan feses secara periodik
Stres (curling) ulkus terjadi pada setengah dari semua pasien yang luka bakar berat (dapat terjadi pada awal minggu pertama).

2. Resiko tinggi terhadap perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan atau interupsi aliran darah arterial atau vena
Tujuan dan kriteria hasil :
Mempertahankan nadi perifer teraba dengan kualitas atau kekuatan sama ; pengisian kapiler dan warna kulit normal pada area yang cedera.
Intervensi :
a. Kaji warna, sensasi, gerakan, nadi perifer (melalui dopler) dan pengisian kapiler pada ekstremitas luka bakar melingkar. Bandingkan dengan hasil pada tungkai yang tidak sakit.
Pembentukan edema dapat secara cepat menekan pembuluh darah, sehingga mempengaruhi sirkulasi dan peningkatan statis vena / edema. Perbedaan dengan tungkai yang tak sakit membantu membedakan masalah sistemik dengan lokal (contoh hipovolemia / penurunan curah jantung)
b. Tinggikan ekstremitas yang sakit dengan tepat. Lepaskan perhiasan / jam tangan. Hindari memplester sekitar ektremitas / jari yang terbakar.
Meningkatkan sirkulasi sistemik / aliran balik vena dan dapat menurunkan edema atau pengaruh gangguan lain yang mempengaruhi konstruksi jaringan edema. Peninggian yang lama dapat mengganggu perfusi atrial bila TD turun atau tekanan jaringan meningkat secara berlebihan.
c. Dorong latihan rentang gerak aktif pada bagian tubuh yang tak sakit.
Meningkatkan sirkulasi lokal dan sistemik.

3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, kerusakan perlindungan kulit
Tujuan dan kriteria hasil :
Mencapai penyembuhan luka tepat waktu, bebas eksudat purulen dan tidak demam.
Intervensi :
a. Tekankan pentingnya tehnik cuci tangan yang baik untuk semua individu yang datang kontak dengan pasien.
Mencegah kontaminasi silang, menurunkan resiko infeksi.
b. Gunakan skort, sarung tangan, masker dan tehnik aseptik ketat selama perawatan luka langsung dan berikan pakaian steril / baju juga linen / pakaian.
Mencegah terpajan pada organisme infeksius.
c. Ganti balutan dan bersihkan area terbakar dalam bak hidroterapi atau pancuran dengan kepala, pancuran dapat dipegang. Pertahankan suhu air pada 37,80C. Cuci area dengan agen pembersih ringan atau sabun bedah.
Air melembutkan dan membantu membuang balutan dan jaringan parut (lapisan kulit mati atau jaringan). Sumbernya bervariasi dari kamar mandi atau pancuran. Air mandi mempunyai keuntungan memberi dukungan untuk latihan ekstremitas tetapi dapat meningkatkan kontaminasi silang pada luka. Pancuran meningkatkan inspeksi luka dan mencegah kontaminasi dari debris yang mengapung.
d. Bersihkan jaringan nekrotik / yang lepas (termasuk pecahnya lepuh) dengan gunting dan forsep. Jangan gaggu lepuh yang utuh bila lebih kecil dari 2 – 3 cm, jangan pengaruhi fungsi sendi dan jangan pajankan luka yang terinfeksi.
Meningkatkan penyembuhan. Mencegah autokontaminasi. Lepuh yang kecil membantu melindungi kulit dan meningkatkan kecepatan repitelisasi kecuali luka bakar akibat dari kimia (dimana kasus cairan lepuh mengandung zat yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan).

4. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan kulit atau jaringan, pembentukan edema
Tujuan dan kriteria hasil :
a. Melaporkan nyeri berkurang / terkontrol.
b. Menunjukkan ekspresi wajah / postur tubuh rileks.
c. Berpartisipasi dalam aktifitas dan tidur / istirahat dengan tepat.
Intervensi :
a. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi / karakter dan intesitas (skala 0 – 10).
Nyeri hampir selalu ada pada beberapa derajat beratnya keterlibatan jaringan / kerusakan tetapi biasanya paling berat selama penggantian balutan dan debridemen. Perubahan lokasi / karakter / intensitas dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi (contoh iskemia tungkai) atau perbaikan / kembalinya fungsi saraf / sensasi.
b. Dorong ekspresi perasaan tentang nyeri
Pernyataan memungkinkan pengungkapan emosi dan dapat meningkatkan mekanisme koping.
c. Dorong penggunaan tehnik manajemen stres, contoh relaksasi progresif, nafas dalam, bimbingan imajinasi dan visualisasi.
Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi dan ras control yang dapat menurrunkan ketergantungan farmakologis.
d. Tingkatkan periode tidur tanpa gangguan.
Kekurangan tidur dapat meningkatkan persepsi nyeri / kemampuan koping menurun.