Senin, 02 Agustus 2010

ASUHAN KEPERAWATAN Bronkopneumonia

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN BRONKOPNEUMONIA


1. Definisi
Pneumonia merupakan peradangan akut parenkim paru-paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi. (Price, 1995)
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan gangguan pertukaran gas setempat. (Zul, 2001)
Bronkopneumonia digunakan unutk menggambarkan pneumonia yang mempunyai pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi didalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. Pada bronkopneumonia terjadi konsolidasi area berbercak. (Smeltzer,2001).

2. Klasifikasi Pneumonia
Klasifikasi menurut Zul Dahlan (2001) :
a. Berdasarkan ciri radiologis dan gejala klinis, dibagi atas :
F Pneumonia tipikal, bercirikan tanda-tanda pneumonia lobaris dengan opasitas lobus atau lobularis.
F Pneumonia atipikal, ditandai gangguan respirasi yang meningkat lambat dengan gambaran infiltrat paru bilateral yang difus.
b. Berdasarkan faktor lingkungan
F Pneumonia komunitas
F Pneumonia nosokomial
F Pneumonia rekurens
F Pneumonia aspirasi
F Pneumonia pada gangguan imun
F Pneumonia hipostatik
c. Berdasarkan sindrom klinis
F Pneumonia bakterial berupa : pneumonia bakterial tipe tipikal yang terutama mengenai parenkim paru dalam bentuk bronkopneumonia dan pneumonia lobar serta pneumonia bakterial tipe campuran atipikal yaitu perjalanan penyakit ringan dan jarang disertai konsolidasi paru.
F Pneumonia non bakterial, dikenal pneumonia atipikal yang disebabkan Mycoplasma, Chlamydia pneumoniae atau Legionella.

Klasifikasi berdasarkan Reeves (2001) :
a. Community Acquired Pneunomia dimulai sebagai penyakit pernafasan umum dan bisa berkembang menjadi pneumonia. Pneumonia Streptococal merupakan organisme penyebab umum. Tipe pneumonia ini biasanya menimpa kalangan anak-anak atau kalangan orang tua.
b. Hospital Acquired Pneumonia dikenal sebagai pneumonia nosokomial. Organisme seperti ini aeruginisa pseudomonas. Klibseilla atau aureus stapilococcus, merupakan bakteri umum penyebab hospital acquired pneumonia.
c. Lobar dan Bronkopneumonia dikategorikan berdasarkan lokasi anatomi infeksi. Sekarang ini pneumonia diklasifikasikan menurut organisme, bukan hanya menurut lokasi anatominya saja.
d. Pneumonia viral, bakterial dan fungi dikategorikan berdasarkan pada agen penyebabnya, kultur sensifitas dilakukan untuk mengidentifikasikan organisme perusak.

3. Etiologi
a. Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan streptococcus pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P. Aeruginosa.
b. Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet. Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
c. Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah serta kompos.
d. Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2001)

4. Pathways BrPn

5. Manifestasi Klinis
a. Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan
F Nyeri pleuritik
F Nafas dangkal dan mendengkur
F Takipnea
b. Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi
F Mengecil, kemudian menjadi hilang
F Krekels, ronki, egofoni
c. Gerakan dada tidak simetris
d. Menggigil dan demam 38,8 ° C sampai 41,1°C, delirium
e. Diafoesis
f. Anoreksia
g. Malaise
h. Batuk kental, produktif
F Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau berkarat
i. Gelisah
j. Sianosis
F Area sirkumoral
F Dasar kuku kebiruan
k. Masalah-masalah psikososial : disorientasi, ansietas, takut mati

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Sinar x : mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses luas/infiltrat, empiema(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bakterial); atau penyebaran /perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia mikoplasma sinar x dada mungkin bersih.
b. GDA : tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
c. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : diambil dengan biopsi jarum, aspirasi transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk mengatasi organisme penyebab.
d. JDL : leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada infeksi virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia bakterial.
e. Pemeriksaan serologi : titer virus atu legionella, aglutinin dingin.
f. LED : meningkat
g. Pemeriksaan fungsi paru : volume ungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar); tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain menurun, hipoksemia.
h. Elektrolit : natrium dan klorida mungkin rendah
i. Bilirubin : mungkin meningkat
j. Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka :menyatakan intranuklear tipikal dan keterlibatan sitoplasmik(CMV) (Doenges, 1999)



7. Penatalaksanaan
a. Terapi oksigen jika pasien mengalami pertukaran gas yang tidak adekuat. Ventilasi mekanik mungkin diperlukan jika nilai normal GDA tidak dapat dipertahankan
b. Blok saraf interkostal untuk mengurangi nyeri
c. Pada pneumonia aspirasi bersihkan jalan nafas yang tersumbat
d. Perbaiki hipotensi pada pneumonia aspirasi dengan penggantian volume cairan
e. Terapi antimikrobial berdasarkan kultur dan sensitivitas
f. Supresan batuk jika batuk bersifat nonproduktif
g. Analgesik untuk mengurangi nyeri pleuritik

8. Pengkajian
h. Aktivitas / istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
Tanda : Letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas
i. Sirkulasi
Gejala : riwayat gagal jantung kronis
Tanda : takikardi, penampilan keperanan atau pucat

j. Integritas Ego
Gejala : banyak stressor, masalah finansial
k. Makanan / Cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, mual / muntah, riwayat DM
Tanda : distensi abdomen, hiperaktif bunyi usus, kulit kering dengan turgor
buruk, penampilan malnutrusi
l. Neurosensori
Gejala : sakit kepala dengan frontal
Tanda : perubahan mental
m. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : sakit kepala nyeri dada meningkat dan batuk myalgia, atralgia
n. Pernafasan
Gejala : riwayat PPOM, merokok sigaret, takipnea, dispnea, pernafasan dangkal, penggunaan otot aksesori, pelebaran nasal
Tanda : sputum ; merah muda, berkarat atau purulen
Perkusi ; pekak diatas area yang konsolidasi, gesekan friksi pleural
Bunyi nafas : menurun atau tak ada di atas area yang terlibat atau nafas Bronkial
Framitus : taktil dan vokal meningkat dengan konsolidasi
Warna : pucat atau sianosis bibir / kuku
o. Keamanan
Gejala : riwayat gangguan sistem imun, demam
Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar, kemerahan, mungkin pada kasus rubeda / varisela
p. Penyuluhan
Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis



II. Diagnosa keperawatan dan intervensi
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif
Dapat dihubungkan dengan :
§ Inflamasi trakeobronkial, pembentukan oedema, peningkatan produksi sputum
§ Nyeri pleuritik
§ Penurunan energi, kelemahan
Kemungkinan dibuktikan dengan :
§ Perubahan frekuensi kedalaman pernafasan
§ Bunyi nafas tak normal, penggunaan otot aksesori
§ Dispnea, sianosis
§ Bentuk efektif / tidak efektif dengan / tanpa produksi sputum
Kriteria Hasil :
§ Menunjukkan perilaku mencapai kebersihan jalan nafas
§ Menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih, tak ada dispnea atau sianosis
Intervensi :
Mandiri
§ Kali frekuensi / kedalaman pernafasan dan gerakan dada
§ Auskultasi paru catat area penurunan / tak ada aliran udara dan bunyi nafas tambahan (krakles, mengi)
§ Bantu pasien untuk batuk efektif dan nafas dalam
§ Penghisapan sesuai indikasi
§ Berikan cairan sedikitnya 2500 ml/hari
Kolaborasi
§ Bantu mengawasi efek pengobatan nebulizer dan fisioterapi lain
§ Berikan obat sesuai indikasi : mukolitik, ekspetoran, bronkodilator, analgesik
§ Berikan cairan tambahan
§ Awasi seri sinar X dada, GDA, nadi oksimetri
§ Bantu bronkoskopi / torakosintesis bila diindikasikan
2. Kerusakan pertukaran gas dapat dihubungkan dengan
§ Perubahan membran alveolar – kapiler (efek inflamasi)
§ Gangguan kapasitas oksigen darah
Kemungkinan dibuktikan oleh :
§ Dispnea, sianosis
§ Takikandi
§ Gelisah / perubahan mental
§ Hipoksia
Kriteria Hasil :
§ Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tak ada gejala distress pernafasan
§ Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigen
Intervensi :
Mandiri
§ Kaji frekuensi, kedalaman dan kemudahan bernafas
§ Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku
§ Kaji status mental
§ Awasi status jantung / irama
§ Awasi suhu tubuh, sesui indikasi. Bantu tindakan kenyamanan untuk menurunkan demam dan menggigil
§ Pertahankan istirahat tidur
§ Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, nafas dalam dan batuk efektif
§ Kaji tingkat ansietas. Dorong menyatakan masalah / perasaan.
Kolaborasi
§ Berikan terapi oksigen dengan benar
§ Awasi GDA
3. Pola nafas tidak efektif
Dapat dihubungkan dengan :
§ Proses inflamasi
§ Penurunan complience paru
§ Nyeri
Kemungkinan dibuktikan oleh :
§ Dispnea, takipnea
§ Penggunaan otot aksesori
§ Perubahan kedalaman nafas
§ GDA abnormal
Kriteria Hasil :
§ Menunjukkan pola pernafasan normal / efektif dengan GDA dalam rentang normal
Intervensi :
Mandiri
§ Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada
§ Auskultasi bunyi nafas
§ Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi
§ Observasi pola batuk dan karakter sekret
§ Dorong / bantu pasien dalam nafas dalam dan latihan batuk efektif
Kolaborasi
§ Berikan Oksigen tambahan
§ Awasi GDA

4. Peningkatan suhu tubuh
Dapat dihubungkan : proses infeksi
Kemungkinan dibuktikan oleh :
§ Demam, penampilan kemerahan
§ Menggigil, takikandi
Kriteria Hasil :
§ Pasien tidak memperlihatkan tanda peningkatan suhu tubuh
§ Tidak menggigil
§ Nadi normal
Intervensi :
Mandiri
§ Obeservasi suhu tubuh (4 jam)
§ Pantau warna kulit
§ Lakukan tindakan pendinginan sesuai kebutuhan
Kolaborasi
§ Berikan obat sesuai indikasi : antiseptik
§ Awasi kultur darah dan kultur sputum, pantau hasilnya setiap hari
5. Resiko tinggi penyebaran infeksi
Dapat dihubungkan dengan :
§ Ketidakadekuatan pertahanan utama
§ Tidak adekuat pertahanan sekunder (adanya infeksi, penekanan imun)
Kemungkinan dibuktikan oleh :
§ Tidak dapat diterapkan tanda-tanda dan gejala-gejala membuat diagnosa aktual
Kriteria Hasil :
§ Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi
§ Mengidentifikasikan intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi
Intervensi :
Mandiri
§ Pantau TTV
§ Anjurkan klien memperhatikan pengeluaran sekret dan melaporkan perubahan warna jumlah dan bau sekret
§ Dorong teknik mencuci tangan dengan baik
§ Ubah posisi dengan sering
§ Batasi pengunjung sesuai indikasi
§ Lakukan isolasi pencegahan sesuai individu
§ Dorong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang.
Kolaborasi
§ Berikan antimikrobal sesuai indikasi
6. Intoleran aktivitas
Dapat dihubungkan dengan
§ Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
§ Kelemahan, kelelahan
Kemungkinan dibuktikan dengan :
§ Laporan verbal kelemahan, kelelahan dan keletihan
§ Dispnea, takipnea
§ Takikandi
§ Pucat / sianosis
Kriteria Hasil :
§ Melaporkan / menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tak adanya dispnea, kelemahan berlebihan dan TTV dalam rentang normal
Intervensi :
Mandiri
§ Evaluasi respon klien terhadap aktivitas
§ Berikan lingkungan terang dan batasi pengunjung
§ Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat
§ Bantu pasien memilih posisi yang nyaman untuk istirahat / tidur
§ Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan


7. Nyeri
Dapat dihubungkan dengan :
§ Inflamasi parenkim paru
§ Reaksi seluler terhadap sirkulasi toksin
§ Batuk menetap
Kemungkinan dibuktikan dengan :
§ Nyeri dada
§ Sakit kepala, nyeri sendi
§ Melindungi area yang sakit
§ Perilaku distraksi, gelisah
Kriteria Hasil :
§ Menyebabkan nyeri hilang / terkontrol
§ Menunjukkan rileks, istirahat / tidur dan peningkatan aktivitas dengan cepat
Intervensi :
Mandiri
§ Tentukan karakteristik nyeri
§ Pantau TTV
§ Ajarkan teknik relaksasi
§ Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk.
8. Resti nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Dapat dihubungkan dengan :
§ Peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi
§ Anoreksia distensi abdomen
Kriteria Hasil :
§ Menunjukkan peningkatan nafsu makan
§ Berat badan stabil atau meningkat
Intervensi :
Mandiri
§ Indentifikasi faktor yang menimbulkan mual atau muntah
§ Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin
§ Auskultasi bunyi usus
§ Berikan makan porsi kecil dan sering
§ Evaluasi status nutrisi

9. Resti kekurangan volume cairan
Faktor resiko :
§ Kehilangan cairan berlebihan (demam, berkeringan banyak, hiperventilasi, muntah)
Kriteria Hasil :
§ Balance cairan seimbang
§ Membran mukosa lembab, turgor normal, pengisian kapiler cepat
Intervensi :
Mandiri
§ Kaji perubahan TTV
§ Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa
§ Catat laporan mual / muntah
§ Pantau masukan dan keluaran, catat warna, karakter urine
§ Hitung keseimbangan cairan
§ Asupan cairan minimal 2500 / hari
Kolaborasi
§ Berikan obat sesuai indikasi ; antipirotik, antiametik
§ Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan



10. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan tindakan
Dapat dihubungkan dengan :
§ Kurang terpajan informasi
§ Kurang mengingat
§ Kesalahan interpretasi
Kemungkinan dibuktikan oleh :
§ Permintaan informasi
§ Pernyataan kesalahan konsep
§ Kesalahan mengulang
Kriteria Hasil :
§ Menyatakan permahaman kondisi proses penyakit dan pengobatan
§ Melakukan perubahan pola hidup
Intervensi
Mandiri
§ Kaji fungsi normal paru
§ Diskusikan aspek ketidakmampuan dari penyakit, lamanya penyembuhan dan harapan kesembuhan
§ Berikan dalam bentuk tertulis dan verbal
§ Tekankan pentingnya melanjutkan batuk efektif
§ Tekankan perlunya melanjutkan terapi antibiotik selama periode yang dianjurkan.




DAFTAR PUSTAKA

1. Doenges, Marilynn.(2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakata : EGC.
2. Smeltzer, Suzanne C.(2000). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume I, Jakarta : EGC
Zul Dahlan.(2000). Ilmu Penyakit Dalam. Edisi II, Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
4. Reevers, Charlene J, et all (2000). Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta : Salemba Medica.
Lackman’s (1996). Care Principle and Practise Of Medical Surgical Nursing, Philadelpia : WB Saunders Company.
Nettina, Sandra M.(2001).Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta : EGC
Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994
Pasiyan Rahmatullah.(1999), Geriatri : Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Editor : R. Boedhi Darmoso dan Hadi Martono, Jakarta, Balai Penerbit FKUI

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN EFUSI PLEURA

Definisi
• Efusi pleura adalah suatu keadaan
dimana terdapat cairan berlebihan di
rongga pleura, dimana kondisi ini jika
dibiarkan akan membahayakan jiwa
penderitanya (John Gibson, MD, 1995,
Waspadji Sarwono (1999, 786)
• Efusi pleura adalah suatu keadaan
dimana terdapat penumpukan cairan
dari dalam kavum pleura diantara
pleura parietalis dan pleura viseralis
dapat berupa cairan transudat atau
cairan eksudat ( Pedoman Diagnosis
danTerapi / UPF ilmu penyakit paru,
1994, 111).
Etiologi
• Penyebab efusi pleura bisa
bermacam-macam seperti gagal
jantung, adanya neoplasma
(carcinoma bronchogenic dan akibat
metastasis tumor yang berasal dari
organ lain), tuberculosis paru, infark
paru, trauma, pneumoni, syndroma
nefrotik, hipoalbumin dan lain
sebagainya. (Allsagaaf H, Amin M
Saleh, 1998, 68)
Patofisiologi
• Dalam keadaan normal hanya
terdapat 10-20 ml cairan di dalam
rongga pleura.
• Jumlah cairan di rongga pleura tetap,
karena adanya tekanan hidrostatis
pleura parietalis sebesar 9 cm H2O.
• Akumulasi cairan pleura dapat terjadi
apabila tekanan osmotik koloid
menurun misalnya pada penderita
hipoalbuminemia dan bertambahnya
permeabilitas kapiler akibat ada
proses keradangan atau neoplasma,
bertambahnya tekanan hidrostatis
akibat kegagalan jantung dan tekanan
negatif intra pleura apabila terjadi
atelektasis paru (Alsagaf H, Mukti A,
1995, 145).
• Effusi pleura berarti terjadi
pengumpulan sejumlah besar cairan
bebas dalam kavum pleura.
Kemungkinan penyebab efusi antara
lain
1.penghambatan drainase limfatik dari
rongga pleura
2.gagal jantung yang menyebabkan
tekanan kapiler paru dan tekanan
perifer menjadi sangat tinggi sehingga
menimbulkan transudasi cairan yang
berlebihan ke dalam rongga pleura
3.sangat menurunnya tekanan osmotik
kolora plasma, jadi juga
memungkinkan transudasi cairan
yang berlebihan
4.infeksi atau setiap penyebab
peradangan apapun pada
permukaan pleura dari rongga
pleura, yang memecahkan
membran kapiler dan
memungkinkan pengaliran protein
plasma dan cairan ke dalam
rongga secara cepat (Guyton dan
Hall , Egc, 1997, 623-624).
Tanda & Gejala
-Manifestasi klinik efusi pleura akan
tergantung dari jumlah cairan yang ada
serta tingkat kompresi paru.
-Jika jumlah efusinya sedikit (misalnya <
250 ml), mungkin belum menimbulkan
manifestasi klinik dan hanya dapat
dideteksi dengan X-ray foto thorakks.
Dengan membesarnya efusi akan
terjadi restriksi ekspansi paru dan
pasien mungkin mengalami :
1.Dispneu bervariasi
2.Nyeri pleuritik biasanya mendahului
efusi sekunder akibat penyakit pleura
3.Trakea bergeser menjauhi sisi yang
mengalami efusi
4.Ruang interkostal menonjol (efusi
yang berat)
5.Pergerakan dada berkurang dan
terhambat pada bagian yang terkena
6.Perkusi meredup di atas efusi pleura
7.Egofoni di atas paru-paru yang
tertekan dekat efusi
8.Suara nafas berkurang di atas efusi
pleura
9.Fremitus vokal dan raba berkurang
Penatalaksanaan
• Drainase cairan jika efusi
menimbulkan gejala subyektif seperti
nyeri, dyspnea
• Antibiotik jika terjadi empiema
• Pleurodesis
• Operatif
Pengkajian keperawatan
Identitas Pasien
Pada tahap ini perawat perlu
mengetahui tentang nama, umur, jenis
kelamin, alamat rumah, agama atau
kepercayaan, suku bangsa, bahasa
yang dipakai, status pendidikan dan
pekerjaan pasien.
Keluhan Utama
• Keluhan utama merupakan faktor
utama yang mendorong pasien
mencari pertolongan atau berobat ke
rumah sakit.
• Biasanya pada pasien dengan effusi
pleura didapatkan keluhan berupa :
sesak nafas, rasa berat pada dada,
nyeri pleuritik akibat iritasi pleura yang
bersifat tajam dan terlokasilir terutama
pada saat batuk dan bernafas serta
batuk non produktif.
Riwayat Penyakit Sekarang
• Pasien dengan effusi pleura biasanya
akan diawali dengan adanya tandatanda
seperti batuk, sesak nafas, nyeri
pleuritik, rasa berat pada dada, berat
badan menurun dan sebagainya.
• Perlu juga ditanyakan mulai kapan
keluhan itu muncul. Apa tindakan yang
telah dilakukan untuk menurunkan
atau menghilangkan keluhankeluhannya
tersebut.
Riwayat Penyakit Dahulu
• Perlu ditanyakan apakah pasien
pernah menderita penyakit seperti
TBC paru, pneumoni, gagal jantung,
trauma, asites dan sebagainya. Hal ini
diperlukan untuk mengetahui
kemungkinan adanya faktor
predisposisi.
Riwayat Penyakit Keluarga
>Perlu ditanyakan apakah ada anggota
keluarga yang menderita penyakitpenyakit
yang disinyalir sebagai
penyebab effusi pleura seperti Ca paru,
asma, TB paru dan lain sebagainya
Riwayat Psikososial
>Meliputi perasaan pasien terhadap
penyakitnya, bagaimana cara
mengatasinya serta bagaimana perilaku
pasien terhadap tindakan yang
dilakukan terhadap dirinya.
Pengkajian Pola Fungsi
Pola persepsi dan tata laksana hidup
sehat
• Adanya tindakan medis dan
perawatan di rumah sakit
mempengaruhi perubahan persepsi
tentang kesehatan, tapi kadang juga
memunculkan persepsi yang salah
terhadap pemeliharaan kesehatan.
• Kemungkinan adanya riwayat
kebiasaan merokok, minum alkohol
dan penggunaan obat-obatan bisa
menjadi faktor predisposisi timbulnya
penyakit.
Pola nutrisi dan metabolisme
• Dalam pengkajian pola nutrisi dan
metabolisme, kita perlu melakukan
pengukuran tinggi badan dan berat
badan untuk mengetahui status nutrisi
pasien,
• Perlu ditanyakan kebiasaan makan
dan minum sebelum dan selama
MRS pasien dengan effusi pleura akan
mengalami penurunan nafsu makan
akibat dari sesak nafas dan
penekanan pada struktur abdomen.
• Peningkatan metabolisme akan terjadi
akibat proses penyakit. pasien dengan
effusi pleura keadaan umumnya
lemah.
Pola eliminasi
• Dalam pengkajian pola eliminasi perlu
ditanyakan mengenai kebiasaan
defekasi sebelum dan sesudah MRS.
• Karena keadaan umum pasien yang
lemah, pasien akan lebih banyak bed
rest sehingga akan menimbulkan
konstipasi, selain akibat pencernaan
pada struktur abdomen menyebabkan
penurunan peristaltik otot-otot
tractus degestivus.
Pola aktivitas dan latihan
• Akibat sesak nafas, kebutuhan O2
jaringan akan kurang terpenuhi
• Pasien akan cepat mengalami
kelelahan pada aktivitas minimal.
• Disamping itu pasien juga akan
mengurangi aktivitasnya akibat
adanya nyeri dada.
• Untuk memenuhi kebutuhan ADL nya
sebagian kebutuhan pasien dibantu
oleh perawat dan keluarganya.
Pola tidur dan istirahat
• Adanya nyeri dada, sesak nafas dan
peningkatan suhu tubuh akan
berpengaruh terhadap pemenuhan
kebutuhan tidur dan istitahat,
• Selain itu akibat perubahan kondisi
lingkungan dari lingkungan rumah
yang tenang ke lingkungan rumah
sakit, dimana banyak orang yang
mondar-mandir, berisik dan lain
sebagainya.
Pola hubungan dan peran
• Akibat dari sakitnya, secara langsung
pasien akan mengalami perubahan
peran, misalkan pasien seorang ibu
rumah tangga, pasien tidak dapat
menjalankan fungsinya sebagai
seorang ibu yang harus mengasuh
anaknya, mengurus suaminya.
• Disamping itu, peran pasien di
masyarakatpun juga mengalami
perubahan dan semua itu
mempengaruhi hubungan
interpersonal pasien.
Pola persepsi dan konsep diri
• Persepsi pasien terhadap dirinya akan
berubah.
• Pasien yang tadinya sehat, tiba-tiba
mengalami sakit, sesak nafas, nyeri
dada. Pasien mungkin akan
beranggapan bahwa penyakitnya
adalah penyakit berbahaya dan
mematikan.
• Dalam hal ini pasien mungkin akan
kehilangan gambaran positif terhadap
dirinya
Pola sensori dan kognitif
• Fungsi panca indera pasien tidak
mengalami perubahan, demikian juga
dengan proses berpikirnya.
Pola reproduksi seksual
• Kebutuhan seksual pasien dalam hal
ini hubungan seks intercourse akan
terganggu untuk sementara waktu
karena pasien berada di rumah sakit
dan kondisi fisiknya masih lemah.
Pola penanggulangan stress
• Bagi pasien yang belum mengetahui
proses penyakitnya akan mengalami
stress dan mungkin pasien akan
banyak bertanya pada perawat dan
dokter yang merawatnya atau orang
yang mungkin dianggap lebih tahu
mengenai penyakitnya.
Pola tata nilai dan kepercayaan
• Sebagai seorang beragama pasien
akan lebih mendekatkan dirinya
kepada Tuhan dan menganggap
bahwa penyakitnya ini adalah suatu
cobaan dari Tuhan.
• Pemeriksaan Fisik
• Status Kesehatan Umum
• Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji,
bagaimana penampilan pasien secara
umum, ekspresi wajah pasien selama
dilakukan anamnesa, sikap dan
perilaku pasien terhadap petugas,
bagaimana mood pasien untuk
mengetahui tingkat kecemasan dan
ketegangan pasien.
• Perlu juga dilakukan pengukuran
tinggi badan berat badan pasien.
Sistem Respirasi
Inspeksi
• Pada pasien effusi pleura bentuk
hemithorax yang sakit mencembung,
iga mendatar, ruang antar iga melebar,
pergerakan pernafasan menurun.
Pendorongan mediastinum ke arah
hemithorax kontra lateral yang
diketahui dari posisi trakhea dan ictus
kordis. RR cenderung meningkat dan
Px biasanya dyspneu.
• Fremitus tokal menurun terutama
untuk effusi pleura yang jumlah
cairannya > 250 cc. Disamping itu
pada palpasi juga ditemukan
pergerakan dinding dada yang
tertinggal pada dada yang sakit.
• Suara perkusi redup sampai pekak
tegantung jumlah cairannya. Bila
cairannya tidak mengisi penuh rongga
pleura, maka akan terdapat batas atas
cairan berupa garis lengkung dengan
ujung lateral atas ke medical penderita
dalam posisi duduk. Garis ini disebut
garis Ellis-Damoisseaux. Garis ini
paling jelas di bagian depan dada,
kurang jelas di punggung.
• Auskultasi Suara nafas menurun
sampai menghilang. Pada posisi
duduk cairan makin ke atas makin
tipis, dan dibaliknya ada kompresi
atelektasis dari parenkian paru,
mungkin saja akan ditemukan tandatanda
auskultasi dari atelektasis
kompresi di sekitar batas atas cairan.
• Ditambah lagi dengan tanda i – e
artinya bila penderita diminta
mengucapkan kata-kata i maka akan
terdengar suara e sengau, yang
disebut egofoni (Alsagaf H, Ida Bagus,
Widjaya Adjis, Mukty Abdol, 1994,79)
Sistem Cardiovasculer
• Pada inspeksi perlu diperhatikan letak
ictus cordis, normal berada pada ICS
– 5 pada linea medio claviculaus kiri
selebar 1 cm. Pemeriksaan ini
bertujuan untuk mengetahui ada
tidaknya pembesaran jantung.
• Palpasi untuk menghitung frekuensi
jantung (health rate) dan harus
diperhatikan kedalaman dan teratur
tidaknya denyut jantung, perlu juga
memeriksa adanya thrill yaitu getaran
ictus cordis.
• Perkusi untuk menentukan batas
jantung dimana daerah jantung
terdengar pekak. Hal ini bertujuan
untuk menentukan adakah
pembesaran jantung atau ventrikel kiri.
• Auskultasi untuk menentukan suara
jantung I dan II tunggal atau gallop
dan adakah bunyi jantung III yang
merupakan gejala payah jantung serta
adakah murmur yang menunjukkan
adanya peningkatan arus turbulensi
darah.
Sistem Pencernaan
• Pada inspeksi perlu diperhatikan,
apakah abdomen membuncit atau
datar, tepi perut menonjol atau tidak,
umbilicus menonjol atau tidak, selain
itu juga perlu di inspeksi ada tidaknya
benjolan-benjolan atau massa.
• Auskultasi untuk mendengarkan suara
peristaltik usus dimana nilai normalnya
5-35 kali permenit.
• Pada palpasi perlu juga diperhatikan,
adakah nyeri tekan abdomen, adakah
massa (tumor, feces), turgor kulit perut
untuk mengetahui derajat hidrasi
pasien, apakah hepar teraba, juga
apakah lien teraba.
• Perkusi abdomen normal tympani,
adanya massa padat atau cairan akan
menimbulkan suara pekak (hepar,
asites, vesika urinarta, tumor).
Sistem Neurologis
• Pada inspeksi tingkat kesadaran perlu
dikaji Disamping juga diperlukan
pemeriksaan GCS. Adakah
composmentis atau somnolen atau
comma.
• Pemeriksaan refleks patologis dan
refleks fisiologisnya.
• Selain itu fungsi-fungsi sensoris juga
perlu dikaji seperti pendengaran,
penglihatan, penciuman, perabaan
dan pengecapan.
Sistem Muskuloskeletal
• Pada inspeksi perlu diperhatikan
adakah edema peritibial
• Palpasi pada kedua ekstremetas
untuk mengetahui tingkat perfusi
perifer serta dengan pemerikasaan
capillary refil time.
• Dengan inspeksi dan palpasi
dilakukan pemeriksaan kekuatan otot
kemudian dibandingkan antara kiri dan
kanan.
Sistem Integumen
• Inspeksi mengenai keadaan umum
kulit higiene, warna ada tidaknya lesi
pada kulit, pada Px dengan effusi
biasanya akan tampak cyanosis akibat
adanya kegagalan sistem transport
O2.
• Pada palpasi perlu diperiksa
mengenai kehangatan kulit (dingin,
hangat, demam). Kemudian texture
kulit (halus-lunak-kasar) serta turgor
kulit untuk mengetahui derajat hidrasi
seseorang.
Pemeriksaan Penunjang
• Pemeriksaan laboratorium
• Darah lengkap dan kimia darah
• Bakteriologis
• Analisis cairan pleura
• Pemeriksaan radiologis
• Biopsi
Diagnosa Keperawatan
• Ketidakefektifan pola pernafasan
berhubungan dengan menurunnya
ekspansi paru sekunder terhadap
penumpukkan cairan dalam rongga
pleura (Susan Martin Tucleer, dkk,
1998).
• Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan
dengan peningkatan metabolisme
tubuh, penurunan nafsu makan akibat
sesak nafas sekunder terhadap
penekanan struktur abdomen
(Barbara Engram, 1993).
• Cemas berhubungan dengan adanya
ancaman kematian yang dibayangkan
(ketidakmampuan untuk bernafas).
• Gangguan pola tidur berhubungan
dengan batuk yang menetap dan
sesak nafas serta perubahan
suasana lingkungan
• Defisit perawatan diri berhubungan
dengan keletihan (keadaan fisik yang
lemah)
• Kurang pengetahuan mengenai
kondisi, aturan pengobatan
berhubungan dengan kurang terpajan
informasi