Tanpa disadari, ada berbagai hal yang membuat Anda masih juga sendiri dalam waktu yang lama. Jika Anda tak ingin lagi berstatus single, sebaiknya hindari 4 alasan yang membuat Anda sulit mendapatkan cinta, seperti dilansir She Knows.
1. Anda Berhenti Mencari
Pasangan tidak akan datang menghampiri Anda semudah di film-film romantis komedi. Untuk itu Anda juga perlu berusaha untuk mendapatkan hati pria yang diidamkan. Jika belum mempunyai incaran, jangan ragu menerima ajakan teman untuk berlibur, bersenang-senang ke pesta, ataupun jalan-jalan santai. Siapa tahu pasangan Anda kelak adalah orang baru yang ditemui di tempat baru. Perluaslah jaringan pertemanan Anda untuk bantu temukan si Mr. Right.
2. Anda Terlalu Stres
Meskipun Anda berstatus single, namun jangan buat diri sendiri menjadi tertekan dengan status tersebut. Justru beberapa hal baik datang ketika Anda tidak terlalu mengharapkannya. Terlalu fokus pada gebetan yang tak kunjung memperhatikan Anda juga dapat membuat stres. Cobalah untuk santai dan nikmati hidup Anda sampai akhirnya bertemu dengan orang yang tepat.
3. Kurang Bergaul
Jika Anda selalu datang ke tempat yang sama dengan kelompok teman yang sama pula, akan sulit untuk menemukan pasangan ideal yang Anda cari. Cobalah lakukan hal yang berbeda, atau pelajari hobi baru. Menguhubungi teman lama yang sudah jarang bertemu juga akan membantu menemukan suasana baru dan tentunya teman-teman baru.
4. Tak Ada Waktu
Tugas kuliah atau pekerjaan kantor, tak jarang menyita waktu Anda untuk lebih mengeksplor dunia luar. Apabila Anda menghabiskan hari-hari di kantor dan hanya bermalas-malasan di rumah saat akhir pekan sebaiknya mulai kurangi kebiasaan tersebut. Buatlah jadwal 'Me Time' seperti pergi ke salon, atau ke gym yang dapat membuat penampilan makin cantik. Setelahnya, habiskan waktu berjalan-jalan sendiri atau dengan teman wanita agar peluang menemukan si cinta baru makin besar.
belajar tentang apa yang ada didunia ini, trik dan tips, gratisan , ngeblog, asuhan keperawatan,
Selasa, 05 Maret 2013
Ini Cara Basuki Bikin Ciut Nyali Calo Rusun
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sangat serius untuk melakukan pemutihan dan revitalisasi di rumah susun di Ibu Kota. Beberapa oknum yang dapat menghambat relokasi warga pun telah sukses dibuat tak berdaya oleh mantan Bupati Belitung Timur tersebut.
"Sekarang misalnya kamu punya rusun, terus disewakan ke orang, langsung akan kami putihkan dengan nama yang menyewa. Tapi si penyewa harus membayar dengan harga yang hampir sama. Lama-lama pasar yang mau beli rusun, pasti akan turun, karena orang sudah takut. Begitu bukan namanya, langsung kita sita. Kita rencanakan seperti itu," kata Basuki di Balaikota Jakarta, Selasa (5/3/2013).
Apabila melawan Pemprov DKI, Basuki pun menegaskan tak akan segan-segan untuk menuntut pajak sewa sebesar sepuluh persen kepada oknum yang menyewakan tersebut. Dengan ancaman Basuki itu, ia meyakini kalau semakin lama orang akan semakin takut untuk melakukan penyelewengan rusun.
"Nah, kalau dia melawan kami, kami akan tuntut pajak sewa sepuluh persen. Nah, kalau lama-lama ini akan berkembang, orang akan semakin takut," kata Basuki.
Pria yang akrab disapa Ahok pun menjelaskan cara tersebut sudah pernah diberlakukan di Rusun Marunda dan telah terbukti efektif.
"Sekarang begitu kami terapkan di Marunda langsung ciut nyalinya. Bayangin kamu punya tiga rusun, terus kamu sewakan ke orang, sekarang penyewa rusun kamu, kami kasih hak dan sewa kamu akan kami hilangkan begitu, bye...bye.. Kamu pasti takut," tegas Basuki.
Dalam sepak terjangnya mengawal relokasi warga ke Rusun Marunda, Basuki telah menemukan satu oknum yang menjadi penyebab utama warga Pluit menolak untuk direlokasi ke Rusun Marunda. Oknum tersebut adalah Kepala UPT Rusun Marunda Kusnindar. Jabatan Kusnindar pun saat ini telah diisi oleh Jati Waluyo, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Seksi Pembangunan Perumahan Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintahan Daerah DKI.
Perilaku itu, kata Basuki, berarti mempermainkan masyarakat kecil. Hal itu dapat menghambat relokasi warga bantaran ke Rusun Marunda dan juga berdampak pada semakin melambatnya normalisasi Waduk Pluit yang ingin dipercepat Pemprov DKI untuk dilaksanakan tahun ini.
"Sekarang misalnya kamu punya rusun, terus disewakan ke orang, langsung akan kami putihkan dengan nama yang menyewa. Tapi si penyewa harus membayar dengan harga yang hampir sama. Lama-lama pasar yang mau beli rusun, pasti akan turun, karena orang sudah takut. Begitu bukan namanya, langsung kita sita. Kita rencanakan seperti itu," kata Basuki di Balaikota Jakarta, Selasa (5/3/2013).
Apabila melawan Pemprov DKI, Basuki pun menegaskan tak akan segan-segan untuk menuntut pajak sewa sebesar sepuluh persen kepada oknum yang menyewakan tersebut. Dengan ancaman Basuki itu, ia meyakini kalau semakin lama orang akan semakin takut untuk melakukan penyelewengan rusun.
"Nah, kalau dia melawan kami, kami akan tuntut pajak sewa sepuluh persen. Nah, kalau lama-lama ini akan berkembang, orang akan semakin takut," kata Basuki.
Pria yang akrab disapa Ahok pun menjelaskan cara tersebut sudah pernah diberlakukan di Rusun Marunda dan telah terbukti efektif.
"Sekarang begitu kami terapkan di Marunda langsung ciut nyalinya. Bayangin kamu punya tiga rusun, terus kamu sewakan ke orang, sekarang penyewa rusun kamu, kami kasih hak dan sewa kamu akan kami hilangkan begitu, bye...bye.. Kamu pasti takut," tegas Basuki.
Dalam sepak terjangnya mengawal relokasi warga ke Rusun Marunda, Basuki telah menemukan satu oknum yang menjadi penyebab utama warga Pluit menolak untuk direlokasi ke Rusun Marunda. Oknum tersebut adalah Kepala UPT Rusun Marunda Kusnindar. Jabatan Kusnindar pun saat ini telah diisi oleh Jati Waluyo, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Seksi Pembangunan Perumahan Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintahan Daerah DKI.
Perilaku itu, kata Basuki, berarti mempermainkan masyarakat kecil. Hal itu dapat menghambat relokasi warga bantaran ke Rusun Marunda dan juga berdampak pada semakin melambatnya normalisasi Waduk Pluit yang ingin dipercepat Pemprov DKI untuk dilaksanakan tahun ini.
Langganan:
Komentar (Atom)