Banyak yang menganggap membuat makanan untuk si kecil di rumah sangat merepotkan. Padahal tidak sesulit yang dibayangkan, dengan membuat makanan sendiri di rumah justru Anda dapat lebih tahu apa yang dikonsumsi si kecil.
Selain lebih sehat, membuat makanan sendiri di rumah juga dapat membentuk pola makan sehat sejak dini
1. Menanamkan kebiasaan makan sehat
Kini, anak-anak banyak sekali yang menggemari konsumsi makanan cepat saji yang mengandung tinggi lemak dan garam serta rendah serat. Jika membuat makanan di rumah, para orangtua dapat menanamkan kebiasaan sehat serta pembentukan pola makan, dan saat dewasa ia tetap menyukai makanan sehat.
2. Lebih bergizi
Makanan instan dibuat dengan berbagai proses. Hal ini dapat menghilangkan vitamin dan mineral penting. Makanan instan juga mengandung garam, gula, penambah rasa dan bahan-bahan aditif lainnya.
3. Bervariatif
Menyiapkan makanan yang beranekaragam termasuk kedalam pedoman menu seimbang. Dengan memberikan makanan segar yang bervariasi, si kecil dapat merasakan tekstur sekaligus rasa makanan yang berbeda.
4. Hemat
Membuat makanan anak di rumah ternyata tidak sulit. Anda hanya memerlukan blender dan bahan makanan segar. Untuk lebih menghemat waktu dan uang, Anda dapat memasak dalam jumlah yang banyak dan memisahkannya kedalam wadah tertutup dan menyimpannya dalam lemari es. Akan tetapi makanan ini hanya dapat untuk siang atau malam. Tidak disarankan untuk keesokan harinya.
Selain itu, bahan makanan yang ada dapat dibuat menjadi sayur untuk makan keluarga dan jika ingin di konsumsi anak, Anda dapat memblendernya.
5. Lebih lezat
Dalam proses pembuatannya, makanan instan hanya dibuat dengan cara ditambahkan air panas. Padahal aroma yang dihasilkan lebih enak yang dimasak sendiri. Sebagai contoh saat membuat makanan si kecil, Anda menumis bawang putih dan akan keluar aroma yang sedap. Hal inilah yang membuat makanan bikinan sendiri lebih lezat dibanding dengan makanan
belajar tentang apa yang ada didunia ini, trik dan tips, gratisan , ngeblog, asuhan keperawatan,
Senin, 03 November 2014
Kamis, 30 Oktober 2014
Awas, Bahaya di Balik Minum Susu
Susu merupakan sumber kalsium terbaik yang bermanfaat bagi kesehatan tulang dan gigi kita. Namun susu juga dapat mendatangkan malapetaka bila dikonsumsi lebih dari tiga gelas sehari.
Baru-baru ini satu penelitian menemukan bahwa mengonsumsi lebih dari tiga gelas susu tidak akan melindungi tulang dan gigi kita, tapi justru dapat meningkatkan peradangan yang berdampak pada rusaknya sel-sel dalam tubuh. Ini terjadi karena kandungan gula yang ada dalam susu.
Meski para peneliti asal Swedia tidak dapat membuktikan sebab dan akibat dari penelitian ini, dan masih banyak diperlukan penelitian lebih lanjut, maka dianjurkan untuk membatasi konsumsi susu dalam sehari.
Sebelum memaparkan fakta ini, para peneliti yang dipimpin oleh Profesor Karl Michaelsson dari Uppsala University, Swedia, melakukan percobaan terhadap 61.443 wanita dan 45.339 pria yang diharuskan mengisi kuesioner tentang 96 makanan umum yang pernah dikonsumsi, seperti susu, yoghurt, dan keju.
Selama rentang waktu 20 tahun, diketahui bahwa 15.541 dari kedua jenis meninggal dunia, dan 17.252 mengalami patah tulang, serta 4.259 mengalami patah tulang pinggul.
Dalam jurnal the BMJ disebutkan, wanita yang mengonsumsi susu lebih dari tiga gelas sehari (rata-rata 680 ml), dua kali lipat berisiko kematian, daripada wanita yang kurang dari satu gelas susu sehari, sekitar 60 ml.
Seperti dikutip dari Daily Mail, Rabu (29/10/2014), Karl, mengatakan, walaupun susu dapat mendatangkan malapetaka, bukan berarti kita menghentikan kebiasaan baik seperti itu. Bagaimana pun, wajib bagi kita untuk mengonsumsi gizi yang seimbang, dengan takaran yang pas dan tidak berlebihan.
Baru-baru ini satu penelitian menemukan bahwa mengonsumsi lebih dari tiga gelas susu tidak akan melindungi tulang dan gigi kita, tapi justru dapat meningkatkan peradangan yang berdampak pada rusaknya sel-sel dalam tubuh. Ini terjadi karena kandungan gula yang ada dalam susu.
Meski para peneliti asal Swedia tidak dapat membuktikan sebab dan akibat dari penelitian ini, dan masih banyak diperlukan penelitian lebih lanjut, maka dianjurkan untuk membatasi konsumsi susu dalam sehari.
Sebelum memaparkan fakta ini, para peneliti yang dipimpin oleh Profesor Karl Michaelsson dari Uppsala University, Swedia, melakukan percobaan terhadap 61.443 wanita dan 45.339 pria yang diharuskan mengisi kuesioner tentang 96 makanan umum yang pernah dikonsumsi, seperti susu, yoghurt, dan keju.
Selama rentang waktu 20 tahun, diketahui bahwa 15.541 dari kedua jenis meninggal dunia, dan 17.252 mengalami patah tulang, serta 4.259 mengalami patah tulang pinggul.
Dalam jurnal the BMJ disebutkan, wanita yang mengonsumsi susu lebih dari tiga gelas sehari (rata-rata 680 ml), dua kali lipat berisiko kematian, daripada wanita yang kurang dari satu gelas susu sehari, sekitar 60 ml.
Seperti dikutip dari Daily Mail, Rabu (29/10/2014), Karl, mengatakan, walaupun susu dapat mendatangkan malapetaka, bukan berarti kita menghentikan kebiasaan baik seperti itu. Bagaimana pun, wajib bagi kita untuk mengonsumsi gizi yang seimbang, dengan takaran yang pas dan tidak berlebihan.
Langganan:
Komentar (Atom)
